Dunia tidak pernah tahu nama negeri ini. Tapi semua orang di dalamnya tahu satu aturan: jangan pernah percaya siapa pun.
Kenzo Adriel berumur tujuh tahun saat ia bersembunyi di balik semak dan menyaksikan keluarganya dibantai habis — sementara negerinya sendiri berpura-pura hal itu tidak pernah terjadi.
Sepuluh tahun kemudian, ia bukan lagi anak itu.
Ia adalah bayangan yang disewa untuk membunuh orang-orang yang terlalu berbahaya untuk disentuh hukum. Tidak ada yang tahu wajahnya. Tidak ada yang tahu namanya yang sebenarnya. Dan tidak ada yang tahu bahwa setiap kontrak yang ia ambil hanyalah alasan untuk mendekati satu nama — dalang dari malam yang menghancurkan hidupnya.
Pencarian itu membawanya ke dalam rumah Alexander Gunawan, salah satu orang paling berkuasa — dan paling berbahaya — di negeri ini.
Sebagai tamu, bukan pembunuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: PISAU DI BALIK SENYUM
#
Jari Dante berhenti tepat di atas gagang pisau di pinggangnya.
Ruangan itu membeku. Rocco sudah mengarahkan pistol ke kepala Dante. Jack dan Jeky bangkit dari lantai, wajah mereka masih pucat, tapi tinju mereka sudah mengepal. Tak seorang pun bernapas.
"Jangan bergerak," kata Kenzo pelan, suaranya rendah dan diperlambat. "Tangan di atas meja."
Dante tidak melawan. Ia menatap Kenzo, lalu tersenyum, senyum yang sama seperti biasa, dan perlahan meletakkan kedua telapak tangannya di atas kayu jati.
"Aku tahu ini kelihatannya buruk, Bos."
"Jelaskan."
"Tikus itu." Dante menunjuk celah dinding dengan dagu. "Itu bukan tikus liar. Itu tikus pembawa pesan. Pelatihan lama dari jaringan yang dulu kupakai sebelum bergabung. Hanya satu orang yang masih memakai cara itu, dan dia tahu aku tahu."
"Siapa?"
"Aku tidak tahu namanya. Dulu aku cuma menerima gulungan kertas lewat tikus, dan membalasnya dengan cara yang sama. Itu sebelum aku kenal kalian. Aku berhenti tiga tahun lalu." Matanya tidak berkedip. "Kalau aku pengkhianat, Bos, aku tidak akan duduk di sini dengan tangan di meja sementara kalian membaca pesan yang menyebut namaku."
Axel mengetik cepat. *Logikanya masuk. Kalau dia mata-mata, pengirim tidak akan membuka kedoknya. Pengirim mau kita saling curiga.*
Kenzo menatap Dante lama. Ia ingat Laksmi: *orang bohong ketahuan dari jeda.* Dante tidak berjeda.
"Rocco, turunkan senjatamu." Ia menoleh pada Dante. "Tapi mulai malam ini, Tony yang awasi kamu. Bukan karena aku tidak percaya. Karena orang yang kirim tikus itu ingin kita pecah, dan aku tidak akan memberinya hadiah."
Dante mengangguk pelan. Ada sesuatu yang berubah di wajahnya, bukan lega, tapi rasa hormat yang baru.
---
## Menebang Akar, Mencabut Daun
Dalam tiga minggu berikutnya, bisnis Alexander Gunawan mulai berdarah dari sepuluh luka kecil.
Aceng membobol pembukuan pabrik Marenta dan mengirim salinan ganda ke kantor pajak, lewat identitas palsu buatan Marco. Inspektur asli datang mengaudit. Dua pabrik ditutup sementara. Vito membuat tiga truk mogok lagi, dan kali ini isinya, senjata selundupan, ia kirim anonim ke polisi militer yang tidak bisa disuap. Rocco duduk dua malam di atap bangunan hanya untuk menembak lampu sorot dermaga milik Alexander, sehingga kapalnya tertahan dan denda keterlambatan menumpuk.
Tapi Kenzo tahu uang saja tidak cukup. Orang seperti Alexander bisa kehilangan pabrik dan tetap tidur nyenyak, selama pelindungnya masih di sana.
"Pejabat," katanya di rapat berikutnya. "Mereka yang menandatangani izin, menutup mata, menerima amplop. Mereka akar yang sebenarnya."
Tony membuka map. "Ini daftarnya. Sepuluh nama. Semua punya hubungan langsung dengan Alexander: bea cukai, imigrasi pelabuhan, hakim, dua anggota dewan, satu jenderal."
"Kita bunuh semuanya?" tanya Jeky.
"Tidak semuanya." Kenzo menatap daftar itu. "Yang bisa dihancurkan lewat skandal, kita hancurkan lewat skandal. Yang sudah terlalu kotor untuk diselamatkan..." Ia berhenti. "Mereka yang membunuh."
Aturannya sederhana dan tidak ditulis. Tidak ada keluarga yang disentuh. Tidak ada saksi tak bersalah. Dan setiap target harus punya bukti, dikumpulkan Axel, ditinjau dua kali oleh Raden sebelum disetujui.
Pejabat pertama, kepala bea cukai Sarvenna bernama Haryo Sentanu, ditemukan di mobilnya di tepi dermaga dengan satu uang seratus ribu di saku. Di dasbor, tulisan putih: *Harga untuk menutup mata.* Sepuluh hari kemudian, saat polisi masih bingung, Aceng membocorkan rekening rahasianya ke seluruh media Marenta. Istrinya mengaku tidak tahu apa-apa. Tak seorang pun menyalahkannya.
