Alina Elviana dan Rafael Mahendra menikah karena perjodohan. Namun hati Rafael tak pernah benar‑benar di sini, ia masih menyimpan perasaan pada seseorang di masa lalunya.
Revan Adinata, asisten yang bergabung enam bulan lalu, justru lebih memahami Alina, hadir mengisi kekosongan yang ditinggalkan suaminya. Namun di balik sikap tenang dan setianya, Revan menyimpan rahasia besar yang tak boleh terungkap.
Saat perasaan terlarang mulai tumbuh, Alina harus memilih: bertahan dalam pernikahan yang hampa, atau mengikuti suara hati yang terancam hancur saat kebenaran terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14
Alina menatap ibu mertuanya kembali, lalu tersenyum hangat meskipun matanya tampak lelah.
"Ma, Rafael masih sibuk dengan pekerjaan di kantor, jadi kami belum ada rencana untuk memiliki momongan sekarang."
Ia segera mengalihkan pembicaraan agar tidak terus dibahas. "Oya, Mama sama Papa sengaja datang untuk mengantar asisten rumah tangga yang baru ini?"
Nyonya Diah mengangguk sambil menunjuk wanita yang berdiri di samping Revan.
"Benar. Ini Bi Hani, yang akan membantu mengurus keperluan rumah mulai hari ini." Ia beralih nada bicaranya, menjadi lebih ramah. "Selain itu, kami datang sekalian ingin mengundang kalian berdua untuk makan malam di rumah besok malam."
Matanya beralih ke arah Revan yang berdiri di samping Bi Hani, "Revan, kamu juga ikut ya besok. Ada hal yang ingin kami bicarakan denganmu juga."
Revan sedikit terkejut, tapi segera memasang sikap tenang dan memberi hormat singkat.
"Baik, Nyonya. Saya akan datang besok malam."
"Ya sudah, Mama dan Papa pamit pergi dulu," lanjut Nyonya Diah, menatap putra dan menantunya kembali. "Masih ada urusan yang harus kami selesaikan. Jadi kami tidak bisa berlama-lama."
Rafael dan Alina mengantar keduanya sampai ke teras depan, berdiri menunggu hingga mobil besar itu melaju keluar melewati gerbang rumah yang berderit tertutup di belakangnya.
Begitu bayangan mobil itu hilang dari pandangan mata, Rafael menoleh ke arah Alina yang berdiri diam di sampingnya.
"Alina, nanti siang aku akan menjemputmu untuk makan—"
"Tidak perlu," potong Alina cepat, suaranya tegas tanpa menatap wajah suaminya. Ia berbalik ke arah Revan yang baru saja keluar dari pintu rumah.
"Revan, keluarkan mobilku dari garasi. Aku akan pergi untuk menemui temanku."
Sebelum Rafael sempat membuka suara untuk membantah, Alina sudah berbalik dan melangkah cepat masuk ke dalam rumah.
Rafael menatap Revan. "Revan, kamu tidak usah ke kantor dulu. Di rumah saja. Kalau Alina mau keluar, kamu antar. Jangan sampai dia menyetir sendiri pas lagi emosi."
Revan menunduk. "Baik, Tuan."
Rafael mengangguk pelan, lalu berjalan menuju mobilnya yang terparkir di halaman. Ia membuka pintu kemudi, masuk ke dalam, lalu menyalakan mesin. Mobil itu berderu perlahan sebelum akhirnya melaju keluar melewati gerbang, meninggalkan rumah besar itu bersama Revan yang masih berdiri di teras, menatap ke arah pintu gerbang dimana mobil Rafael baru saja keluar.
Sepuluh menit berlalu. Di halaman depan, Revan sudah selesai mengeluarkan mobil sport merah milik Alina dari garasi, mesinnya berderu pelan menunggu sang pemilik. Ia bersandar sedikit pada bodi mobil, matanya tertuju pada pintu utama rumah.
Alina melangkah keluar mengenakan gaun pendek krem‑putih bermotif garis kecil hitam, kerah kemeja rapi, pinggang diikat sabuk hitam bergesper emas. Rok bagian bawah berenda hitam berkilau, ia membawa tas rantai hitam dan memakai sepatu hak tinggi hitam. Rambut panjangnya terurai bergelombang, wajahnya tampak tenang namun ada kesan dingin yang tersisa dari kekecewaan semalam.
Ia berjalan menuju mobil, lalu berhenti jarak satu meter di depan pria itu.
"Aku pergi sendiri saja, kamu tidak perlu mengantar."
Revan menegakkan badan, "Saya antar atau tidak pergi sama sekali."
"Kamu tidak bisa memerintahku, Revan," ucap Alina dengan nada kesal. "Ini mobilku, dan aku mau pergi sendiri."
Revan tersenyum, tatapannya tenang namun tidak mau mengalah.
"Perintah Tuan Rafael adalah saya harus mengantar Nyonya. Saya tidak bisa membiarkan Nyonya menyetir sendirian saat suasana hati Nyonya sedang buruk."
Alina menghela napas panjang, giginya sedikit mengatup. Ia tahu pria itu tidak akan mundur begitu saja. Setelah beberapa detik menatapnya dengan kesal, ia berjalan memutar ke pintu penumpang, lalu berhenti sejenak sebelum menarik gagang pintu itu terbuka.
"Baiklah. Tapi jangan banyak bicara selama di perjalanan," tegasnya sebelum duduk masuk ke dalam mobil.
