Di mata dunia, Stellan Alistair Caelmont adalah CEO dingin yang tak tersentuh. Namun di balik kekuasaannya, Stellan terancam kehilangan Luna, putri kecilnya yang menjadi satu-satunya alasan ia bertahan hidup. sebuah ancaman dari masa lalu datang untuk merebut Luna dari pelukannya.
Kekuatan dan uang Stellan tak lagi cukup. Ia butuh sebuah keluarga utuh di mata hukum.
Hingga hadir Elara Vivienne Moreau, wanita hangat yang secara ajaib menjadi satu-satunya orang yang mampu meluluhkan benteng trauma Luna. Melihat itu, Stellan menawarkan sebuah kesepakatan gila: Pernikahan Kontrak.
Satu tahun. Hanya di atas kertas.
Elara menerima demi melindungi Luna, berjanji tak akan melibatkan perasaan pada pria sedingin Stellan. Namun, hidup di bawah satu atap perlahan membongkar rahasia kelam yang Stellan sembunyikan rapat-rahasia.
Saat ikatan palsu itu mulai terasa nyata, mampukah mereka bertahan ketika masa lalu menuntut pembalasan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranaraworld, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu yang Tak Diundang
Bab 8: Tamu yang Tak Diundang
Ketenangan pagi di Mansion Caelmont yang baru saja pulih setelah badai inspeksi pengadilan kemarin mendadak hancur berantakan tepat pukul sepuluh pagi.
Suara lengkingan klakson mobil mewah yang tak sabaran menggema dari arah gerbang depan, disusul bunyi derap langkah sepatu hak tinggi yang melangkah mantap melintasi lorong utama.
Elara yang sedang merapikan beberapa buku cerita anak di ruang tengah bersama Luna seketika menoleh.
Sebelum ia sempat bertanya pada Bi Asih, sebuah suara wanita bergelombang penuh drama sudah memecah keheningan ruangan.
"STELLAN ALISTAIR CAELMONT! Keluar kamu sekarang juga!"
Elara membelalakkan matanya. Dari balik pilar marmer, muncul seorang wanita paruh baya bertubuh anggun dengan gaun bermotif bunga yang elegan, kacamata hitam yang terungkit di atas kepalanya, dan tas tangan edisi terbatas yang ditenteng anggun. Wajahnya sangat menawan, memancarkan kecantikan abadi, tetapi raut mukanya saat ini dipenuhi kombinasi antara syok, cemas, dan kejengkelan yang memuncak.
Nyonya Seraphina Caelmont. Mami kandung Stellan.
"Mami?"
Suara berat Stellan terdengar dari arah tangga. Pria itu turun dengan kemeja kasualnya, raut wajahnya yang biasanya datar kini menampakkan sedikit ekspresi kaget dan kepasrahan yang teramat sangat.
"Jangan panggil Mami!" potong Seraphina cepat, mengibaskan tangannya di udara dengan gestur dramatis. Wanita itu melangkah lebar mendekati putra sulungnya, menunjuk dada tegap Stellan dengan kipas lipat di tangannya.
"Mami sedang di Paris, Stellan! Di Paris! Sedang menikmati croissant hangat bersama Papamu! Lalu tiba-tiba Julian mengirimkan salinan koran dan berita korporat bahwa putra sulung Mami yang dinginnya melebihi es di Antartika ini... sudah MENIKAH?!"
Seraphina menekankan kata 'menikah' dengan nada melengking yang membuat Bi Asih di sudut ruangan menunduk menahan tawa.
"Mami, bisakah bicara pelan-pelan? Ada Luna di sini," sahut Stellan datar, berusaha mengontrol situasi. Sikapnya yang dingin dan tenang adalah jiplakan sempurna dari suaminya, yang membuat Seraphina makin mengelus dada.
"Bagaimana Mami bisa pelan-pelan?!" Seraphina memegang dadanya dengan raut wajah sangat nelangsa. "Puluhan anak gadis kolega Mami yang cantik, berpendidikan tinggi, dan anggun Mami kenalkan pada kamu selama bertahun-tahun, semuanya kamu tolak! Kamu selalu beralasan sibuk, tidak berminat, tidak butuh istri! Lalu tiba-tiba tanpa ada lamaran, tanpa ada pesta keluarga, tanpa memberitahu Mami dan Papimu... kamu mendadak punya Akta Nikah?!"
Elara yang berdiri di dekat karpet mematung di tempatnya. Senyuman canggung terukir kaku di bibirnya. Ini adalah momen luar biasa di mana ia melihat seorang CEO besar seperti Stellan Alistair Caelmont dibuat tak berkutik oleh ibunya sendiri.
Saat itulah, mata tajam Seraphina bergulir melintasi ruangan dan terkunci tepat pada sosok Elara.
Ruangan itu mendadak hening seketika.
Seraphina berkedip dua kali. Kacamata hitam di kepalanya diturunkan sedikit. Wanita paruh baya itu berjalan mendekati Elara, mengamatinya dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan yang membuat jantung Elara berdebar kencang.
