Alena tidak pernah menyangka akan dinikahi oleh Aditya Pradana, CEO dingin yang juga mantan kakak iparnya.
Tujuannya satu: menjadi ibu untuk Sean, anak tiri berandal yang membencinya setengah mati.
Sean melakukan segala cara untuk mengusir Alena.
Balapan liar, berkelahi, membolos.
Tapi Alena yang berjilbab ini tidak takut.
Ia lawan balik Sean di arena balap dan di lapangan futsal.
Hingga Sean diam-diam kagum dan berbisik, "Siapa sebenarnya kamu, Bunda?"
Di sisi lain, Aditya Pradana yang dibantu Rendra, mulai menyadari...
Adik iparnya yang dulu pendiam itu, kini menjadi wanita yang tidak bisa ia lepaskan.
Pernikahan kontrak ini, apakah akan berakhir dengan cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
Jam 21.00 malam. Rumah megah keluarga Pradana yang biasanya terang benderang dengan lampu kristal, malam ini hanya diterangi lampu taman yang temaram dan satu lampu perpustakaan lantai dua yang masih menyala hangat.
Di rumah rahasianya di kawasan elit Senopati, Aditya sudah tidak tahan lagi. Sudah 3 hari ia kabur dari rumah. 3 hari ia tidak melihat wajah Alena . 3 hari ia tidak mendengar suara Sean yang memanggilnya Ayah dengan suara remaja 17 tahun yang berat. Dan sejak laporan Rendra siang tadi di Grand Lucky Supermarket, tentang seorang laki-laki bernama Rizky Pratama yang berani memegang dan mengelus tangan Alena di rak susu, pikiran Aditya Pradana kacau total. CEO dingin yang biasanya super logis itu tidak bisa berpikir jernih. Kalimat Alena yang terekam Rendra "suami saya cemburuan banget, saya harus jaga perasaan suami saya" itu terus terngiang-ngiang di kepalanya seperti kaset rusak yang di repeat 100 kali.
Tanpa pikir panjang, tanpa menyuruh Rendra, Aditya Pradana mengambil kunci mobil Porsche 911 hitamnya sendiri. Ia menyetir sendiri dengan kecepatan tinggi. Ngebut membelah jalanan Jakarta malam.
Jam 21.30, mobil Porsche hitam itu parkir diam-diam di luar gerbang rumah Pradana, tidak masuk ke garasi agar tidak ketahuan satpam dan agar tidak menimbulkan suara. Aditya masuk lewat pintu samping kecil yang jarang dipakai, pintu rahasia yang hanya diketahui olehnya dan Sean putranya. Ia melepas sepatu mahal Ferragamo nya, berjalan mengendap-endap seperti maling di rumahnya sendiri. Bayangkan , CEO triliunan rupiah, pemilik Pradana Group, menyelinap di rumahnya sendiri hanya karena kangen tapi gengsi untuk bilang kangen.
Ia mendengar suara tawa dari perpustakaan lantai dua. Tawa Alena dan Sean.Tawa yang sudah 3 hari tidak ia dengar.
Aditya naik tangga marmer perlahan, langkahnya sangat pelan, dan ia berhenti di balik dinding perpustakaan yang pintunya sedikit terbuka sekitar 10 cm. Ia menguping. Ia menjadi tukang nguping di rumahnya sendiri.
Di dalam perpustakaan, Alena dan Sean sedang duduk di karpet tebal Persia yang mahal, bukan di meja belajar. Di depan mereka ada 2 mangkuk indomie goreng super pedas level 3 dengan topping telur mata sapi dan kornet, dan 2 gelas kopi susu gula aren dengan es batu. Mereka baru saja selesai perang mengerjakan 10 soal UTBK Matematika dan sekarang sedang istirahat, ngobrol santai.
Sean Pradana yang tinggi 178cm, ganteng, kulit putih bersih seperti papanya, rambutnya gondrong ala cowok SMA kelas 12 yang jarang disisir, kaos oversize hitamnya digulung lengannya, wajahnya terlihat capek tapi bahagia dan puas karena berhasil.
"Bunda, tadi siang Bunda beneran ketemu temen lama Bunda yang ganteng itu di supermarket? Yang kata Rendra pegang tangan Bunda itu?" tanya Sean iseng sambil menyeruput kopi susu, nada suaranya jahil khas remaja 17 tahun yang suka menggoda bundanya.
