Mati di medan perang modern, Alvaro sang prajurit pasukan khusus elit terlahir kembali di Aetheria—dunia yang dikuasai oleh sihir dan aura. Sialnya, ia terjebak dalam raga "Arya Denwick" Anak bangsawan 17 tahun berpenyakitan pewaris desa rawa miskin, yang baru saja didorong ke jurang kematian oleh Musuh yg tidak diketahui.
Tanpa "sistem" ajaib layaknya kisah pahlawan lain, Arya menolak takdir pecundangnya. Memadukan pernapasan yang ia ketahui di militer untuk memanipulasi energi aura dan mematikannya seni pedang dari Bumi, ia merakit ulang tubuh rusaknya.
dan menjadi penguasa sejati di kerajaan bahkan dunia tersebut!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PrinceArslan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Pembuktian Warna Darah
Udara di dalam ruang kerja Baron Denwick terasa berat dan mencekam. Cahaya matahari pagi yang menerobos masuk melalui celah jendela menyoroti debu yang melayang di udara, menciptakan garis-garis pemisah antara ayah dan anak yang berdiri berhadapan.
Di balik meja kayu besarnya yang sudah mulai lapuk, Aran Denwick menatap putranya dengan rahang terkatup rapat. Matanya yang tajam bak elang memancarkan penolakan mutlak.
"Tidak," suara Aran bergema rendah, penuh dengan otoritas seorang mantan komandan. "Hutan Kuno Verdentia bukanlah tempat berburu bagi anak-anak yang baru belajar memegang pedang. Tempat itu adalah kuburan bagi para veteran. Kau mungkin berhasil mendisiplinkan lima prajurit berandalan, Arya, tapi kau belum sekuat itu untuk menghadapi binatang iblis bermutasi."
Arya berdiri tegak di seberang meja. Wajahnya sama sekali tidak beriak, seolah ia sudah memprediksi jawaban tersebut.
"Jika aku tidak pergi, Baroni ini akan perlahan mati kelaparan, Ayah," balas Arya tenang. "Kita butuh dana untuk membangun ulang pasukan militer kita. Dan jika Ayah menganggapku belum sekuat itu..." Arya memutar tubuhnya, menunjuk ke arah pintu. "...maka mari kita ke lapangan latihan. Aku akan memperlihatkan sesuatu yang akan mengubah pikiran Ayah."
Aran menyipitkan matanya. Ada tantangan terbuka dalam nada suara putranya, sebuah keyakinan yang begitu absolut hingga membuat sang Baron tua merasa penasaran. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Aran bangkit dari kursinya dan berjalan mendahului Arya.
Berita tentang ketegangan antara ayah dan anak itu menyebar cepat. Ketika mereka tiba di lapangan latihan berdebu, Lisa sudah berdiri di pinggir lapangan dengan wajah pucat karena cemas, didampingi oleh Hans. Di sisi lain, Max, Josh, Willi, Erson, dan Kin berdiri dalam sikap sempurna, menahan napas mereka menanti apa yang akan terjadi.
Arya melangkah ke tengah lapangan. Ia tidak mengenakan zirah, hanya kemeja linen tipis yang memperlihatkan posturnya yang kini lebih tegap. Di tangannya, ia menggenggam pedang besi berkarat miliknya.
"Tunjukkan padaku, Arya," ucap Aran dingin, melipat tangan di depan dada. "Tunjukkan ilusi apa yang membuatmu berpikir kau bisa bertahan hidup di Verdentia."
Arya tidak menjawab. Ia hanya menutup matanya dan membuka kuda-kuda kakinya yang menyilang—postur asimetris dari aliran Destreza yang selalu membuat Aran mengerutkan kening.
Lalu, Arya menarik napas panjang.
Satu tarikan napas Lion Breathing yang memutar balik seluruh fungsi tubuhnya ke titik paling optimal.
Detik berikutnya, keheningan lapangan itu pecah oleh suara dengungan frekuensi tinggi. Udara di sekitar Arya mendadak menjadi sangat panas dan beriak. Dari balik kulitnya, sebuah energi padat berwarna merah darah—crimson—meledak keluar, mengalir seperti cairan panas yang menyelimuti seluruh tubuhnya sebelum akhirnya terpusat dan melilit bilah pedang bajanya. Pedang berkarat itu kini memancarkan cahaya merah pekat yang menyilaukan dan mematikan.
Di pinggir lapangan, rahang Aran Denwick nyaris jatuh ke tanah. Matanya yang selalu tenang kini melebar hingga batas maksimal.
