NovelToon NovelToon
Cinta Pada Waktunya

Cinta Pada Waktunya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:27.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda RH

Sama sekali tidak terbayangkan dalam hidup Zain harus menikahi perempuan yang sama sekali ia belum kenal sebelumnya. Keadaan yang membuatnya harus melakukan tanggung jawab besar. Tidak ada orang yang ingin terkena musibah. Namun karena sudah takdir, maka semua harus tetap berjalan semestinya.

Dengan berjalannya waktu, takdir pula yang membuka hati Zain untuk mencintai orang yang memang seharusnya ia cintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda RH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keputusan Zain

Pernyataan abi lantas membuat Zain angkat suara.

"Abi, maksudnya apa?"

"Bukannya kamu dapat amanah dari Pak Zakir untuk menjaga Tiyas. Lalu dengan cara apa kamu menjaganya? Kalian tidak ada hubungan darah dan bukan mahram.

Zain pun langsung ingat kepada pesan terakhir Pak Zakir. Namun ia tidak pernah berpikir sejauh itu.

Tiyas terkejut mendengar perkataan abi. Dalam hatinya ia bertanya apa benar bapaknya berpesan seperti itu kepada orang yang belum dikenalnya. Apa lagi orang tersebut yang menyebabkan kecelakaan itu.

"Bukankah kamu mau bertanggung jawab, bang? Mungkin benar menurut abi. Menikahi Tiyas adalah keputusan yang tepat." Sahut ummi

"Tidak begitu juga, ummi."

"Saya pun tidak mau menikah dengannya." Sahut Tiyas.

Tiyas pergi meninggalkan mereka dan masuk ke dalam kamarnya.

"Tiyas tunggu!"

Indri mengejarnya.

"Begini saja. Ayo kita ke hotel saja dulu. Ini sudah malam. Besok kita kembali. Tiyas masih butuh waktu untuk menerima kejadian yang cukup sulit dalam hidupnya."

Zain, kedua orang tuanya, dan pak Zakir pamit kepada orang tua Indri.

Di kamarnya, Tiyas hanya bisa menangis memeluk gulingnya. Ia marah, sedih, dan resah. Ia merasa hidupnya terlalu rumit. Masalah datang bersamaan. Indri masih setia di sampingnya. Ia takut Tiyas akan berbuat nekat.

Di dalam perjalanan menuju hotel, mereka tidak membahas masalah itu. Abi tidak ingin terkesan mendesak putranya. ingin Zain bisa berpikir dengan jernih dan mempertimbangkannya dengan baik.

Zain dan orang tuanya baru saja sampai di hotel.Setelah cek in, mereka masuk ke kamarnya masing-masing untuk beristirahat.

Sampai di dalam kamar, Zain langsung melepas pakaiannya dan masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi air hangat dan bewudhu'. Setelah itu, ia memakai pakaian ganti lalu shalat Isya'.

Di dalam kamar sebelah, kedua orang tua Zain sedang membahas masalah Tiyas. Mereka belum bisa tidur.

"Apa abi yakin dengan keputusan abi ini?"

"Kenapa, mi? Abi melihat Tiyas itu sebenarnya gadis yang baik. Keadaan yang mungkin membuatnya gampang emosi."

"Iya sih, ummi juga melihatnya begitu. Apa lagi dia itu masih natural, bi. syukur-syukur kalau Zain mau mendengarkan kita ya, bi."

"Iya, mi. Ayo tidur dulu. Besok kita lanjutkan lagi."

"Iya, bi."

Keesokan harinya.

Sekitar jam 5 pagi, Indri baru bangun. Ia lupa kalau semalam sedang menjaga Tiyas. Ia pun langsung beranjak ketika tidak melihat keberadaan Tiyas di tempat tidur.

"Tiyas Tiyas... kamu di mana?"

Tidak ada jawaban.

Indri pun mencari ke kamar mandi, namun ternyata di sana tidak ada orang.

"Duh, kemana si Tiyas. Mana aku belum shalat lagi. Tak shalat saja dulu kalau begitu."

Indri pun segera berwudhu' kemudian shalat Shubuh. Setelah selesai shalat, ia kembali mencari Tiyas ke halaman belakang namun tidak ada. Akhirnya ia kembali ke kamar. Ia melihat handphone Tiyas sedang dicas.

Di atas gundukan tanah yang masih basah, seorang anak menangis.

"Bapak.... kenapa dunia ini begitu kejam? Tiyas rasanya mau mati saja pak. Bapak tega ninggalin Tiyas sendiri, hik hik... "

Ia mencurahkan segala perasannya di atas kuburan sang Bapak.

Tidak lama kemudian, datang Indri dengan sepeda ontelnya. Nafasnya bergemuruh karena capek mengayuh pedal sepeda.

"huh huh... Tiyas, ternyata kamu beneran di sini."

"Indri, ngapain kamu ke sini? Aku mau ikut bapak."

"Astaghfirullah... sadar Tiyas. Ayo kita pulang."

"Nggak mau, dri. Aku mau di sini saja sampai bapak menjemputku."

"Ya Allah kamu ini ngomong apa. Masa depanmu masih panjang, yas."

"Masa depanku sudah nggak ada, dri. Sudah terkubur."

Beberapa saat kemudian, Tiyas pingsan.

Indri menggoncang tubuhnya.

"Tiyas bangun!"

"Tolong.... "

Untungnya ada orang yang datang Ziarah kubur di pagi ini. Tiyas pun mendapatkan pertolongan. Ia langsung dibawa pulang ke rumah.

Beberapa saat kemudian, Tiyas akhirnya sadarkan diri.

