NovelToon NovelToon
Jejak Kelima : Gerbang Rimba

Jejak Kelima : Gerbang Rimba

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Petualangan
Popularitas:304
Nilai: 5
Nama Author: Narishea

Lima sahabat Pramuka Penegak — Bima, Arga, Gilang, Maira, dan Elina— masuk ke Rimba Larangan hanya untuk mencari jejak yang hilang.

Satu langkah salah, mereka terperosok ke dimensi lain yang tak terlihat.

Saat Elina tiba-tiba hilang tanpa jejak, Maira panik dan berteriak memanggil namanya sekeras-kerasnya.

Itulah kesalahan fatal mereka.

Teriakan itu membangunkannya.
BHAYAVEDIN — makhluk buta Sang Perasa Takut yang memburu setiap suara. Semakin keras mereka berteriak, semakin dekat ia datang.

Kini mereka terjebak dalam aturan mengerikan: dilarang bersuara.

Dengan satu teman hilang di dalam kabut dan makhluk itu yang terus memburu, satu-satunya cara pulang adalah memecahkan kode rumit di Gerbang Kelima.

Tapi bagaimana memecahkan kode saat kau bahkan dilarang untuk berteriak meminta tolong?

Berhasilkah mereka keluar??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Narishea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 1 : Hutan Larangan

H-1 LOMBA - 16.00 WIB - Basecamp

"WOY! YANG BAWA KOMPOR SIAPA?!"

Teriakan Bima pecah di antara deru bus kampus yang baru sampai. Di depannya, hutan jati itu menganga hijau gelap, rimbun, dan biasa saja. Tidak ada yang seram.

Maira turun dari bus sambil nyeret carrier 60 liter yang hampir sama besar dengan badannya. "Berisik banget lo jadi ketua regu! Kompor di gue! Elina bawa nesting!"

Regu mereka berlima: Bima si ketua regu yang sok cool, Maira si wakil yang cerewet tapi paling peduli, Elina si paling kecil yang manja, Arga si anak Mapala yang hafal jalur, dan Gilang si beban yang ikut karena disuruh pacarnya, Elina.

Lomba lintas alam antar fakultas ini hadiahnya besar. Beasiswa satu semester. Makanya 20 regu dari kampus ikut.

Panitia dari pihak kampus, Kak Dion, berdiri di depan dengan TOA. "OKE SEMUA! SELAMAT DATANG DI HUTAN WANA LESTARI! Atau yang warga sini sebut... Hutan Larangan!"

Begitu nama itu disebut, beberapa warga lokal yang lagi nongkrong di warung basecamp langsung saling lihat dan mengecilkan suara.

Seorang bapak tua penjaga pos hutan maju. Wajahnya keras termakan matahari. Dia tidak senyum sama sekali.

"Nak, dengerin bapak ya. Hutan ini ada aturannya. Nanti kalau di dalam, kalau kalian denger ada yang manggil nama kalian dari arah pohon besar, jangan dijawab. Jangan dilihat. Terus jalan aja. Jangan berhenti."

Suasana jadi canggung.

Bima yang ingin terlihat berani di depan adik-adiknya langsung ketawa kenceng buat cairin suasana. "Siap, Pak! Kalau yang manggil Mba Kunti cantik boleh dijawab gak, Pak?"

Teman-teman regu lain ikut ketawa. Bapak tua itu tidak ketawa. Dia hanya menatap Bima lama, lalu menunjuk ke plang kayu besar bertuliskan "WANA LESTARI" yang catnya sudah mengelupas. Di balik cat itu, terlihat ukiran tulisan lama yang ditutup cat dengan sengaja: "DILARANG MASUK - BHAYAVEDIN".

"Jangan hapus catnya. Jangan baca tulisannya. Anggap aja kalian gak lihat," kata bapak itu pelan, lalu pergi meninggalkan basecamp.

Maira yang melihat ukiran itu sempat merinding, tapi dia tepuk bahu Elina, "Udah, paling mitos biar gak ada yang buang sampah sembarangan atau nebang liar kali. Biar hutannya awet."

Arga yang memang anak gunung malah santai, "Iya, palingan monster pohon itu cuma pohon beringin gede yang akarnya kayak muka. Warga sini nakut-nakutin biar hutannya gak ditebang. Teknik konservasi jaman dulu."

Mereka semua menganggap enteng. Karena hutan di depan mereka memang terlihat normal. Pohon jati, pohon pinus, jalan setapak jelas, bahkan ada sinyal HP 2 bar.

Malam itu, mereka mendirikan tenda di basecamp. Semua regu lain bersenda gurau. Ada yang main gitar, ada yang main kartu. Bima, Maira, Elina, Arga, Gilang satu tenda. Mereka masak mie, rebus air, cerita horor palsu buat nakut-nakutin Elina. Elina yang penakut malah ketawa-ketawa.

Tidak ada yang aneh. Angin normal, suara jangkrik normal, bahkan bintang terlihat jelas.

Sampai tengah malam, saat Maira keluar tenda mau ke toilet, dia melihat sesuatu.

Di ujung hutan, di batas antara basecamp dan jalan masuk ke pos 1, berdiri seorang anak Pramuka. Seragamnya lusuh, tidak pakai hasduk. Anak itu berdiri diam membelakangi Maira, menatap ke dalam hutan.

