Wang Chan hanyalah pemuda biasa dari Desa Hitam. Berkali-kali ditolak oleh sekte karena bakat rendah dan kekuatan lemah.
Namun saat desa mereka dihancurkan oleh monster iblis, ia tak punya pilihan selain melarikan diri sambil membawa seorang teman wanitanya.
Di tengah dunia kultivasi yang kejam, Wang Chan harus bertahan hidup dengan kekuatan yang nyaris tak berarti. Dari pelarian putus asa itulah, takdirnya mulai berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Wang Chan vs Wen Tianren
Di langit, Wang Chan mempercepat lajunya. Angin menderu di telinganya, dingin, menusuk, tapi di dalam dadanya ada api yang mulai membara. Api yang tidak akan padam oleh angin mana pun.
Tangannya mengepal lebih erat di batang tombak hitamnya. Urat-urat di punggung tangannya menonjol, menunjukkan keseriusan yang tidak pernah ia tunjukkan sebelumnya.
Di kejauhan, Medan Pertempuran Langit mulai terlihat.
Sebuah dataran luas yang tandus, tanpa pohon, tanpa rumput, hanya tanah merah yang retak-retak dan bebatuan besar berserakan di sana-sini.
Tempat yang sempurna untuk menjemput maut.
Wen Tianren sudah mendarat lebih dulu.
Ia berdiri di tengah dataran itu, kedua tangannya di belakang punggung dengan sikap yang sangat santai, menatap ke arah Wang Chan yang masih melesat di udara.
Rambut panjangnya berkibar lembut ditiup angin, dan jubahnya yang putih bersih tidak bergerak sedikit pun, seolah ia bukan bagian dari dunia yang berdebu ini.
Matanya mengikuti gerak-gerik Wang Chan dari jauh.
"Jangan kecewakan aku, bocah," bisiknya pelan, suaranya hampir tertelan angin.
Wang Chan mendarat di seberang Wen Tianren.
Kakinya menyentuh tanah merah dengan lembut, tidak menimbulkan debu, tidak menimbulkan suara.
Jarak mereka sekitar lima puluh meter. Cukup untuk serangan jarak jauh, cukup dekat untuk serangan jarak dekat.
Ia menancapkan tombaknya ke tanah di sampingnya, lalu menatap Wen Tianren dengan mata yang datar.
Tidak ada rasa takut, tidak ada keraguan. Hanya keyakinan yang sudah bulat.
"Hidup dan mati," ucapnya pelan, "ditentukan oleh kekuatan."
Wen Tianren tersenyum. Senyum yang tulus, senyum yang jarang ia tunjukkan pada siapa pun.
"Hao!"
Ia mengeluarkan pedangnya dari sarung di pinggang.
Bilahnya panjang, berkilau seperti permukaan danau di malam purnama, dengan ukiran naga di pangkalnya yang tampak hidup.
Energi spiritual berwarna biru menyala di sepanjang bilah, berdenyut dengan kekuatan yang menggetarkan udara di sekitarnya, membuat pasir-pasir kecil di tanah ikut bergetar.
Wang Chan mencabut tombaknya dari tanah.
Batang hitam itu terasa hangat di tangannya, seperti makhluk hidup yang bersemangat untuk bertarung.
"Ayo mulai."
"Mata Immortal... buka."
Mata kirinya menyala.
Dunia berubah.
Aliran energi di tubuh Wen Tianren kini terlihat jelas baginya, setiap meridian, setiap pusat Qi, bahkan setiap kontraksi otot sebelum bergerak.
Itu adalah keunggulannya. Itu adalah senjata rahasianya.
Pertempuran antara dua jenius dimulai.
"Haaghh!"
"Haaagh!"
Keduanya melesat secara bersamaan. Bayangan mereka menghilang dari pandangan mata awam, hanya meninggalkan jejak energi di udara.
Bruskk!
Serangan pertama saling berbenturan. Tombak hitam dan pedang biru bertemu di tengah jarak, menciptakan percikan energi spiritual yang menyilaukan.
Gelombang kejut kecil menyebar dari titik benturan, membuat debu-debu beterbangan ke segala arah.
Wang Chan dengan cepat mengikuti setiap gerakan Wen Tianren.
Tombaknya diayunkan dengan tepat untuk menahan setiap serangan, tidak pernah terlambat, tidak pernah terlalu cepat.
Ia seperti air yang mengalir mengikuti bentuk wadahnya, selalu pas, selalu tepat.
Wen Tianren dengan pedangnya yang kuat terus memberikan serangan.
Tebasan demi tebasan, tusukan demi tusukan, semuanya dilancarkan dengan kecepatan dan ketepatan yang mencengangkan.
Setiap gerakannya indah, seperti tarian, tapi mematikan.
Hingga pada suatu titik.
Wang Chan lengah. Hanya sepersekian detik, tapi cukup bagi Wen Tianren untuk melihat celah itu.
Brakk!
Pedang biru menghantam batang tombak Wang Chan dengan kekuatan yang luar biasa.