Elara menelan ludahnya yang terasa kering. Sebagai seorang psikolog, ia terbiasa menghadapi berbagai tipe kepribadian. Namun berhadapan langsung dengan seseorang yang merupakan mertuanya, mertua kaya raya yang datang seperti angin puting beliung adalah hal yang sama sekali tak ada di dalam buku panduannya.
Elara, bersikaplah profesional. Jangan panik, batin Elara mencoba menenangkan dirinya sendiri.
Elara memangkas jarak, membusungkan dadanya anggun, lalu membungkuk sopan dengan senyuman paling hangat dan lembut yang dimilikinya.
"Selamat pagi, Nyonya Caelmont. Saya Elara," sapa Elara halus, nada suaranya begitu tenang dan menyejukkan.
Seraphina terpaku sejenak. Suara Elara yang teduh dan aura kehangatan yang memancar alami dari diri wanita bergaun biru itu mendadak menghentikan badai emosi Seraphina.
Nyonya Caelmont itu menoleh pada Stellan, lalu kembali menatap Elara. Perlahan, raut wajah galak dan dramatis Seraphina memudar, digantikan oleh binar ketakjuban yang tak bisa disembunyikan.
"Aura kamu... begitu tenang," gumam Seraphina polos, seolah lupa bahwa ia baru saja mengamuk. Wanita itu tiba-tiba mengulurkan kedua tangannya, memegang kedua bahu Elara dengan erat. "Kamu... bagaimana caranya kamu bisa membuat anakku yang kaku seperti batu bata ini mau menikahimu?!"
Elara berkedip bingung. "M-maaf?"
"Maksud Mami, Stellan ini persis sekali seperti Papanya! Datar, kaku, kalau bicara irit kata, dan kerjanya hanya menatap dokumen!" Seraphina ngoceh panjang lebar tanpa henti, meremas tangan Elara dengan gemas.
"Mami sampai takut Stellan akan membujang selamanya! Tapi kamu... astaga, kamu cantik sekali, sayang! Matamu begitu hangat. Pantas saja si es batu ini luluh!"
Stellan memegang pangkal hidungnya, menghela napas panjang yang terdengar pasrah. "Mami, tolong jangan membuat Elara bingung."
"Kamu diam, Stellan! Mami sedang bicara dengan menantu Mami!" sergap Seraphina tanpa menoleh pada anaknya.
Nyonya keluarga Caelmont itu lalu menunduk saat merasakan usapan lembut di gaunnya. Disana, Luna sedang berdiri sembari menengadah.
Mata Seraphina seketika berkaca-kaca. Ratu drama itu berlutut dengan anggun, merengkuh tubuh mungil cucunya dengan penuh kasih sayang. "Oh, cucu Oma yang cantik... Luna sayang, Oma kangen sekali..."
Luna tidak menjerit atau menolak. Meskipun tidak bersuara, Luna membiarkan neneknya memeluknya dan menyandarkan pipinya pelan di bahu Seraphina, sebuah reaksi yang membuat Seraphina menahan napas terharu. Seraphina tahu betul seberapa parah trauma Luna, dan melihat cucunya tampak lebih rileks dan rapi hari ini benar-benar menyentuh hatinya.
"Luna... Luna terlihat jauh lebih tenang," bisik Seraphina terharu, menatap Elara dengan pendar rasa terima kasih yang tulus. "Apakah ini karena kehadiranmu, Elara?"
Elara mengangguk pelan sembari tersenyum. "Luna adalah anak yang sangat manis, Nyonya. Dia hanya butuh waktu."
"Jangan panggil Nyonya dong! Panggil Mami," potong Seraphina cepat sembari berdiri kembali, mengibaskan tangannya. "Ayo, kita duduk di meja makan! Mami membawa banyak oleh-oleh dan kue dari Paris. Kita harus mengobrol banyak!"
Di meja makan, Bi Asih dan para pelayan dengan sigap menyajikan cangkir-cangkir teh herbal serta tumpukan kue macaron dan croissant yang dibawa Seraphina langsung dari penerbangannya.
Selama satu jam berikutnya, Elara hanya bisa duduk mendengarkan dengan patuh. Seraphina menceritakan segala hal tanpa henti, mulai dari kelakuan Stellan sewaktu kecil yang selalu mendapat nilai sempurna di sekolah tapi tidak pernah tersenyum saat difoto, Papinya Stellan yang saat ini sedang tertahan rapat bisnis mendadak di London, hingga adik perempuan Stellan yang sedang berkuliah di Amerika dan mengamuk di telepon karena tidak diundang ke pernikahan kakaknya.
"Bayangkan, Elara!" seru Seraphina sembari mengaduk tehnya dengan gerakan dramatis. "Adiknya Stellan di Boston sampai menangis histeris di telepon jam dua pagi! Dia mengancam akan bolos ujian semester kalau Stellan tidak mengirimkan foto pernikahan kalian detik itu juga! Mami sampai pusing menghadapi dua anak ini."
Stellan yang duduk di sebelah Elara hanya bisa menyesap kopinya dengan wajah datar, walau sudut bibirnya sedikit berkedut menahan geli melihat cara ibunya berinteraksi dengan Elara.
