Semua orang bilang Laras sial.
Dibesarkan belasan tahun sebagai putri keluarga perwira, ia dicampakkan dalam semalam begitu putri kandung yang sesungguhnya—**Tiara**—pulang lewat tes DNA. Dan ketika Tiara menolak menikahi "duda tua beranak tiga dari kampung" yang lamarannya sudah diterima, keluarga memaksa Laras menggantikannya demi nama baik.
Sebuah desa asing. Seorang lelaki dingin dan pendiam. Tiga anak yatim yang kurus, waspada, dan salah satu balita yang bahkan belum bisa bicara. Semua menyangka Laras "menikah turun derajat" dan pasrah pada nasib.
Tak ada yang tahu—rumah termewah satu-satunya di desa itu adalah miliknya. Bahwa lelaki pendiam bernama **Arya** itu adalah **mantan perwira Kopassus** yang disegani para jenderal, seorang **konglomerat yang menyamar** di balik peternakan sapi.
Dan tak ada yang menyangka: duda "tua" yang katanya dingin itu justru **memanjakan istrinya setiap hari**—diam-diam, dengan tindakan, sampai membuat seluruh desa iri.
Sedikit demi sedikit, Laras membalik keadaan. Ia besarkan tiga anak terlantar itu menjadi anak-anak jenius. Ia permalukan satu per satu orang yang pernah memandangnya rendah. Ia bangkit dari "ibu tiri kampungan" menjadi mahasiswa UI dengan nilai tertinggi.
Tapi keluarga yang membuangnya belum menyerah. Tiara masih menginginkan segalanya yang "seharusnya" jadi miliknya. Dan rahasia asal-usul ketiga anak itu—darah keluarga konglomerat **Adiwangsa**—bisa mengubah segalanya…
*"Kamu menikahiku karena terpaksa," katanya suatu malam. "Tapi aku akan mencintaimu sampai kamu lupa pernah terpaksa."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raven Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
Bab 4: Dapur Penuh Rahasia
Sebelum matahari terbit, aku sudah berada di dapur.
Arya berangkat ke peternakan setelah salat Subuh. Bik Inah belum keluar dari kamarnya. Rumah masih sunyi, kecuali bunyi sendok yang sesekali membentur panci ketika aku membuka satu per satu tutupnya.
Panci nasi hanya menyisakan kerak. Di lemari terbuka ada singkong rebus semalam dan sebungkus garam. Rak bumbu hampir kosong. Kulkas dua pintu yang mahal berisi sebotol air, cabai layu, dan setengah papan tempe.
Tidak masuk akal.
Rumah ini memiliki pendingin udara di beberapa ruangan, televisi besar, dan kendaraan sendiri. Arya mengelola peternakan sapi. Namun dapurnya tampak seperti milik keluarga yang tidak mampu membeli satu kilogram beras.
Aku keluar melalui pintu belakang. Gembok pada gudang kecil itu masih terpasang. Baru, mengilap, dan terlalu kokoh untuk sebuah ruangan yang katanya milik Bik Inah sendiri.
Kugoyangkan pintunya. Dari celah bawah keluar butir beras.
“Sedang apa kamu?”
Suara Bik Inah membuatku menoleh. Dia berdiri di ambang pintu dapur dengan rambut belum disisir dan seikat kunci sudah terpasang di pinggang.
“Mencari sarapan anak-anak.”
“Singkong masih ada.”
“Bayu tidur dalam keadaan lapar. Sasa diberi bubur tanpa lauk. Saya mau melihat persediaan makanan.”
Bik Inah melangkah cepat dan berdiri di depan gudang. “Tidak boleh.”
“Kenapa?”
“Pak Arya memercayakan dapur kepada saya.”
“Kalau begitu, buka pintunya dan tunjukkan bahwa semua baik-baik saja.”
“Tidak perlu. Orang baru jangan sok mengatur.”
Dia berbalik hendak masuk. Aku menunjuk kunci yang tergantung di pinggangnya.
“Kunci dengan gagang merah itu untuk gudang ini, kan?”
Tangannya refleks menutupi seikat kunci.
Jawaban yang cukup.
Aku berjalan ke gudang alat di samping rumah dan mengambil palu serta obeng pipih. Bik Inah mengikuti sambil mengomel.
“Kamu mau apa? Jangan rusak rumah orang!”
“Saya memberi Bik kesempatan membuka sendiri.”
“Itu barang pribadi saya!”
“Kalau memang pribadi, nanti kita pisahkan. Kalau milik anak-anak, kita keluarkan.”
Suara kami membangunkan Raka dan Bayu. Kedua anak itu muncul di pintu belakang. Sasa merangkak turun dari teras, lalu berdiri sambil berpegangan pada tiang.
“Masuk!” bentak Bik Inah kepada mereka.
“Biarkan mereka melihat,” kataku.
Aku menyelipkan ujung obeng ke dudukan gembok. Kayunya lebih rapuh daripada besinya. Dua pukulan palu membuat sekrup pertama terangkat.
Bik Inah mencoba merebut palu. Aku memindahkannya ke tangan lain.
“Kalau Bik menyentuh saya, saya panggil tetangga.”
“Panggil saja! Biar semua tahu kamu maling!”
“Bu Sumi!” seruku ke arah pagar. “Tolong kemari sebentar. Saya butuh saksi supaya tidak dituduh mencuri.”
