NovelToon NovelToon
DEWA PEDANG TANPA TANDING

DEWA PEDANG TANPA TANDING

Status: sedang berlangsung
Genre:Kelahiran kembali menjadi kuat / Spiritual / Reinkarnasi / Fantasi Timur
Popularitas:83.7k
Nilai: 5
Nama Author: Otna Forever

Su Yun pernah menjalani hidup penuh kegagalan, kehilangan, dan penyesalan. Ketika takdir memberinya kesempatan kembali ke masa lalu, ia bersumpah tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.

Berbekal pengalaman dari kehidupan sebelumnya dan warisan misterius Seni Pedang Tanpa Batas, Su Yun menapaki kembali jalan kultivasi. Demi melindungi orang-orang yang berharga baginya, ia harus menghadapi para genius, sekte besar, Binatang Roh, hingga musuh yang jauh melampaui kekuatannya.

Kali ini, Su Yun tidak akan tunduk pada takdir.

Dengan pedang di tangannya, ia akan merebut kembali semua yang pernah hilang—dan membuka jalan menuju puncak dunia kultivasi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otna Forever, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 — Enam Puluh Ribu Koin Roh

Energi pedang yang memenuhi Lembah Bulan Sabit mendadak lenyap.

Angin berhenti.

Tekanan mengerikan yang sebelumnya menyelimuti seluruh area ikut menghilang.

Wanita dari Sekte Pedang Abadi menatap Su Yun dengan keterkejutan yang sulit disembunyikan.

“Kau...”

Darah masih menetes dari sudut bibirnya.

“Bagaimana mungkin seorang Murid Roh menghancurkan teknik pedangku?”

Su Yun tidak menjawab.

Ia justru bergerak.

Bang!

Tinju menghantam perut wanita itu.

Tubuhnya terdorong mundur beberapa langkah.

Su Yun tidak berniat memberinya kesempatan memulihkan diri.

Dalam pertarungan hidup dan mati, orang yang memperoleh keunggulan harus mempertahankannya.

Ia baru hendak menyerang lagi ketika—

Denting!

Suara pedang melesat dari kejauhan.

Sangat cepat.

Wajah Su Yun langsung berubah.

Sesosok pria tua berjubah biru muncul di udara.

Pedang panjang berada di bawah kakinya.

Salah satu Empat Tetua Badai.

Namun keadaannya tidak sempurna.

Jubahnya robek.

Darah membasahi sebagian dada.

Aura yang dipancarkannya masih kuat, tetapi jelas tidak stabil.

“Pemimpin Sekte Iblis sudah dikalahkan?”

Su Yun langsung memahami situasi.

Tanpa Kristal Surgawi, pemimpin Sekte Iblis ternyata tidak mampu menghadapi para ahli Sekte Pedang Abadi.

Masalahnya—

sekarang Su Yun harus menghadapi dua orang.

Wanita di hadapannya saja hampir tidak mampu ia lawan.

Ditambah seorang Tetua Badai?

Bodoh jika tetap tinggal.

Su Yun berbalik.

Lari!

“Berhenti!”

Tetua berjubah biru langsung mengejar.

Tatapannya menangkap sisa aura Kristal Surgawi pada tubuh Su Yun.

“Serahkan harta itu!”

Sebuah energi pedang melesat dari belakang.

Wus!

Su Yun merasakan ancaman sebelum serangan tiba.

Namun bukannya menghindar—

ia berbalik.

Energi keemasan Kristal Surgawi meledak dari tubuhnya.

Bang!

Serangan pedang menghantam dada.

Lapisan energi melindunginya.

Su Yun menerobos langsung menembus serangan tersebut.

Tetua Badai sama sekali tidak menyangka.

“Apa?”

Su Yun sudah berada di depannya.

Tinju bergerak.

Bam!

Pukulan telak menghantam dahi sang tetua.

Tubuh pria tua itu terlempar.

Brak!

Punggungnya menghantam pohon besar.

Batangnya retak.

Tetua Badai jatuh berlutut sambil memuntahkan darah.

Su Yun menatapnya.

Ada yang tidak masuk akal.

Seorang ahli selevel itu seharusnya mampu menghindari pukulan sederhana.

Kemudian ia melihat darah pada jubahnya.

