"GADIS GILA! APA KAMU NGGA PIKIRKAN MASA DEPAN KAMU?!" bentak pemuda itu sambil menarik tangan Ana.
Ana memandang dengan takut tapi ia juga merasa lega karena sebenarnya, dia tidak berniat untuk bunuh diri.
Anabella Queena Tanaya, tidak pernah menginginkan wajah yang buruk rupa dan tidak memiliki teman itupun hanya bisa putus asa di atas atap apartemen yang sering ia kunjungi ketika merasa sedih.
Dua lelaki tampan datang ke hidupnya dan semuanya berubah dengan sangat drastis. "Apa aku bermimpi?"
Tekad gadis itu ingin jadi glow up, bukan main - main. Tahap demi tahap, bahkan ia berusaha menutupi luka masa lalu di sekolahnya yang lama, berbuah manis bahkan terlalu manis.
Tapi siapa sangka dengan dirinya yang sekarang, Ana malah dibuat bimbang dengan kejadian tak terduga di sekolah barunya.
Apa Ana akan bisa tetap menjadi Ana yang glow up tanpa ada yang tahu bahwa dia sebenernya korban pembullyan??
Atau ada seseorang dari masa lalunya yang mengetahui semua tentang Ana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Berliana Febbyola, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 SUARA YANG TAK PERNAH PERGI
Setelah lama di atap apartemen, Ana tersadar kalau laki - laki itu sedang membenarkan topi lalu menepuk pelan lengannya yang sakit. Namun tatapan matanya masih tertuju pada Ana.
Gadis itu sesekali memperjelas penglihatannya yang buram karena lupa mengenakan kontak lensa.
Beranjak berdiri dan membungkuk meminta maaf tanpa suara.
"Cewek Aneh. Jangan berpikir kalau kamu mati nanti, semua masalah selesai gitu aja." Laki - laki kini tampak sangat melemah.
Seakan ia pernah ditinggal oleh seseorang dalam hidupnya dengan cara yang sama seperti Ana akan lakukan. Ana pun sedikit lebih mendekat ke arah laki - laki itu dan menjelaskan.
"Tuan.. aku-"
"Ck! Dengar baik - baik, dulu aku gagal menyelamatkan orang aku sayang, dan dari hal tersebut hanya meninggal luka mendalam dan ngga pernah selesai." timpalnya.
Ana terdiam, ia hanya bisa mengangguk pelan mengikuti laki - laki itu pergi dari atap.
"Kenapa ikut - ikutan? Bukannya, nona aneh mau loncat dari atap gedung ini?" sindirnya dengan nada yang tajam menusuk langsung ke hati mungil Ana.
"Duh, sarkas banget. Sayangnya, aku ngga bisa liat jelas mukanya. Huft!" gerutu gadis itu tak terima.
"Bisa pulang sendiri, kan?" tanya suara yang berat itu sekali lagi ketika sudah berada di parkiran.
"I-iya. Aku mau naik taxi aja, Tuan. Terima kasih banyak, tawarannya." sahut Ana.
"CK, siapa yang mau nawarin pulang bareng? Ngaco." ucapnya lalu pergi, terlihat walaupun tak begitu jelas ternyata pria itu memakai sepeda motor.
BRRRUMMM! BRRUUMMM!!
"Nasib deh... Aku harus naik taxi pulang ke rumah. Tapi, laki - laki itu suaranya terasa familiar." Ana bertanya - tanya pada dirinya sendiri.
___________________
DI RUMAH.
"Kamu darimana?" Suara dingin tajam dari wanita paruh baya yang tak lain adalah ibunya.
ROARRR!! [Imajinasi Ana ada suara macan saat melihat wajah sang ibu.]
Ana terdiam sebentar dan tersenyum seolah ia melupakan bahwa Ibunya sedang marah besar.
"Bu,, mau Ana bantu susun piring bersihnya? Sini Bu, Ibu duduk aja di sofa pasti pegel dan capek udah dari Kedai." sahutnya sambil menarik tangan Ibunya pelan agar duduk di sofa.
"Hem.. Tumben kamu nurut? Tapi darimana aja Ibu khawatir dari tadi cari kamu!"
Mendengar hal itu membuat tangan mungilnya sedang memijit pundak Mikaila, langsung terhenti.
"Ibu khawatir?" tanyanya girang dalam hati.
Ternyata mau se-garang apapun Ibunya, tetap merasa khawatir kalau anak perempuannya belum pulang.
"Kamu udah makan?"
Ana menggeleng cepat, memang sedari tadi ia lemas tidak asupan apapun ditubuhnya sejak siang tadi.
"Makan dulu baru nanti lanjut lagi susun piringnya. Ana, kita ngga akan lama tinggal disini. Maaf ibu hari ini udah bentak kamu." nada Ibu berubah terlihat lebih sedih.
"Ibu? Aku akan perbaiki nilaiku, tapi tolong jangan sedih." sahut Ana mulai melihat ke arah Ibunya yang masih duduk.
