NovelToon NovelToon
Ketika Istri Pendiamku Berubah Bar-Bar

Ketika Istri Pendiamku Berubah Bar-Bar

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Selingkuh / Penyesalan Suami
Popularitas:29.9k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

"Baguslah kamu ada di sini. Tolong urus makan malam mas Ardy juga ibu mertuaku! Aku mau belanja dan bersenang-senang pakai kartu kreditnya."

Selama tiga tahun pernikahan, Kirana dikenal sebagai istri yang penurut, pendiam dan selalu mengalah.

Bahkan ketika tahu suaminya, Ardy, memelihara wanita lain. Kirana hanya bisa menangis di pojok kamar, menerima semua makian dari mertua dan manipulasi dari keluarga suaminya sendiri.

​Sampai sebuah kecelakaan tragis mengubah segalanya.

​Saat Kirana membuka mata, ketakutan di jiwanya lenyap tanpa bekas.

​Ardy mengira dia masih memegang kendali atas hidup Kirana, sampai akhirnya pria itu sadar, Kirana yang sekarang bukanlah Kirana yang dulu.

Dan saat Ardy mulai berlutut memohon cintanya kembali, Kirana sudah menutup pintu hatinya untuk pria itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 19 Nyonya Ampun!

"Yati! Mana sarapannya?!" teriak Kirana.

Sepasang matanya mendapati meja makan yang biasanya sudah dihiasi banyak hidangan, masih kosong melompong. Bahkan segelas air putih pun tak tersedia.

Beberapa pelayan muda yang sedang membersihkan debu di sudut ruangan langsung membeku. Mereka saling pandang dengan wajah tegang.

Tak lama kemudian, dari ambang pintu dapur, Yati muncul. Kepala pelayan itu berjalan dengan ragu dan kepalanya menunduk.

"M–maaf, Nyonya Kirana. Sarapannya...,"

"Masak sendiri!" sebuah suara angkuh memotong tajam sebelum Yati sempat menyelesaikan ucapannya yang terbata-bata.

Kirana menoleh. Dari arah tangga utama, nampak lah Sarah.

"Enak saja kamu menyuruh-nyuruh Yati," lanjut Sarah seraya melipat tangan di depan dada.

"Memangnya matamu buta? Kamu tidak lihat wajahnya masih babak belur memar gara-gara ulah gilamu kemarin?"

Alih-alih terpancing emosi atau menunduk takut seperti yang biasa ia lakukan selama bertahun-tahun, Kirana sama sekali tidak bereaksi berlebihan. Wanita itu justru menarik sebuah kursi makan di dekatnya, duduk dengan santai, lalu menyilangkan kakinya yang jenjang. Ia mengeluarkan ponsel dari saku cardigan-nya.

Jemarinya sibuk menggulir layar, benar-benar menganggap ucapan ibu mertuanya itu bagaikan angin lalu yang sama sekali tidak penting. Sikap tak acuh itu membuat rahang Sarah mengeras.

"Kirana! Kamu dengar aku bicara tidak?!"

Beberapa detik kemudian, Kirana baru mengangkat wajahnya. Matanya menatap Sarah sekilas sebelum beralih menatap Yati yang masih menunduk ketakutan.

"Lagipula, yang babak belur itu wajahnya, kan? Bukan tangan atau kakinya."

Senyum miring perlahan terbentuk di bibir Kirana.

"Atau kamu mau sekalian kubuat tidak bisa berjalan? Supaya alasanmu untuk bermalas-malasan menyiapkan sarapanku jadi lebih masuk akal?"

Yati spontan mundur selangkah dengan wajah kian pucat pasi.

"T–tidak, Nyonya. Tolong jangan. Saya akan siapkan sarapannya sekarang juga."

"Jangan, Yati!"

Tiba-tiba, Siska muncul dari ruang keluarga dan segera berdiri di depan Yati, menarik lengan pelayan itu untuk mencegahnya pergi ke dapur.

"Mana berani mbak Kirana melakukan sesuatu padamu. Dia cuma menggertak. Dia pikir dengan bertingkah sok berkuasa, semua orang di rumah ini akan takut padanya?"

Lalu, Siska menoleh ke arah tangga. Dimana Ardy, baru saja turun dengan setelan jas kerjanya yang rapi.

"Mas Ardy, lihat sendiri kelakuan istrimu ini. Mbak Kirana sekarang pemalas sekali dan makin kurang ajar. Masih pagi, bukannya melayani dan menyiapkan sarapan untuk suaminya yang mau pergi cari nafkah, malah enak-enakan duduk dan meneror pelayan!"

