Di dunia bawah tanah yang kejam, seorang bos mafia yang tampan namun terkenal bengis tidak pernah ragu untuk melenyapkan siapa saja yang menghalangi jalannya. Ketika salah satu anak buah level bawahnya terjerat utang besar yang tak mampu dibayar, nyawa pria tua itu berada di ujung tanduk. Demi menyelamatkan diri dari eksekusi mati, sang bapak nekat menawarkan putri cantiknya sebagai penebus utang. Meski awalnya enggan, sang bos mafia akhirnya menerima kesepakatan tersebut dan menikahi si gadis. Dimulailah kehidupan pernikahan yang dingin, penuh tekanan, dan agak kasar di dalam rumah megah sang mafia. Namun, di balik dinding es yang dibangun sang bos, sebuah dinamika baru perlahan mulai menguji batasan kekejamannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Labirin Cemburu
Langkah kaki Asher Sterling menggema pelan namun sarat akan ketegasan di sepanjang koridor sayap barat lantai dasar. Setiap derapnya seolah membawa hawa dingin yang siap merubuhkan pintu-pintu kayu di mansion itu. Tujuannya hanya satu: sebuah kamar tamu berukuran sedang yang terletak di sudut paling sunyi. Kamar yang menjadi saksi bisu awal mula kehadiran Chloe di tempat ini sebagai tawanan, dan kini menjelma menjadi tempat pelarian gadis itu dari kenyataan pahit yang dilihatnya di galeri seni.
Tanpa ketukan, tanpa aba-aba, dan tanpa memedulikan kesopanan, Asher memutar kenop pintu dan mendorongnya hingga terbuka lebar. Brak. Bunyi benturan pintu pada dinding terdengar cukup nyaring di dalam ruangan yang sunyi itu.
Di atas ranjang yang jauh lebih sempit dari ranjang utama mereka, Chloe tampak sedang bergelung di balik selimut tebal. Wajahnya yang biasa merona kini tampak pucat pasi, sisa dari demam tinggi yang menyerang tubuhnya selama tiga hari terakhir. Sepasang mata rusanya yang sayu berkedip lambat, menatap terkejut ke arah sosok masif Asher yang tiba-tiba berdiri di ambang pintu bagai malaikat pencabut nyawa yang siap menagih janji.
Asher tidak mengucapkan sepatah kata pun. Dia melangkah lebar mendekati ranjang, lalu dengan satu gerakan yang teramat cepat dan efisien, dia menyibak selimut yang menutupi tubuh Chloe. Sebelum gadis itu sempat memproses apa yang terjadi, kedua lengan kokoh Asher sudah menyusup ke bawah tengkuk dan lipatan lutut Chloe, mengangkat tubuh mungil itu ke dalam gendongannya dalam satu sentakan mudah.
Saat mengangkatnya, ada denyut aneh yang menghantam dada Asher. Tubuh Chloe terasa jauh lebih ringan dari terakhir kali dia mendekapnya. Tulang-tulang belikatnya terasa lebih menonjol di balik piyama katun tipis yang digunakannya. Tiga hari mengurung diri dan menolak makan dengan benar telah mengikis berat badan gadis itu, meninggalkan rasa bersalah yang samar di sudut hati sang bos mafia yang kaku.
Chloe tidak memberontak. Dia tidak memukul dada bidang Asher, tidak memekik ketakutan, dan tidak pula berusaha melepaskan diri. Tubuhnya dibiarkan lunglai begitu saja di dalam dekapan suaminya, pasrah ke mana pun pria berhati batu itu akan membawanya pergi. Sorot matanya kosong, mencerminkan kepatuhan yang lahir dari rasa lelah yang teramat dalam dan hati yang telah patah.
Asher membawa tubuh Chloe menaiki tangga utama, melintasi koridor lantai dua, dan masuk kembali ke dalam kamar utama mereka yang luas. Dia mendudukkan tubuh mungil Chloe di tepi ranjang raksasa king-size milik mereka, tepat di atas sprei sutra putih yang beberapa hari ini terasa begitu dingin tanpa pemiliknya.
Asher mundur satu langkah, berdiri menjulang sembari bersedekap di dada. Dia menatap lurus ke arah Chloe yang menundukkan kepalanya, menatap jemari kakinya sendiri yang tidak beralas.
"Bicaralah," perintah Asher, suaranya baritonnya mengalun rendah namun sarat akan otoritas yang tidak bisa dibantah. "Kau berkata pada Bi Mirna tidak akan keluar dari kamar tamu sebelum aku sendiri yang datang menjemputmu. Sekarang aku sudah di sini. Aku sudah membawamu kembali ke tempatmu yang seharusnya. Jadi, bicaralah, Chloe."
