NovelToon NovelToon
Di Bawah Kuasa Mantan Suami

Di Bawah Kuasa Mantan Suami

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / CEO / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:795.6k
Nilai: 5
Nama Author: lala_syalala

Follow IG @Lala_Syalala13
Subscribe YT @NovelLalaaa

Tiga tahun lalu, Safira Angela memilih berpisah dari Gavin Alvaro Abraham dengan alasan palsu yaitu dia mengaku telah berselingkuh. Padahal, itu hanyalah kebohongan yang terpaksa dibuatnya agar Gavin dan keluarga besar Abraham tidak terseret dalam masalah pelik yang sedang menimpa keluarganya.

Setelah resmi bercerai, Safira pun memilih menghilang demi melindungi pria yang sangat-sangat dia cintai.

Namun, takdir berkata lain. Tiga tahun kemudian, perusahaan tempat Safira bekerja diakuisisi oleh Abraham Group.

Mengetahui keberadaan sang mantan istri, Gavin langsung memerintahkan agar Safira dimutasi ke kantor pusat.

Di sana, Safira terpaksa bekerja di bawah pengawasan langsung mantan suaminya yang kini telah berubah menjadi CEO dingin, penuh kebencian, dan menyimpan dendam mendalam akibat masa lalu.

BAGAIMANA KELANJUTAN CERITANYA????
JANGAN LUPA DI BACA YAAAAAA

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dia Pasti Sudah Melupakan Aku

Pak Bambang menghentikan langkahnya, menatap Safira dengan pandangan yang sulit diartikan. Dia menghela napas panjang, pundaknya tampak merosot seolah memikul beban yang sangat berat.

"Safira... bisa tolong ikut saya ke ruangan saya sebentar? Ada hal sangat penting yang harus saya bicarakan dengan kamu, dan juga dengan Bu Lastri nanti." kata Pak Bambang dengan suara yang agak bergetar.

Safira merasakan debaran aneh di dadanya, namun dia tetap mempertahankan ketenangannya.

"Baik, Pak. Saya akan rapikan berkas saya sebentar lalu segera ke ruangan Bapak."

Lima menit kemudian, Safira sudah duduk di dalam ruangan Pak Bambang yang dipenuhi aroma minyak angin. Di sebelahnya, Bu Lastri juga sudah hadir dengan raut wajah yang sama bingungnya.

"Ada apa sebenarnya, Pak Bambang? Kok tumben sekali suasananya tegang seperti ini? Apa ada masalah dengan audit eksternal?" tanya Bu Lastri langsung tanpa basa-basi.

Pak Bambang menggelengkan kepala. Dia meletakkan sebuah dokumen resmi dengan kop surat mewah berwarna hitam dan emas di atas meja kerja kayunya. Dokumen itu terlihat sangat asing dan terlalu megah untuk berada di kantor operasional kecil seperti ini.

"Ini bukan masalah audit, Lastri, Safira. Ini tentang kelangsungan hidup perusahaan kita," ujar Pak Bambang pelan.

Dia memajukan tubuhnya, menatap kedua staf kepercayaannya itu bergantian.

"Tadi pagi, pemilik saham mayoritas tunggal PT Sinar Abadi Mandiri telah menandatangani perjanjian akuisisi mutlak." ucapnya dengan begitu serius.

Bu Lastri terbelalak. "Akuisisi? Maksud Bapak, perusahaan kita dibeli oleh perusahaan lain? Tapi kenapa? Bukankah arus kas kita selama setahun ini sangat stabil?" tanya Bu Lastri tidak percaya.

"Benar, Lastri. Arus kas kita sehat untuk ukuran perusahaan menengah. Tapi skala bisnis kita terlalu kecil untuk menolak tawaran raksasa ini. Pemilik saham kita tidak punya pilihan lain ketika konglomerasi sebesar mereka mengajukan penawaran harga yang nilainya sepuluh kali lipat dari nilai pasar perusahaan kita saat ini. Mereka membeli kita secara utuh, termasuk seluruh aset, sistem distribusi, dan semua karyawan yang ada di dalam gedung ini." jelas Pak Bambang dengan nada pasrah.

Safira mendengarkan dengan saksama. Otak pintarnya langsung menganalisis situasi ini.