"Itulah akibat perempuan miskin yang terlalu dimanja masuk ke keluarga kita. Tidak tahu diuntung!" sahut Sarah.

Ardy hanya diam di ujung tangga. Matanya menatap lurus ke arah Kirana, mencoba mencari sisa-sisa wanita penurut yang selama ini ia kenal. Namun, Kirana yang duduk di sana bagaikan orang asing yang tak tersentuh.

Mendengar semua hinaan itu, Kirana perlahan berdiri dari kursinya. Ia menyimpan ponselnya kembali ke saku. Sama sekali tidak menggubris ocehan murahan Siska maupun tatapan menghakimi dari ibu mertuanya. Ia bahkan mengabaikan Ardy.

Kirana dengan tenang justru melangkah melewati mereka semua, menuju ke arah dapur.

Sesampainya di ambang pintu penghubung antara ruang makan, Kirana mendadak berhenti. Ia memgambil tongkat bisbol yang tersembunyi di sana.

"Sepertinya masih kokoh," gumam Kirana.

"Apa yang kamu pegang itu?! Jangan macam-macam kamu di rumahku!" teriak Sarah baya itu dengan panik.

Kirana memutar tubuhnya sembari menggenggam tongkat itu semakin erat dan menghampiri Yati. Ia masih ingat dua tahun lalu, Sarah menyuruh Yati menyiksanya dengan tongkat ini, hingga membuatnya demam beberapa hari. Dan saat itu Ardy masih berada di luar kota, hingga tak tahu menahu soal dirinya.

"Nyonya... Nyonya Kirana... maafkan saya... Tolong buang benda itu..."

Kirana mengangkat tongkat itu tinggi-tinggi.

Bugh!

Tongkat itu diayunkan dengan kekuatan penuh dan menghantam ujung meja makan, tepat hanya berjarak beberapa sentimeter dari jari jemari Yati yang menempel di pinggiran meja.

Lutut Yati lemas seketika dan ia langsung ambruk di atas lantai.

"Dulu di tempat yang sama persis, setiap kali aku menangis memohon ampun karena kakiku kesakitan, kamu tertawa, Yati."

Yati menggeleng kuat-kuat, air matanya tumpah membasahi lantai. "Nyonya, ampun... ampun..."

"Kamu bilang padaku saat itu kalau aku pantas menerimanya karena aku hanya wanita rendahan," lanjut Kirana, mengingat setiap kata hinaan itu dengan sempurna.

"Itu... itu karena saya hanya menjalankan perintah nyonya besar, Nyonya! Saya terpaksa! Saya hanya bawahan!" ratap Yati mencari pembelaan sembari menunjuk ke arah Sarah yang kini wajahnya ikut memucat melihat keberingasan Kirana.

"Perintah?" Kirana terkekeh pelan. Tawa yang sama sekali tidak terdengar lucu.

"Lucu sekali alasanmu. Kalau begitu, mari kita gunakan logika yang sama. Hari ini, aku juga sedang menjalankan perintah dari pikiranku sendiri."

Seketika, tongkat itu kembali terangkat ke udara. Ayunan kedua mendarat sangat keras di lantai, tepat berjarak satu jengkal di samping lutut Yati. Semua pelayan menjerit ketakutan dan mundur merapat ke dinding.

Sementara sarah terperanjat sambil memegangi dadanya.

"Nyonya! Ampun, Nyonya Kirana! Saya salah! Saya tidak akan mengulanginya lagi!"

Kirana menunduk, mencengkeram kerah seragam Yati dan menariknya hingga wajah pelayan itu sejajar dengan tatapan mematikannya.

"Dengar baik-baik, Yati. Aku tidak akan mengotori tanganku untuk membalas semua perlakuan biadabmu dengan cara yang sama. Menghancurkan kakimu terlalu mudah bagiku. Tapi ingat ini baik-baik, mulai hari ini, detik ini juga, kalau kamu masih berani mempermainkanku, atau menunda satu detik saja perintahku, aku pastikan kamu keluar dari rumah ini bukan sebagai pelayan yang dipecat. Melainkan masuk ICU sebagai pasien rumah sakit cacat permanen," ancam Kirana menghempaskan Yati dengan kasar.

Yati kembali tersungkur di lantai dan menangis sesenggukan sambil mengangguk berkali-kali saking takutnya.

"S–saya mengerti, Nyonya... Saya akan melayani anda sengan baik mulai hari ini," pelayan itu langsung merangkak mundur dan lari terbirit-birit masuk dapur dengan tubuh gemetar.

