NovelToon NovelToon
Penguasa Pil Yang Bereinkarnasi: Raja Alkimia Di Dunia Permainan Abadi

Penguasa Pil Yang Bereinkarnasi: Raja Alkimia Di Dunia Permainan Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Reinkarnasi / Dunia Lain
Popularitas:207
Nilai: 5
Nama Author: Uranenantios

Ia mengenal dunia ini sebagai permainan. Kini, setiap kesalahan bisa merenggut nyawanya.

Setelah meninggal saat mengejar quest rahasia, Lin Feng terbangun di dunia Eternal Heaven Online, game kultivasi yang telah ia mainkan bertahun-tahun. Pengetahuannya tentang peta, sekte, dungeon, dan alkimia memberinya bekal untuk bertahan. Namun, dunia ini nyata: tak ada tombol keluar atau kesempatan respawn.

Lebih buruk lagi, peristiwa mulai menyimpang dari ingatannya. Orang-orang yang dulu ia anggap karakter permainan memiliki kehendak sendiri, dan setiap pilihan membawa konsekuensi. Untuk bertahan dan mengungkap misteri dunia barunya, Lin Feng menempuh jalan alkimia—dari meracik pil sederhana hingga mengejar puncak yang disebut Pill Sovereign.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29 - TEMPAT DI ATAS TOKO

Lin bangun di penginapan ketika fajar belum terang. Upah sehari kemarin telah habis untuk tempat tidur; tidak ada yang tersisa untuk disimpan. Ia membuka catatan kecil tentang jadwal penerimaan sekte yang belum diumumkan, lalu berangkat bekerja dengan pikiran tersebut.

Kalau ia ingin bertanya lagi kepada petugas gerbang, ia membutuhkan waktu dan mungkin ongkos. Kalau pengumuman datang, ia ingin memiliki cukup uang agar tidak harus memilih antara tempat tidur dan kebutuhan lain.

Pagi itu, ia berangkat bekerja dengan pikiran tersebut. Mo sedang memeriksa kiriman sebelum pintu dibuka. Lin menaruh peta di meja, memastikan catatan tentang pemeriksaan bakat masa kecilnya tidak tercampur dengan daftar bahan.

“Kau terlihat seperti sedang menghitung sesuatu,” ujar Mo.

“Pengeluaran.”

“Tidak banyak yang bisa dihitung kalau uangmu hanya cukup untuk penginapan.”

“Saya ingin menyisihkan uang untuk mencari tahu syarat pemeriksaan sekte.”

Mo mengikat kembali tali pada keranjang. “Kau belum tahu kapan jadwalnya.”

“Justru itu. Saya ingin siap kalau ada pengumuman.”

“Dan berapa lama kau bisa menyisihkan uang kalau setiap hari uangmu habis untuk tempat tidur?”

Lin menatap catatan kecilnya. “Tidak lama.”

Mo tak segera menanggapi. Ia membawa keranjang ke rak belakang, lalu berhenti di bawah tangga kayu yang menuju loteng penyimpanan. “Ada ruang di atas. Atapnya rendah dan berdebu. Kami menyimpan karung kosong di sana, tapi sebagian besar sudah kupindahkan.”

Lin mengikuti pandangannya. “Apa yang harus saya lakukan?”

“Kalau kau tinggal di sana, kau bisa membuka toko lebih pagi dan memastikan pintu depan terkunci sebelum aku pulang. Kau tetap bekerja harian. Aku tidak akan menjanjikan pekerjaan tetap hanya karena kau tidur di atas toko.”

“Saya mengerti.”

“Ruangan itu bukan bagian dari tempat tinggal. Kau tidak boleh membawa orang masuk, memakai api, atau membuka pintu ruang tungku. Barang mahal tetap kukunci di bawah.” Mo mengusap debu dari lengan bajunya. “Kalau tempatnya terlalu tidak nyaman, kau boleh kembali ke penginapan kapan saja. Tapi upahmu tidak berubah.”

Lin mempertimbangkan tawaran itu. Tidur di atas toko berarti lebih dekat dengan persediaan dan ruang kerja Mo, tetapi juga lebih dekat pada aturan yang tidak boleh ia langgar. Ia akan kehilangan kebebasan keluar malam, dan jika ada masalah di toko, ia mungkin ikut bertanggung jawab.

“Boleh saya melihat lotengnya dulu?”

Mo mengambil lampu minyak kecil, tetapi tidak menyalakannya. Ia membawanya ke tangga, membuka palka, lalu mempersilakan Lin naik. Ruangan itu memang rendah. Lin harus membungkuk ketika masuk. Debu menempel pada balok kayu, dan satu sisi lantainya digunakan untuk menumpuk karung kosong. Ada jendela kecil menghadap gang belakang, dengan kisi-kisi kayu yang tidak dapat dibuka lebar.

Di sudut lain tersedia sebuah tikar jerami tipis dan selimut kusam. Mo mengatakan barang itu milik pegawai lama yang sudah pindah ke luar kota. Tidak ada kasur atau peti pribadi.

