NovelToon NovelToon
Dua Wajah Cinta

Dua Wajah Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Demi memenuhi permintaan terakhir Dewi—sahabatnya yang berjuang melawan kanker—Gladys rela menikahi Raka, suami Dewi. Namun, pernikahan tanpa cinta itu membawanya pada kesepian mendalam, sebab hati Raka tetap tertambat sepenuhnya pada almarhumah istrinya.
Mencari pelarian dari rumah tangga yang hampa, Gladys membuka sebuah kafe. Di sana, ia bertemu dengan Praduta, seorang pria berparas tampan yang mengagumi kopi buatannya. Di balik kesan pertama yang sekilas penuh godaan, Gladys melihat ketulusan dalam diri Praduta. Kedekatan yang hangat itu perlahan berubah menjadi benih-benih cinta—sebuah perasaan yang tak seharusnya hadir di tengah ikatan pernikahannya.
Namun, Gladys tidak menyadari bahwa Praduta menyimpan rahasia kelam: kehadiran pria itu bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari dendam masa lalu terhadap keluarga Raka. Kini, Gladys terjebak di persimpangan jalan yang menyiksa—harus memilih antara kesetiaan pada janji pernikahan atau cinta terlarang yang memberi kebahagiaan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Suasana IGD Rumah Sakit Central Medika mendadak tegang ketika brankar dorong yang membawa Raka masuk dengan kecepatan tinggi, didorong oleh dua orang paramedis dan dikawal oleh perawat yang terus memompa alat bantu napas manual.

Di sudut ruangan, Papa Devandra berdiri mematung.

Pria paruh baya itu baru saja tiba setelah mendapat telepon darurat dari pihak bandara.

Tatapan matanya yang tajam dan dingin seketika berubah menjadi kaget saat melihat kondisi putranya yang pucat pasi, lemas tak berdaya dengan mata terpejam rapat.

"Apa yang terjadi pada anak saya?" tanya Papa Devandra dengan suara berat dan otoriter, mendekati brankar saat tim medis mulai memindahkan Raka ke ranjang pemeriksaan.

"Pasien mengalami syok berat, tekanan darahnya drop drastis, dan ada indikasi serangan panik akut yang memicu pingsan, Tuan Devandra," jawab dokter jaga dengan cepat.

"Kami harus segera memasang infus dan memantau kondisi jantungnya."

Tanpa membuang waktu, dokter senior di ruangan itu mengambil selang infus.

Dengan cekatan, ia menyayat kulit pergelangan tangan Raka yang teraba dingin, lalu memasukkan jarum kecil diikuti selang transparan yang langsung diplester erat.

Cairan elektrolit bening mulai menetes perlahan, mengalir masuk ke dalam pembuluh darah Raka.

Beberapa menit berlalu dalam kesibukan medis yang intens.

Alat electrocardiogram (ECG) di samping ranjang mulai berbunyi stabil, menunjukkan detak jantung Raka yang perlahan kembali normal meski masih lemah.

Raka mengerang pelan. Kelopak matanya yang terasa amat berat perlahan-lahan terbuka.

Cahaya lampu putih ruangan rumah sakit terasa menusuk retinanya, membuat ia harus mengerjap beberapa kali untuk memfokuskan penglihatan.

Yang pertama kali ia lihat bukanlah langit-langit kamar, melainkan wajah cemas dari seorang dokter dan dua orang perawat yang berdiri mengelilingi ranjangnya.

Di balik mereka, siluet Papa Devandra berdiri tegak dengan tangan bersidekap, menatapnya dengan sorot mata penuh selidik dan kekhawatiran yang tertahan.

Raka mencoba menggerakkan tubuhnya, namun rasa lemas luar biasa langsung menghantam sekujur tulangnya.

Suaranya tercekat di tenggorokan, terdengar begitu parau dan lemah saat ia bersuara.

"A-aku, di mana?" tanya Raka terbata-bata, memandangi selang infus yang tertancap di pergelangan tangannya.

Dokter tersenyum tipis menenangkan, memeriksa kantung cairan infus di atas kepala Raka.

"Anda berada di rumah sakit, Pak. Tekanan darah Anda sempat turun drastis karena kelelahan dan stres berat. Anda harus banyak istirahat."

Mendengar kata-kata itu, kepingan memori sebelum ia tak sadarkan diri tiba-tiba berkelebat cepat di kepala Raka.

Mulai dari Gladys yang mengembalikan cincin pernikahannya dan Bandara dimana ia melihat adik tirinya.

Jangan menangis, Kak Raka. Aku juga darah Devandra. Aku adik tirimu, Raka.

