NovelToon NovelToon
Mengandung Benih Kembar CEO Mandul

Mengandung Benih Kembar CEO Mandul

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / One Night Stand / Anak Kembar
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Novaa

"Ternyata kamu tidak lebih dari wanita sampah Kiana! Bagaimana bisa kamu hamil jika tidak berhubungan dengan laki-laki lain?! Kau tahu aku ini Mandul!

...

Kiana Mahira wanita 25 tahun yang terjebak malam panas bersama Pria 35 tahun bernama Ardan Arkatama. Malam itu Kiana terpengaruh obat yang di cekoki pacarnya, Dafa (28). Dafa berniat menjadikan Kiana tumbal pelunas hutang kepada seorang rentenir tua. Malam itu Kiana berhasil kabur dengan kondisi mabuk dan terpengaruh obat dosis tinggi. Namun justru dia jatuh ke pelukan Ardan Arkatama seorang CEO dingin yang sedang frustasi berat karena tuntutan ahli waris di tengah vonis kemandulannya.

Satu malam panas itu ternyata membuat Kiana mengandung anak kembar. Kiana yang sudah sepakat dengan Ardan untuk melupakan malam itu memilih diam karena takut Ardan pasti tidak akan mengakuinya karena pria itu sangat yakin dirinya mandul tanpa tahu semua ini hanyalah rekayasa dari pamannya yang haus kekuasaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 // MBKCM

​Keesokan harinya, matahari pagi belumlah tinggi, namun badai baru sudah siap menerjang hidup Ardan. Hari itu berubah menjadi bencana lagi bagi pria dingin tersebut. Tanpa ada pemberitahuan sebelumnya, Dania Abraham sudah berdiri anggun di lobi kantor Arkatama Group dengan senyum lebarnya yang penuh tuntutan.

​Wanita itu langsung meminta Ardan untuk menemaninya pergi berbelanja. Tujuan Dania tidak main-main, dia ingin mendatangi Butik Elegance. Sebuah tempat yang belakangan ini menjadi pusat perhatian dan paling dihindari oleh Ardan. Dania beralasan bahwa butik tersebut adalah yang terbaik di Royal Plaza karena selalu menyajikan koleksi sepatu dan baju sekelas fashion Paris yang paling up to date. Dania sangat membutuhkan sepasang sepatu hak tinggi baru dan setelan formal eksklusif untuk menghadiri konferensi pers bersama Ardan besok pagi terkait pengumuman pertunangan mereka.

"Please kak Ardan temani aku kesana ya, butik elegance itu punya koleksi yang aku cari." Kata Dania sembari menggelayuti lengan Ardan dengan manja.

​Mendengar nama Butik Elegance disebut, rahang Ardan seketika mengeras. Bayangan wajah Kiana yang kaku, serta ingatan tentang rintihan polos gadis itu langsung berputar di kepalanya, memicu rasa bersalah dan gairah yang aneh secara bersamaan. Ardan mencoba menolak dengan halus.

​"Dania, jadwalku hari ini sangat padat," bohong Ardan, menatap wanita itu datar. "Kenapa kamu tidak memesan lewat online saja? Atau kita bisa meminta desainer pribadi keluargamu untuk mengantarkan beberapa pilihan setelan ke rumah. Butik lain di kawasan Sudirman juga banyak yang bagus."

​Namun, Dania yang dasarnya manja dan keras kepala langsung mengerucutkan bibirnya, masih menggelayut manja di lengan Ardan. "Ih, Kak Ardan tidak mau menemaniku ya? Ini kan untuk acara kita besok. Aku mau memilihnya langsung di Butik Elegance karena koleksi terbaru mereka baru saja tiba dari Paris kemarin malam. Aku tidak mau butik lain, Kak. Ayo dong, temani aku sebentar saja."

​Melihat desakan Dania yang terus-menerus dan sadar bahwa menolak hanya akan membuat Kakek Wirya kembali menceramahinya nanti malam, akhirnya Ardan mengalah dengan berat hati.

