Bagi Amanda, Farel adalah sahabat sekaligus cinta pertamanya. Meskipun lelaki itu tidak pernah menganggapnya lebih dari seorang teman, namun Amanda tidak pernah memiliki rasa lelah terlebih lagi menyerah. Ia akan selalu berusaha membuat Farel melihat ketulusan cintanya, meskipun Amanda sendiri tidak bisa mengungkapkannya secara langsung.
Namun sebuah rasa itu seolah menghilang secara perlahan saat Amanda bertemu dengan lelaki bernama Cio, lelaki aneh yang selalu menggodanya dengan sikap konyolnya. Seperti pada lelaki lainnya, Amanda selalu bersikap tak peduli, namun seiring berjalannya waktu, hatinya justru tersentuh dengan kisah kehidupannya dan perasaan tulusnya.
Di balik tawa konyolnya, Cio memiliki kisah rapuh yang tidak ingin lelaki itu ingat. Meski pada akhirnya air matanya jatuh juga kala mengingat masa kelamnya, dan semua itu hanya Cio tunjukkan di hadapan Amanda, gadis cantik yang disukainya.
Saat semua berubah sedikit demi sedikit termasuk hati Amanda, Cio justru pergi den
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikesweetdevil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 19
Part 19
"Ciye, siapa itu?" goda sang ayah sembari menyipitkan matanya ke arah Amanda yang menghela nafas tak percaya.
"Dia cuma temanku, Ayah." Amanda menjawab lelah, merasa harus memiliki ekstra kesabaran karena sikap ayahnya itu tidak jauh beda dengan Cio yang konyol.
"Oh iya? Teman kok diajak masuk ke dalam rumah?"
"Bunda yang menawarkan Cio untuk masuk ke rumah, bukan aku." Amanda menjawab sebal terlihat dari bibirnya yang cemberut karena telah dituduh seenaknya oleh ayahnya.
"Hallo, Om. Perkenalkan, saya Cio." Tanpa diperkenalkan sebelumnya, Cio mengulurkan tangannya ke arah ayahnya Amanda yang menatapnya.
"Tapi tangannya Om masih kotor, tadi habis bersih-bersih halaman." Ayahnya Amanda itu menjawab tak enak hati, merasa tidak pantas bila harus bersalaman dengan kondisi tangannya yang belum bersih. Yang Amanda tahu, sekonyol-konyolnya Ayahnya, beliau akan tetap menghormati orang lain meskipun umurnya masih di bawahnya.
"Tidak apa-apa kok, Om. Tidak usah sungkan sama calon menantu sendiri," ujar Cio sembari menaik turunkan alisnya setelah menjabat tangan ayahnya Cio.
"Oh iya? Masa sih?" Lelaki itu menjawab tak percaya dengan nada terkejutnya dengan sesekali melirik penuh arti ke arah Amanda yang terlihat malas berada di antara lelaki seperti mereka.
"Iya dong, Om." Cio menjawab tak kalah konyolnya, yang justru ditertawai oleh ayah Amanda tanpa memperdulikan bagaimana putrinya itu menatap tak percaya ke arahnya.
"Memangnya mulai kapan kalian pacaran?" Sang ayah bertanya ke arah Cio yang tersenyum penuh arti seolah benar-benar ingin menggoda Amanda kali ini.
"Sudah lama, Om."
"CIOOOO, KAMU CARI MATI?" Amanda menggeram marah, merasa sudah tak sanggup lagi menghadapi lelaki itu dan bahkan sekarang ayahnya juga ikut-ikutan melakukan hal sama.
"Om, lindungi aku." Cio meringkuk sok takut di belakang ayahnya Amanda, membuat putrinya kian tak percaya melihat ke arahnya.
"Masa takut sama Amanda? Nanti kalau kalian menikah, kamu jadi suami yang takut istri loh." Pria paru baya itu menjawab tak kalah konyolnya, dan itu cukup berhasil membuat Amanda frustrasi kali ini.
"Begitu ya, Om?" Cio menyengir kaku sembari menggaruk lehernya yang tak gatal.
"Iya dong. Lebih baik sekarang kamu menonton TV saja, tidak usah dengarkan Amanda. Om akan mandi dulu, nanti kita makan siang sama-sama ya?" Dengan hangat, ayahnya Amanda merengkuh pundak Cio untuk menggiringnya ke depan TV. Diam-diam, Cio tersenyum tulus bisa merasakan rengkuhan seorang ayah yang tidak pernah didapatkannya sedari kecil. Dulu, papanya terlalu sibuk bekerja, sedangkan mamanya satu-satunya orang yang menyayanginya justru berubah, melupakannya seolah semua tak lagi berguna. Cio benar-benar merindukan keluarga yang bahagia, yang mendekapnya di saat ia menginginkannya.
