NovelToon NovelToon
Satpam Penjaga CEO

Satpam Penjaga CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Romansa Fantasi / Nikah Kontrak
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Bimo, seorang pemuda kaya yang enggan dijodohkan, menyusun rencana konyol dengan meminta sahabatnya semasa SMA, Arga, seorang anak panti asuhan bertubuh tegap yang akrab dipanggil Dewa, untuk menyamar menjadi dirinya. Tugas Dewa sederhana: bersikap norak dan menyebalkan di depan Nadia Nugroho, CEO wanita dingin pemimpin imperium bisnis Nugroho Group, agar kencan perjodohan itu batal total.

Namun, rencana konyol itu berantakan. Nadia yang tak mudah terkecoh justru melayangkan ancaman pembalasan yang sanggup membangkrutkan perusahaan keluarga Bimo seketika. Terdesak, Dewa terpaksa menandatangani Surat Kesepakatan Pernikahan Kontrak atas nama Bimo.

Di tengah situasi yang kian kacau dan pernikahan resmi yang dihitung hari, Dewa berusaha menyambung hidup dengan melamar kerja sebagai petugas keamanan. Tanpa ia sadari, hari pertama tugasnya sebagai Satpam justru menempatkannya di lobby utama Menara Utama Nugroho Group, gedung megah milik keluarga sang CEO dingi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31. Bayang-Bayang Rutinitas

Hari-hari berikutnya berjalan kembali seperti biasa pasca kesepakatan tertutup di kedai Kopi Sunyi. Sesuai perjanjian, roda kehidupan berputar tanpa gejolak mencolok di permukaan. Masih tersisa beberapa hari sebelum tanggal pernikahan yang terlanjur disiarkan oleh media nasional, tanggal yang semula dipatok saat skenario perjodohan masih melibatkan nama Bimo.

Di Menara Utama Nugroho Group, Arga Dewa Putra menjalankan tugasnya dengan tingkat profesionalisme tinggi. Dibalut seragam Satpam yang rapi dan masker kain hitam yang senantiasa menutupi separuh wajahnya, Arga berdiri tegap di area lobi utama dan garasi VIP.

Pagi itu, sedan Mercedes-Maybach hitam milik sang CEO perlahan berhenti di area menurunkan penumpang VIP. Arga melangkah sigap, membukakan pintu mobil dengan posisi tubuh tegap. Nadia turun dengan langkah anggun, mengenakan pakaian kerja formal bernuansa gelap dan kacamata hitam.

"Selamat pagi, Bu Nadia," sapa Arga tegas namun sopan, membungkukkan badannya sedikit selayaknya karyawan memberi hormat kepada pimpinan tertinggi.

Nadia hanya mengangguk pelan tanpa menghentikan langkahnya. Sikapnya dingin, datar, dan tak tersentuh, seolah pria tegap yang membukakan pintu mobilnya hanyalah seorang petugas keamanan biasa. "Pagi," balasnya singkat sebelum melangkah mantap menuju lift khusus eksekutif.

Namun, ketenangan dingin yang ditunjukkan Nadia di lobi segera melarut begitu pintu ruang kerja CEO di lantai 55 tertutup rapat. Nadia meletakkan tas mewahnya di meja marmer, lalu berjalan mendekati dinding kaca besar yang menghadap langsung ke area pelataran parkir VVIP di bawah. Mata tajamnya memperhatikan sosok Arga yang sedang mengatur arus lalu lintas mobil direksi dengan sangat cekatan.

"Bu Nadia?"

Suara Rina membuat Nadia tersentak kecil. Sang CEO memutar badannya dengan cepat, berusaha menguasai kembali ekspresi wajahnya.

Rina berdiri di dekat pintu sembari memegang komputer tablet, menyunggingkan senyum tipis yang sarat arti. "Berkas laporan kuartal ketiga dari divisi keuangan sudah siap di meja, Bu."

