Dijual oleh keluarganya demi melunasi utang, Aurora terperangkap dalam sangkar emas milik Gabriel Moretti—bos mafia paling dingin dan ditakuti di dunia bawah tanah. Meski hanya berstatus sebagai selir rahasia tanpa cincin di jarinya, Aurora menjadi satu-satunya wanita yang sanggup melunakkan kegelapan sang iblis. Di antara benturan bahayanya, ancaman musuh, dan obsesi Gabriel yang makin mengekang, Aurora harus memilih: menyerahkan hatinya secara utuh pada sang penguasa, atau bertaruh nyawa demi merebut kebebasannya kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja sastrala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5
Malam berganti tanpa ampun. Udara di dalam puri terasa makin pekat oleh atmosfer perang yang sengaja disulut oleh Gabriel. Pria itu tidak memberiku waktu untuk memproses rasa takut atau air mata yang sempat menetes sore tadi. Ia menuntut keangkuhan mutlak dariku.
Aku kembali dipaksa mengenakan gaun yang jauh lebih mencolok: gaun malam berbahan beludru warna merah anggur (*burgundy*) yang memeluk bentuk tubuh secara sempurna, dipadukan dengan kalung zamrud pekat yang terasa berat dan dingin di dadaku. Malam ini bukan sekadar jamuan makan privat, melainkan rapat darurat Dewan Tertinggi Moretti di ruang sidang bawah tanah puri—sebuah tempat yang konon katanya hanya dimasuki jika ada keputusan hidup-mati yang harus diambil.
Langkah kaki Gabriel menggelegar santai saat ia menuntun jemariku melintasi lorong berdinding batu alam. Dua puluh pengawal bersenjata lengkap berbaris di belakang kami, menciptakan ketegangan yang sanggup membuat siapa pun sesak napas.
Pintu besi ganda yang tebal terbuka lebar. Di dalam ruangan berisikan meja kayu mahoni bulat raksasa itu, sepuluh orang pria paruh baya—para tetua dan ketua fraksi kejahatan—sudah duduk melingkar. Di salah satu sudut utama, Baron Vance duduk dengan wajah tinggi hati, sementara anaknya, Isabella, berdiri anggun di belakang kursi sang ayah dengan senyum kemenangannya.
Namun, senyum Isabella langsung memudar saat melihat Gabriel melangkah masuk sambil menggenggam jemariku erat-erat.
"Gabriel," sapa salah satu tetua berambut uban, Carlo, dengan nada suara memperingatkan. "Ini adalah rapat internal Dewan. Mengapa kau membawa wanita simpananmu ke ruang suci ini?"
Gabriel tidak langsung menjawab. Ia menarik sebuah kursi mewah tepat di samping kursi kepemimpinannya, memaksaku untuk duduk di sana di hadapan seluruh tetua yang terperanjat. Pria itu kemudian duduk santai di kursinya sendiri, menyilangkan kaki, lalu menyandarkan punggungnya dengan gaya seorang raja yang berkuasa penuh.
"Ruang suci?" Gabriel tertawa pelan, sebuah tawa dingin yang membuat bulu kudukku berdiri. "Tempat ini hanyalah ruangan berkumpulnya para penakut yang mencoba mengatur hidupku dengan mengatasnamakan aliansi."
"Jaga bicaramu, *Don* Gabriel!" potong Baron Vance, menggebrak meja mahoni hingga cangkir perak di atasnya bergetar. "Kami di sini untuk membahas masa depan aliansi kita! Pernikahanmu dengan Isabella adalah keputusan resmi dewan sejak dua tahun lalu. Kau tidak bisa terus-menerus menundanya hanya demi seorang selir tanpa asal-usul!"
Aku mengepalkan tangan di balik lipatan gaunku, merasakan puluhan pasang mata penuh kebencian dan cemooh mengarah padaku. Isabella menatapku seolah aku adalah serangga kecil yang siap diinjak.
Gabriel mengambil pemotong cerutu di atas meja, menyalakan batang tembakaunya dengan gerakan lambat yang menyiksa kesabaran semua orang di ruangan itu. Hembusan asap tipis keluar dari bibirnya, membumbung di udara remang-remang.