"Alhamdulillah, kamu sadar juga."

"Indri, mana bapak? Tadi bapak pegang tanganku."

"Astaghfirullah, yas. Kamu sedang dalam keadaan tidak sadar tadi."

"Tapi aku benar-benar bertemu bapak. Bapak pegang tanganku, tapi nggak ngomong apa-apa. Tapi bapak..... "

Tiyas menghentikan ucapannya saat ia mengingat mimpinya tadi. Bapaknya memang memegang tangannya. Namun tangan Tiyas disatukan dengan tangan seseorang. Dan Tiyas ingat betul wajah orang itu.

"Tidak, ini tidak mungkin. Pasti karena aku memang sedang banyak pikiran." Batinnya.

"Yas... hei, kamu nggak pa-pa kan?"

"Eh... iya, aku ndak pa-pa."

"Syukurlah.... jangan bikin aku khawatir lagi, yas. Kamu berhak bahagia. Buktikan kepada orang-orang yang sudah menyakiti dan membuangmu kalau kamu bisa bangkit."

Tiyas pun memeluk Indri.

Ucapan Indri membuatnya sadar.

"Benar katamu, dri. Aku harus bangkit. Aku tidak boleh lemah. Akan kubalas sakit hatiku ini demi Bapak."

"Nah begitu, dong. "

_

Kembali ke Zain

Saat ini Zain baru saja selesai shalat Dhuha. Ia bersiap untuk sarapan di restoran hotel. Ummi dan abi sudah menunggunya di sana.

"Bang Ummi sudah pesankan yang sama dengan kami."

"Terima kasih, ummi."

"Sama-sama."

Tidak lama kemudian pesanan mereka datang. Dan mereka langsung menyantapnya.

Setelah selesai sarapan, mereka tidak langsung pergi. Ummi dan abi tidak mau mengulur waktu lagi untuk meminta keputusan Zain.

"Bang, aa kamu sudah memikirkan hal semalam?" Tanya abi.

"Em... Zain masih bingung, bi. Bisakah kasih waktu satu minggu lagi?"

"Tidak baik mengulur waktu. Kasihan Tiyas."

"Tapi belum tentu juga dia akan menerimanya kan, bi?"

"Abi yakin kalau kami bisa meyakinkannya asalkan kamu benar-benar mau bertanggung jawab, bang."

"Benar kata abimu, bang. Lagipula kalian sama-sama sendiri."

Tiba-tiba Zain ingat kepada sosok tunangan Tiyas semalam.

"Ya Allah, aku baru ingat sesuatu. Tiyas sudah punya tunangan. Mana mungkin aku merusak hubungan mereka, bi."

"Kamu tidak tahu, bang. Mereka itu sudah bubar." Sahut ummi.

Ummi pun menceritakan kejadian semalam sesuai dengan apa yang ummi lihat dan dengar.

Zain pun terkejut.

"Mungkin ini sebabnya pak Zakir menitipkan Tiyas kepadaku. Padahal kita belum pernah bertemu. Ya Allah ini cukup berat. Tapi aku tidak mungkin mengabaikannya. " Batinnya.

Sekitar jam 10, mereka dijemput Pak Jali untuk pergi ke rumah Tiyas.

Di sepanjang perjalanan, Zain sibuk dengan pikirannya sendiri. Ia masih meyakinkan diri bahwa keputusannya kali ini sudah tepat. Karena ini bukan hanya masalah tanggung jawab saja. Namun juga masa depannya. Apa iya dia harus menikah dengan perempuan yang tidak dia cintai bahkan baru ditemuinya. Hal ini cukup berat baginya. Namun ia juga mempertimbangkan kedua orang tuanya.

"Mungkin keputusanku ini akan membuat ummi dan abi bahagia. Tidak ada salahnya kan, aku mengalah." Batinnya.

Bersambung...

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
Sri Supriatin
Eeh tanggung thot🤭🤭😄😄
Faidah Ida
akhirnya unboxing jg..... 😄😄😄
Karsa Sanjaya
kapan nih kisah zean
Novita Sari
mas zain unboxing... update double thor...
Valen Angelina
akhirnya bersambung... bsoknya uda selesai 😂😂😂
Yusmala Nursari
semakin panas nih
Yusmala Nursari
Bagus ceritanya
Sri Supriatin
Lanjuuut thor 👍👍👍
secret
cerita authorr yang selaluu ringann tp baguusssss, toppp
Faidah Ida
Dag Dig Dug ser..... 😄

maju Zain pantang mundur.. hehehehe
secret
duuhh duhh kewajiban apaa tuchh🤭😂
dewi rofiqoh
Kewajiban yang mana mas zain?
Sri Supriatin
Eeh di gantung jadi nunggu besok dong thor🤭🤭🤣🤣
Novita Sari
otw unboxing..
Teh Euis Tea
eeehhh zain udah kasih kode tuh yas, ayo gasken berpahala loh yas 🤭🤭🤭🤭🤭
Valen Angelina
wkwkwkw ada yg gak tahan lagi 🤭🤭🤭🤭
betriz mom
menunggu keseruan para sepupu berkumpul beserta opa haris dan oma Raisya🤗😍🙏
secret
otewe yaa bang Zain nafkah satunyaaa😂
dewi rofiqoh
Baru nafkah lahir ya, nafkah batinnya on the way🤭🤭🤭
Bunda RH: nafkah batin lebih banyak dr nafkah lahir 🤭
total 1 replies
Novita Sari
mas zain dah gak sabar mau unboxing....lanjut thor...
Bunda RH: iya tapi masih malu-malu
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!