Mata Raka seketika membelalak. Napasnya mendadak memburu, mengabaikan alat monitor jantung yang langsung berdengung lebih cepat.

Ia mencoba bangkit dari bantalnya, meraba udara kosong di hadapannya dengan tangan yang gemetar hebat.

"G-Gladys." panggil Raka lirih dengan air mata yang kembali tumpah membasahi pelipisnya, menolak percaya bahwa ia telah kehilangan istrinya.

Pintu ruang rawat VVIP itu terbuka pelan dari luar. Seorang dokter spesialis jantung berjas putih keluar dengan wajah tenang, lalu mengangguk singkat kepada Papa Devandra yang sedang berdiri mondar-mandir dengan gelisah di depan pintu.

"Kondisi Pak Raka sudah mulai stabil, Tuan Devandra," lapor sang dokter.

"Namun, ia masih butuh banyak istirahat dan menghindari tekanan emosional yang berlebihan. Silakan masuk."

Papa Devandra mengangguk kaku. Ia mendorong pintu ruangan dan melangkah masuk ke dalam. Di atas ranjang, Raka berbaring dengan tatapan kosong nan tajam ke arah langit-langit kamar, sementara selang infus masih tertancap di punggung tangannya.

Begitu mendengar suara langkah kaki, kepala Raka menoleh lambat-lambat. Manik matanya yang basah dan merah langsung menghujam wajah sang ayah. Tanpa basa-basi, suara Raka yang parau dan bergetar memecah kesunyian ruangan.

"Raka, di mana Gladys?" tanya Raka menuntut, suaranya sarat akan kepedihan dan amarah yang nyaris meledak.

Papa Devandra tertegun sejenak. Pria paruh baya itu menarik napas panjang, bersiap menghadapi badai.

Namun, sebelum ia sempat membuka suara, Raka kembali berbicara dengan kalimat yang menghantam dada sang patriark bagaikan petir siang bolong.

"Pa, siapa Praduta?" Raka menatap ayahnya lekat-lekat, penuh kekecewaan mendalam.

"Papa mengkhianati almarhum Mama?"

Deg!

Darah Papa Devandra seakan mendesak naik ke kepalanya.

Rahangnya mengeras seketika. Masa lalu kelam yang selama puluhan tahun ia kubur rapat-rapat di dasar lautan rahasia, kini terbongkar begitu saja di hadapan putra sulungnya.

Pria paruh baya itu membuang muka sejenak, menelan ludahnya yang terasa kelat sebelum akhirnya menatap kembali mata Raka dengan sorot mata yang menyiratkan beban berat masa lalu.

"Praduta, anakku, Raka," aku Papa Devandra dengan suara berat dan parau.

Ia menarik kursi lalu duduk di samping ranjang putranya.

"Papa dulu, pernah berbuat salah di masa lalu."

Raka mengepalkan tangannya di atas seprai putih rumah sakit.

Napasnya mulai memburu, mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut ayahnya dengan perasaan jijik dan tidak percaya.

"Kelahiran Praduta adalah sesuatu yang tidak pernah kita inginkan di tengah keluarga ini," lanjut Papa Devandra, nada suaranya terdengar getir.

"Ibunya memaksa mengandungnya, dan saat anak itu lahir, ibunya membuangnya begitu saja. Papa memilih untuk tidak mengakuinya demi menyelamatkan kehormatan keluarga Devandra."

"Dan sekarang," potong Raka dengan suara bergetar keras, air matanya tumpah membasahi pipinya.

Ia menatap ayahnya penuh kebencian. "Sekarang dia mengambil Gladys! Dia membawa istriku pergi!"

Raka bangkit setengah badan dari bantalnya, mengabaikan nyeri di dadanya dan selang infus yang tertarik kencang.

"Dan semua ini karena Papa! Karena dosa masa lalu Papa, istriku yang harus menanggung akibatnya!!" teriak Raka putus asa, meruntuhkan seluruh pertahanan wibawa Papa Devandra dalam sekejap.

"Papa mengajarkan aku kesempurnaan keluarga besar Devandra tapi Papa sendiri yang mengotorinya," ucap Raka dengan suara parau yang bergetar hebat, air matanya tumpah menderu membasahi pipinya.

Ia membuang muka, menolak menatap wajah pria paruh baya yang selama ini ia hormati setengah mati.

"Sekarang, Papa tidak usah ke sini. Anggap saja aku mati."

Deg!

Kata anggap saja aku mati memukul dada Papa Devandra bagaikan hantaman palu godam berukuran raksasa.

Selama hidupnya, ia dikenal sebagai sosok patriark yang dingin, tak tersentuh, dan ditakuti oleh siapapun di dunia bisnis.