"Pernikahan?" gumam Gabriel santai. "Aku tidak pernah menyetujui aliansi itu, Vance. Ayahku yang menyetujuinya, dan dia sudah mati. Di organisasi ini, kata-kataku adalah hukum."
"Kau melanggar tradisi Moretti demi wanita murahan ini?!" bentak Vance seraya menunjuk wajahku dengan telunjuknya yang gemetar karena amarah.
Seketika itu juga, atmosfer di dalam ruangan membeku.
Dalam kelebatan gerakan yang bahkan tak sempat ditangkap oleh mata telanjang, Gabriel sudah berdiri. Suara letupan peluru dari senjata berperedam meletus singkat.
*DES!*
"AAAGHH!"
Baron Vance menjerit histeris. Darah segar menyembur mendadak, membasahi meja mahoni dan dokumen rapat di depannya. Jari telunjuk pria paruh baya itu—yang baru saja digunakan untuk menunjukku—kini hancur tertembak, menyisakan luka menganga yang mengerikan.
Isabella menjerit histeris sambil memegangi ayahnya yang jatuh terduduk merintih kesakitan di lantai. Seluruh anggota dewan langsung berdiri dari kursi mereka, beberapa pengawal refleks menarik senjata, namun langsung ditahan oleh puluhan moncong senjata milik pengawal pribadi Gabriel yang mengunci kepala mereka dari belakang.
Jeritan histeris Isabella dan rintihan Vance bergema di dinding batu. Aku terduduk kaku, jantungku berdegup sangat kencang hingga kepalaku terasa pening. Darah yang menggenang di meja kayu itu berada hanya beberapa sentimeter dari tanganku.
Gabriel berdiri tegak dengan pistol hitam di tangan kanannya. Kepulan asap tipis masih keluar dari ujung moncong senjata itu. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan emosi—dingin, kejam, dan sama sekali tak tersentuh oleh penyesalan.
"Jari itu," ucap Gabriel pelan, namun suaranya merayap ke setiap sudut ruangan bagai ancaman dari pencabut nyawa, "telah melanggar batas. Tidak ada yang boleh menunjuk atau merendahkan wanita yang berada di sampingku."
Pria itu melangkah perlahan mengitari meja, menginjak genangan darah tanpa peduli, lalu berhenti di hadapan Baron Vance yang merintih memegangi tangannya yang hancur. Gabriel menunduk, mengarahkan moncong pistolnya yang panas tepat ke dahi ayah Isabella itu.
"Gabriel! Aku mohon! Ayahku!" jerit Isabella sambil berlutut menangis di kaki Gabriel, keangkuhan gaun putih gadingnya kini hancur berkeping-keping di atas lantai yang ternoda darah.
Gabriel bahkan tidak menatap Isabella. Matanya yang sehitam jelaga tetap terkunci pada Baron Vance.
"Kau berpikir bisa melenyapkan Aurora di sungai setelah aliansi ini terjadi, Vance?" bisik Gabriel, membocorkan percakapan rahasia yang didengar di taman tadi siang. "Kau pikir aku tidak mendengar rencana busukmu?"
Wajah Vance seketika berubah pucat pasi, mengalahkan rasa sakit pada jarinya. Pria itu menyadari bahwa Gabriel tahu segalanya.
"Mulai detik ini," lanjut Gabriel dengan suara lantang yang mengintimidasi seluruh tetua dewan yang berdiri gemetar, "aliansi dengan keluarga Vance dibatalkan secara sepihak. Seluruh wilayah dagang mereka di sektor barat disita atas nama kepemimpinanku. Siapa pun di antara kalian yang mencoba menyentuh atau merencanakan sesuatu terhadap Aurora..."
Gabriel menatap para tetua satu per satu dengan sorot mata yang penuh kegilaan murni. "...akan bernasib lebih buruk daripada pria ini."
Ia menurunkan senjata, lalu menendang tubuh Vance hingga tersungkur di samping Isabella yang melamun histeris. Gabriel berbalik, berjalan menghampiriku yang masih terpaku tak berdaya di kursi.
Tanpa mempedulikan pandangan ketakutan dari seluruh anggota dewan, Gabriel mengulurkan tangannya yang bersih padaku.
"Mari kita kembali ke kamar, *Cara mia*," ucapnya pelan, suaranya mendadak berubah lembut—sebuah kelembutan gila yang bertolak belakang dengan pertumpahan darah yang baru saja dilakukannya.