“Dia terluka parah.”

Pertarungannya melawan Pemimpin Sekte Iblis jelas menghabiskan banyak tenaga.

Kesempatan.

Niat membunuh muncul di mata Su Yun.

Kalau Tetua Badai dibiarkan pulih, ia akan kembali mengejarnya.

Lebih baik menghilangkan ancaman sekarang.

Su Yun berubah arah.

Ia melesat menuju pria tua itu.

Wanita Sekte Pedang Abadi langsung menyadari maksudnya.

“Berhenti!”

Ia mengejar.

Namun jaraknya terlalu jauh.

Su Yun sudah mengangkat tangan.

Satu pukulan dengan kekuatan Kristal Surgawi mungkin cukup untuk menghancurkan kepala lelaki tua itu.

Tetapi tepat sebelum serangan dilakukan—

Dum!

Dada Su Yun mendadak panas.

Energi keemasan berkedip.

Lalu mulai menghilang.

Sedikit demi sedikit.

Wajah Su Yun memucat.

“Senior?”

Master Pedang Tanpa Batas langsung menjawab.

“Buruk!”

“Apa?”

“Energi Kristal Surgawi sudah hampir habis!”

Su Yun menahan langkah.

“Secepat ini?”

“Tubuhmu terlalu lemah!”

Lelaki tua itu mendengus.

“Harta itu memang mampu memberimu kekuatan luar biasa, tapi kau bahkan belum keluar dari Alam Murid Roh.”

“Tubuhmu tidak mampu mempertahankannya lama.”

Su Yun langsung menghitung.

Tetua Badai terluka.

Namun masih hidup.

Wanita itu sedang mendekat.

Kalau kekuatan Kristal Surgawi menghilang sekarang...

ia akan mati.

Tidak ada waktu ragu.

Su Yun tiba-tiba mengubah arah.

Bukan menuju jalan keluar.

Melainkan langsung ke arah wanita itu.

Wanita tersebut terkejut.

“Kau masih ingin menyerangku?”

Ia mengangkat pedang.

Namun Su Yun terus mendekat.

Tiga langkah.

Dua.

Kemudian—

ia mendadak berbelok.

Wus!

Tubuhnya melesat melewati sisi wanita itu.

“Apa?”

Saat wanita tersebut menyadari tipuannya, Su Yun sudah berlari jauh.

Ia sama sekali tidak berniat menyerang.

Itu hanya gerakan untuk memaksanya berhenti sesaat.

Tetua Badai berteriak dari belakang.

“Kejar dia!”

Namun wanita itu tidak langsung bergerak.

Ia berbalik menuju Tetua Badai.

Pria tua tersebut jelas membutuhkan bantuan.

Selain itu—

ia tahu keadaan Kristal Surgawi tidak mungkin bertahan lama.

Tidak perlu mempertaruhkan diri mengejar sekarang.

Ia berlutut di samping sang tetua dan mengeluarkan dua pil.

“Telan.”

Tetua itu meminum obat.

Beberapa saat kemudian, warna wajahnya mulai membaik.

“Kenapa kau membiarkannya pergi?”

Wanita itu menatap jalur yang dilewati Su Yun.

“Dia telah menggunakan kekuatan Kristal Surgawi secara paksa.”

“Efeknya pasti segera habis.”

Tetua Badai menyipitkan mata.

“Kalau dia pergi terlalu jauh?”

Wanita itu mengangkat tangan.

Di antara dua jarinya terdapat sehelai rambut hitam.

“Sebelum dia pergi, aku sudah meninggalkan penanda.”

Tatapannya berubah dingin.

“Dia tidak akan hilang.”

Su Yun terus berlari.

Satu kilometer.

Dua kilometer.

Ia tidak tahu berapa jauh sudah meninggalkan lokasi pertempuran.

Yang ia tahu hanyalah tubuhnya semakin berat.

Energi keemasan benar-benar menghilang.

Langkahnya melambat.

Penglihatannya mulai gelap.

“Jangan berhenti...”

Su Yun menggertakkan gigi.

Namun tubuh sudah mencapai batas.

Beberapa langkah kemudian—

Bam!

Ia jatuh.

Kesadarannya padam.

Entah berapa lama berlalu.

