NovelToon NovelToon
KEKASIH DARI KEGELAPAN

KEKASIH DARI KEGELAPAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:108
Nilai: 5
Nama Author: LailaHaidar

Di antara cahaya yang tak pernah cukup dan bayangan yang tak pernah padam, namanya terucap hanya dalam hening: Orion.

Ia bukan milik dunia yang kau kenal. Pangeran dari kedalaman kegelapan, sosok yang dikabarkan tak pernah menyentuh sinar matahari, yang berjalan di tempat di mana cahaya tak mampu menjangkau. Banyak yang gemetar menyebut namanya; banyak yang menganggapnya kutukan. Namun bagi Aruna—ia adalah satu-satunya keberkahan yang menyelamatkannya dari jurang.

Aruna, gadis yang hidup di antara keraguan dan bahaya yang datang tanpa peringatan, selalu menemukan dirinya ditarik ke tepi jurang—sampai sepasang tangan yang kuat, hangat meski berasal dari kegelapan, menariknya kembali. Orion selalu hadir tepat saat dunia tampak membelakanginya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LailaHaidar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keberadaan yang Disembunyikan

Pagi itu aku terbangun bukan karena cahaya yang masuk, tapi karena suara percakapan yang tertahan di luar gubuk. Suara rendah Orion, disusul suara Mara yang lebih tajam, berdesis pelan seolah takut membangunkanku. Aku tetap berbaring diam, mata terpejam sedikit terbuka, mendengarkan sambil berpura-pura masih tidur.

"Kau tidak memberitahunya, kan?" tanya Mara, nada bicaranya tidak marah, tapi penuh kekhawatiran yang nyata. "Dia berhak tahu, Mara. Semakin lama aku sembunyikan, semakin berat kebenarannya nanti."

"Kau gila? Dia baru saja mulai merasa aman di sini, dan kau mau menghancurkan semuanya dengan satu kalimat? Dia manusia, Orion. Dia punya batas kemampuan untuk menerima hal-hal yang tidak masuk akal."

"Dia bukan manusia biasa. Kau sendiri yang bilang cahayanya berbeda. Dia lebih kuat dari yang kita kira."

"Kekuatan bukan berarti dia tidak punya hati yang bisa hancur," potong Mara tegas. "Pikirkan baik-baik. Begitu dia tahu, tidak ada jalan kembali. Dia tidak akan bisa pulang ke dunianya dengan tenang. Dia akan selalu melihat bayang-bayang di mana pun dia berada."

Aku tidak mendengar jawaban Orion saat itu. Hanya hening yang panjang, lalu suara langkah kaki yang menjauh. Aku memejamkan mata rapat-rapat saat pintu terbuka perlahan. Aku merasakan dia berdiri di dekatku, tarikan napasnya yang berat, seolah sedang bergumul dengan sesuatu yang menyakitkan.

Aku membuka mataku perlahan. Dia terkejut sedikit, lalu tersenyum tipis yang tidak sampai ke matanya.

"Kau sudah bangun?" suaranya lembut, tangannya menyisir rambutku pelan. "Maaf kalau kami berisik tadi."

"Aku mendengar sebagian," akuku jujur, duduk dan merapikan selimut. "Ada sesuatu yang harus kau katakan padaku, kan? Sesuatu yang kau takutkan aku tidak akan bisa terima."

Dia duduk di sebelahku, menatap apinya yang masih menyala redup. "Aku berjanji tidak akan menyembunyikan apa pun lagi darimu. Tapi izinkan aku mengumpulkan keberanianku dulu. Ini bukan hal yang mudah untuk diucapkan."

"Kita sudah melewati banyak hal, Orion. Tidak ada yang bisa membuatku meninggalkanmu. Katakanlah, apa pun itu."

Dia mengangguk pelan, lalu berdiri. "Mari kita sarapan dulu. Mara menyiapkan sesuatu yang bisa dimakan. Setelah itu... aku akan menceritakan semuanya. Aku janji."

Sarapan terasa hening. Mara tidak banyak bicara, hanya meletakkan semangkuk sup hangat di depanku tanpa menatap mataku. Sesekali dia melirik Orion dengan tatapan yang seolah berkata: Kau menyesal nanti. Tapi Orion hanya menunduk, memainkan sendoknya tanpa benar-benar makan.

Setelah selesai, Mara berdiri dan mengambil tongkatnya. "Aku akan berkeliling memastikan tidak ada yang mengikuti jejak kalian. Kalian punya waktu sampai matahari tertinggi di atas sana. Setelah itu, kita harus pergi. Tempat ini tidak aman lagi terlalu lama."

