NovelToon NovelToon
Danu, Kejarlah Aku

Danu, Kejarlah Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Dokter / Diam-Diam Cinta
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Puji170

"Kamu yang menginginkan pernikahan ini. Jadi jangan salahkan aku setelah aku tidur denganmu. Besok aku akan menikah dengan wanita yang aku cintai!"

Kalimat itu bagaikan petir yang menyambar hatiku. Ijab kabul baru saja dilontarkan oleh lelaki yang kucintai sejak dulu, Danu Saliyo.

Aku tidak pernah menyangka, menjadi istrinya justru membuatku harus berbagi suami dengan wanita yang dicintainya.
Hingga akhirnya aku memilih berhenti mencintai Danu.

Namun, semua tak berjalan sesuai keinginanku, sekarang waktunya ia mengejarku.

Bagaimana cerita selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Aku terpaku. Napasku tertahan sejenak saat menyaksikan adegan yang terasa seperti drama hidup yang tidak pernah kubayangkan akan kulihat secara langsung. Belinda tampak panik, wajahnya memucat saat pria itu berbicara dengan nada mengancam. Di tengah hiruk-pikuk UGD, suasana di sekitar kami terasa membeku, hanya menyisakan ketegangan yang membuatku semakin penasaran.

“Dinda, ayo,” panggil Siska, membuyarkan lamunanku.

Namun, langkahku tertahan. Aku tidak bisa begitu saja mengabaikan apa yang baru saja kulihat. Dengan tekad bulat, aku mendekat meskipun naluriku justru menyuruh untuk menjauh.

“Ada masalah di sini?” tanyaku datar sambil melemparkan tatapan tajam pada pria itu.

Belinda tersentak, seolah baru menyadari keberadaanku. “Tidak... ini hanya salah paham. Kamu tidak perlu ikut campur,” katanya tergagap dengan suara yang bergetar.

Pria itu mendengus, kemudian menatapku dari ujung kepala hingga kaki. “Kamu siapa? Jangan sok pahlawan di sini. Ini urusan kami,” katanya sinis.

Aku menahan napas, tidak tergoyahkan oleh nada meremehkan pria itu. Namun, yang membuatku semakin gelisah adalah ekspresi Belinda. Wanita yang biasanya angkuh itu kini terlihat begitu rapuh dan takut.

“Saya dokter di sini, dan saya tidak bisa membiarkan pasien membuat masalah ataupun tertekan. Jika Anda tidak bekerja sama, saya akan memanggil keamanan,” ujarku tegas, tetapi tetap terkendali.

Pria itu tampak ingin membalas, tetapi Belinda buru-buru menarik lengannya. “Sudah cukup! Pergi dari sini sebelum masalah ini makin besar,” desaknya panik.

Tatapanku beralih dari pria itu lalu Belinda, dan kembali lagi. Dari sikap keduanya, jelas ada sesuatu yang membuatku semakin curiga.

“Tunggu,” cegahku ketika pria itu hendak pergi. “Anda pasien di sini, dan luka di dahi Anda perlu diperiksa. Anda tidak bisa pergi begitu saja.”

“Dinda, tidak usah,” potong Belinda cepat. “Dia baik-baik saja. Kalau ada apa-apa, dia bisa pergi ke rumah sakit lain.”

“Tapi...”

“Sudahlah! Beri dia surat pulang sekarang,” desak Belinda lagi, kali ini dengan nada lebih tegas. Kegelisahan terlihat jelas dari sorot matanya.

Aku memandang Roger, yang namanya kuketahui dari daftar pasien, kemudian kembali menatap Belinda. “Belinda, luka di dahinya bisa menyebabkan komplikasi. Kalau terjadi sesuatu, ini tanggung jawab kita.”

“Dia bukan tanggung jawabmu,” balas Belinda dingin, seolah ingin segera mengakhiri pembicaraan.

Roger yang sejak tadi diam akhirnya berkata dengan nada rendah, “Aku bisa urus diriku sendiri.”

Namun, tangannya masih memegangi dahi. Dari gerakannya saja, aku bisa melihat kalau rasa sakit itu belum benar-benar hilang.

Aku menghela napas panjang, berusaha menahan emosi. “Sebagai dokter, saya tidak bisa membiarkan pasien pergi tanpa pemeriksaan yang layak. Kalau kamu tetap memaksa, saya akan mencatat ini sebagai tindakan pasien yang menolak perawatan medis.”

Belinda mendekatiku, lalu berbicara pelan, tetapi penuh tekanan. “Tolong jangan buat ini semakin rumit. Kamu tidak mengerti.”

