Demi memenuhi permintaan terakhir Dewi—sahabatnya yang berjuang melawan kanker—Gladys rela menikahi Raka, suami Dewi. Namun, pernikahan tanpa cinta itu membawanya pada kesepian mendalam, sebab hati Raka tetap tertambat sepenuhnya pada almarhumah istrinya.
Mencari pelarian dari rumah tangga yang hampa, Gladys membuka sebuah kafe. Di sana, ia bertemu dengan Praduta, seorang pria berparas tampan yang mengagumi kopi buatannya. Di balik kesan pertama yang sekilas penuh godaan, Gladys melihat ketulusan dalam diri Praduta. Kedekatan yang hangat itu perlahan berubah menjadi benih-benih cinta—sebuah perasaan yang tak seharusnya hadir di tengah ikatan pernikahannya.
Namun, Gladys tidak menyadari bahwa Praduta menyimpan rahasia kelam: kehadiran pria itu bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari dendam masa lalu terhadap keluarga Raka. Kini, Gladys terjebak di persimpangan jalan yang menyiksa—harus memilih antara kesetiaan pada janji pernikahan atau cinta terlarang yang memberi kebahagiaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Sementara itu, di DeGla Cafe yang mulai sepi menjelang malam, lonceng pintu berbunyi nyaring.
Praduta melangkah masuk dengan raut wajah yang menggelap dan tatapan mata yang liar, dipenuhi gelisah dan amarah yang belum tuntas dari sasana tinju tadi.
Pria itu langsung berjalan cepat menuju meja bar, mengabaikan tatapan heran beberapa pelanggan yang tersisa.
"Di mana Gladys?" tanya Praduta langsung tanpa basa-basi, suaranya terdengar menekan dan dingin.
Kirana yang sedang mengelap mesin kopi terkejut, menghentikan pekerjaannya dan menatap Praduta dengan ragu.
"Ibu Gladys sudah pulang dari tadi, Mas, bersama Pak Raka," jawab Kirana polos.
Mendengar nama Raka kembali tersebut, rahang Praduta seketika mengeras kaku.
Seringai dingin bertaut dengan urat-urat lehernya yang menegang tajam, menyadari bahwa wanita yang baru saja gemetar di dalam pelukannya kini telah kembali hangat di sisi suaminya.
Krinciing...
Suara bel kecil di atas pintu kafe berbunyi nyaring, memecah ketegangan yang membeku di sekitar meja bar.
Praduta tidak menoleh saat melangkah mendekati konter, namun langkahnya terhenti tatkala bayangan seorang wanita anggun berdiri tepat di sampingnya.
Nayla masuk dengan raut wajah lelah yang dipaksakan tenang.
Wanita itu menarik napas panjang, lalu menyapa Kirana pelan untuk memesan segelas kopi americano dingin sebelum memutar tubuhnya menghadap Praduta.
"Pra, kita perlu bicara," ucap Nayla dengan nada suara yang tenang, namun sarat akan penekanan di setiap kata.
Praduta menghembuskan napas kasar. Ia mengalihkan pandangannya dari Kirana dan menatap Nayla dengan raut jemu dan dingin.
"Apalagi, Nay?" desis Praduta tajam, suaranya sarat akan penolakan mutlak.
"Aku sudah bilang berkali-kali, aku tidak bisa mencintaimu. Jangan membuang waktumu lagi."
Nayla tidak tersentak. Ia menatap lurus ke dalam manik mata Praduta—mata yang kini dipenuhi aura kegelapan dan dendam yang membutakan.
Dengan keberanian yang tersisa, Nayla memotong jurang jarak di antara mereka, berbisik rendah agar tidak menjadi konsumsi pengunjung kafe lainnya.
"Pra, kamu tidak cinta dengan Gladys," tegas Nayla, tatapannya menghujam persis ke ulu hati Praduta.
"Kamu hanya terobsesi dengan dendammu pada Raka. Kamu cuma memanfaatkan wanita itu untuk memuaskan rasa bencimu!"
Praduta menegang kaku. Rahangnya mengeras hebat, dan kilatan amarah di matanya kian membara mendengar tuduhan telak dari wanita yang pernah mengisi hari-harinya itu.
Praduta mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.
Kata-kata Nayla baru saja menampar egonya yang melambung tinggi.