"Jika ini adalah akuisisi mutlak dari konglomerasi besar, Pak Bambang, biasanya akan ada restrukturisasi organisasi secara besar-besaran. Apakah posisi karyawan kecil seperti kami di bagian staf akan terancam oleh pemutusan hubungan kerja?" tanya Safira dengan nada suara yang tetap tenang namun menuntut kejelasan fakta.

Pak Bambang menatap Safira dengan tatapan kagum sekaligus prihatin. "Itulah yang membuat saya cemas, Safira. Dari dokumen awal yang saya terima, mereka tidak akan melakukan PHK massal. Sebaliknya, mereka ingin mempertahankan seluruh staf operasional karena mereka mengincar jalur distribusi kita di pinggiran kota yang sudah matang. Namun..." Pak Bambang menggantung kalimatnya, mengambil napas dalam-dalam.

"Namun apa, Pak?" desak Bu Lastri yang mulai tidak sabar.

"Namun, manajemen baru dari korporasi pusat akan langsung mengambil alih kendali mulai awal bulan depan. Dan yang paling membuat saya merinding... perusahaan yang mengakuisisi kita bukanlah perusahaan sembarangan. Mereka adalah anak perusahaan inti dari Abraham Group." jelas Pak Bambang.

Deg.

Jantung Safira serasa berhenti berdetak sesaat mendengar nama itu. Seluruh persendiannya mendadak terasa lemas, dan warna kulit wajahnya yang semula merona sehat kini perlahan memudar menjadi pucat pasi.

Abraham Group. Nama yang selama tiga tahun ini selalu ia hindari, nama yang bahkan tidak berani ia baca di surat kabar atau lihat di berita televisi.

"Abraham Group? Konglomerat multinasional yang bergerak di bidang properti, perbankan, dan logistik internasional itu, Pak?" tanya Bu Lastri dengan mata berbinar-binar antara tidak percaya dan kagum.

"Wah, kalau kita berada di bawah payung mereka, kesejahteraan staf pasti akan melonjak drastis!" serunya lagi.

"Kesejahteraan memang akan terjamin, Lastri. Tapi kamu tahu sendiri bagaimana reputasi kepemimpinan mereka sekarang," sahut Pak Bambang dengan nada memperingatkan.

"Kalian pasti tahu berita internasional akhir-akhir ini. Abraham Group sekarang dipimpin sepenuhnya oleh putra mahkota tunggal mereka yang baru kembali dari luar negeri. Dia terkenal sangat dingin, kejam dalam berbisnis, dan tidak segan-segan mendepak siapa saja yang dianggapnya tidak kompeten dalam hitungan detik. Aura kepemimpinannya membuat direksi-direksi tua di sana ketakutan." jelas Pak Bambang lagi.

Bu Lastri menelan ludah, antusiasmenya sedikit menyusut. "Maksud Bapak... sang CEO utama sendiri yang akan mengawasi kita?"

"Tidak secara langsung untuk operasional harian, tentu saja. Tapi dokumen final akuisisi dan penandatanganan serah terima jabatan kabarnya harus dilakukan langsung di hadapan beliau atau jajaran direksi eksekutif utamanya minggu depan. Semua kepala divisi dan staf inti administrasi, termasuk kalian berdua di bagian keuangan dan data, diwajibkan hadir dalam rapat pleno perdana di gedung pusat mereka." ucapnya.

Safira mengepalkan kedua tangannya di bawah meja, menyembunyikan getaran hebat yang mulai menyerang jemarinya. Keringat dingin mulai keluar di tengkuknya. Pikirannya berputar liar, mencoba mencari alasan untuk menghindar, mencoba mencari jalan keluar dari situasi yang paling ia takuti ini.

Gavin... nama itu bergema di dalam relung hati Safira yang paling dalam, menimbulkan rasa sakit yang amat sangat yang selama ini ia tekan dengan paksa.

"Safira? Kamu tidak apa-apa? Wajahmu pucat sekali," tegur Bu Lastri, menyadari perubahan drastis pada raut wajah rekan kerjanya itu.

Safira tersentak kecil, lalu dengan cepat menguasai dirinya kembali. Dia memaksakan sebuah senyuman tipis yang terlihat sedikit dipaksakan di mata Pak Bambang.

