Diusir ke jalanan di tengah badai hujan bersama sepasang anak kembarnya yang menangis kelaparan, hidup Jiang Muchen hancur berkeping-keping saat istrinya memilih pergi demi gemerlap harta seorang tuan muda kaya.
Namun, tepat ketika keputusasaan nyaris menelan kewarasannya, "Sistem Ayah Super Tajir" tiba-tiba aktif, mengubah takdirnya dalam semalam dengan menjanjikan kekayaan tak terhingga hanya lewat satu syarat mutlak: membahagiakan anak-anaknya.
Kini, dengan kekuatan finansial yang perlahan mampu menggenggam ekonomi seluruh Kota Jiangcheng, Jiang Muchen bersumpah untuk membangun surga dunia bagi putra-putrinya, Zihan dan Ziyue, sembari memastikan siapa pun yang pernah menginjak-injak harga diri keluarganya... terutama sang mantan istri akan berlutut dalam penyesalan yang terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Jdarrr!
Kilatan petir menyambar, menerangi langit malam Kota Jiangcheng yang tengah diamuk badai. Hujan turun seakan ditumpahkan dari langit, dingin dan tanpa ampun, menusuk hingga ke tulang.
Di tepi trotoar yang tergenang air keruh, Jiang Muchen berdiri mematung. Pria berusia dua puluh delapan tahun itu menggenggam erat gagang payung plastik murahan yang sudah retak. Tangan pucatnya sedikit bergetar. Ia membungkuk, berusaha keras menjadikan payung kecil itu serta tubuhnya sendiri sebagai perisai untuk dua sosok mungil yang memeluk kakinya erat-erat.
Tepat lima langkah di hadapannya, berdiri seorang wanita cantik. Gaun merah marun berbahan beludru yang membalut tubuhnya tampak sangat kontras dengan pemandangan kumuh di sekeliling mereka.
Riasan wajahnya sempurna, tanpa setetes pun noda air hujan. Lin Yueran, wanita yang selama lima tahun ini dipanggilnya istri. Namun malam ini, mata indah itu menatap Muchen seolah sedang melihat tumpukan sampah yang menjijikkan.
"Tanda tangani saja, Jiang Muchen. Jangan membuang waktuku."
Suara Lin Yueran terdengar begitu datar, menembus bisingnya rintik hujan yang menghantam aspal.
Srak.
Sebuah map basah dilemparkan begitu saja ke arah Muchen, mendarat di genangan air dekat kakinya. Itu adalah dokumen perceraian mereka.
Napas Muchen tercekat. Ia menatap nanar wajah istrinya dengan dada sesak. "Yueran... kumohon." Suara pria itu serak, nyaris tenggelam oleh deru angin. "Pikirkan lagi. Bukan untukku... tapi untuk Zihan dan Ziyue. Mereka masih kecil, Yueran. Mereka butuh ibunya."
'Aku tidak peduli jika harga diriku harus diinjak sampai hancur. Aku bisa menanggung apa pun. Tapi tolong, jangan tinggalkan anak-anak dalam kondisi seperti ini...'
Rentetan penipuan dari rekan bisnis baru saja menghancurkan usahanya, meninggalkan tumpukan hutang yang mencekik leher.
Muchen tahu hidup mereka sedang berada di dasar jurang, tapi ia sungguh tidak pernah menyangka istrinya akan memilih pergi tepat di malam ketika anak-anak mereka kelaparan dan kedinginan.
"Mama..."
Suara parau itu mengiris hati Muchen. Jiang Ziyue, putri kecilnya yang baru berusia empat tahun, mendongak. Bibir mungil gadis itu membiru. Tangan kecilnya terulur dari balik jas basah ayahnya, mencoba menggapai bayangan sang ibu. "Mama mau ke mana? Jangan tinggalkan Ziyue, Ma..."
Di sebelah Ziyue, saudara kembarnya, Jiang Zihan, berdiri tegak meski tubuhnya ikut menggigil. Berbeda dengan adiknya, bocah laki-laki itu tidak menangis. Sepasang mata bulatnya menatap Lin Yueran dengan sorot tajam yang tidak seharusnya dimiliki oleh anak seusianya. Tangannya menggenggam erat bahu adiknya, menarik Ziyue lebih dekat seolah mencoba menggantikan kehangatan yang perlahan hilang.
Guratan di wajah Lin Yueran sedikit menegang melihat putrinya menangis. Namun, belum sempat keraguan itu menetap, sorot lampu kuning menembus tirai hujan.
Ciiit...
Sebuah mobil sport mewah berwarna perak mengilap berhenti membelah genangan air, tepat di sebelah Lin Yueran.
Kaca jendela perlahan turun. Dari dalam, menguar aroma parfum mahal dan udara hangat pendingin ruangan.
Seorang pria tampan berkemeja sutra mahal tersenyum miring dari balik kemudi. Zhao Qiming. Pewaris tunggal Keluarga Zhao, salah satu konglomerat terbesar yang menguasai Jiangcheng.
"Sudah selesai urusannya, Sayang?" Suara Qiming terdengar santai namun merendahkan. Matanya melirik jijik ke arah Muchen. "Udara di luar sini sangat kotor, jangan sampai gaun mahalmu rusak."
Senyum manis yang selama ini Muchen puja seketika terbit di bibir Lin Yueran. "Sudah, Qiming. Aku masuk sekarang."
Wanita itu kembali menoleh pada Muchen. Raut wajahnya kembali membeku. "Lihat dirimu sekarang, Muchen. Kau bahkan tidak bisa membelikan sekotak susu yang layak untuk anak-anakmu.