Alena yang sedang makan indomie langsung keselek. "Uhuk! Uhuk! Sean! Kamu tahu dari mana? Siapa yang kasih tau kamu?"
"Rendra kasih tau Sean tadi sore lewat WA Bunda. Katanya ada cowok ganteng tinggi putih wangi yang pegang tangan Bunda lama di supermarket. Siapa Bunda? Mantan Bunda ya pas kuliah? Wah Bunda laku juga ya dulu, pantesan cantik banget," goda Sean , senyumnya jahil, lesung pipitnya keluar mirip papanya.
Di balik dinding, Aditya yang menguping langsung mengepalkan tangannya erat. Rahangnya mengeras. DADANYA BERGEMURUH KERAS LAGI. Cemburu butanya naik lagi.
Alena langsung memukul lengan Sean pelan dengan sumpit. "Enak aja mantan! Bukan mantan! Itu teman kuliah Bunda dulu, namanya Rizky Pratama. Dia dulu memang ngejar-ngejar Bunda selama 4 tahun kuliah dari semester 1 sampai 8, tiap hari kirim cokelat, kirim bunga, nunggu di parkiran, tapi Bunda tolak terus. Bunda kan dulu anti pacaran, fokus kuliah dan organisasi. Bunda gak pernah pacaran sama sekali sebelum nikah sama Ayah kamu."
Namun tiba-tiba Alena tertegun dari mana Rendra tau kalau Alena pergi ke supermarket dan bagaimana bisa Rendra tau Alena bertemu dengan Rizky.
"Wah 4 tahun ngejar Bunda? Setia banget dia Bunda. Berarti dia sayang banget sama Bunda dong. Ganteng gak Bunda? Lebih ganteng dari Sean gak? Lebih ganteng dari Ayah gak?" Sean semakin jahil, sengaja memancing.
Alena tertawa, wajahnya memerah. "Ganteng sih, putih, tinggi 181cm, wangi parfum mahal, anak orang kaya, kapten basket kampus. Dulu idola cewek-cewek sekampus, semua cewek naksir dia. Tapi ya gitu, Bunda gak suka cowok yang terlalu gampang deketin cewek dan terlalu banyak cewek yang naksir. Bunda lebih suka cowok yang dingin, cuek, pendiam, tapi kalau sudah sayang sama satu cewek, sayangnya tulus, dalam, dan posesif banget. Seperti..."
Alena berhenti, tidak melanjutkan kalimatnya, wajahnya memerah padam, ia salah tingkah.
"Seperti siapa Bunda? Seperti Ayah ya? Ayah yang dingin, cuek, tapi posesif itu ya?" Sean langsung menyambar dengan cepat, matanya berbinar jahil, ia tahu arah pembicaraan bundanya.
Di balik dinding, Aditya menahan napas. Ia berhenti bernapas. Ia menunggu jawaban Alena dengan jantung berdegup sangat kencang, dug dug dug, seperti mau copot.
Alena menghela napas panjang, menatap Sean yang 17 tahun itu dengan lembut dan tulus. "Sean, Bunda mau jujur ya sama kamu. Bunda memang menolak Rizky siang tadi di supermarket. Bunda bilang suami Bunda cemburuan dan posesif, Bunda harus jaga perasaan suami Bunda. Itu bukan alasan Bunda mengarang-ngarang biar terlihat setia, Sean. Itu beneran dari hati Bunda. Bunda sudah menikah dengan Ayah kamu, Aditya Pradana. Ayah kamu memang dingin, memang cuek, memang jarang ngomong manis, memang jarang di rumah, tapi dia suami Bunda. Dia sudah percaya Bunda untuk jaga kamu. Bunda harus jaga hati Ayah kamu. Bunda gak mau Ayah kamu sakit hati kalau Bunda kasih nomor cowok lain. Bunda tahu Ayah kamu mungkin tidak peduli sama Bunda, mungkin Ayah kamu masih cinta sama almarhumah Mama Riana, tapi Bunda tetap harus jaga kesetiaan Bunda sebagai seorang istri ,bunda harus bisa jaga mawrah bunda.
