NovelToon NovelToon
Menikahi Duda Tua, Malah Dimanja Setiap Hari

Menikahi Duda Tua, Malah Dimanja Setiap Hari

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Menikahi tentara
Popularitas:1.3M
Nilai: 4.9
Nama Author: Raven Ayu

Dibesarkan belasan tahun sebagai putri keluarga perwira, Laras dicampakkan dalam semalam setelah putri kandung mereka, Tiara, ditemukan lewat tes DNA. Ketika Tiara menolak menikahi “duda tua beranak tiga dari kampung”, keluarga memaksa Laras menggantikannya demi menjaga nama baik.
Di desa asing itu, Laras menghadapi seorang lelaki dingin bernama Arya dan tiga anak yatim yang kurus serta waspada. Semua orang mengira ia telah menikah turun derajat dan hanya bisa pasrah pada nasib.
Tak ada yang tahu bahwa Arya sebenarnya adalah mantan perwira Kopassus yang disegani para jenderal sekaligus konglomerat yang menyamar sebagai peternak sapi. Pria yang katanya dingin itu justru memanjakan Laras setiap hari lewat tindakannya, sampai membuat seluruh desa iri.
Sedikit demi sedikit, Laras membalik hidupnya. Ia membesarkan tiga anak terlantar itu menjadi anak-anak jenius, membuat orang-orang yang pernah meremehkannya menelan hinaan mereka sendiri, dan bangkit dari “ibu tiri kampungan” menjadi mahasiswa UI dengan nilai tertinggi.
Namun Tiara belum menyerah merebut apa yang dianggap seharusnya menjadi miliknya. Di saat yang sama, rahasia asal-usul ketiga anak itu mulai terungkap: mereka membawa darah keluarga konglomerat Adiwangsa.
"Kamu menikahiku karena terpaksa," kata Arya. "Tapi aku akan mencintaimu sampai kamu lupa pernah terpaksa."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raven Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Bab 4: Dapur Penuh Rahasia

Sebelum matahari terbit, aku sudah berada di dapur.

Arya berangkat ke peternakan setelah salat Subuh. Bik Inah belum keluar dari kamarnya. Rumah masih sunyi, kecuali bunyi sendok yang sesekali membentur panci ketika aku membuka satu per satu tutupnya.

Panci nasi hanya menyisakan kerak. Di lemari terbuka ada singkong rebus semalam dan sebungkus garam. Rak bumbu hampir kosong. Kulkas dua pintu yang mahal berisi sebotol air, cabai layu, dan setengah papan tempe.

Tidak masuk akal.

Rumah ini memiliki pendingin udara di beberapa ruangan, televisi besar, dan kendaraan sendiri. Arya mengelola peternakan sapi. Namun dapurnya tampak seperti milik keluarga yang tidak mampu membeli satu kilogram beras.

Aku keluar melalui pintu belakang. Gembok pada gudang kecil itu masih terpasang. Baru, mengilap, dan terlalu kokoh untuk sebuah ruangan yang katanya milik Bik Inah sendiri.

Kugoyangkan pintunya. Dari celah bawah keluar butir beras.

“Sedang apa kamu?”

Suara Bik Inah membuatku menoleh. Dia berdiri di ambang pintu dapur dengan rambut belum disisir dan seikat kunci sudah terpasang di pinggang.

“Mencari sarapan anak-anak.”

“Singkong masih ada.”

“Bayu tidur dalam keadaan lapar. Sasa diberi bubur tanpa lauk. Saya mau melihat persediaan makanan.”

Bik Inah melangkah cepat dan berdiri di depan gudang. “Tidak boleh.”

“Kenapa?”

“Pak Arya memercayakan dapur kepada saya.”

“Kalau begitu, buka pintunya dan tunjukkan bahwa semua baik-baik saja.”

“Tidak perlu. Orang baru jangan sok mengatur.”

Dia berbalik hendak masuk. Aku menunjuk kunci yang tergantung di pinggangnya.

“Kunci dengan gagang merah itu untuk gudang ini, kan?”

Tangannya refleks menutupi seikat kunci.

Jawaban yang cukup.

Aku berjalan ke gudang alat di samping rumah dan mengambil palu serta obeng pipih. Bik Inah mengikuti sambil mengomel.

“Kamu mau apa? Jangan rusak rumah orang!”

“Saya memberi Bik kesempatan membuka sendiri.”

“Itu barang pribadi saya!”

“Kalau memang pribadi, nanti kita pisahkan. Kalau milik anak-anak, kita keluarkan.”

Suara kami membangunkan Raka dan Bayu. Kedua anak itu muncul di pintu belakang. Sasa merangkak turun dari teras, lalu berdiri sambil berpegangan pada tiang.

“Masuk!” bentak Bik Inah kepada mereka.

“Biarkan mereka melihat,” kataku.