Tanpa memedulikan pesanan kopi Nayla yang belum rampung, Praduta mencengkeram lengan wanita itu dan menariknya keluar dari kafe dengan kasar.
"Lepas, Pra! Sakit!" ringis Nayla sembari terseret langkah lebar Praduta.
Begitu pintu kaca kafe tertutup dan mereka berdiri di sudut parkiran yang remang dan sepi, Praduta menghempaskan genggamannya.
Pria itu menatap Nayla dengan tatapan liar, dipenuhi kebanggaan semu yang membutakan akal sehatnya.
"Dia mencintaiku, Nay! Dia tidak mencintai Raka!" bentak Praduta, suaranya bergetar parau dipenuhi obsesi.
Seringai penuh kemenangan terukir kaku di bibirnya yang masih membekas luka robek.
"Gladys bersamaku tadi! Dia gemetar di pelukanku! Pria brengsek itu cuma mendapatkan tubuhnya karena ikatan pernikahan konyol, tapi hatinya milikku! Aku menang, Nay! Aku berhasil merebut apa yang paling berharga dari hidup Raka!"
Mendengar tawa dingin dan kalimat penuh kemenangan yang sarat kemelaratan jiwa itu, dada Nayla terasa seperti dihantam batu besar.
Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya pecah, meleleh membasahi pipinya.
"Pra, sudah, hentikan!" jerit Nayla sesenggukan. Suaranya pecah, sarat akan kesedihan yang teramat sangat melihat pria yang teramat ia cintai dan pernah menjadi sahabat terbaiknya kini berubah menjadi monster yang dikuasai dendam.
"Hentikan kegilaan ini, Pra." bisik Nayla lirih di antara tangisnya, matanya menatap Praduta dengan pandangan memelas.
"Kamu tidak sedang menang. Kamu cuma sedang menghancurkan dirimu sendiri, menghancurkan Gladys, dan membiarkan dendam itu membunuh sisa-sisa kebaikan di dalam hatimu. Tolong, aku mohon, hentikan sebelum semuanya terlambat."
Praduta terdiam sejenak. Namun alih-alih tersentuh oleh tangisan wanita di hadapannya, tatapan matanya justru semakin membius dingin dan tak tersentuh.
Praduta terkekeh sinis, sebuah tawa kering tanpa emosi yang terdengar mengerikan di kegelapan malam.
Ia melangkah mendekati Nayla, menundukkan kepalanya hingga berjarak beberapa sentimeter dari wajah wanita yang masih menangis sesenggukan itu.
"Terlambat?" bisik Praduta dingin, suaranya seperti belati yang menghujam tajam.
"Segalanya baru saja dimulai, Nayla. Jangan halangi aku, dan jangan pernah ikut campur lagi dalam urusanku dengan Raka. Kalau kamu tidak bisa mendukungku, pergilah dari hidupku."
Tanpa memedulikan tangisan Nayla yang semakin menjadi-jadi, Praduta berbalik.
Ia berjalan menuju mobilnya, memutar mesin dengan raungan keras, lalu melesat membelah kegelapan malam meninggalkan Nayla yang tersungkur kaku di sudut area parkir.
Sementara itu, sedan mewah milik Raka bergerak perlahan memasuki gerbang tinggi kediaman megah keluarga Devandra.
Suasana malam terasa begitu tenang dan hangat. Sisa-sisa gelak tawa dan candaan di dalam mobil tadi masih menyisakan kehangatan tipis di antara mereka berdua.
Raka mematikan mesin mobil, lalu berbalik menatap Gladys yang duduk di sampingnya.
Raut wajah suaminya itu tampak jauh lebih rileks dibanding biasanya.
"Sudah sampai. Mari masuk, Gladys," ucap Raka lembut.
Ia turun lebih dulu dan dengan sigap membukakan pintu untuk istrinya, merangkul pinggang Gladys secara protektif saat mereka melangkah menuju pintu utama.
Namun, begitu pintu kayu jati yang kokoh itu terbuka, langkah mereka terhenti.
Di ruang tamu yang luas dan terang, Papa Devandra sudah duduk anggun di sofa kulitnya, menyesap teh hangat sembari menatap ke arah pintu kedatangan anak dan menunya.
Senyum hangat terukir di wajah pria paruh baya yang berwibawa itu.
