Di mata masyarakat, keluarga Valerius adalah keluarga pengusaha terpandang dan salah satu keluarga terkaya di kota. Namun di balik kemewahan mansion mereka, keluarga Valerius merupakan salah satu keluarga mafia paling berkuasa dan ditakuti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mona28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IBU YANG DIBUNUH ADRIAN VALERIUS
“Ayah, siapa sebenarnya ibu kandungku?”
Pertanyaan Raka menggantung di udara.
Di layar komputer, Adrian menatap putra sulungnya dengan wajah pucat. Selama bertahun-tahun, pria itu telah menghadapi pengkhianatan, perang antarkeluarga, dan ancaman pembunuhan tanpa memperlihatkan rasa takut. Namun, kali ini ia bahkan kesulitan mengangkat wajahnya.
“Aku tidak membunuh ibumu, Raka.”
Raka tersenyum tipis. Senyum yang sama sekali tidak menunjukkan kebahagiaan.
“Menarik. Aku bahkan belum mengatakan bahwa aku percaya pesan itu, tetapi Ayah sudah menyangkalnya.”
“Karena aku tahu apa yang sedang dilakukan Alistair.”
“Jangan salahkan Alistair sebelum menjawab pertanyaanku.”
Adrian menarik napas panjang. Kedua tangannya masih terikat di belakang kursi. Di belakangnya, Alistair berdiri dengan kedua tangan bertaut di depan tubuh, menikmati pertengkaran yang sejak awal memang ingin diciptakannya.
“Raka, ibumu bernama Seraphina.”
Nama itu membuat Mara tiba-tiba menegang.
Viktor langsung menoleh kepada adiknya.
“Kau mengenal nama itu?”
Mara tidak menjawab. Wajahnya kehilangan warna, seolah-olah seseorang baru saja membuka pintu menuju kenangan yang selama ini berusaha dikuburnya.
Raka mengabaikan reaksi mereka.
“Seraphina siapa?”
“Seraphina Ravencroft.”
Kali ini, Aren yang terdiam.
Ravencroft.
Nama keluarga yang sama dengan keluarga ayah kandungnya, Armand Ravencroft.
Raka menatap Adrian tanpa berkedip.
“Jadi, aku anak keluarga Ravencroft?”
“Ya.”
“Lalu mengapa aku dibesarkan sebagai Valerius?”
“Karena malam itu, aku tidak memiliki pilihan yang aman.”
“Selalu begitu.” Raka tertawa pendek. “Semua orang selalu memiliki alasan untuk berbohong. Semua orang mengatakan mereka tidak punya pilihan. Namun, kami yang harus hidup dengan akibatnya.”
Adrian menunduk.
“Aku menemukanmu setelah ibumu meninggal.”
“Bagaimana dia meninggal?”
Adrian tidak langsung menjawab.
Alistair kemudian melangkah maju dan meletakkan sebuah foto di depan kamera.
Foto itu memperlihatkan seorang perempuan muda berambut hitam, berdiri di taman dengan seorang bayi dalam pelukannya. Wajah perempuan tersebut memiliki kemiripan yang mencolok dengan Raka, terutama pada bentuk mata dan garis hidungnya.
Di belakang perempuan itu berdiri Adrian muda.
Pada sudut foto tertulis sebuah tanggal, tujuh belas tahun sebelumnya.
“Ini Seraphina Ravencroft,” ujar Alistair. “Perempuan yang seharusnya menjadi ibu dari pewaris keluarga Ravencroft berikutnya.”
Ia menggeser foto itu.
Foto kedua memperlihatkan Seraphina terbaring di lantai sebuah ruangan. Ada noda gelap pada pakaiannya, dan seorang pria berdiri membelakanginya.
Wajah pria itu tidak terlihat jelas.
Namun, di tangannya terdapat cincin khas keluarga Valerius.
Raka menatap gambar tersebut dengan rahang mengeras.
“Siapa pria itu?”
Alistair tersenyum.
“Orang yang membesarkanmu.”
---
“Matikan layarnya.”
Suara Aren terdengar tajam.
Kian segera menoleh kepada adiknya.
“Aren?”
“Matikan sekarang.”
Kian tidak bertanya lagi. Ia memutus sambungan video, tetapi bukan sebelum Alistair sempat tertawa puas.
Raka masih berdiri di tempatnya.
Ia tidak bergerak, tidak berbicara, bahkan tidak menunjukkan kemarahan seperti yang mereka duga.
Justru itulah yang membuat Darren khawatir.
“Kak,” ujar Darren hati-hati.
“Aku baik-baik saja.”
“Kau tidak terlihat baik-baik saja.”
“Aku bilang aku baik-baik saja.”
Darren mengatupkan mulut.
Riven yang biasanya paling cepat melawan akhirnya memilih diam. Ia mengenal Raka cukup lama untuk memahami bahwa kakak tertuanya sedang berusaha mengendalikan dirinya agar tidak melakukan sesuatu yang akan disesalinya.
Leon mendekati Raka.
“Aku ingin memeriksa tekanan darahmu.”
“Aku tidak sakit.”