Ketika Su Yun membuka mata, cahaya matahari menyelinap di antara dedaunan.

Seluruh tubuhnya terasa seperti baru dihantam ratusan palu.

“Ugh...”

Ia mencoba bangkit.

Hanya gerakan kecil sudah membuat ototnya sakit.

Energi spiritual di tubuh tinggal kurang dari setengah keadaan normal.

Bahkan inti spiritual terasa kosong.

“Jadi ini harganya.”

Su Yun bersandar pada pohon.

Ia mengambil makanan dari Cincin Penyimpanan.

Roti.

Daging kering.

Air.

Semuanya dimakan tanpa banyak berpikir.

Tubuhnya membutuhkan energi sebanyak mungkin.

Ia beristirahat hampir sehari penuh sebelum akhirnya mampu berjalan dengan normal.

Kemudian Su Yun mengeluarkan Kristal Surgawi.

Benda itu tidak lagi seperti sebelumnya.

Cahaya warna-warni sudah hilang.

Warna gelapnya berubah menjadi abu-abu kusam.

Tidak ada aura besar.

Seolah menjadi batu biasa.

“Senior.”

“Belum rusak.”

Master Pedang Tanpa Batas menjawab lemah.

“Energinya hanya terkuras.”

“Berapa lama sampai pulih?”

“Dengan kultivasimu?”

Tetua itu tertawa kecil.

“Jangan berharap cepat.”

Su Yun menghela napas.

Penggunaan Kristal Surgawi telah menguras tubuhnya terlalu dalam.

Untuk kembali sepenuhnya ke kondisi terbaik, mungkin dibutuhkan puluhan hari.

Namun ia tidak menyesal.

Tanpa harta itu, ia sudah mati di tangan wanita Sekte Pedang Abadi.

Lebih penting lagi—

Kristal Surgawi sekarang benar-benar menjadi miliknya.

Su Yun menyimpannya kembali.

“Sudah waktunya pulang.”

Ia menemukan kota kecil terdekat.

Di sana, Su Yun membeli kuda biasa sebelum melanjutkan perjalanan menuju Kota Danau Cermin.

Beberapa hari kemudian, bangunan besar Rumah Lelang Matahari Langit kembali terlihat.

Su Yun langsung menuju meja penyerahan misi.

Seorang petugas bernama Li Fei sedang duduk malas di balik meja.

“Kartu misi.”

Su Yun menyerahkannya.

Li Fei menerima tanpa banyak perhatian.

“Barang target?”

Su Yun mengeluarkan Buah Bulan Sabit dari Cincin Penyimpanan.

Tap.

Buah itu diletakkan di atas meja.

Li Fei menatapnya.

Satu detik.

Dua detik.

Kemudian matanya membesar.

“Ini...”

Ia mengambil buah tersebut dengan kedua tangan.

“Buah Bulan Sabit?”

Su Yun mengangguk.

Li Fei buru-buru melihat kartu misi.

Kemudian kembali menatap buah.

“Benar-benar...”

Selama hampir sepuluh tahun bekerja di Rumah Lelang Matahari Langit, ia hanya pernah melihat benda seperti ini sekali.

Dan misi tersebut sudah lama terpajang karena tidak ada orang yang mampu menyelesaikannya.

Sekarang pemuda di depannya justru membawa buah itu dengan santai.

“Kau benar-benar mengambilnya dari Lembah Bulan Sabit?”

Su Yun mengangkat alis.

“Apakah itu syarat pembayaran?”

Li Fei tersadar.

“Tidak! Tentu tidak.”

Ia segera berdiri.

“Mohon tunggu.”

Beberapa menit kemudian, Li Fei kembali membawa kartu penyimpanan koin roh.

“Hadiah misi.”

Ia menyerahkannya.

“Enam puluh ribu koin roh.”

Su Yun memeriksa jumlahnya.

Benar.

Enam puluh ribu.

Beberapa minggu lalu ia bahkan hidup dari uang Qing Er.

Sekarang jumlah yang berada di tangannya cukup membuat sebagian besar murid luar iri.

Namun Su Yun tidak datang untuk menyimpan uang.

Ia langsung menuju area perdagangan.

“Pil Bunga Ilahi.”

“Pil Langit Merah.”

“Pil Giok Kristal.”

“Pil Hati Suci.”