Aku masih muda. Aku tidak sudi menghabiskan sisa hidupku menderita dalam kemiskinan bersamamu. Surat cerai itu sudah kutandatangani. Urus sisanya besok, atau pengacaraku yang akan mencarimu."
Darah Muchen mendidih, tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. "Kau meninggalkan kami demi uang, Yueran?! Kau membuang darah dagingmu sendiri?!"
"Ini bukan cuma soal uang, Muchen. Ini soal realita," dengus Yueran pelan. "Zihan dan Ziyue hanya akan semakin menderita kalau aku ikut miskin bersamamu. Selamat tinggal."
Wanita itu membalikkan tubuhnya tanpa sedikit pun menoleh, apalagi memeluk anak-anaknya. Ia masuk ke dalam kehangatan mobil mewah itu. Kaca mobil ditutup rapat, menyembunyikan senyum puas di bibir Zhao Qiming.
Brummm!
Wushhh...
Mesin mobil sport itu mengaum sebelum melesat pergi, melibas genangan air dan mencipratkan lumpur kotor tepat ke celana usang Muchen.
Pria itu berdiri kaku. Payung murahan di tangannya perlahan miring. Air hujan mengguyur kepalanya tanpa ampun, menyamarkan air mata yang akhirnya jebol dari pelupuk matanya.
'Kenapa... kenapa kau sekejam ini...' batinnya merintih pilu. Hatinya benar-benar hancur tak bersisa.
"Ayah..."
Tarikan kecil pada ujung kemejanya menyadarkan Muchen kembali ke dunia nyata.
"Ziyue dingin... perut Ziyue lapar, Ayah..." erang Ziyue lemah, menyandarkan dahi kecilnya yang mulai memanas di paha ayahnya.
Muchen seketika tersentak. Ia melempar payungnya yang sudah tak berguna ke tanah, lalu berjongkok. Kedua lengan kekarnya merengkuh tubuh si kembar erat-erat, menggunakan punggungnya yang lebar sebagai tameng dari pukulan badai.
"Maafkan Ayah, Sayang... Maafkan Ayah," bisik Muchen bergetar. Ia mengecup puncak kepala kedua anaknya bergantian. Air mata hangatnya menetes di dahi pucat Ziyue. "Kita pulang sekarang, ya? Ayah akan buatkan sup yang hangat untuk kalian."
Tiba-tiba, sebuah tangan kecil yang dingin mengusap pipi Muchen.
Zihan menatap ayahnya dalam-dalam. Bibir anak itu pucat pasi, namun matanya menyiratkan ketegaran luar biasa. "Ayah jangan menangis. Zihan akan lindungi Ayah dan Ziyue. Kita tidak butuh wanita jahat itu lagi."
Mendengar ucapan putranya yang begitu dewasa, dada Muchen terasa semakin sesak. Ia mengusap wajahnya yang basah, lalu mengangguk pelan. Muchen menggendong Ziyue dengan lengan kirinya, dan menggenggam erat tangan kecil Zihan di sebelah kanan. Tiga sosok itu berjalan tertatih menembus tirai badai, menuju apartemen kontrakan sempit di ujung jalan kumuh yang menjadi satu-satunya tempat bernaung mereka.
Namun, seolah dunia belum cukup menyiksanya malam ini, kejutan buruk lainnya telah menunggu.
Sesampainya di koridor kontrakan yang remang-remang, langkah Muchen terhenti. Darahnya seakan berhenti mengalir.
Dua buah koper usang dan beberapa kantong plastik berisi pakaian kusam dilempar begitu saja hingga berserakan di depan pintu kamar mereka. Di ambang pintu, seorang wanita paruh baya dengan rambut mengembang berdiri berkacak pinggang menatapnya dengan raut masam.
"Bibi Wang?" Suara Muchen bergetar. "Apa-apaan ini? Kenapa barang-barang kami dikeluarkan?"
Wanita itu mendecih kasar. "Masih berani bertanya? Kau sudah menunggak sewa tiga bulan, Jiang Muchen! Kau pikir aku menyewakan kamar ini untuk panti asuhan? Tadi sore istrimu yang cantik itu datang mengemasi barang-barang bagusnya, dan menyuruhku membuang sisa sampah ini. Kamarmu sudah disewa orang lain."
Napas Muchen memburu. Ia menatap Ziyue yang mulai menggigil hebat di dekapannya.
"Bibi, kumohon..." Muchen menurunkan harga dirinya hingga ke dasar bumi. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam di hadapan wanita itu.
"Di luar badai sangat lebat. Anak-anakku bisa sakit. Tolong, biarkan kami menginap untuk malam ini saja. Besok pagi-pagi sekali kami akan pergi dan aku janji akan melunasi hutangku nanti."
"Janji dari seorang pengangguran bangkrut?" Bibi Wang meludah ke lantai lorong. "Tidak ada harganya! Pergi dari sini sekarang, atau aku akan panggil satpam untuk mengusir kalian!"
Brak!
Pintu besi berkarat itu ditutup dengan sangat kasar. Suara kunci diputar dari dalam terdengar seperti vonis yang mematikan.
Jiang Muchen berdiri terpaku menatap pintu yang tertutup rapat. Angin malam berhembus melewati lorong, terasa ngilu menembus kulit.
Tidak ada tempat berteduh. Tidak ada sepeser uang pun di sakunya. Bahkan kartu kredit terakhirnya telah diblokir bank sejak minggu lalu.