Renzo, mantan prajurit elite nomer satu indonesia dengan julukan beruang baja, dipenjara di Nusakambangan setelah membantai geng yang membunuh tunangannya. Ia berniat hidup tenang, sampai kabar adiknya dianiaya anak pejabat tertinggi dan keluarganya di sembunyikan membangkitkan amarahnya. Diliputi amarah, Renzo mengumpulkan para tahanan paling berbahaya—algojo kartel, yakuza, psikopat, ahli kungfu, hingga perancang bom—membentuk geng kriminal paling berbahaya dalam sejarah untuk kabur dari penjara, membalas dendam, dan menumbangkan penjahat manipulatif yang bahkan dilindungi pasukan militer!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kabutmalam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TEKAD KABUR DARI PENJARA
Debu halus melayang di udara lorong yang pengap, berputar perlahan dalam seberkas cahaya redup yang menembus jeruji kecil di dinding batu. Di tengah keheningan yang masih terasa berat sisa pertarungan dahsyat itu, Ivan mendongak perlahan. Tubuhnya terasa remuk, setiap sendi menjerit menahan sakit, namun rasa sakit itu seakan tak berarti di hadapan sosok di depannya. Ia menatap Renzo dengan tatapan penuh kebingungan — bingung bukan karena kalah, melainkan karena perubahan yang begitu mendadak, seakan langit dan bumi saling bertukar tempat.
Namun yang ia lihat bukan lagi wajah algojo yang haus darah, bukan lagi sorot mata yang membara diliputi amarah buta. Wajah pria di depannya kini terlihat tenang, damai, bahkan ada senyum samar yang tipis namun tulus tersungging di sudut bibirnya — senyum yang tak pernah terlihat oleh siapa pun selama Renzo mendekam di sini.
"Terimakasih.."
Ivan tertegun, matanya yang besar dan tajam terbelalak sedikit, seakan tak percaya pada apa yang baru saja ia dengar. Hening menyelimuti mereka sejenak, hanya terdengar suara napas berat dan langkah kaki samar dari lorong luar.
"Te.. terimakasih?" Ia mengulang pelan, nada suaranya masih penuh keraguan, menatap Renzo seakan menanyakan apakah ia benar-benar mendengarnya. "Kau tidak membunuhku... seharusnya aku yang berterimakasih, bukan sebaliknya."
Renzo menghela nafas panjang — sebuah helaan yang seakan melepaskan beban berat yang dipikulnya bertahun-tahun, beban yang tak terlihat namun jauh lebih berat dari gunung. Suaranya rendah, namun terdengar jelas dan tegas, tanpa ada sedikit pun keraguan.
"Semenjak aku mendengar berita kematian kekasihku.." kalimat itu terhenti sejenak, seakan ada luka lama yang kembali terbuka, namun ia tetap tenang, "aku kehilangan jati diriku. Penuh amarah, dendam, dan tak ada kebahagiaan... aku membunuh orang bukan karena keinginanku, melainkan karena aku tak bisa mengendalikan diriku sendiri."
Matanya bersinar dingin namun jernih, bukan lagi diliputi kegelapan.
"Tapi sekarang... sekarang aku baik-baik saja.." Renzo menatap Ivan yang masih terbaring lemah di lantai batu yang keras, lalu tersenyum tulus, "terimakasih sudah bertarung denganku... berkatmu aku bisa melampiaskan semua amarah yang aku pendam selama ini."
Ia mengangkat bahunya sedikit, nada bicaranya berubah sedikit lebih ringan, seakan beban raksasa baru saja terangkat dari pundaknya.
"Sejujurnya kau adalah lawan terkuat nomor dua yang pernah kutemui."
Ivan tetap diam, tak bergerak sedikit pun, hanya menatapnya dengan pandangan yang perlahan berubah dari bingung menjadi hormat — sebuah penghormatan yang tulus dari seorang petarung sejati.
"Dan kau juga lawan keduaku yang memaksaku untuk mengerahkan seluruh kekuatanku.." Renzo terkekeh pelan, suara tawanya yang rendah namun hangat bergema di ruangan itu, "sesuai perjanjian kita sebelumnya.."
Sebelum Renzo melanjutkan kalimatnya, suara tawa yang keras dan penuh semangat tiba-tiba memotong, membelah keheningan.