Namun di hadapan putra sulungnya saat ini, seluruh benteng kekuasaan dan harga diri itu runtuh tak bersisa.

Tanpa memedulikan martabat atau status sosial yang melekat pada namanya, pria paruh baya itu perlahan meluruhkan lututnya.

Di hadapan ranjang rumah sakit tempat Raka berbaring, Papa Devandra menjatuhkan diri—bersimpuh di atas lantai putih ruangan tersebut.

Raka tersentak kecil, menatap tidak percaya saat melihat sang ayah, seorang pria yang paling disegani, kini berlutut di hadapannya dengan kepala tertunduk dalam.

"Raka," suara Papa Devandra pecah, bergetar hebat penuh penyesalan yang teramat dalam.

Pria itu mengangkat kedua tangannya yang mulai keriput, mencengkeram pelan ujung selimut rumah sakit yang menutupi kaki putranya.

"Papa minta maaf. Maafkan atas keegoisan Papa."

Air mata yang selama puluhan tahun berhasil ia tahan kini lolos begitu saja dari sudut mata Papa Devandra, membasahi lantai dingin di bawah lututnya.

"Papa memang salah. Papa terlalu takut kehilangan segalanya, terlalu bodoh menutup mata dari masa lalu hingga mengorbankan kebahagiaan anak-anak Papa sendiri," isak Papa Devandra lirih, meruntuhkan seluruh sisa keangkuhannya.

"Papa bersedia melakukan apa saja untuk menebusnya, Raka. Papa akan bawa kembali istrimu. Papa mohon, jangan benci Papa seperti ini."

Raka memalingkan wajahnya dengan kasar ke arah jendela, menolak melihat sosok sang ayah yang kini bersimpuh di lantai.

Rahangnya mengeras, berusaha menepis gelombang iba yang sempat mendesak dadanya. Luka di hatinya terlalu dalam, dan egonya menolak untuk luluh begitu saja.

"Cukup, Pa." suara Raka terdengar dingin, nyaris tanpa emosi namun sarat akan ketegasan yang mutlak.

"Jangan rendahkan diri Papa di hadapanku. Itu tidak akan mengubah apapun."

Papa Devandra mendongak, manik matanya yang basah menatap punggung putranya dengan penuh kepedihan.

"Raka, dengarkan Papa. Praduta berbahaya. Kamu tidak bisa menghadapinya sendirian. Tanpa sumber daya keluarga Devandra, kamu—"

"Aku tidak butuh bantuan keluarga Devandra!" potong Raka dengan suara bergetar keras, menoleh tajam menatap ayahnya kembali.

Sorot matanya menyala penuh amarah dan tekad yang membaja.

"Selama ini hidupku diatur oleh nama besar keluarga ini, diatur oleh standar kesempurnaan palsu yang Papa ciptakan! Dan, lihat akhirnya? Istriku direnggut karena dosa masa lalu Papa!"

Raka menarik napasnya dalam-dalam, menahan nyeri hebat yang menghantam dadanya akibat selang infus yang tertarik kencang.

Dengan tangan gemetar, ia meraba punggung tangannya sendiri, lalu dengan sekali sentakan, ia mencabut jarum infus itu dari kulitnya.

Cairan darah segar langsung merembes membasahi punggung tangannya, namun Raka sama sekali tidak peduli.

"Raka! Apa yang kamu lakukan?!" seru Papa Devandra kaget, bangkit berdiri dengan tergesa-gesa untuk menghentikan putranya.

"Jangan sentuh aku!" bentak Raka sambil menarik selimut, lalu menurunkan kedua kakinya ke lantai rumah sakit.

Tubuhnya sempat terhuyung limbung karena efek sisa pingsan dan syok berat, namun ia bertahan dengan mencengkeram tepi ranjang kuat-kuat.

Raka menegakkan tubuhnya, menatap sang ayah dengan sorot mata yang sedingin es.

"Aku akan mencari Gladys dengan caraku sendiri," ucap Raka penuh penekanan, setiap kata terucap bagaikan sumpah darah.

"Aku akan buktikan ke Papa, ke Praduta, dan ke seluruh dunia, bahwa aku bisa melindungi istriku tanpa harus mengemis kekuasaan dan harta dari nama besar Devandra."

Tanpa menghiraukan panggilan panik ayahnya, Raka berjalan sempoyongan keluar dari ruang rawat, melangkah menembus koridor rumah sakit dengan tekad bulat untuk memburu Praduta dan merebut kembali wanita yang paling dicintainya.

1
nining cahyaningrum
akur jelas cerita bagud
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!