Nadia berdeham pelan, merapikan blazernya. "Terima kasih, Rina. Letakkan saja di sana."

"Iya, Bu," sahut Rina. Pandangannya berganti ke jendela kaca besar, lalu kembali menatap bosnya. "Ngomong-ngomong, sudut pandang dari jendela ini memang sangat jelas ya, Bu? Apalagi kalau mau memantau ketertiban pos keamanan di bawah."

Pipi Nadia merona tipis, namun ia menanggapi ucapan sekretarisnya dengan nada ketus. "Saya cuma sedang memastikan lobi depan bersih dari penumpukan kendaraan, Rina. Jangan berpikiran yang tidak-tidak."

"Saya tidak bilang apa-apa lho, Bu," goda Rina santai seraya menahan tawa. "Tapi kalau Bu Nadia merasa jendela terlalu jauh, akses monitor CCTV lobi di sudut meja Ibu kan selalu aktif dalam kualitas resolusi tinggi."

Nadia melotot kecil, memergoki sindiran halus Rina yang menyadari bahwa belakangan ini layar monitor pengawas di meja kerja CEO lebih sering menampilkan kamera area lobi utama daripada area operasional lainnya. "Kembali ke meja kamu sekarang, Rina. Sebelum saya tambah beban laporan kamu hari ini."

"Siap, Bu Nadia! Saya permisi dulu," pamit Rina tertawa kecil sebelum melangkah keluar dari ruangan kerja.

Nadia menghela napas panjang. Ia melirik layar monitor CCTV di sudut mejanya, melihat Arga yang sedang memandu sebuah mobil sedan perak. Kenapa pria itu bisa bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa? batin Nadia heran bercampur kekaguman samar.

Sementara itu, di kediaman mewah keluarga Wira Perkasa, suasana di ruang keluarga terasa cukup tegang. Pak Wira dan Nyonya Wira duduk berhadapan dengan Bimo yang sedang menunduk, berusaha menyusun kata-kata terbaik untuk menyampaikan pembatalan pernikahannya secara langsung.

"Bimo! Coba ulang sekali lagi ucapan kamu tadi!" seru Pak Wira dengan nada tinggi, menatap anak tunggalnya dengan mata membelalak. "Kamu bilang apa? Pernikahan kamu sama Nadia batal?!"

Nyonya Wira memegang dadanya, tampak sangat terkejut. "Bimo! Kamu jangan main-main! Berita pernikahan kalian itu sudah tersebar di mana-mana! Kenapa tiba-tiba batal?!"

Bimo mengusap tengkuknya yang tidak gatal, mencoba memberikan penjelasan sesuai skenario yang telah disepakati tanpa membocorkan keterlibatan Arga.

"Pernikahan ini emang batal, Papi, Mami," ujar Bimo pelan, berusaha bersikap tenang. "Nadia sendiri yang minta pembatalan ini."

"Gimana bisa Nadia yang minta batal?!" cecar Pak Wira gusar. "Apa kamu bikin ulah lagi, Bimo? Kamu berbuat kekanak-kanakan di depan dia?!"

"Gak gitu, Pi!" potong Bimo cepat. "Nadia... Nadia sebenarnya udah punya pilihan pria lain. Pria yang menurut dia jauh lebih cocok ketimbang Bimo. Ditambah lagi, Bimo emang jujur sama Nadia kalau Bimo belum siap buat nikah muda dan megang tanggung jawab seberat itu."

Nyonya Wira mendesah berat. "Ya Tuhan, Bimo... Papi dan Mami kan berharap pernikahan ini bisa menyelamatkan perusahaan keluarga kita dari ancaman krisis!"

"Nah, itu dia yang mau Bimo jelasin!" sela Bimo cepat sebelum orang tuanya makin emosi. "Papi sama Mami gak usah khawatir. Kemarin waktu Bimo ketemu Nadia, dia udah tegasin dan jamin 100% kalau pembatalan pernikahan ini gak bakal memengaruhi kerja sama bisnis kita!"