“Kalau hujan deras, atap dekat jendela bisa bocor,” kata Mo. “Kau harus memindahkan tikar ke tengah.”

“Dan saya harus membuka toko sebelum matahari tinggi.”

“Setengah jam lebih awal. Kunci utama tetap kupegang. Kau hanya mengangkat palang dan menyapu bagian depan.”

Lin memeriksa jendela dan sudut atap. “Saya bisa mencobanya.”

“Coba seminggu. Kalau tidak cocok, katakan. Jangan diam sampai membuat masalah.”

Lin menuruni tangga. “Saya terima.”

Mo mengangguk seperti menyetujui sebuah urusan dagang. Tidak ada ucapan selamat atau janji bahwa hidup Lin akan lebih mudah. Ia hanya mengambil karung-karung kosong dan meminta Lin membantu memindahkannya ke rak bawah.

Pekerjaan memakan waktu satu jam. Ketika ruang loteng cukup kosong, Lin menyapu debu dan memeriksa papan lantai yang longgar. Ia menandai bagian yang sedikit melengkung, lalu menunjukkan kepada Mo sebelum meletakkan tikar. Mereka menambahkan satu papan penyangga dari gudang supaya lantai tidak bergoyang setiap kali Lin bergerak.

“Jangan menaruh barang berat di sisi itu,” kata Mo. “Kalau papan patah, kau akan jatuh ke atas keranjang akar.”

“Saya akan mencatatnya.”

“Tidak perlu menulis semua hal.”

“Yang ini saya ingat.”

“Kalau begitu simpan kertasmu.” Mo kembali ke toko depan.

Sebelum sore, Mo menjelaskan urutan membuka toko. Lin harus mengangkat palang, menyapu daun dari ambang, lalu menunggu Mo sebelum menyentuh peti kas. Untuk menutup, ia memeriksa pintu depan dan jendela, tetapi kunci ruang belakang tetap di tangan Mo. Lin mengulang urutannya dengan kata-katanya sendiri agar tidak keliru saat pagi pertama.

Hari itu Lin bekerja seperti biasa. Ia memeriksa sampel daun dan menimbang bahan kering. Salah satu bungkusan masih belum dapat dicocokkan dengan sampel lama. Ia menulis perubahan bentuk dan kondisi penyimpanan, lalu berhenti sebelum memberi nama. Tidak ada kabar baru dari Bai atau Mercenary Hall.

Saat menjelang tutup, Mo menghitung uang toko dan memeriksa palang. Ia tidak meminta Lin menjaga kas atau mengurus barang berharga. Lin hanya memastikan pintu depan tertutup, menyapu lantai, lalu menerima sekeping tembaga sebagai upah harian. Ia makan malam sederhana bersama Mo di belakang toko.

Setelah Mo turun mengunci ruang kerja, Lin membawa peta, pakaian ganti, dan catatan ke loteng. Ia membentangkan tikar di tengah ruangan, jauh dari papan yang melengkung. Selimutnya tipis, tetapi kering. Untuk pertama kalinya, ia tidak perlu menyerahkan upah hari itu kepada pemilik penginapan.

Ia masih belum punya uang untuk pemeriksaan atau pelajaran. Keping yang diterimanya hari ini menjadi miliknya, setidaknya sampai ada kebutuhan lain. Bila kesepakatan ini berjalan, ia dapat menyisihkan sebagian upah berikutnya.

Dari loteng, ia mendengar suara kota mereda sedikit demi sedikit. Sesekali terdengar langkah di gang, lalu roda kereta yang menjauh. Bau akar dan daun kering naik dari sela papan. Di bawahnya ada ruang tungku milik Mo, tertutup rapat.

Lin tidak mencoba membuka palka yang menuju ruang belakang. Ia sudah tahu batasnya. Pengetahuan tentang alkimia tidak akan datang hanya dengan mengintip alat orang lain.

Ia membuka catatan dan menulis di bagian paling akhir: “Tempat tidur sementara di loteng toko Mo. Dibayar dengan membuka toko setengah jam lebih awal dan mengunci pintu depan. Uji selama seminggu. Upah harian tetap satu keping.”

Di bawahnya ia menambahkan pertanyaan tentang jadwal sekte, lalu menulis bahwa ia harus menyisihkan uang untuk kebutuhan di luar makan dan tidur.

Lin mematikan lampu. Ruangan itu sempit, dan tikarnya keras. Namun malam ini ia tidak merasa sedang membayar untuk sekadar bertahan sampai pagi. Ia telah menukar sebagian kenyamanan dengan waktu dan sedikit ruang untuk merencanakan langkah berikutnya.

Besok ia harus bangun lebih awal, membuka toko, dan kembali bekerja. Tidak ada jalan pintas yang terbuka. Tapi untuk pertama kalinya, satu keping tembaga tidak langsung menghilang dari tangannya.

1
Uranenantios
Enaknya sehari up berapa bab ya?
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!