Dia keluar dan menutup pintu, meninggalkan kami berdua sendirian.

Orion menarik napas panjang, lalu menatapku lurus ke mata. Tangannya bergetar sedikit saat dia menggenggam tanganku di atas meja kayu kasar itu.

"Ingat saat aku bercerita tentang kutukan yang ayahku jatuhkan kepadaku? Bahwa aku diasingkan ke perbatasan karena menolak perang?"

Aku mengangguk. "Ya."

"Itu bukan seluruh kebenarannya. Itu hanya permulaan cerita." Dia berhenti sejenak, menelan ludah seolah kata-kata itu berat sekali. "Ribuan tahun yang lalu, ada ramalan kuno yang beredar di duniku. Ramalan tentang seorang anak yang lahir dari penyatuan terang dan gelap. Anak itu akan memiliki kekuatan yang tak tertandingi — bisa menyatukan dua dunia, atau menghancurkan keduanya sampai tak tersisa."

Hatiku mulai berdebar kencang, tapi aku tetap diam, mendengarkan.

"Ayahku takut. Dia tahu jika ramalan itu terwujud, takhtanya akan runtuh. Jadi dia melarang siapa pun berhubungan dengan manusia. Siapa pun yang melanggar akan dihukum mati. Dan aku... aku tidak tahu saat itu. Ribuan tahun lalu, ada seseorang — seorang wanita dari duniamu — yang tersesat ke perbatasan. Aku menolongnya. Aku mencintainya. Dan dia..."

Suaranya pecah. Dia menunduk, menutup wajahnya dengan tangan.

"Dia hamil. Anakku. Anak dari terang dan gelap. Saat ayahku mengetahuinya, dia membunuhnya. Di depanku. Dia membunuh wanita yang kucintai dan anak yang belum sempat lahir, dengan alasan mencegah ramalan itu terjadi. Dan aku dikutuk bukan hanya karena menentangnya. Aku dikutuk karena dia tahu... aku adalah kunci dari ramalan itu. Bahwa suatu hari nanti, aku akan menemukan lagi seseorang yang cahayanya cukup kuat untuk menyeimbangkan kegelapanku."

Dia menatapku dengan mata berkaca-kaca, penuh rasa sakit dan ketakutan yang dalam.

"Aruna... kau bukan kebetulan. Bukan sekadar keberuntungan. Kau adalah orang yang dimaksud dalam ramalan itu. Cahaya yang dicari selama ribuan tahun. Dan aku... aku menemukanmu. Sama seperti yang ayahku takutkan. Sama seperti yang sudah dia bunuh orang untuk mencegahnya terjadi."

Dunia di sekelilingku terasa berhenti berputar. Aku membuka mulutku, tapi tidak ada suara yang keluar. Semua hal yang kami alami — pertemuanku dengannya, ikatan yang tumbuh, kekuatan yang tumbuh di antara kami — semuanya bukan kebetulan. Itu sudah tertulis sejak lama.

"Jadi..." suaraku bergetar, "semua ini sudah direncanakan sejak awal?"

"Tidak olehku," jawabnya cepat, menggenggam tanganku lebih erat. "Aku tidak tahu sampai kemarin, saat Mara menceritakan sisa kisah itu padaku. Aku tidak tahu kau adalah dia. Aku jatuh cinta padamu karena kau adalah dirimu, bukan karena ramalan itu. Percayalah, Aruna. Jika aku tahu, aku akan menjauh darimu sejak awal. Aku tidak ingin kau terjebak dalam takdir yang kejam ini."

"Tapi aku tetap di sini," kataku pelan, air mata jatuh di pipiku. "Dan aku tidak menyesal."

"Kau seharusnya menyesal!" suaranya meninggi, matanya basah dan penuh keputusasaan. "Karena menurut ramalan itu, penyatuan kita akan membawa kehancuran bagi salah satu dunia. Entah duniamu yang akan tertelan kegelapan, atau duniku yang akan lenyap sepenuhnya. Dan di akhir cerita... salah satu dari kita harus mengorbankan nyawanya sendiri untuk menyelamatkan yang lain."

Aku tertegun. Kata-kata itu terasa seperti pukulan keras di dadaku. Pengorbanan. Kehancuran. Salah satu dari kita harus pergi.

"Itulah sebabnya ayahku begitu ingin menangkapmu," lanjutnya dengan suara yang hampir tak terdengar. "Dia ingin memanfaatkan kekuatanmu untuk menaklukkan duniamu. Dan dia membunuh siapa pun yang berani menghalanginya. Termasuk aku, jika perlu. Dia tidak peduli anaknya sendiri, selama takhtanya aman."