Pak Wira mengerutkan keningnya, menatap Bimo penuh keraguan. "Kamu yakin, Bimo? Nadia bilang begitu sendiri?"

"Seratus persen yakin, Pi!" tegas Bimo mantap. "Nadia jamin seluruh investasi dan suntikan dana dari Nugroho Group buat Wira Perkasa Group tetap berjalan sesuai rencana awal. Kontak bisnis kita aman, gak bakal ada denda atau penarikan modal sama sekali!"

Mendengar penjelasan tersebut, raut ketegangan di wajah Pak Wira perlahan menyusut. Ia bersandar di sofa empuknya, menghela napas panjang seolah beban besar baru saja terangkat dari pundaknya.

"Kalau memang investasi dan kerja sama bisnis kita tetap aman, Papi tidak akan mempermasalahkan pembatalan ini lagi," kata Pak Wira akhirnya. "Tujuan utama kita kan memang untuk menyelamatkan perusahaan."

"Benar kata Papi kamu, Bimo," tambah Nyonya Wira yang mulai mereda kepanikannya. "Kalau bisnis keluarga kita aman, Mami bisa ikhlas. Tapi Bimo... Mami tetap minta kamu buat segera cari calon pasangan yang lain. Kamu itu anak tunggal, harus mulai belajar dewasa dan mikirin masa depan."

Bimo meringis pelan, namun ia lega karena orang tuanya bisa menerima keputusan tersebut tanpa banyak protes. "Iya, Mi... nanti Bimo cari pelan-pelan. Yang penting sekarang masalah ini beres dulu."

Pak Wira menegakkan posisinya, mengambil ponsel dari meja. "Kalau begitu, Papi harus hubungi Pak Nugroho Sastro sekarang. Papi mau minta maaf dan bicara baik-baik soal pembatalan ini sama kakeknya Nadia."

Mendengar hal itu, Bimo mendadak panik setengah mati. Ia menyergap tangan ayahnya sebelum sempat menekan tombol panggil.

"Eh! Jangan, Pi! Jangan sekarang!" seru Bimo panik.

Pak Wira menaikkan sebelah alisnya, heran dengan reaksi berlebihan anaknya. "Kenapa jangan? Kita harus punya etika bisnis, Bimo. Masalah ini harus diomongkan sama Pak Nugroho secara kekeluargaan."

"Bimo mohon banget, Pi. Tolong jangan dulu bilang apa-apa sama Kakek Nugroho," bujuk Bimo dengan raut wajah sangat serius. "Kondisi kesehatan Kakek Nugroho sekarang lagi kritis banget di rumah sakit. Nadia sendiri yang minta biar urusan pembatalan ini jangan sampai bocor ke telinga kakeknya dulu."

Nyonya Wira menatap suaminya dengan cemas. "Itu benar, Papi. Kemarin di berita juga dibilang kalau pendiri Nugroho Group sedang dirawat intensif karena penyakit jantungnya."

"Nadia yang bakal atur waktu yang tepat buat ngomong sendiri ke Kakeknya, Pi," tambah Bimo meyakinkan. "Kalau Papi nekat telepon sekarang dan berita ini bikin Kakek Nugroho makin drop, Nadia bisa marah besar dan malah batalin semua investasi ke perusahaan kita. Papi mau itu terjadi?"

Pak Wira menghentikan jemarinya di atas layar ponsel. Ia merenungkan ancaman realistis yang diujarkan anaknya. Setelah terdiam beberapa saat, Pak Wira menurunkan ponselnya dan mengangguk pelan.

"Baiklah kalau begitu," putus Pak Wira tegas. "Papi dan Mami bakal tutup mulut dan tidak akan menghubungi pihak keluarga Nugroho sampai Nadia sendiri yang memberi lampu hijau."

1
Dian Paramita Dewi
Salam kenal, bantu like ya Kak 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!