"Aura..." bisik Aran dengan suara parau yang bergetar hebat. Tangannya mencengkeram erat lengannya sendiri tanpa sadar. "Sejak kapan... dan kepadatan ini... tidak mungkin!"
Sebagai seorang ksatria tingkat tinggi, Aran tahu betul penderitaan membangkitkan aura. Ksatria pemula biasanya hanya memancarkan kabut putih tipis yang tidak stabil. Namun putranya—remaja penyakitan yang paru-parunya yang lemah,—kini berdiri memancarkan aura merah murni yang sangat padat, stabil, dan dikendalikan dengan presisi. Bahkan warna merah itu sendiri menunjukkan afinitas destruktif yang mengerikan.
Max dan keempat rekannya melangkah mundur secara instingtual, lutut mereka gemetar melihat tekanan energi tersebut. Mereka baru sadar bahwa selama dua minggu latihan neraka ini, tuan muda mereka bahkan belum mengeluarkan sepersepuluh dari kekuatan aslinya. Sementara itu, Lisa menutupi mulutnya dengan kedua tangan, air mata menggenang di pelupuk matanya melihat putranya diselimuti cahaya kekuatan yang dulunya bahkan tidak sanggup mengangkat sebilah pedang.
Tanpa memberikan kesempatan bagi mereka untuk bernapas, Arya membuka matanya yang kini memantulkan pendaran merah.
"Perhatikan baik-baik, Ayah," desis Arya.
Ia melesat. Bukan berlari, melainkan meluncur seperti hantu berkat dorongan aura di otot kakinya. Tarian The Crimson Crest Edge Style dimulai.
Arya menebas udara dengan kecepatan yang membutakan mata. Ayunannya tidak terputus, mengalir dari satu serangan mematikan ke serangan lainnya dalam pola geometri yang sempurna. Ujung pedangnya meninggalkan jejak cahaya darah di udara. Suara robekan sonik terdengar setiap kali pedang berlapis aura crimson itu mengubah arah di udara kosong.
Dalam pandangan veteran Aran, pemandangan itu terasa seperti melihat malaikat maut merajut jaring.
Teknik apa ini?! batin Aran menjerit. Tidak ada energi aura yang terbuang sia-sia menjadi ledakan konyol. Dia memadatkan semuanya di ujung mata pedang! Kakinya selalu berada di sudut buta lawan... serangannya menargetkan celah zirah yang bahkan tidak terlihat oleh mata telanjang! Ini... ini adalah seni membunuh yang paling murni yang pernah kulihat!
Di akhir tariannya, Arya melompat memutar, memusatkan seluruh aura merahnya ke sebuah tiang latihan kayu ek besar di ujung lapangan.
"Scarlet Execution."
Pedangnya menebas turun. Tidak ada benturan keras, hanya kilatan garis merah yang membelah ruang.
Tiang kayu ek raksasa itu terbelah dua secara diagonal. Bagian atasnya meluncur jatuh ke tanah, sementara bagian bawahnya perlahan hangus terbakar dari dalam karena sisa kepadatan aura pemotong tersebut.
Keheningan mutlak menyelimuti Baroni Denwick. Hanya terdengar suara serpihan kayu yang terbakar.
Arya berdiri tegap, menarik kembali pedangnya, dan menekan auranya hingga kembali masuk ke dalam tubuhnya tanpa sisa. Kemeja linennya sedikit basah oleh keringat, namun napasnya tetap dan ia tetap fokus. Ia menoleh, menatap langsung ke arah ayahnya yang masih terpaku seperti patung batu.
"Ini adalah teknik pedang yang kuciptakan sendiri, Ayah. The Crimson Crest Edge Style," ucap Arya dengan suara yang jernih dan tegas. "Bagaimana menurutmu? Apa ini tidak cukup untuk memotong leher binatang iblis di hutan kuno?"
Aran terdiam lama. Mata tajamnya menatap hancurnya tiang kayu ek tersebut, lalu perlahan beralih menatap wajah putranya yang menuntut jawaban. Ada pergulatan hebat di dalam dada sang Baron—antara insting pelindung seorang ayah, dan kekaguman seorang knight peteran terhadap senjata tempur paling sempurna yang baru saja tercipta di depan matanya.
Angin berhembus menyapu debu lapangan. Aran akhirnya menghela napas panjang, melipat tangannya kembali ke belakang punggung.
"Hmm................" Aran bergumam berat, sebuah dengusan yang menyembunyikan ribuan kata, sebelum ia memalingkan wajah dan melangkah pergi menuju kastil.
Izin tak terucapkan itu telah diberikan. Perburuan berdarah akan segera dimulai.
👍