Wang Chan kehilangan keseimbangan, tubuhnya terlempar ke belakang.
Wushh!
Ia menghantam tanah cukup keras, berguling beberapa kali sebelum akhirnya berhenti.
Debu beterbangan di sekelilingnya, menyembunyikan tubuhnya dari pandangan.
Beberapa orang yang melihat dari kejauhan menarik napas tajam.
Qing Yi dan Liu Chiyang terlihat khawatir.
Qing Yi hampir berteriak, tapi Liu Chiyang menahan tangannya.
Wen Pang biasa saja, seolah sudah biasa dengan hal ini. Baginya, putranya tidak akan terkalahkan oleh pemuda tak dikenal dari desa mana pun.
Sementara Wen Xiang menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan.
Matanya yang teduh kini dipenuhi kecemasan, bukan untuk kakaknya, tapi untuk pemuda yang jatuh itu.
Orang-orang yang lain berbisik. Mereka mulai melihat bahwa Wang Chan tidak begitu ada apa-apanya di hadapan Wen Tianren.
Mungkin hanya keberuntungan. Mungkin lawan-lawannya sebelumnya terlalu lemah.
Tapi pertarungan belum selesai.
Debu masih berterbangan di sekitar Wang Chan.
Ia berdiri perlahan.
Tombaknya tertancap di tanah sebagai penopang, batang hitam itu menahan sebagian berat tubuhnya.
Darah di sudut bibirnya ia usap dengan punggung tangan, meninggalkan coretan merah di pipinya.
Mata kirinya masih bersinar keemasan, tidak redup sedikit pun.
Ia mengamati setiap aliran energi spiritual di tubuh Wen Tianren. Tidak ada yang berubah. Tidak ada kelemahan baru yang muncul. Pria itu benar-benar monster.
Tapi Wang Chan belum menyerah.
Di kejauhan, para penonton terdiam.
Mereka bisa merasakan sesuatu berubah.
Aura Wang Chan mulai meningkat.
Tanah di bawah kakinya retak. Retakan-retakan kecil menyebar dari telapak kakinya ke segala arah, seperti jaring laba-laba yang perlahan melebar.
Krek... krek...
Wen Tianren mengangkat alis. Matanya yang tadinya santai kini sedikit menyipit, ada ketertarikan baru di sana.
"Oh?"
Wang Chan mengangkat tombaknya dari tanah.
Batang hitam itu kini diselimuti energi spiritual hitam keemasan, berdenyut lebih kuat dari sebelumnya.
Energi itu merambat dari tangannya ke ujung tombak, dari ujung tombak ke udara di sekitarnya.
"Masih belum selesai."
Wush!
Tubuhnya menghilang.
Mata Wen Tianren sedikit menyipit.
Cepat. Sangat cepat. Jauh lebih cepat dari sebelumnya.
Brang!
Tombak muncul dari samping, menghantam pedang Wen Tianren dengan kekuatan yang membuat tangannya sedikit mati rasa.
Gelombang kejut menyebar ke segala arah, membuat tanah dalam radius puluhan meter langsung runtuh beberapa sentimeter.
Namun serangan itu hanyalah awal.
Wush! Wush! Wush!
Bayangan Wang Chan bermunculan dari berbagai arah.
Kiri, kanan, atas, bawah, bahkan dari sudut-sudut yang seharusnya tidak mungkin dijangkau.
Tombaknya menusuk tanpa henti, setiap tusukan diarahkan ke titik kelemahan yang dilihat oleh Mata Immortal.
Satu tusukan ke arah sela rusuk kiri, di mana perlindungan Qi Wen Tianren paling tipis.
Satu tebasan ke arah belakang lutut, di mana keseimbangan seseorang paling rapuh.
Satu dorongan ke arah tenggorokan, di mana tidak ada otot yang bisa menahan.
Wen Tianren tertawa. Bukan tawa sinis, tapi tawa kegirangan.
"Hahaha! Bagus!"
Pedangnya berputar seperti kipas.
Brang! Brang! Brang!
Puluhan benturan terjadi hanya dalam beberapa kali tarikan napas. Percikan energi spiritual memenuhi langit, berwarna biru dan hitam keemasan, seperti kembang api di siang bolong.
Para murid yang menonton dari kejauhan bahkan sudah kesulitan mengikuti gerakan mereka.
"Mereka terlalu cepat!"
"Aku bahkan tidak bisa melihat tubuh mereka! Yang kulihat hanya kilatan cahaya!"
"Apakah ini benar-benar pertarungan Generasi Muda? Aku mengira ini pertarungan tingkat tetua!"
Qing Yi menggenggam pakaiannya erat. Baju di dadanya hampir robek karena tarikan tangannya yang terlalu kuat. Wajahnya penuh kecemasan, bibirnya gemetar, dan matanya tidak berkedip sedetik pun.
Liu Chiyang di sampingnya juga tegang. Tangannya yang biasanya santai kini terkepal erat di samping tubuh.