NovelToon NovelToon
TERNYATA AKU MENAFKAHI MADUKU

TERNYATA AKU MENAFKAHI MADUKU

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Selingkuh / Rumah Tangga / Tamat
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Ayu mengira rumah tangganya baik-baik saja—Bayu tampak suami penyayang dan bertanggung jawab. Namun perlahan ia sadar, penghasilannya selama ini diam-diam menghidupi wanita lain: istri kedua Bayu yang tak pernah ia ketahui keberadaannya. Ketika kebenaran terbongkar, Ayu bukan hanya menghadapi pengkhianatan, tapi juga fitnah dan kekerasan dari orang-orang yang seharusnya ia percaya. Dari titik paling rapuh itu, ia bangkit dan diam-diam menyusun rencana untuk membalikkan keadaan yang selama ini merugikannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB LIMA

## Bab 5: Wulan

Rumah kontrakan kecil itu tidak pernah benar-benar terasa seperti rumah bagi Wulan. Dua kamar, satu ruang tamu sempit yang merangkap ruang makan, dan dapur kecil di belakang yang atapnya sering bocor kalau hujan deras. Tapi setidaknya, ini rumahnya sendiri—atau lebih tepatnya, rumah yang dibayar oleh Bayu, laki-laki yang secara sah, di hadapan penghulu dan beberapa saksi, adalah suaminya.

Wulan duduk di teras kecil sambil menyusui anaknya, Raka, yang baru berusia delapan bulan. Sesekali ia melirik ponsel, memastikan tidak ada pesan penting yang terlewat, sebelum akhirnya kembali fokus pada bayinya yang mulai rewel.

Ia masih ingat betul bagaimana semuanya dimulai. Dulu, ia hanya seorang admin biasa di sebuah perusahaan mitra proyek, bertugas mengurus dokumen-dokumen tender yang membosankan. Bayu datang sebagai salah satu perwakilan dari perusahaan distributor bahan bangunan, sosok yang, di matanya waktu itu, terlihat mapan dan penuh perhatian—jauh berbeda dari mantan kekasihnya yang meninggalkannya begitu saja setelah tahu ia hamil di luar nikah, sebuah luka lama yang sampai sekarang masih menyisakan bekas dalam caranya memandang hubungan.

Bayu berbeda, pikirnya waktu itu. Ia sabar, perhatian, selalu ada saat dibutuhkan—setidaknya di jam-jam yang bisa ia sisihkan dari rumah tangganya yang lain, rumah tangga yang, meski Wulan tahu keberadaannya sejak awal, tidak pernah benar-benar ia pikirkan konsekuensinya secara utuh.

"Aku nggak akan nelantarin kamu, Lan. Percaya sama aku," kata Bayu waktu itu, ketika Wulan mengabarkan kehamilannya yang tidak direncanakan.

Dan Bayu memang tidak sepenuhnya menelantarkannya—setidaknya secara materi. Setiap bulan, uang kontrakan, susu anak, biaya imunisasi, semuanya selalu terpenuhi, meski sering kali terlambat, meski jumlahnya kadang tidak sesuai harapan.

Yang tidak pernah terpenuhi adalah pengakuan. Status. Kepastian bahwa suatu hari nanti, ia dan Raka bisa hidup selayaknya keluarga yang sah di mata semua orang, bukan hanya di atas kertas nikah siri yang disembunyikan rapat-rapat.

---

"Bang, kapan kita bisa pindah ke rumah yang lebih layak?" tanya Wulan suatu sore, ketika Bayu sempat mampir sebentar sebelum melanjutkan perjalanan pulang ke rumah "yang sebenarnya"—istilah yang selalu digunakan Wulan dalam hati setiap kali membicarakan rumah Ayu, meski tidak pernah ia ucapkan secara langsung.

"Sabar, Lan. Aku lagi nabung buat itu," jawab Bayu, seperti biasa, jawaban yang sudah ia dengar berulang kali sejak setahun terakhir.

"Nabung dari mana? Gaji kamu aja udah abis buat kebutuhan kita di sini," Wulan mendesah, setengah frustrasi. "Aku tahu istrimu itu gajinya gede, Bang. Kenapa nggak—"

"Wulan," potong Bayu, suaranya sedikit meninggi. "Jangan bahas itu lagi. Aku udah bilang, ini urusanku, biar aku yang atur."

Wulan terdiam, menahan diri untuk tidak melanjutkan perdebatan yang sama yang selalu berakhir buntu. Ia tahu, di balik nada tegas Bayu, ada semacam ketakutan yang tidak pernah benar-benar ia pahami sepenuhnya—ketakutan akan kehilangan kenyamanan yang selama ini ia dapatkan dari pernikahan sahnya, kenyamanan yang, ironisnya, sebagian besar ditopang oleh uang yang sama yang juga menghidupi Wulan dan anaknya.

"Aku cuma pengen hidup normal, Bang. Punya rumah sendiri, diakui sama keluarga kamu, nggak perlu sembunyi-sembunyi terus," kata Wulan, suaranya mulai bergetar.

Bayu menghela napas panjang, mendekat, lalu memeluknya sebentar. "Aku janji, Lan. Pelan-pelan, semua bakal beres. Sekarang fokus dulu ke Raka, ya."

Pelukan itu selalu berhasil meredakan amarah Wulan sementara waktu, meski jauh di dalam hatinya, ada bagian yang tahu betul bahwa janji-janji semacam itu sudah terlalu sering diucapkan tanpa pernah benar-benar terwujud.