“Aku tidak mengatakan kau sakit. Aku mengatakan aku ingin memeriksamu.”
“Leon.”
“Raka.”
Keduanya saling menatap.
Akhirnya, Raka menghela napas dan membiarkan Leon memeriksa pergelangan tangannya.
Aren berdiri di sisi lainnya.
“Kak Raka, aku percaya Kakak.”
Raka menoleh kepadanya.
“Kau bahkan belum mengetahui seluruh ceritanya.”
“Aku juga belum mengetahui seluruh cerita tentang diriku sendiri. Tapi aku tidak akan membiarkan Alistair menentukan siapa keluarga kita.”
Raka memandang Aren lama sekali.
Kemudian ia mengusap rambut adiknya.
“Kadang-kadang aku lupa bahwa kau tidak sekecil dulu.”
“Aku bisa menjadi kecil lagi kalau Kakak mau.”
Raka mengeluarkan tawa singkat yang terdengar rapuh.
“Jangan. Lima kakakmu saja sudah cukup merepotkan. Kalau kau kembali menjadi bayi, aku harus menjagamu sepanjang hari.”
“Bukankah Kakak memang selalu menjagaku?”
“Sayangnya, iya.”
Untuk beberapa detik, mereka kembali menjadi dua bersaudara yang saling menggoda.
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.
Mara akhirnya berbicara.
“Seraphina bukan hanya anggota keluarga Ravencroft.”
Viktor menatapnya.
“Jelaskan.”
Mara menggenggam gelang bulan di pergelangan tangannya, meskipun gelang itu sudah lama tidak ada. Gerakan tersebut tampak seperti kebiasaan yang masih tertinggal dari masa lalu.
“Dia adalah saudara perempuanku.”
Viktor membeku.
“Apa?”
“Seraphina Soren sebelum menikah dengan keluarga Ravencroft. Dia adik perempuan kami.”
Wajah Viktor berubah drastis.
“Aku diberi tahu bahwa Seraphina meninggal karena penyakit bertahun-tahun sebelum serangan itu.”
“Itulah yang diberitahukan kepada semua orang.” Mara menelan ludah. “Namun, Seraphina tidak meninggal saat itu. Dia menikah dengan seseorang dari keluarga Ravencroft dan menyembunyikan identitasnya untuk melindungi keluarganya.”
Raka memandang Mara dengan tajam.
“Jadi, kau adalah bibiku?”
Mara mengangguk perlahan.
“Aku tidak pernah tahu bahwa kau masih hidup sampai aku melihat namamu dalam arsip beberapa tahun lalu.”
“Dan kau tidak pernah mencoba mencariku?”
“Aku mencoba.” Mata Mara mulai berkaca-kaca. “Tetapi setiap kali aku mendekati informasi tentang Seraphina, seseorang menghapusnya. Aku bahkan tidak ingat sebagian besar kejadian malam itu.”
Raka memalingkan wajah.
“Aku tidak tahu apakah aku harus mempercayaimu.”
“Kau tidak harus melakukannya sekarang.”
Mara menerima jawaban itu tanpa membela diri.
“Aku hanya ingin kau tahu bahwa ibumu mencintaimu. Dia mempertaruhkan segalanya agar kau bisa hidup.”
Raka mengepalkan tangan.
“Kalau begitu, mengapa Adrian berada di sampingnya saat dia meninggal?”
Tidak ada yang menjawab.
Pertanyaan itu kembali membawa mereka pada satu nama.
Adrian Valerius.
---
Kian berhasil memulihkan sebagian rekaman yang sebelumnya disimpan dalam server terenkripsi. Ia memutar sebuah video pendek yang berasal dari kamera koridor fasilitas.
Gambarnya buram, tetapi suara percakapan masih bisa didengar.
Seraphina berdiri di depan pintu ruang medis sambil menggendong seorang bayi. Adrian muda menghadangnya.
“Bawa anak itu pergi,” kata Seraphina.
“Aku tidak bisa meninggalkanmu di sini.”
“Kalau kau tetap di sini, kalian berdua akan mati.”
“Aku berjanji kepada Armand akan melindungimu.”
“Kalau begitu, tepati janjimu!”
Seraphina mendorong bayi itu ke dalam pelukan Adrian.
Lalu terdengar suara tembakan dari kejauhan.
Seraphina menoleh ke arah koridor.
“Pergi!”
Adrian tidak bergerak.
Seraphina mencengkeram kerah bajunya.
“Adrian, dengarkan aku. Jika sesuatu terjadi padaku, jangan biarkan Alistair menemukan anak ini.”
“Seraphina—”
“Namanya Raka.”
Rekaman terputus.
Ruangan itu kembali sunyi.
Raka memandang layar.
“Dia tahu namaku.”
“Ya,” jawab Leon pelan.
“Dia memberiku nama sebelum Adrian membawaku keluar.”
Darren menatap data rekaman.
“Ini membuktikan bahwa Seraphina menyerahkanmu kepada Adrian. Namun, belum membuktikan bagaimana dia meninggal atau siapa yang membunuhnya.”
“Dan bagian terpenting dari rekaman ini hilang,” tambah Kian. “Ada jeda sekitar sebelas menit sebelum kamera kembali aktif.”