"Stellan dari kecil memang tidak pernah merepotkan secara akademis, Elara. Tapi dia itu dinginnya minta ampun!" lanjut Seraphina antusias, menunjuk Stellan dengan sendok tehnya. "Sewaktu umur sepuluh tahun, Mami beri dia hadiah ulang tahun seekor anak anjing yang lucu. Kamu tahu apa yang dilakukan Stellan? Dia hanya menatap anak anjing itu, lalu bilang, 'Mami, hewan ini butuh jadwal makan yang efisien.' Astaga! Siapa anak sepuluh tahun yang bicara soal efisiensi?!"
Elara tidak bisa menahan tawa kecilnya. Suara tawa halus Elara mengalun indah di meja makan, membuat Stellan sempat berpaling dan menatap lekat wajah anggun istrinya itu.
Elara merespons setiap perkataan Seraphina dengan senyuman manis, anggukan sopan, dan jawaban-jawaban yang terstruktur rapi. Sebagai wanita yang cerdas dan berpendidikan, Elara dengan mudah menyesuaikan diri dengan energi heboh ibu mertuanya, membuat Seraphina makin jatuh hati padanya.
Namun, di balik sikap tenangnya yang sempurna, di dalam lubuk hati Elara yang paling dalam, sebuah gejolak keraguan yang hebat mendadak timbul kembali.
Elara menatap wajah hangat Seraphina yang sedang tertawa renyah, lalu beralih melirik Stellan yang duduk di sampingnya. Pria itu sesekali menanggapi maminya dengan nada singkat namun penuh rasa hormat.
Apa yang sebenarnya sudah kulakukan? batin Elara, dadanya mendadak terasa sesak oleh gumpalan penyesalan.
Sejak menandatangani surat perjanjian kontrak itu, baru kali ini Elara menyadari betapa keteledorannya telah melangkah terlalu jauh. Logika profesionalnya sebagai psikolog selama ini menutup matanya dari realita sosial dan emosional yang jauh lebih besar.
Pernikahan ini... ternyata tidak sesederhana dokumen satu tahun di atas kertas untuk memenangkan persidangan hak asuh Luna.
Ada keluarga besar di belakang Stellan. Ada seorang ibu yang begitu tulus menyayangi anaknya dan menyambut Elara sebagai menantu dengan tangan terbuka. Ada keluarga utuh berniat baik yang sama sekali tidak tahu bahwa pernikahan ini hanyalah sebuah kebohongan dan kesepakatan rahasia di balik pintu tertutup.
Pikiran Elara melayang pada keluarganya sendiri. Orang tuanya sudah meninggal dunia sejak ia masih berusia remaja, meninggalkannya tumbuh menjadi wanita mandiri. Satu-satunya kerabat darah yang ia miliki hanyalah seorang Om yang tinggal jauh di luar kota, seseorang yang bahkan belum sempat ia kabari tentang keputusan gila ini karena segalanya terjadi begitu cepat.
Elara merasa begitu asing, begitu teledor, dan takut.
Bagaimana jika Mami Seraphina tahu bahwa aku berada di rumah ini hanya sebagai 'psikolog sewaan' yang memegang dokumen kontrak satu tahun? Betapa hancurnya hati wanita baik ini saat mengetahui pernikahan anaknya hanyalah rekayasa hukum?
"Elara, sayang? Kamu tidak apa-apa?"
Suara lembut Seraphina memutus lamunan Elara yang membumbung tinggi. Mami Stellan itu menatapnya dengan raut cemas, menghentikan ceritanya. "Wajahmu mendadak agak pucat. Kamu lelah ya mengurus si es batu ini dan rumah ini?"
Elara tersentak kecil, lalu buru-buru mengulas senyum terbaiknya untuk menutupi gemuruh dan rasa bersalah di dalam dadanya. "Ah, tidak apa-apa, Mami. Saya hanya... sedikit terharu melihat kehangatan Mami menyambut saya."
Seraphina tersenyum lebar, pandangannya begitu teduh saat meraih jemari tangan Elara di atas meja dan mengelusnya dengan penuh kasih sayang.
"Stellan mungkin pria yang kaku, membosankan, dan susah mengekspresikan perasaan, Elara," ujar Seraphina lembut. "Tapi Mami tahu, dia pria yang sangat bertanggung jawab. Mami sangat bersyukur Stellan akhirnya menemukan wanita sehebat dan sehangat kamu."
Kata-kata tulus itu bagaikan sembilu yang menyayat batin Elara. Elara melirik Stellan. Pria itu menatapnya lurus-lurus dengan iris mata gelapnya yang dalam, seolah bisa membaca pergulatan batin, ketakutan, dan rasa bersalah yang sedang berkecamuk hebat di dalam diri Elara saat ini.
Di tengah gelak tawa dan kehangatan meja makan keluarga Caelmont hari itu, Elara menyadari satu hal yang menakutkan: Kebohongan ini... kini terasa jauh lebih berat, rumit, dan berbahaya dari yang pernah ia bayangkan.