"Baiklah ayo." Ucap Ardan terpaksa mengiyakan.

Dania langsung tersenyum senang. Mereka pergi dengan iringan Bimo dan pengawal khusus yang berada di depan mobil mereka.

Sampai disana ​mereka berjalan beriringan masuk melewati pintu kaca otomatis Butik Elegance, aroma harum wewangian aromaterapi mewah langsung menyambut indra penciuman mereka. Bu Ambar, sang manajer, yang melihat kedatangan sang pemilik gedung bersama calon istrinya, langsung berlari kecil dengan wajah yang dipenuhi binar kepatuhan.

​"Selamat datang kembali, Pak Ardan! Dan selamat datang, Ibu Dania. Sebuah kehormatan besar bagi kami bisa melayani Anda berdua hari ini," sapa Bu Ambar dengan bungkukan badan yang sangat dalam.

​Dania tersenyum pongah, melepaskan kacamata hitamnya. "Saya butuh setelan formal terbaik dan sepatu yang cocok untuk konferensi pers besok. Tolong tunjukkan koleksi terbaru kalian."

​"Tentu, Ibu Dania. Mari sebelah sini, kami sudah menyiapkan ruang VIP khusus untuk Anda," ujar Bu Ambar penuh semangat.

​Saat Dania mulai sibuk memilah-milah gaun dan setelan bersama Bu Ambar, Ardan berdiri agak jauh di area tengah butik. Sepasang mata elangnya bergerak gelisah, menyapu ke seluruh sudut ruangan. Namun, sejauh matanya memandang, Ardan tidak menemukan keberadaan Kiana di antara barisan pelayan yang berjaga. Hanya ada Saskia dan beberapa pelayan lainnya yang sedang sibuk merapikan pakaian.

​Di dekat rak tas mewah, Saskia yang sedang memegang kemoceng bulu ayam memperhatikan gerak-gerik Ardan sejak pria itu melangkah masuk. Saskia tahu betul ke mana arah pandangan mata pria itu. Mata tajam Pak CEO itu pasti sedang mencari sosok Kiana, sahabatnya.

​Melihat hal itu, dada Saskia seketika bergemuruh oleh rasa kesal yang luar biasa. Di matanya, Ardan Arkatama adalah pria yang sangat maruk dan egois. Sudah punya calon istri secantik dan sekaya Dania di depannya, tapi matanya masih saja celingukan mencari Kiana yang jelas-jelas sudah dia campakkan dan dia beri uang tutup mulut malam itu! batin Saskia sengit. Rasanya dia ingin sekali maju dan menampar wajah tampan pria kaya itu jika saja dia tidak ingat tentang nasib pekerjaannya di butik ini.

​Saskia mendengus sinis dalam hati, merasa sangat kasihan pada Kiana. Pria ini tidak tahu saja, betapa menderitanya Kiana saat ini. Tanpa diketahui oleh siapa pun di butik itu, Kiana saat ini sedang mengalami mabuk parah di dalam toilet karyawan. Sejak satu jam yang lalu, Kiana mengunci diri di dalam bilik toilet karena dia benar-benar tidak tahan dengan bau wangi tubuh para pelanggan yang datang hari ini. Padahal, aroma parfum yang dipakai para sosialita itu sebenarnya adalah wangi segar buah-buahan dan bunga yang sangat mahal, namun bagi hidung sensitif Kiana yang sedang berbadan dua, aroma itu berubah menjadi racun mematikan yang memicu mual hebat di hulu hatinya.

​Di area ruang VIP, Dania keluar dari kamar ganti dengan mengenakan setelan blazer putih gading yang melekat pas di tubuhnya, dipadukan dengan sepatu hak tinggi berwarna senada. Dia berputar anggun di depan cermin besar, lalu menatap Ardan yang sedang duduk bersandar di sofa tunggu dengan pandangan melamun.