"Hahahaha!!"
Ivan tertawa keras, tawanya yang lantang dan penuh kebanggaan — bukan tawa merendahkan, melainkan tawa seorang ksatria yang akhirnya menemukan tuan yang layak diikuti. Dengan susah payah ia meraih tangan Renzo yang terulur, mencengkeramnya erat. Kakinya tampak gemetar hebat, otot-otot kakinya menegang berusaha menahan beban tubuhnya yang hampir hancur, namun tekad di matanya tak tergoyahkan, lebih kokoh dari batu karang yang tak terguncang ombak.
"Aku, Ivan Dragos, mengakui kekalahanku! Sejak hari ini aku bersumpah akan mengikuti Tuanku.. Beruang Baja sampai mati!"
Setelah kata-kata itu terucap, tubuh Ivan tiba-tiba limbung, kakinya tak lagi sanggup menahan berat badannya. Ia hendak ambruk ke lantai, namun sebelum tubuhnya menyentuh batu yang dingin, Renzo dengan sigap menangkapnya, lalu menggendong tubuh pria itu dengan mudah, seakan berat tubuh Ivan tak lebih dari sekadar beban ringan. Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Renzo memeluknya erat — bukan sebagai musuh, melainkan sebagai saudara yang baru saja ia temukan.
Tatapan Renzo kemudian beralih, menyapu sekeliling. Di lorong sel yang sempit itu, puluhan pasang mata tertuju padanya — wajah-wajah asing, para tahanan berbahaya yang selama ini tak kenal takut, kini menatapnya dengan tatapan berbinar kagum, bercampur rasa hormat yang mendalam. Tak ada yang berani bersuara, tak ada yang berani bergerak. Semua orang merasa terhanyut dalam aura tenang namun perkasa yang memancar dari sosok Renzo.
Renzo kemudian menatap sang Kolonel, wajah pria itu tampak tak kalah terkesan dari para tahanan lainnya.
"Jenderal Kolonel, para tahanan di sini membutuhkan dokter." Ucap Renzo. Suaranya terdengar tenang, tegas, namun penuh wibawa yang tak bisa ditolak.
Sang Kolonel tersenyum tipis, senyum yang jarang pernah terlihat di wajahnya yang dingin dan kaku.
"Ya, meskipun ini adalah sel hukuman mati dan nyawa di sini tak lebih berharga dibanding uang, jika kalian terluka dalam pertarungan, dokter tetap bisa dipanggil." Jawab Kolonel.
Renzo membalas dengan senyum sopan..
"Terimakasih, tolong segera datangkan dokter ke sel 501 dan 502." Renzo berkata pelan namun jelas, lalu berbalik dan kembali melangkahkan kakinya menuju lorong panjang gedung Naga Neraka.
Kerumunan di lorong segera menyingkir spontan, membuka jalan lebar bagaikan penghormatan bagi seorang pemimpin. Tak ada yang berani menghalangi, tak ada yang berani bersuara. Langkah kakinya berat dan mantap, bergema di dinding-dinding batu tebal, terdengar bagaikan detak jantung yang kuat dan berirama.
Namun tiba-tiba Renzo berhenti. Tanpa menoleh sepenuhnya, dengan tatapan setajam pisau yang dingin dan tajam, ia menyapu seluruh kerumunan di depannya, hingga akhirnya tatapannya mengunci wajah kelima penguasa penjara — Darren, Axel, Belly, Pangeran Kael, dan Damian. Keheningan mendadak menegang seketika, udara di lorong itu terasa menurun drastis, dingin menusuk hingga ke tulang.
"Aku hanya ingin menyampaikan sesuatu.." ucapnya, suaranya terdengar pelan namun terdengar jelas oleh setiap orang yang ada di sana, dingin dan penuh peringatan, "aku dan Ivan akan memulihkan diri.. dengarkan baik-baik, jika ada yang berani menyerang kami selama masa pemulihan, tidak peduli itu salah kalian atau bukan, aku bersumpah setelah aku sembuh, kalian semua akan menjadi tumbal untuk neraka!"
Seketika itu juga, suara dentuman petir terdengar menggelegar di langit di luar, seakan alam pun menyetujui sumpahnya.