Riven memukul telapak tangannya sendiri.
“Alistair sengaja menyisakan bagian yang membuat kita saling mencurigai.”
“Karena dia ingin kita melakukan pekerjaannya untuknya,” kata Aren. “Dia tidak perlu membunuh keluarga ini jika kita mulai menghancurkan diri sendiri.”
Raka mengangguk perlahan.
“Kalau begitu, kita tidak akan memberinya kesempatan.”
Ia menoleh kepada Kian.
“Cari lokasi Adrian sekarang.”
“Aku sedang berusaha. Sambungan terakhir berasal dari fasilitas utama Proyek Serigala Hitam, tetapi sinyalnya berpindah-pindah.”
“Temukan.”
“Raka, sistemnya dilindungi berlapis-lapis.”
“Kalau begitu, buka lapisannya satu per satu.”
Kian menatap kakak tertuanya.
“Baik.”
---
Di fasilitas utama, Adrian duduk dalam keheningan.
Alistair berjalan mengelilingi kursinya sambil membawa amplop hitam yang kini terbuka.
“Kau seharusnya membiarkan Raka mengetahui kebenaran sejak awal,” katanya.
Adrian menatapnya dingin.
“Kau tidak pernah menginginkan dia mengetahui kebenaran. Kau hanya ingin menggunakan darahnya untuk mengaktifkan protokol.”
“Dan kau menginginkan apa? Menjadi ayah yang sempurna?”
“Tidak. Aku hanya ingin anak-anakku memiliki kesempatan untuk hidup tanpa dikendalikan oleh orang sepertimu.”
Alistair berhenti di depan Adrian.
“Seraphina memohon agar kau menyelamatkannya.”
“Aku tahu.”
“Dia memanggil namamu ketika kau meninggalkannya.”
Wajah Adrian menegang.
Alistair tersenyum puas.
“Jadi, kau masih mengingatnya.”
Adrian memejamkan mata.
“Aku tidak meninggalkannya.”
“Kau keluar melalui pintu darurat bersama seorang bayi, sementara Seraphina tertinggal di dalam.”
“Aku kembali untuk mencarinya!”
“Setelah semuanya terbakar.”
Adrian membuka mata. Ada amarah yang akhirnya menembus kelelahan di wajahnya.
“Kau yang mengunci ruang medis.”
Alistair tidak menyangkal.
“Aku melakukan apa yang diperlukan.”
“Kau membunuhnya!”
“Tidak,” jawab Alistair datar. “Aku hanya memastikan dia tidak bisa membawa rahasia keluarga Ravencroft keluar dari fasilitas.”
Adrian menatapnya dengan kebencian yang begitu dalam hingga Alistair berhenti tersenyum.
“Kau monster.”
“Dan kau pengecut, Adrian. Kau membiarkan Raka tumbuh tanpa mengetahui bahwa ibu kandungnya mati karena kau memilih menyelamatkan dirinya.”
Adrian menarik napas dengan susah payah.
“Aku menyelamatkan seorang bayi. Aku tidak tahu bahwa Seraphina masih hidup ketika aku keluar.”
“Tentu saja.”
Alistair meletakkan amplop hitam di meja.
“Kalau begitu, mari kita lihat apakah kau masih bisa menyelamatkan anak-anakmu.”
Ia menekan sebuah tombol.
Dinding di hadapan Adrian terbuka, memperlihatkan ruangan lain yang dipisahkan oleh kaca tebal.
Di dalamnya, seorang perempuan duduk di ranjang sempit.
Rambutnya panjang, wajahnya pucat, dan tangannya memeluk lutut.
Elena Ravencroft.
Namun, ketika perempuan itu mengangkat wajahnya, Adrian mendadak kehilangan seluruh warna di wajahnya.
Bukan karena Elena.
Melainkan karena seseorang berdiri di belakangnya.
Seorang perempuan tua dengan rambut hitam yang mulai memutih, mengenakan pakaian putih dan cincin serigala perak.
Adrian mengenal wajah itu.
Ia pernah melihatnya di koridor fasilitas tujuh belas tahun lalu.
Ia pernah mengira perempuan itu telah mati dalam kebakaran.
Dan ia pernah berjanji kepada Seraphina bahwa tidak seorang pun akan menyentuhnya.
“Tidak…” bisik Adrian.
Alistair mendekat ke telinganya.
“Kau pikir Seraphina adalah satu-satunya orang yang gagal kau selamatkan?”
Perempuan di balik kaca perlahan menoleh ke arah kamera.
Tatapannya bertemu dengan Adrian.
Bibirnya bergerak membentuk dua kata.
Putraku, pulanglah.
Adrian membeku.
Karena perempuan itu bukan Elena.
Bukan Mara.
Bukan pula Seraphina.
Itu adalah ibu kandung Adrian Valerius sendiri—perempuan yang selama ini diyakininya telah meninggal puluhan tahun lalu.
Dan Alistair baru saja membuktikan bahwa rahasia Proyek Serigala Hitam jauh lebih tua daripada kehancuran keluarga Ravencroft.