Selama tujuh malam, dia memimpikan hal buruk tentang pria yang selama ini dicintainya. Ketika hari lamaran tiba, dia memilih membatalkan perjodohan dan menjadikan Arus, pria berandal yang dibenci warga desa, sebagai alasannya.
Namun, semakin dekat dengan Arus, semakin dia menyadari bahwa pria itu tidak seperti yang orang-orang katakan. Di balik luka dan reputasinya, tersimpan kehidupan yang tak pernah dia bayangkan.
Awalnya hanya pelarian. Tapi bagaimana jika arus yang dia ikuti justru membawanya menemukan cinta yang sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CICAK rawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9
"apa ini tak terlalu mahal, cari yang biasa saja. Aku gak enak sama Tante Juita kalok maharnya semahal ini, beli kalung apa cincin aja. Gak usah satu paket" balas Alya.
"tadi aku Dateng ke salah satu toko, dan satpamnya meragukan uangku, jadi aku memilih pindah ke toko lain...!" tegas arus.
Brak....
Seketika hp Alya jatuh dari tangan...
"ada apa ly" tanya suci yang ada di sampingnya.
Alya menggeleng, ia mengambil hp nya kembali.
"enggak, cuma gak sengaja jatuh" dustanya.
baru di pesan saja, Alya sudah merasa takut dengan ancaman itu. Bahkan dia sampai tak bisa membayangkan jika mereka telah menikah.
Mungkin Alya akan di kubur hidup-hidup, batinnya.
namun walaupun begitu alya tetap membalas pesan dari arus.
"yang ini aja" balasnya mengirim salah satu gambar dari yang arus suruh.
Dengan mudahnya arus membayar lalu pergi, dia tak peduli akan kekaguman beberapa orang yang melihat kartu hitam miliknya.
setelah pulang Alya memilih membantu orang tuanya membungkus beberapa keripik singkong, sejak ayahnya kecelakaan dalam bekerja. keluarga Alya memilih untuk memanfaatkan kebun singkong peninggalan kakeknya.
dengan mengolah menjadi kripik singkong, keluarga Alya mendapatkan penghasilan dari menitipkan keripik singkong melalui warung-warung yang ada di desa.
syukurnya belakangan ini kripik-kripik yang mereka titipkan lumayan laris, walau penghasilannya tak besar tapi keluarga Alya juga mau memperkerjakan beberapa orang hitung-hitung membantu keuangan tetangga mereka. Sekaligus memenuhi permintaan pasar.
"eh ly.... ibu dengar bulan depan kamu mau nikah sama Arus ya" tanya salah satu pekerja yang sekaligus tetangganya.
Alya hanya tersenyum untuk menjawab pertanyaanmu ibu ibu ibu.
sebenarnya Alya bingung, tak sedikit orang yang menganggap kalau arus akan romantis saat berdua dengan Alya.
bahkan Alya sendiri tak tahu, dari mana orang-orang ini tahu kalau arus akan romantis saat berdua dengannya.
pendapat ini benar-benar tak berdasar menurutnya, padahal dia sendiri masih takut saat bertemu dengan arus.
sedangkan sifat arus sendiri daripada romantis lebih ke menyeramkan menurutnya.
"halo ibu-ibu..."sapa seseorang.
Alya menoleh ke sumber suara.
"Laras... buat apa dia ke sini" batin Alya.
"eh ini guru baru itu ya..." siapa ibu-ibu yang sedang bekerja.
karena pengerjaan keripik singkong ada di luar ruangan jadi Laras bisa dengan mudah mampir.
"iya Bu.... perkenalkan aku Laras guru baru di TK.."
"oh iya nak Laras duduk dulu maaf tempatnya agak sempit" sapa ibu Alya.
"nggak nggak papa kok Bu..."
Laras benar-benar duduk salah satu tempat duduk yang ada.
"oh iya ini ibunya Alya ya..."
"iya oh iya nak Laras kan temen satu yayasan sama Alya ya..."
Alya yang melihat keramahan Laras ia tak heran, di dalam mimpinya pun begini. justru karena keramahannya inilah Dia mudah memanipulasi orang dan membuat Alya yang tampak salah di mata semua orang.
Berhari hari ini terus terulang, hampir setiap hari Laras datang dan mengajak ibu ibu berbicara.
Bahkan Alya sampai bingung, karena Laras benar benar terlihat dekat dengan warga seakan mereka sudah kenal bertahun tahun.
