Demi menyelamatkan sang ayah dari siksaan maut seorang mafia kejam, Aisyah gadis bercadar, Hafizah bermata biru blasteran menyerahkan diri sebagai tawanan abadi. Syaratnya gila: pria berdarah dingin itu harus masuk Islam dan menikahinya.
Pernikahan tanpa cinta pun dimulai. Alih-alih menjadi ratu, hidup Aisyah berubah menjadi neraka ketika suaminya sengaja membawa wanita malam ke hadapannya setiap hari untuk menghancurkan mentalnya.
Di tengah ketakutan yang mencekam dan air mata yang tak pernah kering, Aisyah hanya bersandar pada sujud malamnya.
Mampukah kelembutan ayat-ayat suci meluluhkan hati seorang psikopat tanpa Tuhan, atau justru Aisyah yang akan hancur lebur di sarang iblis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fajar Baru di Balik Tembok Benteng
Langit pagi di atas puncak bukit perlahan menyibak tirai malam, memancarkan bias cahaya keemasan yang menembus kaca-kaca jendela raksasa istana. Udara dingin khas pegunungan masih memeluk setiap sudut bangunan bergaya neo-gothic itu, tetapi atmosfer di dalam kamar utama sayap barat terasa jauh berbeda dari hari-hari sebelumnya. Tidak ada lagi ketegangan yang mencekam atau aura permusuhan yang pekat. Yang tertinggal hanyalah keheningan yang menenangkan.
Di atas ranjang king-size, Kenzie Al-Ghazali terbaring dengan napas yang jauh lebih teratur. Perban putih bersih yang melilit perut dan bahu kirinya tampak kontras dengan kemeja hitam yang kini dibiarkan terbuka. Demam tinggi yang sempat menyerangnya menjelang subuh tadi perlahan mulai mereda, berkat obat penurun panas dan kompres telaten yang diganti secara berkala oleh Aisyah Humaira sepanjang malam.
Aisyah duduk di kursi kecil di samping ranjang. Wajahnya tampak lelah, matanya menyembunyikan keletihan karena sama sekali tidak tidur semalaman. Meskipun demikian, ia tetap setia berjaga, memastikan suaminya melewati masa kritis.
Perlahan-lahan, bulu mata lentik Kenzie bergetar. Pria berdarah dingin itu membuka matanya, mengerjapkan pandangannya untuk menyesuaikan diri dengan cahaya matahari pagi yang masuk melalui celah gorden.
Kesadaran Kenzie sepenuhnya pulih. Hal pertama yang ia rasakan bukanlah rasa sakit yang menusuk seperti semalam, melainkan kehangatan yang menjalar di sekujur tubuhnya. Ia menolehkan kepalanya secara perlahan ke samping dan mendapati Aisyah sedang menunduk, tertidur pulas dengan posisi duduk sambil menyandarkan kepalanya di tepi ranjang, tangannya masih menggenggam erat ujung selimut yang menutupi tubuh Kenzie.
Kenzie tertegun. Pandangannya menatap lekat-lekat sosok wanita bercadar di hadapannya itu. Bayangan malam tadi bagaimana Aisyah tidak ragu-ragu membersihkan luka tembaknya, menjahit perutnya dengan tangan yang bergetar namun pasti, hingga tetesan air mata tulus yang jatuh di punggung tangannya kembali berkelebat jelas di dalam kepalanya.
Seumur hidupnya, Kenzie dikelilingi oleh orang-orang yang mendekatinya karena takut, butuh uang, atau berniat menusuk dari belakang. Tidak ada satupun manusia yang peduli pada nyawanya tanpa pamrih, apalagi setelah apa yang ia perbuat pada Aisyah selama ini.
Kenapa kau begitu baik padaku, Aisyah...? batin Kenzie bergeming, dadanya terasa sesak oleh rasa bersalah yang teramat dalam.
Gerakan kecil Kenzie membuat Aisyah seketika terbangun. Gadis Hafizah itu mengangkat kepalanya, mengerjap-ngerjapkan matanya yang terasa berat, lalu langsung menatap cemas ke arah sang suami.
