NovelToon NovelToon
Dewa Abadi

Dewa Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Misteri
Popularitas:12.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Di dunia kultivasi yang kejam dan tak berbelas kasih, takdir mengikat dua jiwa dari dunia yang sepenuhnya berbeda: Zeng Niu, seorang pemuda berdarah dingin dari kelas bawah yang mewarisi Dao Bencana dan Petir Hukuman Langit, serta Zhao Ying, putri dari Tiran Ketiadaan Surga Atas yang jatuh ke dunia fana dengan kultivasi yang tersegel.

Terdampar di Benua Selatan yang dipenuhi kabut dan kutukan, keduanya harus bertahan hidup dari buruan ahli Nascent Soul dari Suku Li Kuno. Perjalanan berdarah melintasi Hutan Seratus Ribu Gunung Siluman hingga ke gelapnya Kota Reruntuhan Tanpa Tuan memaksa Zeng Niu untuk terus mendobrak batas fisiknya demi menjadi perisai bagi sang dewi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: Keringat Dingin di Balik Topeng

Ruang lelang Paviliun Seratus Pusaka yang biasanya dipenuhi keriuhan, kini sunyi senyap seolah waktu telah membeku.

Ucapan Zeng Niu tidak dilontarkan dengan teriakan marah atau ledakan Qi. Kata-katanya sedatar permukaan danau yang membeku, namun memancarkan Niat Membunuh murni yang begitu pekat hingga beberapa kultivator tingkat rendah di sekitarnya kesulitan bernapas.

Tuan Muda Lin yang berdiri di ambang pintu merasa seolah ada tangan tak kasatmata yang mencengkeram jantungnya. Keringat sebesar biji jagung mengucur dari pelipisnya. Mulutnya terbuka untuk membalas, namun pita suaranya menolak bekerja. Insting di dalam dirinya menjeritkan satu peringatan: Jika aku menawar lagi, pria bertopi bambu ini benar-benar akan membunuhku di depan semua orang!

Kelima pengawal Lin langsung menghunus senjata mereka, memancarkan aura Pengumpulan Qi Puncak untuk melindungi tuan mereka.

Tuan Yan, sang juru lelang, segera menyadari situasi ini bisa berujung pada pertumpahan darah yang akan merusak reputasi Paviliun. Ia memukul gong di atas panggung dengan keras, lalu melepaskan tekanan Foundation Establishment Tahap Menengah-nya untuk menekan seluruh ruangan.

"Tuan-tuan! Ini adalah Paviliun Seratus Pusaka! Setiap perselisihan pribadi harus diselesaikan di luar, atau kalian akan menjadi musuh bersama faksi penguasa kota!" peringat Tuan Yan tegas.

Namun, sebelum Tuan Yan bisa mengusir Zeng Niu, sebuah suara tua yang serak dan berwibawa terdengar dari Balkon VIP Nomor Dua.

"Lin'er, mundurlah. Jangan mempermalukan sekte kita karena sebilah pedang rusak."

Suara itu milik Tetua Aula Penegak Hukum Sekte Pedang Musim Gugur. Meski ia berbicara pada Lin, matanya yang tajam menatap lekat-lekat ke arah punggung Zeng Niu. Sang Tetua bisa merasakan sesuatu yang mengerikan; pemuda bertopi bambu itu hanya memiliki Qi Tahap 4, namun Niat Membunuhnya setara dengan iblis tua yang telah membantai jutaan nyawa. Orang waras tidak akan mencari masalah dengan "orang gila" di tempat umum.

Tuan Muda Lin menelan ludah. Mendapat perintah dari Tetua sektenya adalah jalan keluar yang menyelamatkan harga dirinya. "Hmph! Kali ini kau beruntung, Serangga! Aku tidak akan merusak suasana paviliun!"

Lin berbalik dan pergi dengan langkah tergesa-gesa yang terlihat sangat canggung, meninggalkan lantai pelelangan diiringi tatapan sinis para tamu lain.

Tuan Yan menghela napas lega, lalu mengangkat palunya. "Dua ratus sepuluh Batu Spiritual dari Tuan bertopi bambu! Sekali... Dua kali... Tiga kali! Terjual!"