Maira mengira itu peserta lain yang kesasar. "Kak? Kok belum tidur?"

Anak itu tidak menjawab. Pelan-pelan, dia menoleh. Wajahnya kosong. Tidak ada mata, hanya cekungan hitam. Dan di wajahnya ada lubang-lubang kecil yang membuka-tutup.

Maira mau teriak, tapi anak itu sudah hilang. Seperti kabut tertiup angin.

Maira menganggap dia ngantuk dan halu karena kecapekan di bus. Dia balik ke tenda dan tidur.

HARI H LOMBA - 07.00 WIB - START

Peluit dibunyikan. 20 regu mulai masuk hutan.

Jalur lomba lintas alam itu jelas: ada 5 pos. Pos 1 sampai 3 masih di hutan normal, pos 4 dan 5 adalah pos uji nyali di hutan yang lebih dalam.

Regu Bima jalan santai.

*Pos 1 - Pohon Pinus Kembar (08.15 WIB)*

Normal. Panitia jaga, kasih stempel, kasih soal sandi morse. Mereka jawab dengan mudah. Hutan masih terang, burung masih berkicau, bahkan mereka ketemu monyet.

"Katanya hutan larangan, gini doang," ledek Bima.

*Pos 2 - Sungai Kecil (10.30 WIB)*

Normal juga. Mereka harus menyeberang sungai selebar 3 meter dengan tali. Airnya jernih, dingin. Gilang malah sempat berenang. Elina dan Maira foto-foto. Tidak ada yang aneh, kecuali... air sungai itu tidak mengalir ke mana-mana. Airnya diam. Seperti di dalam kolam. Tapi Arga tidak terlalu peduli, dia pikir mungkin bendungan alami.

*Pos 3 - Bukit Pandang (12.45 WIB)*

Ini pos makan siang. Dari sini terlihat seluruh hutan. Hutan terlihat hijau, luas, normal. Panitia pos 3, Kak Dion, bahkan masih bisa live Instagram.

"Gimana jalur ke pos 4?" tanya Arga.

Kak Dion menunjuk ke bawah bukit. Ada jalan setapak yang agak tertutup semak, menurun curam. "Lurus aja turun, ikutin pita kuning yang udah kita pasang. Jangan belok ke kiri, kiri itu jurang. Pos 4 ada di bawah pohon beringin raksasa, gak bakal kelewat."

Mereka makan, sholat, istirahat. Semua masih ketawa.

Jam 13.30, mereka lanjut jalan menuju pos 4.

Awalnya jalan setapak itu masih ada. Pita kuning panitia masih terlihat jelas diikat di pohon. Satu, dua, tiga pita.

Tapi semakin turun, hutan berubah.

Pohon jati dan pinus yang tadi tinggi dan berjarak, sekarang jadi pohon-pohon aneh yang batangnya hitam, daunnya lebar-lebar, dan jaraknya rapat sekali. Sampai cahaya matahari yang tadinya terik, sekarang tidak bisa masuk. Hutan jadi redup seperti jam 5 sore, padahal baru jam 2 siang.

Suara jangkrik hilang. Suara burung hilang. Yang ada hanya suara langkah kaki mereka sendiri yang terdengar terlalu keras.

Sinyal HP Arga yang tadinya 2 bar, langsung hilang. Kompas Arga yang tadinya menunjuk utara, sekarang berputar pelan... berputar... berputar terus.

"Pita kuningnya mana?" Elina tiba-tiba berhenti.

Mereka melihat ke depan. Jalan setapak yang tadi jelas, sekarang hilang. Tertutup akar. Pita kuning terakhir yang mereka lihat ada 50 meter di belakang. Di depan mereka, tidak ada pita lagi.

Hanya ada satu pohon.

Pohon beringin raksasa. Akarnya menggantung sampai ke tanah seperti tirai. Batangnya sebesar rumah. Dan di tengah batang pohon itu, ada celah yang menganga. Celah itu tidak seperti lubang pohon biasa. Celah itu berbentuk pintu. Pintu kayu tua yang tumbuh menyatu dengan pohon.

Di atas pintu itu, ada ukiran yang sama seperti di plang basecamp tadi, tapi kali ini tidak ditutup cat. Tulisannya jelas, diukir dalam dengan goresan kuku yang sudah menghitam:

*GERBANG KELIMA - BHAYAVEDIN*

Dan dari dalam celah pintu itu, keluar kabut tipis. Kabut itu berbisik. Berbisik memanggil nama mereka satu per satu.

"Bima... Maira... Elina..."

Bukan suara anak Pramuka kosong yang Maira lihat semalam. Tapi suara Kak Dion, panitia yang ada di pos 3 tadi.

Mereka berlima saling tatap. Baru sekarang mereka sadar.

Mereka tidak sedang menuju pos 4.

Mereka sudah masuk ke dimensi lain. Dan pos 4 yang dimaksud panitia... bukanlah pos lomba. Tapi pos milik hutan itu sendiri.

Elina yang paling depan, kakinya kesandung akar. Dia jatuh, tangannya menyentuh pintu kayu itu.

Dan pintu itu... terbuka sedikit dengan sendirinya.

***

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!