"Ah, Ibu ngga sedih. Kapan Ibu sedih. Kamu makan dulu sana, ibu akan ke kamar membereskan lemari. Setelah selesai merapihkan piring, kamu langsung tidur ya. Ingat, jangan begadang!" dengan tatapan tajam ke arah Ana, membuat gadis itu terkejut dan segera mengangguk.
__________________
Keesokan paginya, Ana sudah selesai mandi dan menghadap ke cermin. Disitu ia mulai memikirkan kalimat halusinasi di atap Apartemen itu dengan kemunculan bayangan Ana pada saat masa kecil. Dan memintanya untuk menyelesaikan masalah bukan pergi dari masalah dengan cara seperti kemarin malam.
Membuka ponsel dan mencari tutorial makeover pemula.
[Fokus melihat gerakan profesional seorang ahli rias favoritnya.]
Sampai Citra mengetuk pintu kamarnya pun, ia tak mendengarnya karena terlalu fokus menonton dan akhirnya dibuka dengan kasar.
"Ya! Anak ini bener - bener dah. Pasti lagi nonton Drakor nih." sahut Citra lalu menjewer pelan kuping adiknya itu.
"AW! Kak Citra kapan datangnya sih?! Kok ngga ketuk pintu dulu sebelum masuk." gerutu Ana.
"Kamu yang ga buka pintunya, ngga denger apa kakaknya udah panggil kamu dan pegel ketok pintu dari tadi?" balas Citra mengomel.
"Ouh.. hehehe maaf Kak. Ana salah, terlalu fokus nonton." jawab Ana sambil cengar cengir.
"Kamu nonton apa sih, kayaknya serius banget?" tanya Citra tiba - tiba penasaran sampai memiringkan kepala.
"Tutorial makeup, Kak." jawabnya singkat.
"Bagus bagus,, tapi aku tidak terlalu suka ber-makeup."celetuknya.
Terlihat memang wajah mulus Citra tak sedikitpun ada polesan makeup, ia benar - benar cantik natural tanpa makeup. Apalagi ia sedikit tomboy dengan rambut pendeknya dan gaya dirumah yang sama seperti Ana, hanya memakai kaos oversize dan celana pendek.
"Huh, Kakak kan udah cantik dari sana nya." pekik Ana, sedikit cemberut.
"Heleh, percuma cantik tapi ngga ada pendamping. Hem.." menyindir dirinya sendiri yang masih jomblo.
"Kenapa sih kak, ngga mau cari pacar? Padahal banyak yang mau sama Kak Citra beda sama aku yang buruk rupa. Mana ada yang mau-" belum sempat Ana melanjutkan bicaranya, Citra langsung menutup mulut Ana.
"Sstt, dini hari banget aku harus melek dan berangkat kerja. Aku mau tidur sekarang, hoamm!" sahutnya, padahal Citra tidak mau mendengar adiknya terus membandingkan wajahnya.
"Hm.. baiklah orang sibuk. Bye-bye!"
"Jangan tidur larut, nanti kamu kayak panda." timpal Citra sambil melototkan mata dengan tangannya.
"Dih usil banget, Kak Citra!"
Ditengah hangatnya keakraban Ana dengan Citra dengan bumbu - bumbu keusilan. Di satu sisi, Ana masih memikirkan laki - laki yang menolongnya itu dan kenapa ia sangat merasa seakan pernah terjadi sesuatu di masa lalunya.
"Melihat sikap laki - laki yang menolongku, sepertinya dia merasa sangat kehilangan seseorang karena bunuh diri." pikirnya.
"Hum.. muka nya kurang jelas, aku lupa pakai kontak lensa minus, jadi buram deh. Duh,, aku penasaran."
Ana pun lanjut menonton dan ia membuat daftar skincare serta alat rias untuk ia beli besok. Karena masih libur panjang, inilah waktunya untuk mengubah wajahnya jadi lebih cantik.
"Aku akan memulainya dari sini." sambil mencatat di selembar kertas berwarna merah muda.
Tampak gadis itu bersungguh - sungguh, karena ia yakin ini adalah cara terbaiknya untuk mengubah dirinya jadi lebih cantik.
Daripada operasi plastik yang berpuluh - puluh juta, makeup saja mungkin bisa menutupi bekas jerawatnya.
Setelah mencatat semua yang Ana perlukan, langsung ia beranjak dari kursi dan merayap ke ranjang tempat tidurnya.
"Hoaamm!! Ngantuk banget, uang tabunganku kayaknya udah cukup deh." sahutnya, walaupun mata sudah tertutup tapi mulut masih menghitung. Tak butuh waktu lama, Ana pun terlelap dan bermimpi bertemu dengan laki - laki yang menolongnya dari atap apartemen.
Dalam mimpi tersebut, laki - laki itu datang bersama dengan satu orang lagi laki - laki tapi...
#Bersambung...