Aku menatapnya dalam. Ada sesuatu yang jelas sedang disembunyikannya, tetapi aku tidak tahu apa. Meski hatiku masih merasa tidak nyaman, akhirnya aku melangkah mundur dan memberikan ruang bagi mereka.

Setelah Roger pergi, suasana di sekitar kami kembali seperti semula. Aku mendekati Belinda.

“Kamu nggak kasihan sama dia? Kalau terjadi sesuatu, bagaimana?”

Belinda menatapku dengan wajah yang sulit kuartikan. “Dia tidak butuh bantuanmu, Dinda. Jaga urusanmu sendiri,” ujarnya dingin sebelum berbalik meninggalkanku.

Siska muncul di sampingku sambil membawa catatan pasien baru. “Kamu selalu peduli, Dinda. Tapi sepertinya dia nggak mau bantuanmu,” katanya dengan nada prihatin.

Aku hanya tersenyum lemah. “Mungkin aku hanya terlalu keras kepala,” jawabku pelan, lalu beranjak menuju pasien berikutnya meskipun pikiranku masih tertuju pada Roger dan Belinda.

***

Setelah jam kerja selesai, aku pulang ke rumah. Aku menarik napas dalam-dalam saat kakiku menginjak halaman megah rumah itu. Terkadang, aku merasa ingin lari dari semuanya dan menghabiskan sisa hidupku di rumah sakit saja, tanpa harus terlibat dalam drama rumah tangga yang semakin rumit.

“Kak Dinda.”

Suara merdu dan sedikit menggoda itu tentu saja milik Ghina, adik iparku.

Aku tersenyum dan mendekatinya. “Kenapa, Gin?” tanyaku.

“Kakak sepertinya punya banyak masalah. Kenapa nggak cerita sama aku?” Ghina berkata dengan nada lembut, mencoba mengorek lebih dalam.

“Bukan kakak yang banyak masalah, tapi sepertinya kamu.” Aku memutarbalikkan ucapan Ghina karena pada dasarnya aku selalu memilih untuk menyimpan masalahku sendiri.

“Kakak selalu begitu,” jawab Ghina kecewa, tetapi masih mencoba dengan cara lain. “Baiklah, kalau gitu, mau nggak nemenin aku sebentar?”

Aku berpikir sejenak. Meskipun belum tahu ke mana Ghina akan membawaku, menemani adik iparku ini rasanya jauh lebih baik daripada buru-buru masuk ke dalam rumah.

“Oke, ayo,” jawabku akhirnya.

Ghina tersenyum lebar, tampak senang karena berhasil mengajakku pergi. Namun, baru saja kami melangkah, suara deru mobil terdengar mendekat. Tidak lama kemudian, mobil itu berhenti dan Danu keluar bersama Belinda.

Dahiku berkerut saat melihat Belinda. Barusan, dengan jelas aku melihat maduku itu sedang bersama seorang lelaki yang terluka. Aku masih ingin tahu bagaimana kondisi lelaki tadi, tetapi sebelum sempat membuka suara, Belinda sudah lebih dulu menyapa.

“Ghina, Dinda, kalian mau ke mana?” tanya Belinda dengan nada yang terdengar tidak terlalu ramah.

“Bukan urusan Kakak,” jawab Ghina ketus, seolah ingin menegaskan batasannya.

Aku terdiam sejenak karena suasana di antara mereka tiba-tiba terasa canggung. Namun, aku memilih untuk tidak ikut campur.

Belinda kemudian menatap Danu dan memasang wajah yang terlihat sedih. “Sayang, adik kamu sepertinya memang tidak pernah menyukaiku. Aku harus bagaimana agar dia tidak terus bersikap ketus padaku? Padahal aku ini juga kakak iparnya.”

Danu mengelus tangan Belinda. “Semua akan baik-baik saja,” katanya lembut. Setelah itu, pandangannya beralih pada Ghina.

“Ghina, sebagai adik, seharusnya kamu tidak pilih-pilih kakak ipar. Kakak tidak suka kalau kamu bersikap seperti ini!”

“Tapi Kak Danu kan tahu, aku sejak dulu memang cuma menyukai Kak Dinda. Untuk dia... aku memang tidak suka,” jawab Ghina terang-terangan.

Belinda terdiam sebentar. Wajahnya tampak berubah, tetapi beberapa detik kemudian dia kembali memasang ekspresi sedih.

“Ghina, aku nggak pernah tahu apa kesalahan yang sudah aku perbuat hingga kamu membenciku.”

Ghina tidak langsung menjawab. Danu kembali angkat bicara dengan suara lembut.

“Ghina, kalaupun kamu merasa membenci Belinda tanpa alasan, ingatlah, dia sekarang sudah jadi kakak iparmu. Berikan dia kesempatan untuk menunjukkan kalau dia juga menyayangimu.”