​"Kak Ardan? Bagaimana menurutmu? Apa setelan dan sepatu ini cocok untukku besok?" tanya Dania dengan suara manja, meminta penilaian.

​Ardan tersentak dari lamunannya. Dia melirik sekilas ke arah Dania tanpa benar-benar memperhatikan detail pakaian wanita itu. Pikirannya masih tertinggal pada pertanyaan ke mana perginya gadis pelayan yang memenuhi isi otaknya belakangan ini.

​"Ah, ya... cocok. Apapun yang kamu kenakan pasti cocok untukmu, Dania," jawab Ardan dengan nada suara yang terdengar hambar dan formal, hanya sekadar untuk menyenangkan hati calon tunangannya agar sesi belanja ini cepat berakhir.

​Dania memekik senang, berbalik ke arah Bu Ambar. "Baiklah, saya ambil yang ini. Tolong sekalian dibungkus dengan sepatu hitam yang saya coba pertama tadi ya, Mbak."

​"Baik, Ibu Dania. Segera kami siapkan di kasir," sahut Bu Ambar dengan senyum semringah.

​Proses transaksi berjalan dengan cepat. Tepat saat seluruh belanjaan selesai dikemas dan Dania bersiap untuk menggandeng lengan Ardan untuk keluar dari butik, sebuah pintu kayu di sudut belakang yang merupakan akses menuju ruang istirahat dan toilet karyawan, perlahan terbuka.

​Sesosok wanita melangkah keluar dari sana dengan perlahan, memegangi dinding pembatas demi menopang tubuhnya yang lemas. Itu adalah Kiana. Dia akhirnya terpaksa keluar karena jam sift kerjanya mengharuskan dia kembali berada di area depan untuk membantu merapikan sisa-sisa barang.

​Langkah kaki Ardan mendadak membeku di lantai marmer. Pandangan matanya langsung mengunci sosok Kiana yang baru saja muncul.

​Jantung Ardan mendadak berdenyut nyeri melihat pemandangan di depannya. Ardan melihat Kiana yang penampilannya sama sekali tidak sesegar biasanya. Wajah gadis itu tampak sangat pucat, dengan lingkaran hitam tipis di bawah matanya yang indah. Dan satu hal yang paling membuat Ardan tertegun adalah, wanita itu kini terlihat jauh lebih kurus daripada 1 bulan lalu. Seragam butik yang dikenakan Kiana kini tampak sedikit longgar di bagian bahu dan pinggangnya, seolah gadis itu kehilangan berat badan secara drastis dalam waktu singkat.

​Kiana yang baru saja menetralkan rasa mualnya mendongak, dan sedetik kemudian, pandangan matanya langsung berbenturan dengan mata elang Ardan yang sedang menatapnya dengan sorot mata yang sulit diartikan, sorot mata penuh kilatan cemas, bersalah, sekaligus kerinduan yang mendalam.

​Kiana tertegun, tangannya yang memegang kain lap seketika bergetar melihat pria yang paling dia takuti sekaligus pria yang telah menanam benih di perutnya kini sedang berdiri gagah di hadapannya, bersanding mesra dengan calon istrinya yang serba mewah. Atmosfer di dalam butik seketika berubah menjadi sangat mencekam dan menyesakkan bagi dada Kiana yang mulai terasa bergemuruh kembali.

1
Lisa
Gmn tuh sadar atau g si Ardan klo twins benar² anaknya..
Lisa
Keras kepala banget si Ardan ini..msh blm mau mengakui klo twins adl anaknya
Lisa
👍 bagus Kiana..anggaplah si Ardan itu udh g ada..
Lisa
ya bener ceo koq g tegas sikapnya..periksa ke dokter yg lain donk..
Dewi Amalia
malass bca cerita nya msa ceo mudah di bohongi berkali-kali.. seharusnya gnti dg dokter yg lain...
jenny
menanti penyesalan Ardan 😁
Novaa: tunggu kelanjutannya ya, terimakasih sudah mampir 🫰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!