Sean terdiam, menatap Alena dengan tatapan dewasa yang tiba-tiba muncul, tatapan yang tidak seperti remaja 17 tahun biasanya, tapi tatapan laki-laki dewasa yang sudah mengerti hidup. "Bunda... Sean lihat kok, Ayah peduli sama Bunda. Ayah cuma gengsi aja ngomongnya, Ayah cuma gak bisa ngungkapin dengan kata-kata. Ayah itu dari dulu memang begitu orangnya, dingin di luar tapi perhatian di dalam. Sean tahu Ayah 3 hari ini gak pulang bukan karena dinas ke Surabaya. Rendra bilang Ayah di rumah rahasia Senopati. Ayah kabur karena berantem sama Bunda di makam Mama Riana kan? Karena Ayah masih bingung harus gimana?"
Alena kaget setengah mati. "Kamu tahu Sean? Dari mana kamu tahu?"
"Sean 17 tahun Bunda, bukan 10 tahun lagi, bukan anak kecil lagi yang gampang dibohongin. Sean tahu semua. Sean tahu Ayah masih sayang banget sama Mama Riana, Sean tahu Ayah bingung, Sean tahu Ayah takut kalau sayang sama Bunda itu artinya mengkhianati Mama Riana. Sean tahu semua Bunda, Sean kan anak Ayah, Sean tahu sifat Ayah ," kata Sean dengan suara berat yang tiba-tiba dewasa dan bijak, tidak seperti remaja biasanya yang masih labil.
Di balik dinding, Aditya terpaku, mematung. Matanya membelalak lebar. Ia tidak menyangka Sean , anaknya yang selama ini ia anggap masih kecil, masih bodoh, masih beban, ternyata sudah sedewasa itu, sudah mengerti perasaannya yang paling dalam yang bahkan ia sendiri tidak bisa mengungkapkannya.
Alena meneteskan air mata, air matanya jatuh ke mangkuk indomie. "Sean... maaf ya Bunda..."
Sean menggeser duduknya, memeluk Alena dari samping, pelukan anak laki-laki 17 tahun yang sudah tinggi besar 178cm kepada ibunya yang hanya 160cm. "Bunda, Sean mau bilang makasih ya. Makasih banyak sudah mau jadi Bunda Sean. Makasih sudah sabar ajarin Sean UTBK Matematika sampai Sean yang tadinya mau nyerah, yang tadinya mau gak kuliah aja, sekarang jadi semangat lagi pengen masuk UI. Sean sayang Bunda. Sean serius, bukan gombal. Sean anggap Bunda sudah seperti mama kandung Sean sendiri, bahkan lebih. Dan Sean juga mau Bunda tahu, Sean gak akan marah sama sekali kalau Ayah akhirnya sayang sama Bunda. Sean malah seneng banget. Sean mau lihat Ayah Pradana bahagia lagi setelah 2 tahun murung terus sejak Mama Riana gak ada. Sean mau lihat Bunda juga bahagia. Sean udah 17 tahun, Sean udah besar, Sean udah ikhlas melepas Mama Riana. Mama Riana pasti juga mau Ayah bahagia."
Tangis Alena pecah. Ia memeluk Sean yang tinggi itu dengan sangat erat, bahunya bergetar hebat.
Di balik dinding, Aditya yang menguping itu... matanya memerah, berkaca-kaca. Dadanya sesak. Bukan karena cemburu lagi, tapi karena haru, karena bersalah, karena terenyuh, karena malu. Ia mendengar semua dengan jelas. Ia mendengar Sean yang 17 tahun itu sudah ikhlas, sudah dewasa, sudah merestui ayahnya untuk bahagia lagi. Ia mendengar Alena yang begitu setia menjaga perasaannya bahkan saat ia tidak ada, bahkan saat ia cuek dan kabur.
Tangannya yang tadi terkepal karena cemburu, perlahan terbuka, melemas.
Tanpa sadar, karena kakinya kesemutan menguping terlalu lama, Aditya melangkah masuk, kakinya kesandung karpet.
"Sean... Alena..."
Suara berat khas Aditya itu membuat Alena dan Sean yang sedang berpelukan kaget dan menoleh bersamaan dengan cepat.
Di pintu perpustakaan berdiri Aditya . Masih dengan kemeja kerja putih yang kusut, dasi yang sudah dilonggarkan, jasnya ia tenteng di tangan, wajahnya lelah, mata merah karena kurang tidur 3 hari, brewok tipis tumbuh karena tidak cukur selama 3 hari, tapi tatapannya... tidak lagi dingin seperti es. Tatapannya hangat, rapuh, lelah, dan penuh rindu yang ditahan 3 hari.