"Tuan... Anda sudah sadar?" suara Aisyah terdengar serak namun sarat akan kelegaan. Ia segera bangkit, mendekatkan tangannya untuk memeriksa suhu di dahi Kenzie. "Alhamdulillah... demamnya sudah turun. Bagaimana perasaan Anda? Apakah lukanya masih terasa sangat sakit?"
Kenzie terdiam, menatap manik mata biru jernih Aisyah yang memancarkan ketulusan tanpa batas. Untuk pertama kalinya, pria arogan itu tidak menunjukkan tatapan sinis atau suara membentak. Suaranya terdengar sangat pelan, serak, dan penuh beban.
"Aisyah..." panggil Kenzie lirih. "Kenapa... kau tidak tidur? Kau menjagaiku semalaman?"
Aisyah menarik tangannya kembali secara santun, lalu tersenyum lembut di balik cadarnya. "Sudah kewajiban saya, Tuan. Luka Anda cukup parah, dan sebagai istri, saya tidak mungkin bisa tidur nyenyak jika melihat Anda kesakitan di hadapan saya."
Kenzie membuang muka sejenak, menatap langit-langit kamar dengan rahang mengeras untuk menahan gejolak emosi di dadanya. Ada air mata yang kembali mendesak ingin keluar, tetapi ia berusaha menahannya.
"Aku adalah pria yang kejam, Aisyah," bisik Kenzie dengan suara bergetar. "Aku menyelundupkan senjata, aku menghancurkan banyak nyawa, dan aku memperlakukanmu seperti tawanan rendahan di rumah ini. Tapi kau... kau justru merawatku seolah aku adalah orang paling berharga di dunia ini."
Aisyah menatap suaminya dengan penuh kedamaian. Ia tahu, dinding es yang selama ini membentengi jiwa Kenzie perlahan-lahan mulai runtuh. Hidayah Allah sedang mengetuk pintu hati pria itu melalui ujian kesakitan.
"Manusia tidak ada yang sempurna, Tuan," ucap Aisyah lembut. "Pintu taubat Allah sangat luas bagi siapa saja yang mau kembali. Masa lalu Anda milik kemarin, tapi hari esok adalah lembaran baru yang bisa Anda ubah."
Kenzie menoleh kembali, menatap lurus ke dalam mata biru Aisyah. Ada tekad kuat yang mendadak berpijar di balik manik mata gelap sang mafia. Ia perlahan mengangkat tangan kanannya yang tidak terluka, lalu meraih pergelangan tangan Aisyah—bukan dengan cengkeraman kasar seperti dulu, melainkan dengan genggaman yang rapuh namun penuh permohonan.
"Bimbing aku, Aisyah..." bisik Kenzie penuh kesungguhan. "Ajari aku bagaimana cara menjadi manusia yang benar... ajari aku cara bersujud kepada Tuhanmu."
Mendengar permintaannya itu, air mata haru menetes di pipi Aisyah. Ia mengangguk perlahan, mengeratkan genggaman tangannya. "Insya Allah, Tuan... saya akan menemani setiap langkah perjalanan hijrah Anda."
Sementara itu, suasana di luar kamar utama jauh lebih sibuk. Berita mengenai penyergapan di pelabuhan tikus dan kondisi Kenzie yang terluka parah membuat seluruh petinggi sindikat panik. Di ruang rapat lantai bawah, para pengawal kepercayaan berkumpul untuk membahas langkah pengamanan selanjutnya.
Pintu ruang rapat terbuka, dan seorang pengawal senior bernama Vito masuk dengan wajah tegang. Vito adalah tangan kanan Kenzie yang paling setia, tetapi ia juga dikenal sebagai sosok yang kejam dan tidak kenal kompromi.
"Bagaimana keadaan Boss Kenzie?" tanya salah seorang anak buah dengan cemas.
"Beliau sudah sadar, tapi masih harus istirahat total," jawab Vito tegas, lalu mengerutkan keningnya. "Dan dengar, insiden di pelabuhan kemarin tidak boleh bocor ke sindikat saingan kita, terutama kelompok The Black Serpent. Mereka pasti memanfaatkan situasi ini untuk menyerang wilayah kita."