"Saya... saya tidak apa-apa, Bu Lastri. Hanya sedikit terkejut dengan berita mendadak ini. Kepala saya tiba-tiba agak pusing, mungkin karena pengaruh cuaca yang tidak menentu hari ini." Safira mencari alasan yang masuk akal.

"Ah, kamu pasti kelelahan karena memeriksa laporan gudang Bekasi tadi," kata Pak Bambang penuh pengertian.

"Kalau begitu, kamu boleh kembali ke mejamu dulu, Safira. Istirahatlah sejenak. Yang jelas, persiapkan semua dokumen data keuangan dan distribusi kita dengan rapi selama seminggu ini. Kita harus memberikan impresi terbaik agar posisi kita aman saat manajemen baru masuk."

"Baik, Pak Bambang. Terima kasih. Saya permisi kembali ke ruangan dulu," ucap Safira dengan nada sesopan mungkin.

Dia berdiri dari kursinya dengan perlahan, memastikan langkah kakinya tetap terlihat anggun dan stabil meskipun di dalam dirinya, badai kecemasan sedang berkecamuk dengan dahsyat. Safira berjalan kembali ke kubikelnya, mengabaikan sapaan beberapa rekan kerja yang lewat di koridor.

Sesampainya di meja kerjanya, Safira duduk dan menyandarkan punggungnya pada kursi. Dia menatap layar komputer yang masih menampilkan deretan angka, namun fokusnya sudah hilang sepenuhnya. Kedua tangannya yang masih bergetar diangkat untuk menutupi wajahnya yang kini dipenuhi gumpalan kesedihan dan ketakutan.

.

.

Cerita Belum Selesai.....

1
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
kenapa ga cari tau dr 3 taun lalu coba 🙂😮‍💨 orang normal nya kalo tiba2 di cerai psangan sampe di tinggal kabur dia cari tau apalagi kalo punya duit sm kekuasaan jd lebih gampang cari infonya, kok bisa sih ga kepikiran dr dulu 🙏🙂
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
justru aneh gasih wkwk kalo dia emang cuma ngincer harta ga akan cerai dong, yg ada nempel kayak parasit 🙏🙂
Lilis Sumiati
Akhirnya tamat juga,baca sampai diulang2 saking suka dan selalu nunggu notifikasi di layar hp kalau ada lanjutannya langsung baca,selamat ya thor😍
Lilis Sumiati: Oke aku tungguin ya cerita barunya,pasti langsung nanti ada notifikasi kalau ada cerita baru dari thor 😍
total 2 replies
hermi ismiyati
bagus
Fera Susanti
keren Gavin
Eliermswati
akhirnya bahagia semuanya q bc dr bab 1 smpe selesai, ksh nya hangus bngt, ad sedih, kecewa, dan pd akhirnya bahgia semuanya trma ksh thor dah bkn cerita sebagus cerita gavin dan Safira
Lala_Syalala: Terima kasih ya kak sudah menemani verita Gavin dan Safira dari awal hingga akhir, semoga selalu suka dan menantikan cerita2 author lainnya yaa🙏🙏😊😊🤗🤗😍😍😍
total 1 replies
Reni Setia
selamat ya thor udah tamat karyanya
Lala_Syalala: akhirnya tamat juga yaaaa, Terima kasih sudah mau baca dari awal hingga akhir dan sampai jumpa di cerita author lainnya🙏🙏😊😊🤗🤗😍😍😍😍
total 1 replies
Fera Susanti
aku baru gabung..sedih
Puspa Ayundari
😭kebayang rasanya jd safira.....sedihhh
Kezia ayumi
berat banget bawa2 meja mahoni terus 🤔🤔🤔
Kezia ayumi
dilingkari 🤔🤔🤔
Kezia ayumi
di lingkari
Kezia ayumi
sekarang" dilingkari "
Kezia ayumi
banyak typo bertebaran ya Thor
Kezia ayumi
di tiadakan
Kezia ayumi
"di tiadakan" maksudnya apa sih kok aku pusing 🤔🤔🤔
Umi Fitriani
mampir Thor semangat 🤗
Mpit Mpit
seharusnya emang begitu...suami bela istri sampe titik darah penghabisannn..Gavin akuh padamu lah
xopitt 89_
cerita baguuuss banget. rekomended untuk d baca berulang2.
Dinar David Nayandra
bawang nya byk banget akubsmpe nangis aja bacanya😭😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!