NovelToon NovelToon
Sistem Apapun Yang Kuminta, Akan Menjadi Milikku

Sistem Apapun Yang Kuminta, Akan Menjadi Milikku

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Balas Dendam / Anak Genius
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Notdrick

Sepuluh persen. Itu bagian Elang Nugroho dari warisan keluarganya. Sembilan puluh persen sisanya jatuh ke tangan sang kakak, sementara tunangannya berdiri di sisi orang yang mengkhianatinya.

Elang tidak memohon. Ia pergi, dan memutus ikatan dengan keluarga yang tidak pernah menganggapnya setara.

Namun sarung tangan hitam yang ia kenakan sejak SMA ternyata menyimpan rahasia. Satu sentuhan, satu permintaan, dan apa pun yang ia inginkan bisa menjadi miliknya: kemampuan, benda, bahkan orang. Di balik sistem itu, ada ruang yang menyimpan hal-hal yang tidak pernah ada di dunia manusia.

Dunia mengira ia kehilangan segalanya.

Mereka belum tahu, ia baru saja mulai memintanya kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Jam di ruang kerja mansion menunjukkan hampir pukul satu pagi ketika Elang meletakkan ponsel retak itu di atas kotak hitamnya. Lampu meja menyala redup, dan dua cangkir kopi yang sudah dingin berdiri di sisi kanan meja.

Seorang pelayan sempat mengetuk pintu dan menawarkan makan malam, tetapi Elang hanya mengangkat tangan tanpa menoleh, dan pelayan itu mundur dengan hati-hati.

Layar kotak hitam menyala dengan cahaya biru begitu ponsel itu menyentuh permukaannya. Titik di tengah berkedip lebih cepat, kemudian garis-garis halus keluar dan menyambung ke sisi ponsel seperti akar yang mencari tanah. Dalam beberapa detik komputer itu membuka isi ponselnya tanpa kata sandi, tanpa peringatan, dan tanpa suara.

"Pesan terakhir," kata Elang pelan. "Tunjukkan dari mana dikirim."

Layar menampilkan sebuah peta kota. Satu titik merah berkedip di pinggiran barat, jauh dari pusat keramaian, di antara jalan kecil yang hampir tidak punya nama. Di bawahnya muncul keterangan pendek yang menyebutkan bahwa ponsel pengirim terakhir terdeteksi aktif tiga jam lalu, dan sekarang sudah mati.

Elang mengamati titik itu sambil menyilangkan jari di depan wajah. Jaraknya tidak sampai satu jam dengan mobil.

"Dekat," gumamnya. "Terlalu dekat untuk orang yang ingin bersembunyi."

Ia menggeser pandangannya ke arah sarung tangan di tangan kanannya. Benda itu sudah menemaninya sepuluh tahun, dan sampai malam ini ia tidak pernah bertanya dari mana asalnya. Kakek penjual itu tidak menjelaskan apa pun, dan sistem sendiri tidak pernah menjawab pertanyaan yang tidak berhubungan dengan permintaan. Sekarang ada orang lain dengan sarung tangan sebelahnya, dan Elang merasa sudah waktunya ia tahu lebih banyak.

"Cari tahu tentang sarung tangan ini," katanya sambil menaruh tangan kanannya di atas permukaan kaca. "Asalnya, pembuatnya, apa pun yang bisa kau temukan."

Titik biru itu berkedip dua kali. Layar menjadi hitam sebentar, lalu tulisan putih muncul di tengahnya dengan huruf besar yang sangat sederhana.

ERROR 404.

Elang menunggu beberapa detik. Tidak ada keterangan tambahan, tidak ada penjelasan, tidak ada tombol untuk mencoba lagi. Ia mengulang perintahnya dengan kalimat yang berbeda, lalu sekali lagi dengan kata kunci yang lebih spesifik, dan hasilnya tetap sama.

"Alat dari dunia lain tidak bisa mencari asal benda dari dunia yang sama," katanya sambil menyandarkan punggung ke kursi. "Lucu sekali."

Ia tidak marah. Ia hanya menatap layar itu cukup lama, mengetuk-ngetukkan jari di tepi meja, dan menunggu kalau-kalau komputer itu berubah pikiran. Layarnya tetap hitam dengan dua angka putih yang sama. Setelah yakin tidak ada jalan lain untuk bertanya, ia menarik napas dan mengganti tujuan.

"Baiklah. Pemilik ponsel ini."

Komputer itu menyala lagi tanpa jeda. Kali ini data yang muncul panjang dan rapi: nomor kartu, riwayat pembelian, alamat tempat tinggal, dan satu foto tanda pengenal. Elang membaca baris pertama dan mengerutkan kening.

Wajah di foto itu seorang lelaki tua berusia tujuh puluhan, dengan rambut putih tipis, kumis lebat yang sudah memutih, dan mata yang tampak ramah meskipun difoto untuk keperluan administrasi. Namanya Sutarman. Pekerjaannya tertulis pensiunan penjaga sekolah. Alamatnya sebuah rumah kecil di pinggiran barat kota, tepat di titik merah tadi.

Elang membuka riwayat panggilan. Dalam enam bulan terakhir, hanya ada tiga nomor yang pernah menelepon ponsel itu, dan semuanya berasal dari rumah sakit dan toko obat. Tidak ada satu pun pesan yang mengarah ke Dimas, ke Ray, atau ke siapa pun yang terhubung dengan Nugroho.

"Bukan orang ini," katanya pelan. "Orang ini tidak mungkin mengirim pesan seperti itu."

Ia menutup layar profil dan menyandarkan dagu di tangan. Ponsel curian. Itu satu-satunya penjelasan yang masuk akal. Seseorang mengambil benda ini dari lelaki tua itu, memakainya untuk mengirim perintah, lalu mematikannya sebelum bisa dilacak lebih jauh. Tetapi tidak ada tanda bahwa ponsel itu dilaporkan hilang, dan tidak ada tanda bahwa pemiliknya sempat menghubungi siapa pun setelahnya.

Elang berdiri, mengambil jasnya dari kursi, dan memasukkan ponsel itu ke saku. Ia menutup kotak hitam dengan satu ketukan, lalu menatap peta yang sempat menyala sebentar sebelum padam.

"Aku harus melihat sendiri," katanya pada ruangan kosong.

Ia tahu ini mungkin jebakan. Ia juga tahu Insting Dewa akan menyala jauh sebelum bahaya sempat mendekat. Dan lagi pula, ia tidak pernah berniat menunggu lawannya datang lebih dulu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!