Saat hari h pernikahan Anhar dan Lia akhirnya tiba.
Selama ini tak ada masalah apapun yang terjadi, hanya arus yang tak pernah terlihat seperti biasa.
Baru hari ini, arus terlihat berjalan bersama keluarganya.
Alya melihat dari jauh sampai bergidik, ada saja gadis yang berani mendekatinya.
Walau Alya tak tau apa yang mereka katakan, tapi Alya bisa mengerti dari melihat ekspresi wajah para gadis itu setelah mendekat.
Saat acara berlangsung, larang datang menghampiri Alya dan suci yang tengah duduk.
walau tak berbicara, dan hanya duduk di sebelahnya. hawa tak enak sudah di rasakan oleh Alya.
bahkan sampai akhir acara pun, Alya tetap hanya berbincang bincang dengan suci.
Sedangkan Laras masih hanya diam, namun karena rumah suci dan Alya berlawanan arah. Jadi mereka berpisah.
sedangkan kini Alya hanya berjalan berdua bersama Laras.
" Kemarin aku bawaan ini dari kota, ku denger kamu bulan depan kan mau nikah juga. Jadi aku bawain ini, ini sejenis sunscreen cuma dari bahan herbal. Ini gak cuma melindungi dari sinar matahari hari tapi ada kandungan yang ngecerahin juga, ini pas banget untuk kamu yang mau nikah biar mulus saat acara." ungkap Laras..
Alya menatap botol di tangan Laras, memang tak terlihat mencurigakan bahkan ada beberapa tanaman herbal di dalam botol.
namun Alya tetap menggeleng.
"gak usah, kemarin aku baru aja beli sunscreen. nanti malah gak kepakek yang ku beli"
"kenapa gak mau, ini bener bener bagus. Aku juga pakek setiap hari."
Alya yang memang dasarnya gak enakkan bingung mau menolak bagai mana.
"apa kau gak ngerti bahasa manusia" ucap seseorang.
Keduanya menoleh, melihat arus yang mendekat. melihat ini Alya sedikit lega, walau tak tau benda itu berbahaya atau tidak. Tapi setidaknya lebih baik mencegah dari pada mengobati.
"ini...." Laras pura pura tak tau.
"gak usah tau siapa aku, lebih baik pergi...!" ucap arus dengan dingin.
"rus..." tegur Alya.
Walau ia benci dengan Laras, tapi perkataan arus terdengar sangat kasar.
Ia takut ini akan menambah penilaian kepada arus semakin buruk.
"pulang, lain kali jangan mau di ajak ngomong kalo gak nyaman" tegas arus.
Melihat ketegasan arus ini, Alya tak berani berkata apapun lagi. Ia hanya menurut dan pulang.
"eh Alya, beneran gak mau...? Aku berniat baik Lo"
"gak usah sok polos.... Jangan pikir aku bodoh, sampai aku ngelihat ini kejadian lagi. Aku gak akan segan, bahkan orang di belakangmu akan ikut kena" tegas arus yang berlalu pergi.
Alya yang sudah berjalan menjauh masih, bisa mendengar perkataan arus ini. Dia bingung apa maksud arus.
Alya hanya tau kalau Laras membencinya karena Laras menyukai Bagas, itupun dia tau dari mimpinya.
Sedangkan apa yang di katakan arus ini sepertinya tak ada sangkut pautnya dengan Bagas.
Saat sampai di rumah, arus menghubungi temannya lewat ponsel.
"bagaimana... Apa sudah menemukan orang di belakang wanita itu" tanya arus..
Setelah kejadian kamera kemarin, arus terus mencari dalangnya.
Dan entah dari mana, arus bisa tau kalau itu perbuatan Laras.
Tapi meskipun begitu, arus tak bisa mencari keberadaan orang di belakang Laras.
"tak ada petunjuk..." jawab orang di sebrang telefon.
"apa kau sudah menyelidiki tentang putri...?" tanya arus.
"sudah, selama ini tak ada pergerakan yang mencurigakan. Bahkan nomor yang Laras hubungi setelah kejadian, tak bisa di lacak pemiliknya. Bahkan nomor itu seakan tak terdaftar"
"terus selidiki, aku tak mau ada orang yang celaka karenaku"
"tapi tuan, bukankah itu belum pasti karena anda"
"memang kita belum bisa memastikan, tapi hal ini terjadi setelah Alya menjadi calon istriku, jadi jangan pernah lengah"