Sarah, yang sejak tadi berdiri membeku karena syok, akhirnya berhasil mengumpulkan sisa-sisa kesombongannya.

"Kirana, beraninya kamu mengamuk dan mengancam orang di rumah ini! Kamu pikir kamu siapa, hah?!" maki Sarah.

Kirana menatap ibu mertuanya dari ujung kaki hingga ujung kepala.

"Aku harap mertuaku ini belum amnesia dan hukum negara ini juga belum berubah. Jelas aku masih istri sah dari putra kesayanganmu ini." Kirana menunjuk Ardy yang masih mematung di tangga.

"Jadi, selama belum ada surat cerai yang sah di mata hukum, aku berstatus sebagai nyonya di rumah ini. Dan aku punya hak penuh mutlak untuk menentukan siapa yang boleh dan tidak boleh bekerja melayaniku," lanjut Kirana.

Tak seorang pun berani menyela sama sekali. Bahkan Siska yang biasanya bermulut tajam kini bungkam seribu bahasa.

Sedangkan Ardy, sedari tadi hanya berdiri memperhatikan sang istri dalam diam. Tangannya terkepal erat.

"Apa dulu Mama memperlakukan Kirana seperti ini saat aku tidak ada di rumah? Dia dipukul pakai tongkat bisbol?! Kenapa aku tidak pernah tahu?" gumam Ardy dalam hati. Ia menatap ibunya, lalu beralih menatap tongkat di tangan Kirana.

1
🇦 🇵 🇷 🇾👎
cakep jgn lm x satu bln
Nice1808
tuh Ardy krna kau mulaimencintai kirana tp kau gk mengakui perasaanmu🤣🤣🤣
Sri Rahayu
apa mungkin Siska hanya pura2 hamil agar Ardi selekasnya menikahinya 😇😇😇.... semoga Tristan mendpt kan bukti2 kejahatan dan kebohongan Siska...lanjut Thorr😘😘😘
stela aza
jangan lama2 donk Thor bikin Ardi jadi gembel ,,, q udh g sabar liatnya 🤭
Senja: Hehehe sabar y kak🤣
total 1 replies
Esther
Nanti kalau sakit beneran, gak akan ada orang yang percaya Siska, terlalu banyak berbohong sih.
Heni Fitoria
g sabar lihat kehancuran nya Ardy, perusahaan bangkrut, tahu kenyataan klu anak yg dikandung Siska BKN anaknya 🤭🤭🤭
Heni Fitoria
doa mu tak aamiin kan Kirana
Deasy Suryandari
lanjoooot
mau lihat gimana si siska setelah ardy bangkrut dan pasti itu bukan anaknya ardy
Nice1808
tuh org diam di ganggu dia akn melebihi singa ngamuk🤣🤣kirana akan bertindak dan kalian akn jd gembel ardy, sarah dan kau siska🤭🤣
Nice1808
gak sadar kau ardy, kau yg berkhianat malah nuduh kirana selingkuh, bagus kirana lawan aja tuh ardy yg sok berkuasa🤣
Sri Rahayu
ayo cepet bantu Kirana bikin Ardi bangkrut, kahilangan segalanya Tristan... dan buka kedok sprt apa Siska sebenarnya...lanjut Thorr😘😘😘
sunaryati jarum
Ah emak tidak sabar melihat kemiskinan Ardy dan runtuhnya kesombongannya ibunya dan Siska.Emak juga ingin tahu reaksi Ardy jika terbongkar anak yang dikandung Siska bukan anaknya.
Senja: heheh siapppp makk
total 1 replies
sunaryati jarum
Benar balikan tuduhan padamu ke Ardy yang tidak berkaca pada dirinya sendiri, semoga dalang terjadinya kecelakaan padamu segera terungkap dan pelakunya ditangkap bersama bukti yang tidak bisa dibantah
stela aza
ceritanya keren, karakter toko utama perempuan nya hebat ,,, g cengeng kaya di novel lain ,,, yg bisanya cuma nangis,,, pokoknya best bgt ceritanya ❤️❤️❤️❤️
stela aza
good job Kirana ,, q suka gayamu ❤️❤️❤️
🇦 🇵 🇷 🇾👎
yes😀
Elina thea
benar Kirana buat si Ardy bangkrut...dgn dia bangkrut maka selingkuhannya juga pergi karna gak tahan hidup miskin
Margaretha Indrayani
ardy tidak berkaca dirinya lebih parah karena malah membawa pulang siska
🇦 🇵 🇷 🇾👎
good
🇦 🇵 🇷 🇾👎
bntr lg jd suami tan🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!