Dewi Anjani yang baru saja dipecat dan nyaris bangkrut, tiba-tiba dipeluk erat oleh bocah tiga tahun bernama Elvan yang menangis dan memanggilnya "Mama" di pinggir jalan. Belum hilang rasa kagetnya, ayah anak itu—Raka Mahardika, sang CEO Grup Lentera yang terkenal sedingin es—muncul dan menyodorinya sebuah kontrak gila untuk menjadi ibu bayaran. Keadaan menjadi semakin tak masuk akal ketika sebuah suara mekanis mendadak berbunyi di kepala Dewi: "Ding! Sistem Ibu Super Hebat diaktifkan!" Kini, berbekal misi-misi ajaib dari sistem dan tingkah menggemaskan Elvan, Dewi tidak hanya perlahan mencairkan hati beku sang CEO, tapi juga bersiap memberikan tamparan paling telak pada mantan istri Raka yang gila harta saat wanita itu berani kembali untuk mengacaukan keluarga barunya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Kalau dia salah mengambil pisau, Nyonya Besar ini pasti akan menertawakannya habis-habisan dan mengatainya kampungan.
Ding!
Suara mekanis yang sangat dirindukan Dewi akhirnya berbunyi tepat waktu di dalam kepalanya.
Layar biru transparan muncul berkedip di depan wajah Dewi yang sedang tegang.
[Misi Harian: Lulus Ujian Meja Makan Beracun!]
[Kondisi: Ibu Suri sedang mengetes pengetahuan etiket makan Anda untuk mencari celah penghinaan.]
[Misi: Gunakan tata krama makan paling elegan dan buat Ibu Suri kehabisan kata-kata!]
[Hadiah Penyelesaian: Skill Table Manner Bangsawan Permanen dan Poin Kasih Sayang +20!]
Dewi langsung tersenyum lebar di dalam hatinya, sistem ini memang tidak pernah mengecewakan di saat krisis.
"Terima kasih Sistem, tolong transfer datanya sekarang juga sebelum aku kelaparan," batin Dewi cepat.
Wush!
Seketika sebuah pengetahuan baru mengalir masuk ke dalam otak Dewi seperti aliran listrik yang lembut.
Tubuh Dewi yang tadinya tegang mendadak menjadi rileks dan posturnya berubah tegak dengan sangat natural.
"Terima kasih atas hidangannya, Mama Mertua. Saya akan mencicipinya dengan senang hati," ucap Dewi dengan suara lembut yang berkelas.
Widyawati sedikit terkejut mendengar Dewi memanggilnya Mama Mertua dengan sangat percaya diri.
Dewi mengambil serbet putih dan meletakkannya di pangkuan dengan gerakan yang sangat luwes.
Matanya melirik deretan alat makan itu, dan kini otaknya tahu persis apa fungsi dari masing-masing besi mengkilap itu.
"Aturan pertama, gunakan alat makan dari bagian paling luar menuju ke dalam," gumam Dewi dalam hati mempraktikkan ilmu barunya.
Dewi mengambil garpu kecil di ujung paling kiri dan pisau kecil di ujung paling kanan untuk memotong roti croissant-nya.
Trak. Trak.
Gerakan tangan Dewi memotong roti itu nyaris tidak menimbulkan suara gesekan pada piring keramik.
Sangat rapi, elegan, dan sesuai dengan standar perjamuan resmi kelas dunia.
Mata Widyawati sedikit melebar melihat gerakan Dewi yang tanpa cela itu.
Wanita paruh baya itu mengira Dewi akan memakan roti croissant itu langsung menggunakan tangannya seperti orang awam.
"Kebetulan saja," batin Widyawati tidak mau kalah.
Widyawati lalu menunjuk piring berisi telur setengah matang yang masih ada di dalam cangkangnya.
"Bagaimana dengan telurnya, Dewi? Itu adalah hidangan pembuka yang sangat lezat," tantang Widyawati lagi.
Memakan telur setengah matang di dalam cangkang adalah ujian tersulit karena bisa membuat isinya tumpah berantakan jika salah memotong.
Raka baru saja akan membuka mulut untuk melarang ibunya melanjutkan ujian konyol ini, tapi Dewi sudah bergerak lebih dulu.
Dewi tersenyum manis dan mengambil sebuah sendok kecil khusus serta alat pemotong cangkang.
Tuk. Sret.
Dengan satu gerakan presisi yang sangat mulus, Dewi memotong bagian atas cangkang telur itu tanpa menumpahkan isinya sedikit pun.
Lalu dia menyendok isi telur itu dan memakannya dengan sangat anggun tanpa suara mengecap.
"Telurnya direbus dengan sangat sempurna, Mama Mertua. Tingkat kematangannya luar biasa pas," puji Dewi dengan tulus.
Raka yang melihat aksi istrinya itu hanya bisa melongo dalam diam.
Bahkan Raka sendiri kadang masih sering salah memotong cangkang telur saat makan terburu-buru.
"Bagaimana dia bisa tahu semua aturan kaku ini?" batin Raka takjub sekaligus merasa sangat lega.
Wajah Widyawati seketika berubah merah padam karena rencananya untuk mempermalukan Dewi gagal total.