"Iya, Om." Cio menjawab sopan sembari menatap kepergian ayahnya Amanda ke kamar mandi, sampai saat tatapannya jatuh pada Amanda yang terlihat tidak menyukainya.
"Apa lihat-lihat? Puas kamu sudah buat Ayah berpihak ke kamu?" Amanda berujar sebal ke arah Cio yang justru tersenyum tulus ke arahnya.
"Aku bahagia bisa bertemu dengan orang tuamu, aku bahkan merasa impianku sudah terwujud berkat mereka." Cio menjawab tulus, namun tentu saja hal itu tak membuat Amanda mengerti dengan maksudnya.
"Impian? Impian apa?"
"Impian memiliki orang tua yang harmonis," jawab Cio sembari tersenyum miris, yang hanya ditanggapi kediaman oleh Amanda. Keduanya hanya saling terdiam, sampai saat bundanya Amanda datang dan mengajak mereka makan bersama.
***
Setelah dua hari tidak masuk, akhirnya Farel bisa berangkat kuliah lagi. Setelah kejadian yang membuat Farel harus dilarikan ke rumah sakit itu, orang tuanya benar-benar menjaganya, bahkan tidak mengijinkannya untuk berangkat pagi seperti biasanya. Lelaki itu benar-benar harus menjaga pola makannya, seperti pagi harus sarapan, dan siangnya harus makan bekal atau setidaknya makan di tempat yang sedikit lebih bersih dari kantin.
Sekarang, tepatnya di halaman kampus, Farel menyapa seluruh teman-temannya dan mereka cukup bahagia bisa melihat Farel baik-baik saja. Seperti biasa, mereka merangkul dan menepuk pundak satu sama lain sebagai sapaan mereka antar kawan.
"Kamu sudah baik-baik saja kan sekarang?" Dio bertanya sembari menatap ke arah Farel yang mengangguk.
"Aku sudah tidak apa-apa, dan terima kasih untuk bantuan kalian waktu itu." Farel menjawab tulus sembari menatap ke seluruh teman-temannya.
"Sudahlah, kamu juga sudah mengatakannya kan di chat group. Yang terpenting sekarang, kamu sudah baik-baik saja, kita lega melihatnya." Dio menjawab tulus yang ditanggapi senyuman oleh Farel.
"Oh iya, kalian tadi lihat Vanessa tidak? Akhir-akhir ini dia susah sekali dihubungi." Farel bertanya ke arah teman-temannya, yang memang sedari kemarin, Farel susah menghubungi kekasihnya tersebut.
"Kamu masih berhubungan dengan Vanessa, setelah dia mementingkan hal lain ketimbang menjengukmu di rumah sakit waktu itu?" Dio bertanya tak percaya dengan sesekali melirik ke arah teman-temannya yang terdiam.
"Ayolah, Vanessa itu masih kekasihku. Hanya karena dia sibuk sampai tidak bisa menjengukku, bukan berarti aku harus memutuskannya kan?" Farel menjawab santai, mencoba membela Vanessa meski kekasihnya itu seperti tidak memperdulikannya.
"Terserah kamu saja lah. Tapi yang pasti, aku tidak tahu di mana kekasihmu itu." Dio menjawab malas, merasa tidak bisa membantah ucapan Farel yang begitu mencintai Vanessa, padahal sikap gadis itu cukup buruk meskipun wajahnya sangat cantik. Sedangkan Farel hanya mengangguk mengerti, kini tatapannya teralih ke segala arah, mencari sosok Vanessa yang mungkin ada di antara mahasiswa lainnya. Namun tatapannya justru tertatih pada sosok Amanda, yang saat ini tengah berjalan beriringan dengan lelaki bernama Cio. Keduanya terlihat begitu akrab dengan sesekali tertawa bersama-sama.
Melihat mereka, Farel justru teringat akan ucapan Amanda yang begitu pedas saat di rumah sakit kala itu. Gadis kalem yang selalu memperhatikannya itu bisa bersikap sedingin itu, mungkin sangking lelahnya dihina atau tak dipedulikan olehnya. Di saat seperti ini, Farel merasa sangat menyesal telah berbuat hal buruk pada Amanda, padahal dia adalah gadis yang baik. Tapi hanya karena mendengar ucapan Vanessa, sekarang Farel harus rela kehilangan teman seperti Amanda yang begitu baik padanya.
"Maafkan aku, Amanda." Farel bergumam dalam hati, merasa sangat bersalah akan temannya yang sudah sering direndahkannya. Setidaknya, cuma itu yang bisa Farel lakukan. Meminta maaf melalui hatinya, tanpa bisa menemui Amanda langsung.