Hening. Chloe tetap bergeming di tempat duduknya. Bibirnya terkatup rapat, dan helaan napasnya terdengar begitu halus, hampir tenggelam di antara desing pendingin ruangan. Dia menolak untuk memberikan reaksi apa pun, sebuah bentuk perlawanan pasif yang perlahan-lahan mulai memicu riak amarah di dalam dada Asher.
Melihat keras kepalanya sang istri, Asher mengembuskan napas kasar. Dia menundukkan tubuh masifnya ke depan, menopang kedua telapak tangannya di atas kasur di sisi kanan dan kiri paha Chloe, mengurung tubuh gadis itu di dalam ruang pribadinya yang intimidatif. Wajah tampannya kini berada tepat beberapa sentimeter di hadapan wajah pucat Chloe, memaksa gadis itu untuk bisa merasakan embusan napasnya yang hangat.
"Tatap aku, Chloe," desis Asher tajam.
Chloe perlahan mendongak, membiarkan sepasang mata rusanya yang kuyu beradu langsung dengan kilat kelabu yang tajam dari manik mata Asher. Di dalam jarak yang begitu dekat ini, atmosfer di antara mereka terasa begitu pekat dan menyesakkan.
"Kau kesal karena melihatku bersama perempuan lain di pameran lukisan itu malam itu? Kau jatuh sakit dan mengurung diri di kamar dingin itu karena cemburu, hmm?" tanya Asher langsung pada inti masalah, tanpa filter, menusuk tepat ke arah pusat luka di hati Chloe.
Chloe tersentak di tempat duduknya. Kelopak matanya sedikit melebar, dan ada kilatan keterkejutan yang sangat nyata lewat di wajahnya selama satu milidetik sebelum akhirnya dia berusaha sekuat tenaga untuk menyembunyikannya kembali di balik ekspresi datarnya. Dia tidak menduga bahwa Bi Mirna akan mengkhianati janjinya dan menceritakan rahasia sensitif itu kepada Asher.
Asher yang menangkap reaksi spontan tersebut tidak bisa menahan diri untuk tidak melanjutkan kalimatnya. Sudut bibirnya terangkat sedikit, menciptakan seringai tipis yang dingin namun sarat akan nada provokasi.
"Memang kenapa kalau aku bersama perempuan lain malam itu, Chloe? Apa hakmu untuk merasa terguncang?" tanya Asher retoris, suaranya sengaja diturunkan satu oktav, berubah menjadi bisikan yang berbahaya di dekat telinga istrinya. "Apa kau melihatku mencium bibirnya seperti aku mencium bibirmu sampai kehabisan napas? Apa kau melihatku mencumbunya di atas balkon itu seperti aku mencumbu seluruh permukaan tubuhmu tanpa ampun di kamar ini? Atau... apa kau melihatku berhubungan seks dengannya di depan matamu malam itu?"
Pertanyaan-pertanyaan vulgar dan frontal yang keluar dari bibir Asher terasa bagai tamparan keras yang mendarat tepat di wajah Chloe. Warna merah muda mendadak menjalar samar di pipi pucatnya, bukan karena tersipu, melainkan karena rasa malu, marah, dan terhina yang bergolak menjadi satu di dalam dadanya. Bagaimana bisa pria ini mereduksi rasa sakit hatinya menjadi sekadar hitungan aktivitas fisik kasar seperti itu?
"Aku tidak ada hubungan apa pun dengan perempuan itu," tegas Asher kembali, menegakkan sedikit tubuhnya namun tetap mengunci pandangan pada Chloe. "Dia murni seorang rekan bisnis internasional dari keluarga Sterling yang menangani beberapa jalur pengamanan aset di Eropa. Dia memang memiliki pembawaan yang sedikit liar di depan publik, dan malam itu aku membiarkannya hanya untuk menjaga kelancaran negosiasi."
"Sedikit liar?"
Kata-kata itu akhirnya lolos dari bibir Chloe setelah berhari-hari terkunci dalam keheningan. Suaranya terdengar serak, parau, namun sarat akan nada sinis yang tajam. Chloe mendongak sepenuhnya, menatap lurus ke dalam manik mata kelabu suaminya dengan keberanian yang lahir dari rasa terluka. "Itu bukan liar, Asher. Itu adalah ketertarikan. Wanita itu... wanita itu memiliki ketertarikan yang sangat besar padamu. Dia menginginkanmu, dan kau tahu itu dengan sangat jelas!"