---

Malam harinya, setelah Bayu pergi, Wulan duduk sendirian di ruang tamu sambil menggendong Raka yang mulai tertidur. Ia membuka ponselnya, tanpa sengaja membuka akun media sosial yang sudah lama tidak ia pantau—akun yang, entah kenapa, malam itu justru menampilkan sebuah unggahan lama dari akun Ayu, istri sah Bayu yang selama ini hanya ia kenal lewat cerita-cerita singkat dan beberapa kali penampakan tidak sengaja dari kejauhan.

Foto itu menunjukkan Ayu dan Bayu di sebuah acara keluarga, tersenyum bahagia, tampak seperti pasangan yang benar-benar saling mencintai tanpa beban apa pun. Keterangan foto itu sederhana: *"Empat tahun pernikahan, semoga makin banyak kebahagiaan yang kita lalui bersama. Terima kasih sudah jadi partner terbaik, Mas."*

Wulan menatap layar itu cukup lama, dadanya terasa sesak oleh perasaan yang sulit ia definisikan—cemburu, marah, tapi juga sedikit rasa bersalah yang selalu ia coba tepis setiap kali muncul.

*Kenapa dia yang dapat kebahagiaan penuh, sementara aku cuma dapat sisa-sisanya?* pikirnya, sebelum akhirnya mengunci ponsel dan meletakkannya di meja dengan agak kasar.

Ia tahu, secara moral, posisinya jauh dari benar. Ia tahu, hubungan ini dibangun di atas kebohongan yang ditujukan pada seorang perempuan yang bahkan tidak pernah menyakitinya secara langsung. Tapi rasa kesepian, kebutuhan akan pengakuan, dan ketergantungan finansial yang sudah terlanjur mengikat hidupnya dan Raka pada Bayu, membuat semua pertimbangan moral itu perlahan-lahan kalah oleh keinginan untuk mempertahankan apa yang sudah ia miliki—meski itu berarti terus hidup dalam bayang-bayang perempuan lain yang bahkan tidak tahu keberadaannya.

---

Beberapa hari kemudian, ketika Bayu kembali berkunjung membawa kebutuhan bulanan, Wulan memberanikan diri mengungkit topik yang selama ini selalu ia pendam.

"Bang, kalau suatu saat istrimu tahu soal aku dan Raka... apa yang bakal kamu lakuin?" tanyanya, suaranya pelan tapi serius.

Bayu terdiam sejenak, ekspresi wajahnya berubah tegang. "Kenapa tiba-tiba nanya gitu?"

"Aku cuma mikir aja, Bang. Ini udah dua tahun. Nggak mungkin selamanya bisa disembunyiin."

"Nggak akan ketahuan, Lan. Aku udah atur semuanya dengan hati-hati," jawab Bayu, meski nada suaranya sendiri terdengar tidak sepenuhnya yakin.

"Tapi kalau ketahuan gimana?" Wulan mendesak.

Bayu menghela napas, menatap Raka yang sedang tertidur di ayunan kecil di sudut ruangan. "Kalau ketahuan... ya kita hadapi bareng-bareng. Aku nggak akan ninggalin kamu sama Raka, Lan. Percaya sama aku."

Kalimat itu terdengar meyakinkan di telinga Wulan, meski jauh di dalam hati Bayu sendiri, ia tidak benar-benar tahu bagaimana caranya menghadapi kenyataan itu jika benar-benar terjadi. Yang ia tahu pasti, saat ini, keseimbangan rapuh yang telah ia bangun selama dua tahun terakhir—antara dua rumah tangga, dua perempuan, dua kehidupan yang berjalan sejajar tanpa pernah bersinggungan—masih bisa dipertahankan, setidaknya untuk sementara waktu.

Wulan mengangguk pelan, memilih untuk percaya, karena kepercayaan itulah satu-satunya hal yang membuatnya bisa terus bertahan dalam situasi yang, jika dipikirkan terlalu dalam, sebenarnya penuh ketidakpastian.

Malam itu, setelah Bayu pergi, Wulan kembali duduk sendirian, menatap Raka yang tertidur pulas. Di dalam hatinya, ada dua perasaan yang terus bertarung—rasa bersalah yang sesekali muncul ke permukaan, dan rasa ingin mempertahankan apa yang sudah ia miliki, apa pun caranya, bahkan jika itu berarti terus hidup dalam kebohongan yang, cepat atau lambat, pasti akan menemukan jalannya untuk terbongkar.

---

*Bersambung ke Bab 6*

1
Heny
Sampai disini baca nya blm ketahuan
Thewie
bosan
Thewie
terlalu bertele2 Thor ceritamu, jadi membosankan pembaca🙏
Thewie
oala Bayu Bayu.. masih naek motor aja binik dua. KLO naek mobil gimana lagi lah kau laki2 keparat
Thewie
lanjut thor
Thewie
no coment yu. nunggu kebohongan suamimu terbongkar aja🤭
Nuna_Pena: 🤭🤭🤭 sabar yaaa
total 1 replies
Thewie
bangkai lama2 y kecium baunya. percayalah wanita yg tersakiti akan jadi wanita paling kejam sejagat raya
Nuna_Pena: bener banget. kalau sudah capek sabar,sekali meledak lelaki menyesal
total 1 replies
Thewie
dr Pulau Natuna mampir ya thor
Nuna_Pena: MasyaAllah. makasi sudah mampir.
total 1 replies
Ma Em
Selidiki Ayu jgn cuma nanya doang sama Bayu jgn bodoh kamu jadi istri percaya banget sama laki apapa tanya Bayu mana ngaku si Bayu sama kamu .
Ma Em
Ayu ini bodoh atau gimana sih masa tdk ada kecurigaan sama sekali sama Bayu terlalu percaya sama laki , nanti setelah Ayu tau kebenaran nya tentang Bayu yg sdh punya istri lagi bahkan sdh punya anak baru mati si Ayu bodoh itu .
Thewie: bodoh mmg Bun si ayu ini
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!