Qian Fugui merosot di kursinya, seolah tulangnya baru saja dicabut. "Niu-bro... umurku baru saja berkurang sepuluh tahun," rintihnya dengan wajah sepucat kertas. "Kau menawar nyawa Tuan Muda sekte lokal dengan satu Batu Spiritual? Daoist ini masih ingin hidup untuk makan bebek panggang nanti malam!"

Zhao Ying, yang duduk di sebelah Zeng Niu, hanya tersenyum tipis di balik cadarnya. Ia dengan anggun mengeluarkan kantong berisi dua ratus sepuluh Batu Spiritual dan meletakkannya di atas nampan perak yang dibawa oleh pelayan paviliun.

Beberapa saat kemudian, kotak kayu raksasa yang berisi Bilah Penebas Tulang dibawa ke hadapan Zeng Niu.

"Tuan," ucap pelayan itu dengan nada sangat hormat namun berhati-hati. "Tuan Yan berpesan agar Anda berhati-hati. Pedang ini sangat buas. Jangan langsung mengalirkan Qi ke dalamnya di sini."

Semua mata di lantai dasar melirik ke arah Zeng Niu. Mereka penasaran, apakah pemuda gila yang berani mengancam Tuan Muda Lin ini memiliki kemampuan untuk menjinakkan senjata terkutuk itu, atau ia hanya orang bodoh yang akan muntah darah saat menyentuhnya.

Zeng Niu berdiri. Ia tidak merapal mantra penangkal atau memutar Qi pelindung di tangannya seperti yang biasa dilakukan kultivator lain. Ia hanya mengulurkan tangannya yang kapalan dan meraih gagang pedang yang dililit kain merah lapuk tersebut.

WUUUUUNG!

Detik ketika kulit Zeng Niu bersentuhan dengan gagang itu, pedang tersebut merespons dengan kebrutalan! Sebuah ilusi lautan darah yang berisi ribuan tengkorak menjerit melesat langsung ke dalam Lautan Kesadaran Zeng Niu, mencoba merobek kewarasannya.

Di saat yang sama, Niat Membunuh pedang itu menyusup ke tangannya, mencoba mengoyak meridiannya.

Orang-orang menahan napas. Mereka menunggu pemuda itu menjerit dan melepaskan pedangnya.

Namun, Zeng Niu hanya berdiri diam. Dari balik caping bambunya, mata hitamnya yang kosong menatap ilusi lautan darah di dalam benaknya.

Benda tanpa jiwa berani menunjukiku lautan darah? batin Zeng Niu sedingin es.

Ia tidak menggunakan Qi. Ia menggunakan mentalitas murninya. Ia membalas tekanan pedang itu dengan Niat Membunuh yang jauh lebih pekat, lebih tua, dan lebih gelap dari yang bisa dibayangkan oleh pedang tersebut. Ingatannya tentang pembantaian ribuan mayat hidup, pertarungan melawan dewa fana, dan kehampaan mutlak saat Dantiannya meledak... semuanya ditimpakan langsung ke dalam "jiwa" pedang buas itu.

Bilah Penebas Tulang bergetar hebat di tangan Zeng Niu. Bukan karena menolak, melainkan karena ketakutan.

Dalam waktu tiga tarikan napas, aura buas dari pedang hitam kusam itu seketika meredup, jinak sepenuhnya di genggaman Zeng Niu layaknya anjing peliharaan yang bertemu majikan aslinya. Beratnya yang mencapai seribu kati terasa pas di tangan pemuda yang memiliki fisik Tulang Besi Berkarat tersebut.

Zeng Niu mengangkat pedang raksasa itu dengan satu tangan dan menyelipkannya ke punggungnya begitu saja.

"Pedang yang lumayan," komentar Zeng Niu datar. Ia lalu menoleh pada Zhao Ying dan Fugui. "Ayo pergi. Di sini mulai membosankan."

