Dea, alias Althea Twina Darmawan, tumbuh sebagai anak angkat yang kehilangan kasih sayang setelah ibu angkatnya melahirkan anak kandung. Terbiasa disalahkan, ia memilih mengabdikan hidupnya sebagai dokter.
Namun, hidupnya berubah ketika Linjaryani, calon istri Elden Zarreti, seorang tuan tanah kaya raya yang dingin dan berkuasa, meninggal secara misterius. Dea dijadikan kambing hitam, sementara Elden, dibutakan dendam, menghukumnya tanpa mencari kebenaran.
Pernikahan paksa dan perlakuan kejam Elden meninggalkan luka mendalam dalam diri Dea. Ketika bukti baru mengungkap pengkhianatan di balik kematian Linjaryani, Elden menyadari kesalahannya.
Mampukah ia menebus kehancuran yang diciptakannya, atau kebencian Dea telah menutup pintu maaf selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 21. Salah Balas Dendam
Ellea yang berjalan beberapa langkah di depan menoleh. Namun, Elden mengangkat tangan, memberi isyarat agar adiknya diam.⁰l
Suara perempuan itu kembali terdengar.
“Dia selalu saja diselamatkan Profesor Adam. Aku muak melihatnya! Kenapa semua orang selalu membela dia?”
Stella terdiam beberapa saat, mendengarkan suara dari seberang telepon. Dahinya berkerut sebelum ia kembali membuka mulut.
“Sebelum kau menyuruhku pun, aku sudah melakukannya. Dulu aku pernah menjebak Dea. Pasien itu sampai meninggal, dan semua orang mengira Dea lah yang bersalah. Keluarga pasien yang bodoh itu malah dengan gampang aja melepas Dea. Ujung-ujungnya Dea tetap aja selamat!”
Tubuh Elden mendadak kaku.
"Dulu aku pernah menjebak Dea. Pasien itu sampai meninggal, dan semua orang mengira Dea yang bersalah."
Kalimat itu berputar-putar di kepalanya. Semakin ia mencoba mengabaikannya, semakin jelas pula arti setiap kata yang terdengar.
Kali ini, perempuan itu terkekeh getir dari seberang telepon.
“Ilmu apa yang dimiliki anak petani itu, sih? Kenapa selalu saja ada yang datang untuk membelanya? Seharusnya saat ini dia sudah hancur karena kejadian itu! Bukannya malah terus mondar-mandir seperti sekarang, seolah tak pernah terjadi apa-apa!”
Jari-jari Elden mengepal perlahan.
'Dea.'
Nama itu kembali memenuhi pikirannya, disusul bayangan perempuan yang tadi terhuyung ketakutan saat berada dalam pelukannya. Wajah pucat perempuan itu kembali melintas di benaknya.
Tubuhnya yang bergetar di dalam pelukan Elden. Tatapannya yang dipenuhi ketakutan. Bahkan, Elden merasakan, dirinya diperlakukan tak sekadar rasa benci. Dea membuat dirinya merasa bahwa ia bagai monster yang harus segera dijauhi demi menyelamatkan diri.
Pada saat itu, ia masih yakin, dirinya lah yang benar. Dea lah yang salah. Dea seorang pembunuh yang dilindungi oleh instansinya.
Tiba-tiba, ucapan Dea kembali terngiang di telinganya.
“Harusnya kau biarkan saja karena hatimu telah mati! Itu tak lebih sakit dibanding apa yang kau lakukan padaku!”
Bahkan, Dea lebih memilih untuk jatuh ke lantai dibanding diselamatkan olehnya.
Keyakinan yang selama ini dipegang erat oleh Elden, kini mulai retak.
Bayangan tentang perlakuannya terhadap Dea bermunculan tanpa bisa ia kendalikan. Malam pernikahan mereka. Tangannya yang menyakiti perempuan itu. Suaranya sendiri saat melontarkan tuduhan demi tuduhan tanpa pernah memberinya kesempatan untuk menjelaskan.
Elden menelan ludah. Ia tak lagi mampu meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua yang dilakukannya benar.
'Bagaimana jika selama ini aku salah membalas dendam?'
Dea pernah memintanya menyelidiki semuanya lebih dahulu. Ia masih ingat itu. Namun, saat itu, ia terlalu dibutakan oleh kesedihan dan amarah untuk mendengarkan perempuan yang telah dijadikannya sasaran.
Ia bahkan tidak memberinya kesempatan untuk membuktikan kebenarannya.
Tanpa sadar, Elden mundur satu langkah. Lututnya terasa lemas, seolah tubuhnya tak lagi mampu meNopang beban yang tiba-tiba menghantam pikirannya.
'Apa yang sebenarnya aku lakukan?'
“Kamu kenapa Kak?” bisik Ellea.
Wajah Elden memucat. Ia tak mampu menjawab pertanyaan sederhana itu.
Tatapannya kembali tertuju pada perempuan di dekat pintu staf tadi.
Perempuan itu telah mengakhiri panggilan teleponnya dan berbalik. Jas koas serta kartu identitas yang tergantung di dadanya membuat Elden semakin yakin bahwa ia bukan orang asing di rumah sakit itu. Persis sama dengan penampilan Dea tadi.
'Bukan kah dia Stella?'
Elden mengenalinya.
Elden mengingat Stella. Ia pernah melihat perempuan itu berdiri di dekat Dea saat Linjaryani ditangani di ruang gawat darurat. Di tengah ketegangan saat itu, Stella tampak jauh lebih tenang daripada orang-orang lain yang berusaha menyelamatkan Linjaryani.
Baru saja Elden mendengar Stella mengakui bahwa ia pernah menjebak Dea hingga seorang pasien meninggal. Jika pengakuan itu berkaitan dengan kasus Linjaryani, berarti ada sesuatu yang selama ini luput dari perhatiannya.
Dadanya terasa sesak. Namun, kali ini bukan kebencian yang memenuhi dirinya, melainkan ketakutan yang perlahan merayap masuk.
'Bagaimana jika Dea memang tidak bersalah?'
Bagaimana jika selama ini ia telah menghancurkan hidup perempuan yang seharusnya ia dengarkan?
Elden tak tahu harus berbuat apa. Waktu tak bisa diputar kembali, dan tak ada cara untuk menghapus semua luka yang telah ia tinggalkan pada Dea.
Tangan yang sama pernah mencengkeram Dea. Tangan yang sama telah menyakiti perempuan itu tanpa memberinya kesempatan untuk membela diri.
Perlahan, Elden mengepalkan jemarinya hingga buku-buku jemarinya memutih.
Ia ingin menyangkal semuanya. Ingin percaya bahwa dirinya masih memiliki alasan untuk melakukan apa yang telah terjadi.
Namun, apakah alasan itu masih ada untuk bisa ia pertahankan?
*bersambung*
Ingat Dea sedang mengandung anakmu
Aneh klo tidak dipantau & dilindungi bodyguard bayangan keluarga, ceroboh !!
Dan Josep berusaha melindungi Stella.
Yang pasti...kali ini Dea tidak akan tinggal diam.
Jangan2 ada main dia dengan Stella