"Kalian baru pulang?" sapa Papa Devandra dengan suara beratnya yang ramah.
"Bagaimana hari kalian berdua?"
Raka tersenyum tipis, mengeratkan rangkulannya di pinggang Gladys seolah ingin menunjukkan pada sang ayah bahwa hubungan pernikahan mereka telah membaik.
"Kami habis makan sate di jalan tadi, Pa. Gladys juga agak lelah karena mengurus kafe," jawab Raka penuh perhatian.
Mendengar penuturan Raka dan melihat keintiman yang ditunjukkan pasangan muda itu,
Papa Devandra mengangguk-angguk puas. Namun, jauh di dalam dada Gladys, jantungnya berdegup kencang tak beraturan.
Sentuhan hangat Raka di pinggangnya dan tatapan penuh harapan dari mertuanya terasa seperti gumpalan benang kusut yang semakin membelit jiwanya.
Di satu sisi, kehangatan keluarga Devandra kini begitu nyata memeluknya. Namun di sisi lain, bayangan ancaman Praduta dan rahasia kelam sore tadi terus membayangi, bersiap meruntuhkan kebahagiaan rapuh ini kapan saja.
Di sisi lain Mobil sport hitam Praduta berhenti dengan decitan halus di tepi jalan aspal yang basah.
Mesinnya dimatikan, meninggalkan kabin dalam keheningan total yang hanya diisi oleh suara titik-titik gerimis menimpa atap mobil.
Di luar, kompleks pemakaman umum tampak begitu sunyi dan suram di tengah malam yang larut.
Cahaya lampu jalanan kuning temaram berpendar lemah menembus kabut tipis, sementara aroma khas tanah basah dan dedaunan busuk menguar pekat bersama tiupan angin malam yang dingin.
Praduta mendorong pintu mobilnya terbuka. Ia melangkah keluar tanpa mengenakan payung, membiarkan rintik gerimis malam langsung membasahi rambut hitam dan kemejanya yang berantakan.
Langkah kakinya yang berat menembus kegelapan malam, menyusuri jalan setapak di antara barisan nisan yang berjejer rapi hingga ia berhenti di hadapan sebuah pusara dengan batu nisan tua yang basah kuyup.
Praduta berdiri terpaku di sana. Napasnya memburu, mengeluarkan uap tipis di udara malam yang dingin.
Matanya memerah oleh kobaran kebencian yang sudah mendarah daging dan amarah yang mendidih di dada.
Ia menatap batu nisan tersebut dengan tatapan penuh kepedihan yang teramat dalam, sebuah luka masa lalu yang sengaja ia biarkan bernanah selamanya.
Ibu. batin Praduta berteriak getir.
Bayangan masa kecilnya yang kelam berkelebat di kepala.
Ia mengutuk dalam hati sosok wanita yang telah melahirkannya, ibu yang semasa hidup tega membuangnya demi menyelamatkan hidupnya sendiri di dunia yang kotor, meninggalkan dirinya seorang diri menanggung dinginnya penolakan.
Pandangan Praduta beralih menembus kegelapan, membayangkan wajah terhormat Papa Devandra dan seluruh kemegahan keluarga besar Devandra—keluarga yang dengan kejam menolak mengakuinya sebagai darah daging secara sah, membiarkannya hidup di bayang-bayang penderitaan sementara Raka menikmati segala fasilitas dan kasih sayang yang seharusnya ia miliki.
Kepalan tangan Praduta di sisi tubuhnya bergetar hebat.
Urat-urat di leher dan pelipisnya menegang kaku menahan gejolak emosi yang hampir meledak.
Di hadapan pusara yang sunyi itu, di bawah guyuran gerimis malam yang menusuk tulang, Praduta mengangkat wajahnya.
Seringai dingin dan kejam terukir di bibirnya, menyatu dengan sumpah mati yang ia bisikkan dengan suara parau namun sarat akan tekad mutlak.
"Dengar, Bu." bisik Praduta tertahan, suaranya bagai kutukan yang mengiris keheningan malam.
"Aku akan hancurkan Raka, keluarga Devandra, dan semuanya. Kehancuran mereka adalah harga mutlak atas setiap air mata dan rasa sakit yang aku terima seumur hidupku. Ini sumpahku." ucap Praduta.