Di Sekte Lembah Giok Hitam, menjadi "Murid Teladan" bukanlah kehormatan, melainkan vonis mati sebagai tumbal perpanjangan umur sang tetua.
Di malam sebelum darahnya dikuras habis di atas altar, Gu Yuan, seorang murid luar tanpa latar belakang, tak sengaja membangkitkan artefak peninggalan ayahnya: Kaca Kematian Awal (Yuan Sha Jing).
Setiap kali niat membunuh mengarah padanya, cermin kuno itu membekukan waktu dan memaksanya mati dalam ribuan cabang simulasi. Ia merasakan lehernya ditebas, meridiannya meledak, dan racun membakar jantungnya berulang kali, semua demi satu hal yakni menemukan satu-satunya jalan keluar hidup-hidup.
"Jika takdir menyuruhku mati sepuluh ribu kali, maka aku akan bangkit sepuluh ribu satu kali untuk memenggal takdir itu sendiri."
Bagi Gu Yuan, kematian bukan akhir, melainkan peta menuju keabadian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 013 - Penyamaran Jubah Abu-abu
Derap langkah lima pengawal bersenjata tombak bergema semakin keras di undakan tangga batu kapur. Cahaya obor yang mereka bawa memancarkan bayangan tombak-tombak panjang yang bergoyang liar di dinding lorong bawah tanah yang basah oleh rembesan air tanah.
Gu Yuan memberi isyarat tangan pendek ke arah Xiao Wu. Tanpa bersuara sedikit pun, pemuda kurus yang memegang dua anak kunci kuningan itu segera merayap masuk ke dalam ceruk saluran air limbah yang gelap di ujung barat, membenamkan tubuhnya ke dalam lumpur hitam dan menyatu dengan pekatnya bayangan dinding batu cadas.
Gu Yuan menarik tepi topi jerami bambu milik Luo Biao sedikit miring ke bawah, menutupi kening, pelipis, dan separuh wajahnya dari terpaan langsung cahaya obor musuh. Jubah abu-abu bersulam daun giok yang ia kenakan berbau tembakau basi, minyak tengik, dan keringat kering khas sang pengawas barak timur. Di sabuk kulitnya, terselip sarung pedang baja berkarat yang biasa dibawa Luo Biao saat berpatroli memeras jatah murid rendahan.
Alih-alih bersembunyi atau berbalik lari ke arah ceruk yang hanya akan memancing kecurigaan saat mereka terpojok di lorong buntu, Gu Yuan justru melangkah mantap menaiki anak tangga batu kapur. Ia berjalan langsung ke arah rombongan pengawal yang sedang bergegas menuruni tangga.
Langkahnya dibuat sedikit menyeret pada kaki kanan, meniru gaya berjalan malas, pincang ringan, dan angkuh yang biasa diperlihatkan Luo Biao di depan para kuli tambang fana.
Di tikungan undakan tangga ketiga yang sempit, Gu Yuan berpapasan langsung dengan regu pengawal tersebut. Pemimpin regu adalah seorang pria berbadan tegap berwajah garang, mengenakan pelindung dada besi berlapis tembaga dengan kumis tebal melintang. Di belakangnya, empat prajurit muda memegang tombak besi panjang dengan mata tombak tajam yang diarahkan siaga ke depan.
“Luo Biao!” seru komandan regu itu dengan nada curiga sambil mengangkat obor minyaknya lebih tinggi untuk menerangi wajah Gu Yuan. “Tadi dari pelataran balai obat sempat terdengar suara tiupan peluit darurat setengah tiupan. Ada apa di bawah sini? Apa bejana-bejana darah itu mencoba menjebol jeruji dan membuat onar?!”
Gu Yuan tidak menengadahkan kepalanya sama sekali. Pandangannya tetap tertuju ke arah lempengan besi tembaga di dada sang komandan. Ia sengaja mendenguskan napas pendek yang kasar melalui hidung, meniru suara serak, berat, dan ketus khas Luo Biao yang selalu memandang rendah para pengawal rendahan.
“Tidak ada yang membuat onar,” jawab Gu Yuan dengan suara rendah yang berat dan serak dari balik bayangan tepi topi jeraminya. “Tikus-tikus tambang sebesar lengan menjatuhkan tumpukan kayu bakar di bilik penyimpanan belakang dan menabrak kisi-kisi besi bilik kosong. Suara benturannya begitu keras sampai aku sempat salah mengira ada yang mencoba mendobrak jeruji. Aku baru saja hendak meniup peluit saat melihat itu hanya kawanan tikus liar. Sekarang semuanya sudah kuamankan dan kukunci kembali.”