Seluruh paviliun sunyi senyap. Mulut para kultivator terbuka lebar. Senjata yang membuat muntah darah para ahli Foundation Establishment baru saja ditundukkan oleh kultivator Tahap 4 hanya dengan menatapnya?!

Fugui buru-buru bangkit, memeluk kantongnya erat-erat, dan berjalan menempel di belakang Zeng Niu. "Minggir, minggir! Beri jalan untuk Tuan-ku!" seru Fugui arogan kepada orang-orang di sekitarnya, sifat tukang pamernya langsung muncul begitu ia merasa berada di pihak yang menang.

Zhao Ying hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Fugui, melangkah dengan anggun mengikuti Zeng Niu keluar dari paviliun.

Malam harinya, di kamar penginapan mereka.

Zeng Niu melepas caping bambunya dan duduk bersila di atas lantai kayu. Di depannya, Bilah Penebas Tulang tergeletak diam. Di sebelahnya, gulungan peta kulit dari Pendeta Mayat terbuka lebar di bawah cahaya lilin.

Zhao Ying sedang menyeduh teh bunga teratai (yang ia beli di pasar dengan sisa uang receh Fugui), sementara Fugui sedang asyik menghitung kembali sisa Batu Spiritual mereka yang kini tinggal sembilan puluh buah.

"Meskipun kita menang hari ini, kau terlalu nekat," ucap Zhao Ying lembut, meletakkan cawan teh di depan Zeng Niu. "Mendapatkan musuh dari sekte lokal saat kau masih dalam masa pemulihan bukanlah langkah yang bijak."

Zeng Niu menatap uap panas dari teh tersebut. Tiba-tiba, ia menghela napas panjang dan bahunya sedikit merosot. Topeng "algojo dingin tanpa emosi" yang ia pakai di paviliun tadi seketika luntur.

Ia mengangkat tangannya yang tadi memegang pedang. Tangan itu ternyata bergetar pelan, dan dari sela-sela perbannya, merembes setitik darah segar.

"Kau pikir aku tidak tahu itu tidak bijak?" gumam Zeng Niu dengan nada sedikit frustrasi dan canggung, sangat berbeda dari citra kejamnya. "Pedang sialan ini beratnya bukan main. Menahan Niat Membunuhnya tanpa Qi Bencana hampir membuat luka jahitan di dadaku robek semua. Saat berjalan keluar dari paviliun tadi, aku harus menahan napas agar punggungku tidak terlihat bungkuk."

Fugui yang mendengarnya langsung menghentikan acara hitung-menghitungnya. Pria gemuk itu terbelalak. "T-Tunggu. Jadi gaya kerenmu tadi... kau sedang mati-matian menahan sakit?!"

Zeng Niu mendengus kesal. "Tentu saja! Jika aku menunjukkan kelemahan satu detik saja, Tetua di lantai dua itu pasti sudah melompat turun untuk membunuhku dan merampas pedang ini. Dunia kultivasi adalah hutan rimba; kau harus terlihat seperti harimau meski gigimu sedang rontok."

Melihat Zeng Niu menggerutu seperti pemuda biasa yang sedang kesakitan, Zhao Ying tidak bisa menahan tawanya. Tawa Bintang Putih itu sangat jernih dan manis, menghangatkan ruangan kecil tersebut. Sang dewi yang dingin dan sang algojo yang kejam nyatanya hanyalah dua pemuda yang sedang berusaha bertahan hidup di dunia fana.

Zhao Ying berlutut di depan Zeng Niu. Tanpa ragu, ia memegang tangan kanan Zeng Niu yang bergetar. Tangannya yang lembut memijat pelan urat-urat nadi Zeng Niu yang kaku akibat menahan tekanan pedang.

"Biar aku bantu," bisik Zhao Ying.

Zeng Niu membeku. Sentuhan hangat di punggung tangannya membuat detak jantungnya kembali berantakan. Rasa sakit di lukanya seolah menguap, digantikan oleh kecanggungan luar biasa. Ia mengalihkan pandangannya ke arah dinding, telinganya kembali memerah.

"Ehem. Tehnya enak," komentar Zeng Niu asal, padahal tehnya belum ia sentuh sama sekali.