Aku menyelipkan ujung obeng ke dudukan gembok. Kayunya lebih rapuh daripada besinya. Dua pukulan palu membuat sekrup pertama terangkat.

Bik Inah mencoba merebut palu. Aku memindahkannya ke tangan lain.

“Kalau Bik menyentuh saya, saya panggil tetangga.”

“Panggil saja! Biar semua tahu kamu maling!”

“Bu Sumi!” seruku ke arah pagar. “Tolong kemari sebentar. Saya butuh saksi supaya tidak dituduh mencuri.”

Perempuan dari warung seberang muncul dengan celemek masih terikat. Seorang tetangga lain ikut mendekat.

“Ada apa, Laras?”

“Bik Inah bilang gudang di rumah Pak Arya ini berisi barang pribadinya. Anak-anak semalam tidak cukup makan. Saya mau membuka dan mencatat isinya di depan saksi.”

Bik Inah kehilangan warna di wajahnya. “Jangan dengarkan dia. Dia baru datang dua hari.”

“Justru karena saya baru datang, saya tidak tahu barang mana yang milik siapa. Makanya kita lihat bersama.”

Sekrup kedua terlepas. Dudukan gembok jatuh ke tanah.

Bau beras, bawang, dan daging beku langsung menyeruak ketika pintu kubuka.

Di dalamnya tersusun tiga karung beras premium, dua baki telur, beberapa kilogram gula, minyak goreng dalam jeriken, kaleng biskuit, dan empat kotak susu bubuk untuk balita. Sebuah freezer kecil berdengung di sudut. Ketika kubuka, potongan daging sapi memenuhi setengah bagiannya.

Bayu berdiri dengan mulut terbuka.

“Bik bilang telur habis,” katanya lirih.

Raka tidak bicara. Namun tatapannya pada Bik Inah menjadi gelap.

Aku mengambil satu kotak susu. Ada tulisan spidol pada tutupnya: Sasa, satu kotak per minggu.

Segelnya bahkan belum dibuka.

“Ini kiriman dari peternakan?” tanyaku.

Bu Sumi mengangguk. “Bang Gino biasa antar beras dan daging tiap minggu. Saya sering lihat.”

“Bohong!” seru Bik Inah. “Itu persediaan untuk sebulan. Harus dihemat.”

“Empat kotak susu belum dibuka disebut hemat?” Aku mengangkat baki telur. “Lalu telur yang Bik bawa keluar kemarin untuk siapa?”

Dia tidak menjawab.

Di belakang karung beras, aku menemukan dua tas belanja yang sudah diisi minyak, gula, telur, dan daging beku. Masing-masing terikat rapi, siap dibawa.

Aku mengeluarkan ponsel dan memotret isi gudang sebelum memindahkan apa pun. Karung beras, segel susu, jumlah telur, isi freezer, dan dua tas belanja kucatat satu per satu. Bu Sumi berdiri di sampingku sambil menyebut tanggal terakhir Bang Gino mengantar bahan makanan.

“Tiga hari lalu,” katanya. “Ada daging dua kotak dan beras satu karung.”

“Beras di dapur habis sejak kemarin,” kata Bayu pelan.

Bik Inah menunjuknya. “Anak kecil jangan ikut campur!”

Raka segera berdiri di depan adiknya. Dia tidak tinggi, tetapi tatapannya tidak bergeser.

“Setiap Jumat, Bik membawa tas seperti itu keluar,” katanya.

“Untuk belanja kebutuhan kalian!”

“Kalau untuk kami, kenapa dibawa keluar dari rumah?”

Pertanyaan Raka membuat Bik Inah terdiam.

Aku menyimpan semua foto, lalu mengirim salinannya ke nomor Bang Gino yang diberikan Bu Sumi. Dengan begitu, tidak ada yang bisa menuduh kami mengubah isi gudang sebelum Arya pulang.

Saksi di belakangku mulai berbisik.

“Pantas anak-anak kurus.”

“Barang sebanyak ini malah disimpan.”

“Kemarin saya lihat menantunya Inah bawa daging.”

Bik Inah memekik. “Kalian jangan fitnah!”

Aku tidak meladeninya. Kubawa beras, telur, susu, dan daging ke dapur. Raka mengangkat satu kotak susu tanpa diminta. Bayu membawa baki telur dengan kedua tangan. Sasa berjalan tertatih di belakang kami.

“Hari ini kita sarapan nasi hangat,” kataku. “Telur untuk Raka dan Bayu. Sasa minum susu.”

Mata Bayu bersinar, tetapi dia masih melirik kakaknya sebelum tersenyum.

Aku mencuci beras dan menyalakan penanak nasi. Daging kupindahkan ke baskom untuk dicairkan. Sebagian akan dimasak siang nanti. Aku memecahkan telur ke dalam mangkuk, menambahkan irisan bawang, lalu memanaskan minyak.

Bik Inah berdiri di pintu dapur dengan napas memburu.