Setelah itu keheningan menegang, para tahanan menahan napas, tak ada yang berani bergerak sedikit pun. Semua orang merasakan hawa dingin merayap perlahan di sepanjang tulang belakang mereka, membuat bulu kuduk berdiri. Ancaman itu bukan sekadar kata-kata kosong — setiap orang yang hadir tahu, itu adalah janji yang akan ditepati tanpa ragu.
Darren menatap Renzo dalam-dalam, matanya menyipit sedikit, seakan sedang menimbang setiap kemungkinan.
"Aku yakin setelah mendengar berita itu ia pasti ingin segera membalas dendam. Ketenangannya saat ini pasti hanya bagian dari rencananya agar tak dicurigai, bahwa ia hendak kabur dari penjara ini.. menarik... kita lihat sejauh mana kau bisa melangkah, Renzo.." batin Darren, lalu tanpa sepatah kata pun ia berbalik dan pergi, diikuti anak buahnya. Sebagai mantan perwira muda yang telah menyelesaikan banyak misi internasional, pendengarannya tak kalah tajam dengan Renzo — ia mendengar bisikan sipir tadi, dan ia paham arti semua itu.
Axel, Belly, Pangeran Kael, dan Damian pun mengikuti Darren tanpa banyak berkomentar, wajah mereka masing-masing penuh pemikiran, menyadari bahwa sejak hari ini, keseimbangan kekuasaan di penjara ini telah berubah selamanya.
Waktu berlalu perlahan. Kurang dari sepuluh menit berlalu, sel 501 dan 502 yang tadinya suram dan berbau darah, kini berubah menjadi bagsal kecil yang bersih dan tertata rapi. Kepala penjara sendiri yang memberikan perlakuan khusus.
Dokter terbaik dikirim dari rumah sakit penjara, lengkap dengan obat-obatan terbaik
Beberapa perawat muda yang datang tampak pucat pasi begitu melihat kedua pria itu — dua tahanan yang sebelas dua belas dengan monster. Tangan mereka gemetar saat memeriksa luka-luka Ivan, ketakutan mereka begitu besar hingga napas pun tertahan. Namun Renzo dan Ivan tak banyak bertingkah selama dirawat, diam dan tenang, sehingga para perawat itu hanya tinggal beberapa menit sebelum akhirnya bergegas pergi dan menghela napas lega di luar pintu.
Akhirnya keduanya mendapatkan ketenangan yang mereka butuhkan untuk memulihkan diri.
Renzo tampak duduk bersandar di dinding batu yang dingin, matanya menatap Ivan yang terbaring lemah di atas ranjang kasur yang kini jauh lebih baik dari sebelumnya. Mata Ivan tertutup, napasnya teratur, wajahnya tampak damai seakan beban berat telah terangkat dari pundaknya. Renzo kemudian memalingkan tatapannya, menatap jendela kecil seukuran kepala orang dewasa di dinding seberang — melihat langit yang mulai gelap, dengan awan yang bergerak perlahan tertiup angin.
"Aku harus segera keluar dari sini, menemukan keluargaku dan membalas perbuatan Ramon." Batin Renzo. Tatapannya yang tadinya lembut kini berubah tajam, bagaikan mata elang yang melihat mangsa dari ketinggian. Cahaya matahari terbenam yang masuk melalui jendela kecil itu menerangi wajahnya, menyorot sorot matanya yang penuh tekad.
Dugaan Darren memang benar. Renzo berniat kabur dari penjara ini setelah mendengar berita mengerikan itu — berita tentang apa yang terjadi pada Alyssa dan keluarganya. Namun ia tahu betul, untuk kabur dari tempat ini tak semudah membalikkan tangan. Ini adalah Nusakambangan, benteng terkuat yang tak pernah ada yang berhasil kabur.
"Aku tak boleh terburu-buru," batinnya kembali, menenangkan diri, "aku harus menyusun rencana matang, langkah demi langkah. Dan aku bisa memanfaatkan Ivan, serta para narapidana lain di lapas ini untuk kabur!"
Renzo mengepalkan tangannya perlahan, menatap langit yang semakin gelap. Di dalam hatinya, api yang berbeda mulai menyala — bukan api amarah buta seperti dulu, melainkan api tekad yang tak akan pernah padam, apa pun yang terjadi.