NovelToon NovelToon
Sistem Apapun Yang Kuminta, Akan Menjadi Milikku

Sistem Apapun Yang Kuminta, Akan Menjadi Milikku

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Balas Dendam / Anak Genius
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Notdrick

Sepuluh persen. Itu bagian Elang Nugroho dari warisan keluarganya. Sembilan puluh persen sisanya jatuh ke tangan sang kakak, sementara tunangannya berdiri di sisi orang yang mengkhianatinya.

Elang tidak memohon. Ia pergi, dan memutus ikatan dengan keluarga yang tidak pernah menganggapnya setara.

Namun sarung tangan hitam yang ia kenakan sejak SMA ternyata menyimpan rahasia. Satu sentuhan, satu permintaan, dan apa pun yang ia inginkan bisa menjadi miliknya: kemampuan, benda, bahkan orang. Di balik sistem itu, ada ruang yang menyimpan hal-hal yang tidak pernah ada di dunia manusia.

Dunia mengira ia kehilangan segalanya.

Mereka belum tahu, ia baru saja mulai memintanya kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

"Apa yang kalian lakukan?" Elang menatap pria yang terinjak di bawah sepatunya. "Apa kalian terlalu bodoh sampai tidak bisa mencari uang dengan cara lain?"

Pria itu megap-megap. Topengnya miring, dan mata di baliknya melebar penuh ngeri. Ia mencoba mengangkat senapannya, tetapi jari-jarinya hanya mengepal udara.

Lobi bank itu hening. Para nasabah menunduk di balik meja, dan seorang petugas keamanan meringkuk di bawah konter dengan kedua tangan menutup telinga. Pecahan kaca masih berdenting jatuh dari bingkai pintu.

"Jangan bergerak!" Suara itu serak dari sisi kanan.

Seorang perampok lain, yang paling tinggi di antara mereka, mengarahkan pistol ke kepala Elang. Tangannya bergetar. Bukan gemetar takut, tetapi tangan orang yang belum pernah melihat sesuatu seperti ini dan tidak tahu harus berbuat apa.

Elang menoleh pelan. "Letakkan itu."

"Aku akan tembak!" Teriak perampok itu.

Elang melangkah maju. Satu langkah. Dua.

"Aku bilang aku akan..." Perampok itu mundur beberapa langkah.

DOR!

Ledakan itu memantul di dinding marmer. Para sandera menjerit, dan seorang ibu menutup mulut anaknya dengan telapak tangan.

Elang tidak bergerak.

Di depan wajahnya, tepat di antara kedua matanya dan ujung laras, jari telunjuk dan jari tengahnya menjepit sebutir peluru yang masih berasap. Pangkal logam itu berdesis halus di kulit sarung tangannya.

Perampok itu menatapnya, mulut sedikit terbuka. Tidak ada suara yang keluar.

"Hanya itu?" tanya Elang.

Ia membuka jari-jarinya. Peluru itu jatuh dan menggelinding di lantai dengan bunyi kecil yang terlalu nyaring.

Dalam setengah detik berikutnya, ia sudah berada di depan pria itu. Telapak tangannya menghantam sisi kepala yang terbuka, dan tubuh itu terangkat dari lantai, terlempar ke belakang, menghantam dinding sampai retakannya menjalar. Ia merosot tanpa suara dan tidak bangun.

"Tembak! Tembak dia!"

Tiga perampok yang tersisa menarik pelatuk bersamaan.

Elang mengangkat lengan kanannya di depan dada.

Cahaya perak menyala di bawah lengan kemejanya. Lapisan tipis itu merambat dari siku sampai pergelangan, membentuk perisai kecil yang mengkilap di punggung tangannya. Ia memiringkan lengan, sedikit saja, sedikit ke kiri, sedikit ke atas.

Peluru-peluru itu menghantam logam dengan bunyi seperti hujan batu di atap seng. Tiap peluru memercik, berubah arah, dan menancap ke langit-langit, ke dinding kosong, ke lantai di tempat tidak ada orang berdiri.

Tidak ada satu pun yang mengenai sandera.

Asap tipis membubung di antara mereka. Senapan di tangan ketiganya kosong, dan klik-klik hampa terdengar dua kali, tiga kali.

Elang menurunkan lengan. Lapisan perak itu menyusut kembali ke bawah lengan baju, tanpa meninggalkan goresan.

"Sudah?" tanyanya. Ia melihat ke arah mereka bergantian. "Atau kalian masih punya sesuatu yang lain?"

Satu dari mereka menjatuhkan senapan dan berbalik lari ke arah pintu belakang.

Elang bergerak lebih cepat. Tangannya meraih kerah baju orang itu dari belakang, menarik, memutar tubuh dengan satu gerakan pinggul, dan melempar pria itu ke arah dua temannya. Tubuh itu menghantam mereka seperti bola bowling, dan ketiganya terjatuh di lantai marmer, berguling, dan tidak bisa bangun.

Hening kembali.

Seorang nasabah mengangkat kepala dari balik meja. Rambutnya acak-acakan, dan kacamatanya retak. Ia menatap lobi yang kacau itu dengan mulut terbuka.

Elang berdiri di tengah pecahan kaca dan debu plester. Ia menepuk bahunya sekali, kemudian menarik manset kemejanya yang sedikit tergeser.

Tidak ada luka di tubuhnya. Napasnya bahkan tidak berubah.

'Terlalu mudah.'

Ia memutar pergelangan kanannya sekali dan menunduk memeriksa sarung tangannya. Tidak ada goresan, tidak ada jelaga. Hanya bau mesiu yang pahit, menempel di ujung lidahnya.

Di sudut ruangan, seorang manajer berdasi menyembul dari balik meja, mulutnya bergerak tanpa suara. Elang melirik sekilas dan melewatinya begitu saja. Ia tidak membutuhkan terima kasih dari orang yang baru berani berdiri setelah semuanya selesai.

Ia menatap tas hitam besar yang tergeletak di dekat kaki salah satu perampok, setengah terbuka, berisi tumpukan uang kertas yang diikat karet. Alisnya naik sedikit, tanpa minat, seperti orang melihat barang yang bukan miliknya.

Di sisi lain lobi, seorang anak laki-laki sekitar tujuh tahun mengintip dari balik pelukan ibunya. Matanya bulat. Ia tidak menangis. Ia hanya menatap Elang, dan bibir kecilnya bergerak membentuk satu kata tanpa suara.

Keren.

Elang menangkap gerakan itu dan menahan senyum. Ia tidak membalasnya, tetapi ia tidak juga memalingkan muka.

Anak itu menunjuk sarung tangan hitamnya, lalu mengangkat satu jempol kecil. Elang menaikkan satu alis. Ia membiarkan anak itu menang untuk hari ini.

Dari luar, terdengar sirene.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!