Petugas mulai menulis.

Su Yun belum selesai.

“Pasta Pemulihan Tubuh.”

“Ramuan Naga.”

“Bubuk Penguat Tubuh.”

“Kitab dasar penguatan otot dan inti spiritual.”

“Satu Kristal Tungku Alam.”

“Dan material alkimia ini.”

Daftar terus bertambah.

Para petugas mulai memanggil bantuan.

Orang-orang yang mengantre di belakang Su Yun memandang dengan heran.

“Dia siapa?”

“Semua itu mahal.”

“Auranya bahkan masih Alam Murid Roh.”

“Dari mana uang sebanyak itu?”

Su Yun mengabaikan bisikan tersebut.

Uang hanya alat.

Yang ia butuhkan adalah kekuatan.

Setengah jam kemudian, transaksi selesai.

Enam puluh ribu koin roh hampir habis.

Sisa yang dimiliki Su Yun tidak sampai tiga ribu.

Namun Cincin Penyimpanannya sekarang penuh dengan obat, pil, material, dan berbagai kebutuhan kultivasi.

Semuanya cukup untuk menunjang latihan berikutnya.

Su Yun keluar dari Rumah Lelang.

Ia menaiki kudanya.

Tatapannya mengarah menuju wilayah Keluarga Su.

Perjalanan ke Lembah Bulan Sabit akhirnya selesai.

Ia memperoleh Seni Pedang Tanpa Batas.

Menyembuhkan tubuhnya.

Menembus tahap ketujuh.

Mendapat Kristal Surgawi.

Dan sekarang memiliki sumber daya untuk berlatih.

Namun Su Yun tahu...

semua itu baru permulaan.

Tangannya menarik tali kekang.

“Hya!”

Kuda melesat.

Di kejauhan, jalan menuju Keluarga Su membentang panjang.

Su Yun menyipitkan mata.

“Kali ini...”

Tangannya menyentuh Cincin Penyimpanan.

“Sudah waktunya berkultivasi dengan sungguh-sungguh.”

......................

Bersambung...

1
Eko🍤
bantaaaaaaaiiiiii bantaaaaaaaiiiiii bantaaaaaaaiiiiii
Eko🍤
🤣🤣malah di peras Nasib sial murid dalam👍🤣🤣
Eko🍤
mantap Thor lanjut 👍👍
Widianto Dalang
alur terlalu lambat. ud bab 100 lebih, masih seputar keluarga saja. blm ada peningkatan sama sekali
Eko🍤
apakah akan terjadi bentrok🤣🤣👍
will
wah stres gk tuh su yun? 😁👍
Nusra Perdana
tahap ke 6, tahap ke 7..?? namanya apa cok😡😡
Nusra Perdana
tahap ke enam apa..?? emang gak ada namanya Thor
Nusra Perdana
nyebutin kekuatan mereka kok hanya tingkat 5, tingkat 6,8 10..apa gak ada nama ranahnya..?
Nusra Perdana
awal yg bagus..coba kita baca terus😄
Eko🍤
bagus lariiii terus🤣🤣👍
Eko🍤
julukan sampah nya melekat terus 🤣🤣
Eko🍤
hehehehe...salah pilih lawan.. bantaaaaaaaiiiiii 🤣🤣👍
Eko🍤
hahahahaha...waktu nya panen 🤣👍🤣
Eko🍤
bagus bantaaaaaaaiiiiii semua
Casver Mentawai
ntah kapan mc nya naik level dah diatas seratus bab nya masih stagnan di pevel enam 🤣🤣🤣 nggak nyambung jga dari bab ke bab lainnya 🤣🤣🤣
Eko🍤
bantaaaaaaaiiiiii bantaaaaaaaiiiiii bantaaaaaaaiiiiii
Muh Nasrun
Tambah ga menarik ceritanya, baru tahap awal sdh spt ujian ahli itngkat tinggi, hyperbola sekali ceritanya.
Muh Nasrun
Blm selesai memulihkan kondisi tubuhnya, blm jelas apa yg di dpt setelah belenggu dari tubuhnya lepas sdh langsung masuk ke il mu pedang, terlalu terburu-buru, mau meningkat tapi terkesan di laksakan.
Eko🍤
apakah akan kalah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!