"Tapi Boss... apa benar Nyonya besar yang merawat luka Boss Kenzie sepanjang malam?" tanya salah satu pengawal dengan nada heran. "Aku dengar dari tenaga medis, luka tembak dan sayatan itu ditangani sendiri oleh Nyonya."
Vito terdiam sejenak. Ia menyilangkan kedua tangannya di dada, matanya menyipit penuh pertimbangan. Sejak Aisyah dibawa ke istana ini, Vito adalah salah satu orang yang paling skeptis. Ia menganggap gadis pesantren itu hanya akan menjadi beban atau kelemahan bagi sang bos di dunia hitam. Namun, mendengar bagaimana Aisyah mempertaruhkan perhatiannya menyelamatkan nyawa Kenzie tanpa rasa takut, pandangan Vito mulai goyah.
"Nyonya bukan wanita biasa," ujar Vito pelan namun tegas kepada anak buahnya. "Mulai hari ini, tingkatkan pengamanan di sekitar sayap barat. Tidak seorang pun boleh mengganggu masa pemulihan Boss Kenzie. Dan perlakukan Nyonya besar dengan hormat selayaknya pemimpin kita sendiri."
Kembali ke kamar utama, matahari kini telah naik cukup tinggi. Aisyah baru saja selesai membantu Kenzie meminum obat dan sup hangat buatan dapur. Meskipun gerakannya masih terbatas karena rasa nyeri di perutnya, Kenzie tampak jauh lebih baik.
Suasana di kamar itu terasa damai, jauh dari bayang-bayang ketakutan yang selama ini menyelimuti Aisyah sejak hari pertama ia menginjakkan kaki di istana tersebut.
Tiba-tiba, suara ketukan pintu terdengar pelan.
Tok. Tok.
Kenzie dan Aisyah menoleh secara bersamaan.
"Masuk," ujar Kenzie dengan suara parau namun tegas.
Pintu terbuka perlahan, dan Vito melangkah masuk dengan sikap hormat. Pria berbadan tegap itu menundukkan sedikit kepalanya kepada Kenzie, lalu melirik sekilas ke arah Aisyah dengan pandangan yang jauh lebih lunak dari biasanya.
"Boss, ada laporan penting dari pelabuhan," lapor Vito serius. "Jalur distribusi alternatif sudah kita amankan. Kelompok Black Serpent sempat mencoba mendekat, tapi berhasil kita pukul mundur sebelum mereka tahu kondisi Anda."
Kenzie mengangguk dingin. "Bagus, Vito. Perketat pengamanan. Jangan biarkan ada celah sedikitpun."
"Baik, Boss," jawab Vito, sebelum akhirnya pandangannya beralih menatap Aisyah. Vito menarik napas sejenak, lalu membungkuk hormat. "Dan... Nyonya, terima kasih atas apa yang Anda lakukan semalam untuk Boss Kenzie. Atas nama seluruh anggota sindikat, kami berhutang nyawa pada Anda."
Aisyah sedikit terkejut mendengarkan pengakuan dari tangan kanan mafia yang terkenal kejam itu. Ia mengangguk santun di balik cadarnya. "Saya hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan, Vito. Keselamatan suami saya adalah yang utama."
Vito mengangguk takdzim, lalu meminta izin untuk pamit meninggalkan ruangan, membiarkan pasangan suami istri itu kembali dalam keheningan.
Kenzie menatap Aisyah dengan seulas senyuman tipis yang sangat langka terukir di bibirnya senyuman tulus pertama yang ia tunjukkan sejak hari pernikahan mereka.
"Kau lihat itu, Aisyah?" bisik Kenzie lembut. "Bahkan orang sekejam Vito mulai menghormatimu. Perlahan-lahan... istana gelap ini mulai berubah karena kehadiranmu."
Aisyah balas menatap suaminya dengan mata biru yang berbinar hangat. Ia tahu, jalan yang harus mereka tempuh masih sangat panjang dan penuh rintangan. Dunia hitam tidak akan serta merta melepaskan Kenzie begitu saja. Namun, di bawah naungan doa dan keimanan yang mulai tumbuh di hati sang suami, Aisyah yakin bahwa badai sebesar apapun pasti akan mampu mereka lewati bersama.