Bukan hanya gagal, gerakan Dewi barusan bahkan terlihat jauh lebih luwes daripada teman-teman sosialitanya di Eropa.
"Sepertinya kau memang belajar banyak dari internet untuk menutupi asal usulmu," sindir Widyawati masih gengsi mengakui kekalahannya.
Dewi meletakkan sendoknya dengan tenang dan menatap Nyonya Besar itu tanpa rasa takut.
"Belajar adalah tanda manusia yang mau berkembang, Mama Mertua. Saya harap Anda tidak keberatan dengan proses belajar saya."
Balasan Dewi yang sangat sopan tapi telak itu membuat Widyawati benar-benar kehabisan kata-kata.
Elvan yang sedari tadi fokus memakan sosis ayamnya tiba-tiba menunjuk ke arah piring Dewi.
"Mama, Elvan mau sosis yang besar itu, suapin!" rengek Elvan dengan sisa makanan di sudut bibirnya.
Dewi tersenyum dan mengambil garpu besarnya untuk memotong sosis yang ditunjuk Elvan.
Namun sebelum garpu Dewi menyentuh sosis itu, tangan Raka sudah lebih dulu memotong sosis dari piringnya sendiri.
Trak.
Raka menusuk potongan sosis yang sudah dipotong rapi itu dan mendekatkannya ke mulut Dewi.
"Buka mulutmu sayang. Kau terlalu sibuk mengurus Elvan dari tadi, biarkan aku menyuapimu kali ini."
Suara Raka terdengar sangat lembut, penuh kasih sayang, dan terdengar sangat nyata.
Dewi langsung mematung.
Otaknya mendadak konslet mendengar Raka memanggilnya sayang di depan umum.
Sosis di ujung garpu itu kini sudah berada tepat di depan bibir Dewi.
Dewi melirik ke arah Widyawati yang sedang menatap mereka berdua dengan pandangan tajam seperti silet.
"A-ah, iya Mas Raka, terima kasih banyak," gagap Dewi yang akhirnya terpaksa membuka mulutnya.
Hap.
Dewi mengunyah sosis suapan Raka itu dengan jantung yang berdetak secepat mobil balap formula satu.
Telinga Raka sendiri terlihat sangat merah, pria itu jelas sedang memaksakan diri melakukan adegan mesra ini demi meyakinkan ibunya.
Namun ada perasaan hangat yang menyenangkan di dada Raka saat melihat Dewi menerima suapannya.
Widyawati mendengus keras, merasa sangat muak melihat adegan kemesraan yang menurutnya menjijikkan itu.
"Aku sudah selesai makan. Nafsu makanku hilang melihat kalian berdua," ucap Widyawati ketus sambil berdiri dari kursinya.
"Aku akan pergi ke butik langgananku siang ini. Jangan lupa, awasi pekerjaan pelayan di rumah ini Dewi."
Widyawati membalikkan badannya dan berjalan meninggalkan ruang makan dengan langkah menghentak keras.
Begitu sosok Widyawati menghilang dari pandangan, Dewi dan Raka serentak menghela napas sangat panjang.
Huuuh.
Dewi langsung meminum air putih di gelasnya sampai habis untuk menetralkan rasa gugupnya.
"Gila Bos, sandiwaramu tadi nyaris membuatku serangan jantung," protes Dewi sambil memegangi dadanya.
"Siapa yang bersandiwara?" gumam Raka pelan nyaris tidak terdengar.
"Hah? Bos bilang apa tadi?" tanya Dewi yang tidak mendengar jelas karena sibuk menenangkan diri.
Raka buru-buru menggelengkan kepalanya dan kembali memasang wajah datar andalannya.
"Tidak ada. Aku hanya bilang aktingmu tadi lumayan bagus, dari mana kau belajar cara makan ribet begitu?" tanya Raka mengalihkan pembicaraan.
Dewi tersenyum penuh rahasia dan menunjuk kepalanya sendiri.
"Ini namanya bakat alami seorang nyonya konglomerat Bos, kau harusnya bersyukur menyewaku."
Ding!
[Misi Harian Selesai!]
[Tuan Putri berhasil lulus ujian etiket meja makan dan membuat Ibu Suri kesal bukan main!]
[Hadiah ditransfer: Poin Kasih Sayang +20 dan Skill Table Manner Bangsawan aktif permanen!]
Elvan yang tidak mengerti ketegangan orang dewasa malah menepuk-nepuk tangannya senang.
"Papa suapin Mama lagi! Elvan juga mau disuapin Papa!" seru anak itu riang.
Raka tersenyum tipis dan mulai memotong sosis lagi untuk menyuapi putranya.
Pagi itu, meskipun ada bayang-bayang ujian dari Widyawati, ruang makan itu justru dipenuhi oleh gelak tawa dan kehangatan yang semakin nyata.
Bram yang melihat dari jauh hanya bisa tersenyum bahagia.
Sandiwara atau bukan, Tuan Raka dan Nona Dewi terlihat benar-benar seperti sepasang suami istri yang sedang dimabuk asmara.
cuma sekedar tandatangan kayak nya
mampir thor, saking asik nya baca lupa interaksi🤭