“Kamu tidak punya hak menyentuh semua itu!”

“Makanan ini dibeli untuk rumah ini.”

“Saya yang pegang dapur! Saya yang tahu jatah masing-masing!”

“Jatah Sasa tertulis satu kotak susu per minggu. Empat kotak masih tersegel.”

Aku menuangkan telur ke wajan. Aroma bawang dan telur goreng memenuhi dapur. Bayu menelan ludah dengan suara yang hampir terdengar.

Bik Inah menjerit dan menerjang ke arah kompor. Tangannya menggapai spatula, hendak merebut wajan dariku.

Aku tidak mundur. Dengan tangan bebas, kuangkat sebungkus daging yang sudah disimpan berbulan-bulan dan kuhentakkan ke meja dapur.

Aku menatapnya lurus. “Daging ini untuk memulihkan badan Sasa atau untuk lauk menantu Bik Inah? Kalau masih mau berebut, kita tunggu Pak Arya pulang dan hitung semuanya bersama.”

1
Mitha Artha Kencana Althea
inah kurang ajar dikasih kepercayaan mlh membuat snk snk kelaparan terus,,
Umi Maryam
lieur aah cwrita nya konplik terus fitnah terus ,masa istri paman nya di sebut ibu tiri gajelas .....
darwin
👍
🌹🪴eiv🪴🌹
permisi.....kok sampe sini saya muak 🤧

author judul yg anda pakai menipu seharusnya judulnya "masalah bertubi-tubi"
Nurul Ghifari
raka umur 13 tahun tapi bahasanya mengalahkan logika orang dewasa. 🙏
🌹🪴eiv🪴🌹
Vera kamu goblok bon tolol

gedek aku,, wes tak tampol kalo debat gitu sana aku
otakmu bocor ta , kasus,kasus dah 👊
mie_moet
pembantu setresss 🤬
Roamer Palsu
satu-satunya novel yang membuat saya membaca 90bab dalam sehari..

saya tidak pernah melakukan hal ini pada novel manapun sebelumnya..

novelnya tidak menjual romansa melankolis penuh air mata. tidak menjual kekejaman mertua, tidak mengeksploitasi kelemahan tokoh protagonis. setiap bab punya konflik yang tidak mungkin saya tinggalkan untuk tidak membaca bab selanjutnya..

authornya kerenn!!!
Ningsih Gedeona
aku bingungnya... si Ras nya uda selesai kuliah ya???? pindah- pindah terus... 🤭😁🤭😁🤭😁
Wulan Azka: saya malah lebih bingung sama si sasa ya yg kecil, pertama si Laras kesitu kan dia umur 2 THN ngga bisa ngomong pula. trus tau2 ada adegan si vera baru pindah dekat rumah Laras, paling si Sasa umur 3 tahun, belum sekolah juga kan. si Sasa di tes sama si Vera apa si farrel ya itu bisa ngomong lancar pakai bahasa inggris pula. dan kalimat yang dipakai baik bahasa inggris dan bahasa Indonesia pun itu kayak orang dewasa bahkan bukan kalimat santai yang biasa dipakai buat ngobrol sehari hari 🤔
total 1 replies
Ibu DelVan95
kak jujur novelmu bagus n rapi bgt bhsa ny kyk baku ya klo gk slah..ttep smngat buat kakak nya👍
H A P
plissss ngakakkkkk😭😭😭
Erna Masliana
emang kamunya yang bermasalah.. jangan nyalahin nasib .
Erna Masliana
lalu kenapa mau ditipu... udah sekali terjerumus.. ditolong..malah ngulang kesalahan
Erna Masliana
Vera Damar masih suami istri apa udah cerai sih ??
Erna Masliana
Damar kan suami Vera kok dia sepertinya membiarkan Vera terus meneror.. menganggu.. mengancam
fatmiatun sahono
cerita nya menarik.... mengajar kan ttg kehidupan keluarga. cuma gaya bahasanya kaku, seperti menggunakan AI baku banget dan formal walau sedang mengobrol dengan anak istri....🙏💪
Irianti
cerita nya bagus Thor, tapi ini seperti membaca cerita si laras aja. bukan seperti baca novel lebih bagus itu pov author aja jadi nyambung, maaf yaa Thor sekedar saran 🙏🙏🙏. tetap semangat💪💪💪
Jessica
jadi inget temenku pulang dari saudi pas goreng tempe anak e nungguin mau ambil satu nungguin ibunya pas gak tau...dia ambil satu adiknya d tarik ngumpet d makan bersama....Dia nangis kejer meluk anak2 nya minta maaf kalau mau makan apapun akan ibu masak kan,karena selama ibu nya merantau mereka serumah dng ibu tirinya makan nan d jatah😭😭😭😭😭😭
Jojo Ge
👍
🌹🪴eiv🪴🌹
Vera , wartawan kok goblok 😛
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!