Perempuan dari warung seberang muncul dengan celemek masih terikat. Seorang tetangga lain ikut mendekat.
“Ada apa, Laras?”
“Bik Inah bilang gudang di rumah Pak Arya ini berisi barang pribadinya. Anak-anak semalam tidak cukup makan. Saya mau membuka dan mencatat isinya di depan saksi.”
Bik Inah kehilangan warna di wajahnya. “Jangan dengarkan dia. Dia baru datang dua hari.”
“Justru karena saya baru datang, saya tidak tahu barang mana yang milik siapa. Makanya kita lihat bersama.”
Sekrup kedua terlepas. Dudukan gembok jatuh ke tanah.
Bau beras, bawang, dan daging beku langsung menyeruak ketika pintu kubuka.
Di dalamnya tersusun tiga karung beras premium, dua baki telur, beberapa kilogram gula, minyak goreng dalam jeriken, kaleng biskuit, dan empat kotak susu bubuk untuk balita. Sebuah freezer kecil berdengung di sudut. Ketika kubuka, potongan daging sapi memenuhi setengah bagiannya.
Bayu berdiri dengan mulut terbuka.
“Bik bilang telur habis,” katanya lirih.
Raka tidak bicara. Namun tatapannya pada Bik Inah menjadi gelap.
Aku mengambil satu kotak susu. Ada tulisan spidol pada tutupnya: Sasa, satu kotak per minggu.
Segelnya bahkan belum dibuka.
“Ini kiriman dari peternakan?” tanyaku.
Bu Sumi mengangguk. “Bang Gino biasa antar beras dan daging tiap minggu. Saya sering lihat.”
“Bohong!” seru Bik Inah. “Itu persediaan untuk sebulan. Harus dihemat.”
“Empat kotak susu belum dibuka disebut hemat?” Aku mengangkat baki telur. “Lalu telur yang Bik bawa keluar kemarin untuk siapa?”
Dia tidak menjawab.
Di belakang karung beras, aku menemukan dua tas belanja yang sudah diisi minyak, gula, telur, dan daging beku. Masing-masing terikat rapi, siap dibawa.
Aku mengeluarkan ponsel dan memotret isi gudang sebelum memindahkan apa pun. Karung beras, segel susu, jumlah telur, isi freezer, dan dua tas belanja kucatat satu per satu. Bu Sumi berdiri di sampingku sambil menyebut tanggal terakhir Bang Gino mengantar bahan makanan.
“Tiga hari lalu,” katanya. “Ada daging dua kotak dan beras satu karung.”
“Beras di dapur habis sejak kemarin,” kata Bayu pelan.
Bik Inah menunjuknya. “Anak kecil jangan ikut campur!”
Raka segera berdiri di depan adiknya. Dia tidak tinggi, tetapi tatapannya tidak bergeser.
“Setiap Jumat, Bik membawa tas seperti itu keluar,” katanya.
“Untuk belanja kebutuhan kalian!”
“Kalau untuk kami, kenapa dibawa keluar dari rumah?”
Pertanyaan Raka membuat Bik Inah terdiam.
Aku menyimpan semua foto, lalu mengirim salinannya ke nomor Bang Gino yang diberikan Bu Sumi. Dengan begitu, tidak ada yang bisa menuduh kami mengubah isi gudang sebelum Arya pulang.
Saksi di belakangku mulai berbisik.
“Pantas anak-anak kurus.”
“Barang sebanyak ini malah disimpan.”
“Kemarin saya lihat menantunya Inah bawa daging.”
Bik Inah memekik. “Kalian jangan fitnah!”
Aku tidak meladeninya. Kubawa beras, telur, susu, dan daging ke dapur. Raka mengangkat satu kotak susu tanpa diminta. Bayu membawa baki telur dengan kedua tangan. Sasa berjalan tertatih di belakang kami.
“Hari ini kita sarapan nasi hangat,” kataku. “Telur untuk Raka dan Bayu. Sasa minum susu.”
Mata Bayu bersinar, tetapi dia masih melirik kakaknya sebelum tersenyum.
Aku mencuci beras dan menyalakan penanak nasi. Daging kupindahkan ke baskom untuk dicairkan. Sebagian akan dimasak siang nanti. Aku memecahkan telur ke dalam mangkuk, menambahkan irisan bawang, lalu memanaskan minyak.
Bik Inah berdiri di pintu dapur dengan napas memburu.
“Kamu tidak punya hak menyentuh semua itu!”
“Makanan ini dibeli untuk rumah ini.”
“Saya yang pegang dapur! Saya yang tahu jatah masing-masing!”
“Jatah Sasa tertulis satu kotak susu per minggu. Empat kotak masih tersegel.”
Aku menuangkan telur ke wajan. Aroma bawang dan telur goreng memenuhi dapur. Bayu menelan ludah dengan suara yang hampir terdengar.
Bik Inah menjerit dan menerjang ke arah kompor. Tangannya menggapai spatula, hendak merebut wajan dariku.
Aku tidak mundur. Dengan tangan bebas, kuangkat sebungkus daging yang sudah disimpan berbulan-bulan dan kuhentakkan ke meja dapur.
Aku menatapnya lurus. “Daging ini untuk memulihkan badan Sasa atau untuk lauk menantu Bik Inah? Kalau masih mau berebut, kita tunggu Pak Arya pulang dan hitung semuanya bersama.”