Dia melepaskan tanganku, mundur selangkah seolah tiba-tiba merasa tidak layak berdiri di dekatku.

"Kau masih punya waktu, Aruna. Mara bisa membawamu kembali ke gerbang perbatasan hari ini. Kau bisa pulang, melanjutkan hidupmu, melupakan semua ini. Aku tidak akan menahannya. Aku tidak berhak memintamu ikut serta dalam pertempuran yang tak kau pilih."

Aku berdiri perlahan, berjalan mendekat padanya. Dia menunduk, takut menatap mataku. Aku mengangkat dagunya, memaksanya melihat ke arahku.

"Kau pikir aku akan pergi begitu saja? Setelah semua yang kita lalui? Setelah kau menjadi rumahku?"

"Aruna... ini bukan permainan. Ini soal nyawa. Soal masa depan dua dunia."

"Aku tahu risikonya. Tapi dengar aku baik-baik," kataku tegas, air mata masih mengalir tapi suaraku mantap. "Ramalan itu mengatakan dua kemungkinan, kan? Menghancurkan atau menyatukan. Siapa yang menentukan pilihannya? Penulis ramalan itu sudah mati ribuan tahun yang lalu. Dia tidak ada di sini sekarang. Kita yang menentukan akhir ceritanya. Bukan takdir, bukan ramalan, bukan ayahmu. Kita."

Dia menatapku, matanya berkedip pelan seolah baru saja mendengar sesuatu yang tidak pernah terpikirkan oleh siapa pun.

"Kau benar-benar percaya itu?"

"Aku percaya pada kita. Lebih dari pada tulisan kuno yang ditulis orang yang bahkan tidak mengenal kita. Kita akan cari cara untuk mengubah akhir cerita itu. Bersama-sama."

Dia menghela napas panjang, lalu menarikku ke dalam pelukannya, memelukku erat seolah takut aku akan menghilang jika dia melepaskan sedikit saja.

"Kau membuatku merasa malu dengan ketakutanku. Ribuan tahun aku hidup dalam bayang-bayang takdir yang kutakuti. Dan kau... kau menatapnya lurus dan berkata: tidak."

"Karena tidak ada yang lebih kuat dari kehendak hati yang saling mencintai," bisikku di dadanya. "Sekarang, beri tahu aku sisanya. Apa yang harus kita lakukan untuk mengubah akhirnya?"

Dia melepaskan pelukannya, menatapku dengan tekad yang baru di matanya.

"Kita harus pergi ke Puncak Cahaya — tempat di mana dua dunia bertemu dan di mana ramalan itu pertama kali ditulis. Di sana ada Kitab Keseimbangan. Jika kita bisa membacanya sebelum ayahmu datang... mungkin kita bisa menulis ulang jalannya cerita."

"Di mana tempat itu?"

"Di jantung duniku. Di bawah takhta ayahku."

Aku menelan ludah. Itu berarti masuk ke sarang singa. Langsung ke tempat paling berbahaya di seluruh dunia bayangan.

"Kita akan masuk ke istana ayahmu?" tanyaku memastikan.

Dia tersenyum tipis, tapi kali ini senyumnya bukan lagi senyum keputusasaan. Itu senyum seorang pejuang yang siap menghadapi apa pun.

"Kita tidak akan masuk sebagai tamu. Tapi kita juga tidak akan masuk sebagai penjahat. Kita akan masuk sebagai mereka yang berani menuntut kebenaran. Dan kali ini... aku tidak akan sendirian."

Pintu terbuka. Mara berdiri di sana, menatap kami dengan tatapan yang sulit diartikan — campuran keterkejutan dan rasa hormat yang enggan.

"Kalian benar-benar gila," katanya pelan. "Tapi aku tidak akan menghentikan kalian. Karena jika ada yang bisa mengakhiri kekejaman Valdris... mungkin memang kalian berdua."

Dia melemparkan sepasang jubah panjang berwarna kelabu gelap ke meja.

"Pakai ini. Itu akan menyembunyikan jejak cahayamu dari pengawas di sepanjang jalan. Kalian punya waktu sampai gerbang kota terbuka saat malam paling gelap. Setelah itu... semoga keberuntungan lebih berpihak pada kalian daripada pada siapa pun yang pernah mencoba hal gila ini sebelumnya."

Orion mengambil jubah itu, lalu menatapku. Tangannya menggenggam tanganku sekali lagi.

"Siap menghadapi bahaya terbesar dalam hidupmu, cahayaku?"

Aku menyandarkan kepalaku di bahunya sejenak, lalu menatapnya dengan senyum yang tenang.

"Selama di sisimu, aku siap menghadapi apa pun. Bahkan takdir itu sendiri."

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!