Aurelia Calista seorang remaja anak satu-satunya dari keluarga sederhana Bayu dan Lila. Walaupun mereka hidup sederhana tapi Aurelia tidak kurang kasih sayang dari kedua orang tuanya.
Berbeda dengan pria bernama Grayson Balindra seorang anak broken home yang ditinggal bercerai oleh orang tuanya sehingga pemuda itu tidak mendapatkan peran apapun baru saja pindah ke sekolah aurelia. Pertemuan pertamanya dengan gadis itu membuat Grayson tertarik dan terobsesi. Dari situlah hidup Aurelia yang biasa tenang seketika berubah.
Bagaimana kisah selanjutnya, yuk baca. Obsesi gila Grayson.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jumarlin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Suasana di ruang tamu keluarga Bayu seketika membeku. Kata-kata ancaman yang baru saja dilontarkan Grayson menggantung di udara, begitu pekat dan penuh tekanan, membuat napas siapa pun di ruangan itu terasa berat.
Bayu, yang selama ini dikenal sebagai pria sabar dan dihormati di lingkungan kelurahan, merasakan darahnya mendidih. Harga dirinya sebagai seorang ayah diinjak-injak di dalam rumahnya sendiri oleh seorang remaja asing yang bersikap arogan dan tidak tahu sopan santun.
"Cukup!" bentak Bayu dengan suara baritonnya yang menggelegar, sarat akan kemurkaan yang tertahan. Pria paruh baya itu menunjuk pintu keluar dengan tangan bergetar hebat. "Keluar kamu dari rumah saya! Pergi sekarang sebelum saya panggil keamanan lingkungan!"
Grayson sama sekali tidak menunjukkan rasa gentar sedikit pun. Alih-alih mundur, pemuda itu justru terkekeh pelan—sebuah tawa dingin yang terdengar begitu merendahkan. Bola mata amber-nya menyapu wajah Bayu dan Lila bergantian, sebelum akhirnya kembali terkunci pada sosok Aurelia yang gemetar ketakutan di balik punggung ayahnya.
"Baik, Om. Saya pergi," ucap Grayson tenang, seolah ancaman barusan hanyalah obrolan ringan sore hari. "Tapi ingat apa yang saya bilang tadi. Tidak ada yang bisa mengubah takdir itu."
Dengan langkah santai yang terkesan menantang, Grayson membalikkan badan, berjalan keluar melewati pintu utama yang terbuka lebar tanpa mengucapkan salam, lalu meninggalkan halaman rumah sederhana itu menuju mobilnya yang terparkir di ujung jalan.
Brummm!
Suara mesin mobil sport itu meraung keras, memecah kesunyian sore sebelum akhirnya melesat pergi menjauh dari kawasan perumahan tersebut.
Begitu bayangan mobil itu menghilang, pertahanan Aurelia runtuh seketika. Kakinya lemas, membuat ia hampir terduduk di lantai jika saja Lila tidak dengan sigap menangkap tubuh putrinya yang bergetar hebat.
"Aurelia! Ya Allah, Nak... kamu tidak apa-apa?" panik Lila, memeluk erat putrinya sementara air mata kecemasan mulai menetes di pipinya. "Siapa sebenarnya anak itu? Kenapa dia bisa berbuat nekat seperti itu ke rumah kita?"
Aurelia membenamkan wajahnya di pelukan sang ibu, menangis sejadi-jadinya. Ketakutan yang selama ini ia pendam akhirnya meledak. "Ma... Maafkan Aurelia... Aurelia nggak tahu kalau dia bakal senekat ini datang ke rumah..."
Bayu mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Rahangnya mengetat keras. Sebagai seorang ayah, melihat putri satu-satunya diteror dan diancam di rumah sendiri adalah pukulan terberat dalam hidupnya. Ia berjongkok, mengelus pundak putrinya dengan penuh kasih sayang meskipun tatapan matanya masih menyiratkan amarah yang menyala-nyala.
"Dengarkan Papa, Aurelia," suara Bayu terdengar tegas namun menenangkan. "Kamu tidak salah apa-apa. Tapi mulai besok, kamu tidak boleh berangkat sendiri lagi. Papa atau pihak sekolah harus tahu kelakuan anak itu. Kita tidak boleh tinggal diam."
Aurelia mengangguk lemah di dalam pelukan kedua orang tuanya. Ia menyadari satu hal yang jauh lebih menakutkan dari apa pun: Grayson bukanlah sekadar anak bandel biasa. Pemuda itu benar-benar terobsesi, dan ancaman itu bukanlah gertakan semata.
Keesokan paginya, matahari terbit dengan sinar yang cerah, namun tidak bagi Aurelia. Gadis itu melangkah memasuki gerbang SMA Tunas Bangsa dengan perasaan was-was yang luar biasa. Setiap sudut koridor, setiap bayangan pohon, dan setiap langkah kaki di sekitarnya terasa begitu mencurigakan.
Ia bahkan menolak tawaran Galang untuk berangkat bersama pagi ini karena takut keselamatan ketua OSIS itu benar-benar terancam oleh kemarahan Grayson.
Sesampainya di kelas XI-IPS 2, suasana tampak seperti biasa. Aluna dan Aruna langsung menyambutnya dengan wajah cemas begitu mendengar berita simpang siur tentang kejadian kemarin sore dari anak-anak lain—meskipun detail pastinya belum tersebar luas.
"Li, kamu beneran nggak apa-apa kan? Sumpah, muka kamu pucat banget!" seru Aluna khawatir, memegang tangan Aurelia yang terasa dingin.
"Aku takut, Lun..." bisik Aurelia dengan suara bergetar, menceritakan secara garis besar bagaimana Grayson nekat mendatangi rumahnya dan mengancam keluarganya serta Galang.
Mendengar cerita itu, Aluna dan Aruna membelalakkan mata tidak percaya. "Ya ampun! Itu mah udah bukan obsesi lagi, Li, itu kriminal! Kita harus lapor ke guru BK atau kepala sekolah sekarang juga!" ajak Aruna panik.
Sebelum Aurelia sempat menjawab, pintu kelas terbuka dengan kasar.
Seluruh isi kelas mendadak terdiam seketika.
Grayson Balindra melangkah masuk ke dalam ruangan. Penampilannya tampak sama seperti biasa—acuh tak acuh dengan sorot mata amber yang tajam dan mematikan. Namun, begitu ia menginjakkan kaki di dalam kelas, pandangannya langsung tertuju lurus ke arah meja Aurelia di pojok belakang.
Tanpa mempedulikan tatapan ngeri dari anak-anak sekelas, Grayson berjalan lurus menghampiri meja Aurelia. Ia berdiri tepat di hadapan gadis itu, menundukkan sedikit tubuhnya, lalu meletakkan selembar kertas kecil berisi tulisan tangan di atas meja Aurelia.
Aurelia menatap kertas itu dengan napas tertahan.
Tulisan di atas kertas tersebut berbunyi:
> "Jangan coba-coba mengadu pada siapapun, Aurelia. Pilihan ada di tanganmu: tetap aman bersamaku, atau hancurkan orang-orang yang kamu sayangi."
Grayson menegakkan kembali tubuhnya, menyunggingkan senyuman miring penuh kemenangan, lalu berbisik pelan tepat di telinga Aurelia sebelum beranjak ke tempat duduknya.
"Pilihan yang sulit, bukan?" bisik Grayson dingin, meninggalkan Aurelia yang terduduk lemas dalam cengkeraman ketakutan yang semakin menyesakkan dada.