Aku hanya diam mendengarkan percakapan mereka. Ghina tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya tersenyum.

“Baiklah, aku akan memberikan dia kesempatan. Malam ini, aku akan mengajaknya pergi menemui teman-temanku. Bagaimana?”

Belinda terdiam. Dari perubahan ekspresinya, aku bisa melihat dia tidak menyangka akan mendapat tawaran seperti itu.

Sebelum Belinda menjawab, Danu justru melangkah sedikit lebih dekat dengan tatapan tajam kepada Ghina.

“Kamu yakin ingin pergi malam ini dan mengajak Belinda, Ghina?” tanyanya. Suaranya terdengar tegas.

Ghina hanya tersenyum misterius. “Tentu, Kak Danu. Apa tidak boleh? Kalaupun iya, aku bisa pergi dengan Kak Dinda. Karena dia kakak iparku yang paling bisa mengerti aku.”

Aku yang sejak tadi hanya diam menyimak mulai merasakan ketegangan yang menggantung di udara. Entah apa yang sedang direncanakan Ghina, tetapi dari senyum misteriusnya, aku yakin adik iparku itu tidak sedang asal bicara. Aku hanya berharap rencana apa pun yang sedang ada di kepalanya tidak membuat keadaan di rumah ini semakin kacau.

1
sutiasih kasih
harusnya km brsyukur blm mnyentuh belinda ..... bisa jdi belinda sdh trjangkit pnyakit krna seringnya di celup bnyk laki".....
Mariatul
baper aku Thor. mau nangis iya, mau meledak pun iya. 😁😁
sutiasih kasih
jalang sesungguhnya siapa danu???
sutiasih kasih
double up dunk thor😘😘
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: siap kak, udah proses
total 1 replies
sutiasih kasih
10 th.... gmn klo dinda hamil ankmu danu.....
ap km g makin nyesel tuh.... sdh brp ratus kata mnyakitkn yg km tancapkn ke hati dinda...
sutiasih kasih
pede amat kau danu....
Dinda ingin tetap waras.... & tak prlu km sibuk mncarinya.... krna itu tak perlu...
smoga sja... dimasa mndatang dinda mndpt jodoh lelaki yg terbaik...
sutiasih kasih
nungguin upnya thor😘
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: ini lagi ngetik kak, sabar ya. 🤭🙏
total 1 replies
Annisa Lupiyanah
bagus ceritanya
sutiasih kasih
mksutnya.... Dinda sdh pergi dri hidupmu.... yg artinya Dinda jga sdh mnjadi mantan istrimu Danu....
sesuai yg km ktakn.... klo Dinda prgi berrti km sdh mnceraiknnya....
tak prlu kepengadilan agama.... toh km cm nikah siri sm Dinda....
sutiasih kasih
lnjut thor...
up bnyak bnyak😘😘
sutiasih kasih
lanjut up thor.... jgn lama"...
sutiasih kasih
kok lm g update...🤔🤔
sutiasih kasih
jgn dunk ghina.... jgn lgi km meminta dinda untuk mnerima danu lgi....
km.g tau kejamnya danu mmprlakikn dinda.... bhkn mulut danu tak segan mngatakn hal yg keji trhdp dinda...🙄🙄
sutiasih kasih
lanjut up bnyak" thor...😘😘
sutiasih kasih
danu.... ap yg sdh km ktakn ke dinda....
seenteng... dan segmpang itu kta keramat km ucpkn kedinda....
jgn prnh lgi km mngusik hidup dinda.... krna dinda bukan lgi bagian dri hidupmu..... krna dinda sdh km jandakn🙄🙄
Inarrr Ulfah
si ghina tau klo si belinda punya selingkuh an,, jgn2 selingkuhan si belinda. teman nya gihna🤣danu aja yg bodoh,, nanti klo dinda. pergi ke perbatasan baru nyaho
sutiasih kasih
smoga ada inisiatif dinda untuk merekam duo psangan selingkuh...
untuk dinjadikn senjata.... saat si belinda mnindasnya...
sutiasih kasih
lnjut... double up thor😘😘
sutiasih kasih
nyatanya cm tmbuh dinda yg bisa mmbuatmu bergairah danu....
mulutmu sll mnghina dinda tidak berharga..... tpi nyatanya km yg prtama mnikmatinya.....
justru belinda yg tak ada harganya.... krna sdh dinikmati laki" lain.... ntah sdh berapa ratus kali di pake...
sutiasih kasih
nungguin upnya...
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: iya kak, maaf hari ini libur dulu besok seperti biasa jam 6 baru up ya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!