Pejabat kedua, hakim yang menjual vonis, mati dengan cara yang hampir sama. Pejabat ketiga bunuh diri sebelum Kenzo sampai, setelah menerima amplop berisi foto dirinya sendiri sedang tidur, dikirim Vito tanpa pesan.
Dunia atas mulai gelisah. Rapat-rapat tertutup digelar. Pengawal ditambah. Di koran, kolom-kolom bisik menyebut satu nama, dan nama itu mulai terdengar seperti kutukan: *Sang Bayangan menghitung.*
---
## Harga yang Tidak Kelihatan
Tapi ada harga, dan Kenzo membayarnya dengan cara yang tidak terlihat.
Jack Lowtake mulai tidak tidur nyenyak setelah salah satu pejabat memohon di depannya. Jeky bercanda lebih sedikit. Vito berhenti mengunyah permen karet selama dua hari. Dan suatu malam Kenzo menemukan Rocco duduk sendiri di atap, menatap kopi yang dingin, tangannya gemetar untuk pertama kalinya.
"Tiga puluh tahun tembak orang," gumam Rocco tanpa menoleh. "Baru kali ini aku ragu."
"Kenapa?"
"Karena sekarang aku tahu kenapa aku menembak." Ia menyesap kopi dinginnya. "Dulu cuma gaji. Sekarang... rasanya lebih berat."
Kenzo duduk di sampingnya, tidak bicara. Di bawah mereka lampu-lampu Marenta berkedip, dan jauh di sana, di balik gelap, ada rumah-rumah yang masih tidak tahu siapa yang mengawasi mereka.
"Kamu boleh berhenti," kata Kenzo akhirnya.
"Nggak." Rocco menggeleng pelan. "Itu yang bikin berat."
---
## Telepon Pukul Dua
Malam itu Kenzo sendirian di kamar atas kasino, duduk di tepi ranjang dengan topeng di pangkuan, menatap pusara kecil dari ranting jambu yang tidak ada di sana. Sudah dua minggu sejak ia mengunjungi Victor. Ia janji akan kembali.
Telepon kecil di sakunya bergetar.
Nomor itu bukan nomor Axel. Bukan pula nomor siapa pun yang ia kenal. Ia menatapnya tiga detik, lalu mengangkatnya tanpa bicara.
"Selamat malam, Kenzo Adriel."
Suara perempuan. Tenang, dalam, tanpa gemetar. Bukan suara yang dibuat-buat, tapi suara orang yang sudah terbiasa didengarkan.
Seluruh tubuh Kenzo menegang. Jarinya mencari Axel di layar, tapi ia tidak menekan apa-apa. "Anda salah nomor."
"Tidak." Ada senyum samar di suara itu. "Kamu pakai topeng porselen dengan retak emas di pelipis kiri. Kamu membunuh Hartono Salim di Gudang Tujuh dengan satu tembakan. Kamu tidak minta maaf pada hakim di Marenta. Dan kamu menguburkan seseorang di bukit di belakang Kota Tua, di bawah pohon jambu, tanpa nama."
Dunia di sekitar Kenzo menyempit. Napasnya berhenti.
"Siapa kamu?"
"Aku tahu siapa kamu sebelum kamu tahu siapa dirimu sendiri." Jeda. "Dan aku tahu apa yang kamu kejar. Alexander Gunawan hanya pintu pertama, Nak. Di balik pintu itu ada ruangan yang jauh lebih besar."
"Jangan panggil aku begitu."
"Baik." Suaranya melembut sedikit. "Aku tidak akan menawarkan hal yang tidak kamu inginkan. Aku menawarkan satu hal: kita bekerja sama. Negara ini sudah busuk sampai ke tulang, dan kamu tidak bisa membersihkannya sendiri. Aku punya akses, data, dan orang yang tidak bisa kamu jangkau dari bawah tanah. Kamu punya sesuatu yang aku tidak punya. Kamu bayangan."
"Dan imbalannya?"
"Identitasmu."
Kenzo tidak bergerak. Di luar jendela kamar, hujan tipis mulai turun.
"Aku tahu siapa kamu sebenarnya," suara itu berkata pelan. "Bukan hanya nama. Bukan hanya anak siapa. Aku tahu kenapa seorang jenderal, seorang pengusaha, dan seorang lelaki di kursi roda yang tidak pernah turun gunung semuanya berurusan dengan satu anak berumur tujuh tahun di balik semak. Dan aku tidak akan bilang sekarang, karena kalau kamu tahu sebelum waktunya, kamu tidak akan mempercayaiku."
"Lelaki di kursi roda..." Kenzo mengulang, tenggorokannya kering. "Siapa itu?"
"Temui aku besok malam. Gudang tua di ujung dermaga timur Sarvenna, bekas gudang es. Datang sendiri, tanpa pistol, tanpa topeng. Kalau kamu membawa orang, aku tidak akan muncul."
"Aku tidak percaya jebakan."
"Aku juga tidak." Ada tawa kecil di seberang. "Karena itu aku bilang tanpa topeng. Orang yang mau menjebakmu tidak akan menyuruhmu menunjukkan wajah."
"Tunggu! Siapa..."
Klik.
Telepon itu mati. Layar menampilkan satu notifikasi: *Panggilan berakhir. Tidak ada pelacak.*
Kenzo duduk lama di tepi ranjang, jari gemetar memegang telepon yang sudah mati. Di luar, hujan menderas, dan di pantulan jendela yang gelap ia melihat wajahnya sendiri, tanpa topeng, tanpa nama.
*Gudang es.*
Pabrik es di dekat pelabuhan Sarvenna. Tempat ia belajar jatuh. Tempat ia bertemu Axel. Tempat semuanya dimulai.
Dan perempuan itu tahu.
---
*Bersambung ke Bab 21*