Revan sedikit mengangkat sudut bibirnya, lalu berjalan ke sisi kemudi untuk masuk. Mesin mobil sport merah itu menderu keras saat ia menekan gas perlahan, melaju keluar melewati gerbang rumah.
-
-
-
Udara di dalam kafe terasa sejuk dengan aroma kopi dan kue yang lembut. Alina duduk bersandar di kursi meja dekat jendela bersama Citra, sahabatnya. Beberapa meja di ujung ruangan, Revan duduk sendirian, pandangannya tidak lepas mengawasi arah meja mereka dengan sikap waspada.
Citra menyipitkan mata melihat ke arah pria itu, lalu menoleh ke Alina sambil mencondongkan badan sedikit.
"Apa sekarang kamu punya bodyguard?" tanyanya berbisik pelan.
Alina menghela napas panjang, jari-jemarinya memainkan sedotan di dalam gelas es cokelatnya, memutarnya pelan tanpa ada niat untuk meminumnya.
"Bukan bodyguard. Rafael yang menyuruhnya selalu mengawasiku," jawabnya dengan nada lelah. "Menurutku ini berlebihan."
Citra terkekeh pelan, lalu tatapannya berubah menjadi penuh rasa ingin tahu.
"Oya, ngomong-ngomong soal suamimu. Bagaimana acara makan malam kalian semalam? Semuanya berjalan lancar kan?"
Alina berhenti memainkan sedotannya, pandangannya terjatuh ke permukaan gelas yang berkilau terkena cahaya matahari yang menembus jendela kafe, jarinya mengeras di pinggiran gelas yang dingin.
"Dia tidak datang." ucapnya, suaranya hampir berbisik.
Citra terkejut, matanya membelalak sedikit dan mencondongkan badan ke depan.
"Tidak datang? Maksudmu… dia benar-benar melewatkan malam ulang tahun pernikahan kalian yang kedua?"
Alina menghela napas panjang, tatapannya kosong, sesekali melirik ke arah Revan yang masih duduk di meja ujung sana.
"Dia baru pulang larut malam. Hanya membawa hadiah dan minta maaf seolah itu bisa memperbaiki semuanya," ucapnya dengan nada getir.
Citra terdiam sejenak, lalu menatap wajah Alina dengan rasa kasihan. "Terus… kamu sudah bicara dengan dia tentang hal ini?"
Alina mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca sedikit.
"Aku sudah bicara. Tapi dia cuma bilang dia lelah, menyuruhku jangan berdebat." Ia mengambil sendok kecil di piring alas gelas dan menghentakkannya pelan ke dasar gelas. "Seolah semua kesalahan itu hanya pertengkaran biasa yang bisa dilupakan begitu saja."
Citra ikut kesal mendengarnya, ia menyentuh lengan Alina dengan lembut.
"Rafael sangat keterlaluan. Padahal kamu sudah menyiapkan ini dari bulan lalu. Apa dia tidak bisa menghargaimu sedikit saja!"
Alina terdiam, rasa sakit yang tertahan kembali menyeruak di dadanya. Ia menunduk sejenak, jemarinya kembali meremas pinggiran gelas. Belum sempat ia mengucapkan apa-apa, tiba-tiba suara memanggil namanya terdengar jelas dari samping.
"Alina?"
Alina dan Citra serentak menoleh ke arah sumber suara. Di sana berdiri dua wanita berpakaian modis, rambut mereka disisir rapi dengan aksesori berkilau di telinga. Salah satunya tersenyum ramah, sementara yang lain melirik sekilas ke arah meja ujung tempat Revan duduk, sebelum pandangannya kembali tertuju pada Alina.
"Tidak menyangka bisa bertemu kamu di sini," ucap wanita yang memanggil tadi, lalu ia menoleh ke arah wanita di sampingnya. "Amara, ini Alina. Istrinya Rafael."
Amara tersenyum, "Ya, kami sudah sempat bertemu beberapa waktu lalu. Hanya belum sempat berkenalan dengan benar, bukan begitu Alina?"
Alina menegakkan punggungnya, tatapannya tertuju lurus ke arah Amara. Wajahnya tidak berubah, tapi jari-jarinya yang memegang pinggiran gelas mengeras perlahan.
Citra di sampingnya juga terkejut, matanya beralih cepat ke wajah Amara lalu ke wajah Alina. Revan yang duduk di meja ujung perlahan berdiri dengan rahang sedikit mengeras, matanya tak lepas dari keempat wanita yang ada di depan sana.
Wanita di samping Amara tersenyum tipis, melanjutkan ucapannya, "Amara ini teman kuliahku dan Rafael. Lebih tepatnya, dia ini mantan pacar Rafael."
Deg...
-
-
-
Bersambung...
Maybe gt🤭
Konfliknya berlapis, bukan cuma soal Alina - Rafael - Revan. Tapi ada 2 bom waktu di sini:
Cinta terlarang Alina & Revan dan rahasia besar Revan.
Rafael sebagai suami yang dingin karena masa lalu, Revan sebagai penyelamat yang tenang dan setia. Kontrasnya dapet. Alina berada di posisi dilema dengan pilihan berat "bertahan dalam pernikahan hampa atau mengikuti suara hati". Itu bukan pilihan mudah. Apalagi ada embel-embel "Di Bawah Kendali Asisten Suami" - yang mengisyaratkan dominasi, posesif. Ini bukan cerita nikah biasa, ini cerita tentang kekosongan yang akhirnya diisi oleh orang yang seharusnya tidak boleh.
cerita kakak luar biasa. semangat berkarya🥰