Komandan regu berkerut kening mendengar penjelasan itu. Matanya menyipit awas, lalu melirik ke arah lorong bawah tanah yang tampak remang-remang di balik punggung Gu Yuan. Dari dasar lorong, tercium aroma anyir darah ayam yang tadi sengaja ditumpahkan Gu Yuan di ambang bilik sepuluh, bercampur dengan bau asam belerang dan lumut parit busuk.
“Lalu kenapa ada bau darah segar yang begitu pekat merambat naik dari bawah sana?” tanya salah satu prajurit tombak di barisan belakang dengan nada ragu dan cemas.
Gu Yuan mengibaskan lengan jubah abu-abunya dengan gerakan kasar dan tidak sabar, persis seperti watak pemarah Luo Biao.
“Tikus tambang itu melompat ke arah mukaku saat aku memeriksa rak arang,” dengus Gu Yuan dengan nada ketus yang dingin. “Aku menebas kepalanya dengan belati sampai darahnya muncrat ke lantai bilik kosong. Apa kalian berniat turun ke bawah hanya untuk memungut bangkai tikus berlumur lumpur, hah?! Tetua Mo sedang menunggu laporan persiapan minyak pembakar di balai depan. Beliau sudah murka sejak tadi pagi. Kalau kalian membuang-buang waktu memeriksa bangkai tikus dan membuat tetua menunggu lebih lama, kalian sendiri yang akan diseret ke tiang cambuk!”
Mendengar ancaman tiang cambuk dan nama Tetua Mo disebut dengan nada penuh amarah, nyali para prajurit tombak itu seketika menciut. Di Sekte Lembah Giok Hitam, tidak ada seorang pun murid biasa yang berani mempertanyakan urusan Tetua Mo yang terkenal sangat kejam terhadap siapa pun yang mengganggu persiapan ritualnya.
Komandan regu menghela napas panjang sambil menurunkan obornya sedikit, ketegangan di wajahnya mulai mengendur. “Bagus kalau situasi terkendali. Cepat naik dan temui Tetua Mo di aula depan. Beliau sudah menanyakan keberadaanmu sejak lonceng tengah hari berbunyi tiga kali.”
“Aku memang sedang menuju ke sana,” jawab Gu Yuan pendek sambil melangkah melewati celah sempit di antara tubuh sang komandan dan dinding tangga batu kapur yang lembap.
Para prajurit tombak mulai membalikkan badan mereka di atas anak tangga yang sempit, bersiap menaiki kembali tangga menuju aula atas. Gu Yuan terus melangkah tenang menaiki undakan batu, tangannya yang tersembunyi di balik lipatan jubah kiri tetap menggenggam permukaan cermin perunggu yang dingin.
Namun, baru tiga undakan batu Gu Yuan melangkah ke atas, suara langkah komandan regu di belakangnya mendadak terhenti kaku.
Kring.
Ujung gagang tombak sang komandan dihantamkan ke lantai anak tangga batu, menimbulkan bunyi dentang keras yang menghentikan langkah seluruh prajurit di tangga tersebut.
“Tunggu dulu, Luo Biao,” kata sang komandan dari arah belakang. Suaranya tidak lagi terdengar santai atau percaya, melainkan berubah menjadi dingin dan penuh selidik yang tajam.
Gu Yuan menghentikan langkahnya di anak tangga, namun ia tidak langsung menolehkan kepala ke belakang. Otot-otot punggungnya mengencang waspada.
Suara gesekan sepatu bot sang komandan terdengar melangkah mendekat dari bawah, berhenti tepat satu anak tangga di bawah posisi berdiri Gu Yuan. Tatapan mata pria berkumis tebal itu tidak lagi mengarah ke topi jerami atau jubah abu-abunya, melainkan tertuju lurus ke bagian bawah jubah Gu Yuan yang sedikit tersingkap.
Di sana, di balik ujung kain jubah pengawas yang menjuntai, terlihat sepasang sandal jerami kasar yang basah kuyup oleh lumpur parit hitam dan sisa darah kental—alas kaki khas murid luar rendahan yang bekerja di tambang batu arang, bukan sepatu bot kulit berpaku standar yang wajib dikenakan oleh seorang pengawas senior barak.