Mendengar letupan emosi dari istrinya yang selama ini selalu bersikap pasif dan penurut, seringai di wajah tampan Asher justru semakin melebar, tampak sangat puas karena akhirnya berhasil memancing keluar ular cemburu yang bersembunyi di dalam dada Chloe.
"Aku tidak peduli dengan ketertarikan wanita lain, Chloe," sahut Asher dingin, suaranya kembali datar dan tak tersentuh. "Di dunia bisnisku, banyak orang menginginkan banyak hal dariku—termasuk tubuh atau posisiku. Tapi kau harus tahu satu hal: siapa wanita yang menyandang nama belakang Sterling saat ini? Siapa wanita yang berada di bawah perlindunganku dan tidurnya kuharuskan di atas ranjang utama ini? Itu kau, bukan dia atau wanita mana pun di luar sana."
Chloe kembali terdiam. Dia memalingkan wajahnya ke samping, enggan menatap seringai Asher yang seolah-olah sedang menertawakan kenaifan hatinya. Kata-kata Asher mungkin terdengar seperti sebuah penegasan kepemilikan yang menenangkan bagi wanita lain, namun bagi Chloe, itu hanyalah sebuah pengingat bahwa dia terikat dalam rantai tak kasat mata yang tidak akan pernah membiarkannya lepas.
Asher bergerak menjauh, berdiri tegak sepenuhnya dan merapikan lipatan kemeja hitamnya yang sedikit kusut setelah menggendong Chloe tadi. Atmosfer interogasi yang mencekam perlahan-lahan mulai bergeser kembali menuju formalitas yang kaku.
"Di akhir pembicaraan kita ini, aku ingin menegaskan beberapa aturan mutlak yang tidak boleh kau langgar lagi," ucap Asher, suaranya kembali dipenuhi oleh wibawa seorang penguasa tertinggi distrik barat. "Mulai detik ini, kau akan tetap tinggal di kamar utama ini. Tidak usah lagi berpikir untuk melangkah ke kamar tamu atau sudut mana pun di mansion ini untuk bersembunyi dariku. Kamar ini adalah tempatmu."
Asher menjeda kalimatnya sejenak, menatap lekat profil samping wajah Chloe yang masih terdiam. "Jika ada masalah, jika ada sesuatu yang mengusik kepalamu atau membuatmu tidak nyaman, bilang langsung padaku. Jangan kabur, jangan mengurung diri, dan jangan membuat drama konyol dengan jatuh sakit seperti ini. Aku tidak suka asetku terlihat lemah dan tidak berdaya hanya karena salah paham."
Chloe hanya bisa meremas sprei kasur di bawah telapak tangannya, menahan gemuruh rasa kesal atas diktatornya sikap sang suami.
"Sekarang, bersiaplah," perintah Asher tiba-tiba, memutus lamunan emosional Chloe. "Mandilah dan ganti pakaianmu dengan sesuatu yang pantas. Kita berdua akan pergi keluar untuk makan malam bersama. Kau butuh asupan nutrisi yang benar untuk mengembalikan berat badanmu yang hilang itu."
Chloe menoleh dengan cepat, matanya melebar heran. "Makan malam di luar? Tapi aku baru saja sembuh dari demam, Asher, dan aku sedang tidak ingin—"
"Aku tidak menerima penolakan, Chloe," potong Asher cepat, suaranya dingin dan tidak menyisakan ruang sedikit pun untuk tawar-menawar. Pria itu membalikkan tubuhnya, melangkah tegap menuju pintu keluar kamar utama. Tepat sebelum tangannya menyentuh kenop pintu, dia menoleh sekilas ke belakang. "Aku akan menunggumu di lobi lantai bawah dalam waktu tiga puluh menit dari sekarang. Jangan terlambat satu menit pun, atau aku sendiri yang akan turun tangan untuk memakaikan pakaianmu."
Klik.
Pintu kamar utama tertutup rapat, meninggalkan Chloe sendirian di atas ranjang raksasa yang kini kembali menjadi miliknya. Dia menatap pintu yang tertutup itu dengan napas yang terembus panjang, menyadari bahwa malam ini, di bawah perintah mutlak dari Asher Sterling, dia harus kembali melangkah keluar dari zona nyamannya untuk menghadapi dunia luar yang penuh dengan labirin rahasia suaminya yang belum sepenuhnya terkuak.