Sinopsis
Zain Arvendra Atmaja, seorang remaja yang seakan tak pernah lelah terlibat masalah di sekolahnya. Setelah berbagai kejadian yang menumpuk, ayahnya akhirnya mengambil keputusan Zain harus pindah ke sebuah SMA berbasis asrama yang dikenal mampu membimbing anak-anak yang sedang kehilangan arah.
Awalnya Zain menolak keras. Namun seiring berjalannya waktu, ia perlahan mulai menerima kenyataan itu. Di asrama inilah ia bertemu dengan Vanya, seorang gadis ceroboh yang dengan polosnya kerap menyeret Zain ke dalam berbagai situasi baru yang tak terduga.
Cerita terasa semakin rumit ketika Keira Cattleya Wiratama, kekasihnya yang selama ini jauh dari sana, tiba-tiba memutuskan untuk pindah ke asrama yang sama pula.
Tiga orang, satu atap, dan hati-hati yang mulai saling bersilang. Bagaimana kelanjutan cerita mereka ? Baca selengkapnya !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah Mayaddah f, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13 KEPERCAYAAN YANG SEMAKIN KUAT
Waktu berlalu begitu cepat hingga musim liburan pertamanya tiba, suasana asrama yang biasanya riuh perlahan menjadi lebih sepi saat para siswa pulang ke rumah masing-masing. Zain berdiri di depan gerbang, menunggu ayahnya yang akan menjemput. Dadanya berdebar campur aduk ada rindu pada rumah, namun ada juga rasa berat meninggalkan tempat yang dalam beberapa bulan terakhir menjadi saksi pertumbuhannya.
Belum lama kemudian, mobil yang ia kenal melaju mendekat. Ayahnya turun, dan saat melihat Zain, senyum di wajahnya terasa lebih tulus dibandingkan saat pertama kali mengantarnya ke sini.
"Kamu terlihat berbeda, Zain," Ucap Danuel setelah mereka saling bersalaman hangat.
"Lebih tenang, lebih berkharisma" Lanjut Danuel tersenyum
Zain tersenyum.
"Mungkin karena di sini aku belajar banyak hal, pa" Jawab Zain
Saat mereka hendak masuk ke mobil, Keira berlari kecil menghampiri, ia juga akan dijemput ayahnya sebentar lagi.
“Hallo om” Sapa Keira tersenyum
“Hallo Leya, kamu juga ada di sini ?” Tanya Danuel saat melihat Keira
“Iya om, aku di kirim papa ke sini karena papa dan mama akan keluar kota” Jawab Keira berbohong
“Oh gitu, sekarang mana papa kamu ?” Ujar Danuel mencari ayah Keira
“Papa belum datang om, mungkin masih di jalan” Jawab keira
“Kalau gitu kami duluan ya, Leya” Pamit Danuel
“Iya om, hati-hati di jalan” Jawab Keira
"Selamat berlibur, Zain" Seru Keira sambil tersenyum cerah.
"Hati-hati di jalan ya, jangan lupa istirahat dan jangan lupa cerita-cerita seru saat kita kembali nanti" Lanjut Keira
"Kamu juga, Leya. Selamat berlibur, sampai ketemu dua minggu lagi" Jawab Zain lembut.
Keira menatapnya sejenak, lalu mengangguk yakin.
"Sampai ketemu, aku akan menunggumu di sini" Ujar Keira
Perjalanan pulang terasa berbeda dari perjalanan ke asrama dulu, pemandangan jalan yang sama namun perasaannya tidak lagi penuh ketakutan dan penolakan. Zain bercerita pada ayahnya tentang Rian yang bijaksana, Bima yang lembut, Dimas yang penuh harapan, dan tentu saja Keira yang selalu ada di dekatnya dan kini berusaha tumbuh bersamanya. Ia tidak menyembunyikan apa-apa, dan ayah mendengarkan dengan senyum yang tulus.
*****
Di rumah, segalanya terasa lebih akrab. Zain tidak lagi mengurung diri di kamar sepanjang hari. Ia membantu pekerjaan rumah, berbicara lebih banyak dengan ayah, dan bahkan menghabiskan waktu sore di taman kota yang dulu sering ia kunjungi bersama Keira. Namun anehnya, tempat-tempat itu tidak lagi terasa sepi. Ia punya cerita baru yang membuatnya merasa tidak sendirian.
Saat liburan hampir berakhir, Keira mengirim pesan singkat.
Cattleya { Aku sudah tidak sabar bertemu kalian, rumah terasa sepi tanpa tawa kalian}
Zain tersenyum membacanya, lalu membalas.
Zain { Aku juga, kita semua akan berkumpul lagi sebentar lagi. Jaga dirimu baik-baik ya}
*****
Hari keberangkatan pun tiba, ayah mengantarnya kembali ke asrama. Saat gerbang itu mulai terlihat di kejauhan, Zain tidak lagi merasa seperti orang asing yang dipaksa masuk. Ia merasa seperti seseorang yang kembali ke tempat di mana ia diterima apa adanya. Begitu turun dari mobil, suara riuh teman-temannya langsung menyambut telinga. Rian melambaikan tangan dari beranda depan, Dimas melambaikan peta kecil tempat mereka akan berkumpul sore nanti, dan Bima tersenyum tenang sambil memegang kotak bekal yang ia bawa dari rumah. Namun yang paling pertama menyambutnya adalah Keira, gadis itu berlari mendekat dengan wajah berseri-seri, matanya berbinar bahagia.
"Zain, akhirnya kamu datang juga" Seru Keira, lalu berhenti sejenak karena sadar mereka tidak sendirian. Ia menurunkan suaranya, namun senyumnya tak hilang.
"Aku senang sekali kamu sudah kembali" Lanjut Keira
"Aku juga senang melihatmu, Keira" Jawab Zain tulus.
Malam itu, di bawah langit yang sama namun terasa lebih hangat Zain menyadari satu hal penting. Asrama ini bukan lagi tempat pengasingan baginya, ini adalah tempat di mana ia belajar memaafkan, tempat di mana ia menemukan arti persahabatan yang tulus, dan tempat di mana ia dan Keira tumbuh bersama menuju versi diri yang lebih baik.
Perjalanan mereka masih panjang, dan belum tentu selalu mulus. Tapi Zain yakin, selama mereka saling percaya dan berusaha bersama, tidak ada rintangan yang tidak bisa mereka hadapi beriringan.
😏 jdi jalanin seadanya aja, gk usah milih
hehe pis ya mas Zain...