"AYAH?!" Sean berdiri dengan cepat, kaget setengah mati, mangkuk indomienya hampir tumpah. "Ayah pulang? Katanya dinas Surabaya 3 hari? Kok pulang malam-malam gak bilang?"
Alena juga berdiri dengan sangat cepat, menghapus air matanya dengan cepat, merapikan hijabnya yang berantakan karena dipeluk Sean, wajahnya kaget, salah tingkah, jantungnya berdegup sangat kencang melihat suaminya pulang tiba-tiba. "Pak Aditya? Bapak... sudah pulang? Kapan pulang Pak?"
Aditya menatap Alena, menatap Sean, lalu menatap 2 mangkuk indomie di karpet. Ia tidak menjawab pertanyaan Sean tentang Surabaya. Ia hanya berjalan pelan masuk ke perpustakaan dengan langkah lelah.
"Boleh Ayah ikut makan indomienya? Ayah belum makan dari siang. Ayah kangen indomie buatan Alena. Di rumah Senopati gak ada yang bisa bikin indomie seenak ini," kata Aditya dengan suara pelan, suara serak, suara yang tidak pernah Sean dan Alena dengar sebelumnya dari mulut CEO dingin itu, suara lelah tapi tulus dan jujur.
Sean dan Alena saling bertatapan, kaget, tidak percaya dengan apa yang mereka dengar.
Sean yang pertama bereaksi ia dengan cepat mengambil mangkuk indomienya yang masih banyak dan masih panas dan memberikannya kepada Ayahnya dengan kedua tangan. "Ini punya Sean aja yah, Sean masih kenyang banget, Ayah makan punya Sean aja! Sean masih ada satu mangkuk lagi kok!"
Alena juga cepat-cepat berdiri, gugup. "Saya bikinin yang baru ya Pak, yang masih panas, yang lebih enak, ini sudah agak dingin, saya bikinin sekarang ya Pak, 5 menit jadi."
"Gak usah. Yang ini aja. Saya mau yang ini aja," Aditya duduk di karpet Persia yang mahal itu, di antara Sean dan Alena, mengambil sumpit Sean dan langsung makan indomie itu dengan sangat lahap, padahal biasanya Aditya sangat anti makan di karpet, anti makan indomie instan, anti makan dengan sumpit bekas orang lain, dan sangat menjaga kebersihan dan image.
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah 3 minggu menikah, untuk pertama kalinya setelah 3 hari kabur dari rumah k, Aditya, CEO dingin itu, duduk di karpet perpustakaan, makan indomie goreng super pedas level 3 bareng anak dan istrinya, dengan lampu temaram yang hangat, sambil mendengarkan Sean cerita dengan semangat tentang soal UTBK integral yang berhasil ia kerjakan hari ini dengan bantuan Bunda Alena.
Tidak ada kata maaf yang terucap dari mulut Aditya. Tidak ada kata cinta yang terucap. Tidak ada kata rindu yang terucap. Karena Aditya Pradana memang bukan tipe laki-laki yang pandai merangkai kata-kata manis.
Tapi malam itu, es di rumah megah keluarga Pradana itu mencair perlahan.
Dan Aditya diam-diam di bawah meja karpet, di tempat yang tidak terlihat oleh Sean, tangannya yang besar meraih dan menggenggam tangan Alena yang dingin dan halus, menggenggamnya erat, sangat erat, tidak mau dilepaskan, seolah berkata dalam diam "jangan kasih tangan ini ke laki-laki lain lagi, tangan ini punya saya, kamu istri keluarga Pradana, istri saya".
Alena kaget setengah mati, wajahnya memerah padam seperti kepiting rebus, jantungnya berdegup kencang, tapi ia tidak menarik tangannya sama sekali. Ia membiarkan tangan besar, hangat, dan sedikit kasar itu menggenggam tangannya erat di bawah meja, di depan Sean yang pura-pura tidak melihat tapi sebenarnya senyum-senyum sendiri, senyum bahagia melihat Ayah dan Bundanya akhirnya berpegangan tangan untuk pertama kalinya.
BERSAMBUNG...