Dengan jemari yang gemetar hebat dan napas yang tertahan, aku menyambut uluran tangannya. Gabriel menarikku berdiri, mengapit pinggangku dengan posesif, lalu menuntunku keluar dari ruang bawah tanah yang dipenuhi bau hanyir darah dan jeritan tangis.
---
Pintu kamar ganda kembali terkunci rapat.
Aku berdiri menyandar di balik pintu yang tertutup, memegangi dadaku yang naik turun tidak teratur. Kejadian di ruang bawah tanah tadi terus berputar di kepalaku. Kekejaman Gabriel, letupan senjata, darah yang menyembur ke meja... semuanya terlalu mengerikan untuk disaksikan secara langsung.
Gabriel melemparkan pistolnya ke atas meja rias dengan dentang nyaring. Pria itu berjalan mendekatiku, memperhatikan napasku yang tersengal-sengal dan wajahku yang pucat.
"Kau takut padaku?" tanyanya pelan, mengulurkan tangan untuk menyentuh pipiku.
Aku refleks memalingkan wajah, menghindar dari sentuhannya. Tangannya yang hangat terasa bertinta darah bagiku malam ini.
Tindakan penolakanku itu membuat rahang Gabriel mengeras. Tanpa peringatan, ia mencengkeram kedua bahuku dan mendorong tubuhku hingga punggungku merapat keras ke pintu jati. Gabriel mengunci tubuhku dengan bobot tubuhnya, menunduk hingga napas panasnya menyapu bibirku.
"Jangan pernah menghindar dariku, Aurora," bisiknya tajam, menyiratkan bahaya yang menuntut kepatuhan. "Aku baru saja menghancurkan salah satu aliansi terkuat di dunia ini hanya untuk memastikan tidak ada yang berani menyentuh sehelai rambutmu pun. Aku mengotori tanganku agar kau tetap aman di puri ini!"
"Kau membantai mereka demi ego dan obsesimu, Gabriel!" seruku dengan suara serak, menatap matanya yang gelap. "Kau menjadikan aku alasan untuk kekejamanmu! Sekarang seluruh keluarga mafia di kota ini akan membenciku dan menginginkan kematianku!"
"Biarkan mereka mencoba!" bentak Gabriel, suaranya menggelegar di kamar yang sunyi itu. "Akan kubantai mereka semua sebelum mereka sempat menginjakkan kaki di tangga puri ini! Kau tidak perlu takut pada siapa pun, Aurora, karena iblis paling mengerikan di kota ini ada di pihakmu!"
Ia mencengkeram tengkukku, membungkam bibirku dengan ciuman yang sarat akan amarah, kegilaan, dan rasa memiliki yang tak terobati. Ciumannya malam ini tidak lagi memiliki celah kelembutan; itu adalah luapan dari ketakutannya sendiri akan kehilangan diriku yang dibungkus dalam bentuk dominasi mutlak.
Aku berusaha mendorong dadanya, namun cengkeraman tangannya di pinggangku makin mempererat jarak kami. Lidahnya menuntut kepasrahan total, menguras sisa-sisa napas dan tenagaku sampai lututku terasa lemas.
Ketika ia akhirnya melepaskan tautan bibir kami, napasku terengah-engah. Gabriel menempelkan dahinya ke dahiku, ibu jarinya mengusap bibirku yang memerah dan basah.
"Kau milikku, Aurora," gumamnya dengan nada rendah yang amat posesif, hampir seperti sebuah mantra yang terus diulangnya. "Kau adalah selir favoritku, ratuku yang tak tertulis, dan obsesi terbesar dalam hidupku. Kau tidak akan pernah pergi dari sisiku. Bahkan jika dunia ini runtuh dan terbakar, aku akan memastikan kau tetap terbakar bersamaku."
Aku memejamkan mata, merasakan keputusasaan yang makin mengakar di dalam dadaku. Di bawah bayang-bayang sang raja mafia ini, aku sadar bahwa kebebasan hanyalah sebuah mimpi yang makin menjauh. Aku terjebak dalam lingkaran sangkar emas yang dilumuri darah dan obsesi gila—sebuah tempat di mana aku ditakdirkan untuk dicintai sekaligus dihancurkan oleh pria yang sama.