Fugui memutar bola matanya melihat pemandangan romantis yang sangat canggung di depannya. Dewa kematian ini bisa membunuh iblis tanpa berkedip, tapi mati kutu hanya karena tangannya dipegang seorang gadis? batin Fugui geli.

Tiba-tiba, Bilah Penebas Tulang yang tergeletak di lantai bergetar pelan.

Wuuuuung...

Pedang hitam itu mengeluarkan pendaran cahaya kelabu tipis. Bersamaan dengan itu, peta kulit binatang yang ada di sebelahnya ikut bereaksi! Garis-garis tinta merah di atas peta itu bersinar, dan sebuah rute baru yang sebelumnya tersembunyi tiba-tiba muncul ke permukaan.

Zeng Niu dan Zhao Ying langsung menoleh, kembali fokus pada misteri yang ada di depan mereka.

Zeng Niu menarik tangannya (dengan sedikit enggan) dan mengambil peta tersebut. Matanya menyipit membaca aksara kuno yang baru saja muncul di ujung rute Hutan Pemakaman Dewa.

"Peta ini tidak hanya menunjukkan jalan ke Hutan Pemakaman Dewa," gumam Zeng Niu serius. "Pedang ini bertindak sebagai kuncinya. Rute tersembunyi ini mengarah ke pusat hutan... ke sebuah tempat yang ditulis dengan Aksara Ketiadaan."

Zhao Ying mendekat, membaca aksara yang bersinar itu. Wajahnya seketika berubah tegang.

"Zeng Niu... tulisan itu berbunyi: Gerbang Makam Asura."

Ruangan kembali hening. Makam Asura. Nama yang berhubungan langsung dengan asal usul garis darah ayah Zhao Ying. Reruntuhan yang menampung pedang terkutuk dan peta yang merespons artefak kematian.

"Sepertinya," Zeng Niu menyeringai tipis, mengusap debu dari Bilah Penebas Tulang. "Kita akan melakukan perjalanan berkemah ke hutan yang sangat berbahaya, Fugui."

Qian Fugui menelan ludah, wajahnya memucat, dan ia langsung memeluk kantong Batu Spiritualnya sambil merengek. "Tidakkah Daoist ini bisa tinggal di penginapan saja menjaga barang-barang kalian?! Hutan Pemakaman Dewa itu tempat para siluman tingkat Inti Emas buang air!"

1
Rinaldi Sigar
lanjut
Sang_Imajinasi: siap🙏
total 1 replies
Rinaldi Sigar
lnjut
saniscara patriawuha.
gasddd polllll
Sang_Imajinasi: okehh🙏
total 1 replies
saniscara patriawuha.
nahhh lohhhhh....
Arinto Ario Triharyanto
telan aja dulu pil nya, pengen tau efeknya gmn
Sang_Imajinasi: iyah 🤭🤭
total 2 replies
eka suci
pengumuman pengakuan 😥
Sang_Imajinasi: 😄😄😄😄😄
total 1 replies
yos helmi
🤣🤣🤣👍👍
eka suci
tenang ya niu sang putri menemani, walaupun perjalanan masih jauh untuk level fana udah out of the box🤭
🔴༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Meluncur 6 gift ☕ Lanjut Crazy Up Thor 💪💪
Sang_Imajinasi: terimakasih mbah atta🙏
total 1 replies
Rinaldi Sigar
lnjut
Sang_Imajinasi: siap🙏
total 1 replies
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
eka suci
waahhhhh langsung menyalakan suar💪
eka suci
aku suka keributan kata Lei Ling 🤭
Arinto Ario Triharyanto
masih jauh dr level mertua nya, cuman arogan nya doang kocak
Sang_Imajinasi: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
saniscara patriawuha.
sikatttt sudahhhhh.....
Sang_Imajinasi: gaspol
total 1 replies
saniscara patriawuha.
cincang cincang sudahhhh....
saniscara patriawuha.
gasssss polllllll....
Simon Semprul
sanggat menarik
Sang_Imajinasi: Terima Kasih Bintang 5 nya 🙏
total 1 replies
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!