Malam di kota metropolitan itu tidak pernah benar-benar tidur. Lampu-lampu neon berkilauan memantul di aspal basah sisa hujan sore tadi, menciptakan kilauan warna-warni yang mempesona namun juga menyembunyikan banyak rahasia di baliknya. Di tengah hiruk-pikuk itu, di salah satu klub malam paling eksklusif dan terkenal berbahaya di pusat kota, Grey Cha Lavian sedang menikmati malamnya seperti biasa.
Bagi banyak orang, Grey adalah definisi sempurna dari seorang play girl. Cantik, cerdas, berani, dan memiliki pesona yang mampu membuat hampir semua pria berlutut di hadapannya. Rambut panjang berwarna cokelat gelap dengan sedikit sentuhan pirang, mata abu-abu yang tajam dan penuh misteri, serta senyum menggoda yang selalu terukir di bibir merahnya. Dia tidak pernah terikat pada satu orang pun. Baginya, hubungan hanyalah permainan, dan dia adalah pemenang yang selalu berkuasa. Dia mendekat saat dia mau, pergi saat dia bosan, dan tidak pernah meninggalkan jejak perasaan di belakangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elfin hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Hari yang Indah dan Bayangan Masa Lalu yang Kelam
Sinar matahari pagi menerobos masuk melewati tirai sutra tipis, menyinari kamar luas itu dengan cahaya keemasan yang hangat dan lembut. Udara di dalam ruangan terasa segar, beraroma wangi bunga dan kebahagiaan yang damai. Di atas hamparan kasur besar yang empuk, Davian terbangun dengan perasaan yang begitu tenang, sesuatu yang dulu hampir mustahil dia rasakan sebelum kehadiran wanita di sisinya. Dia menoleh perlahan, menatap wajah damai Grey yang masih terlelap. Senyum tipis terukir di bibir Davian saat dia melihat betapa tenang dan bahagianya wajah itu. Semua luka, ketakutan, dan kesedihan yang dulu membayangi mata indah itu kini telah hilang, terhapus oleh waktu, cinta, dan keadilan yang dia tegakkan.
Segala badai telah berlalu. Kebohongan keluarga Lavian sudah terbongkar habis, kehancuran dan penyesalan abadi menjadi hukuman bagi mereka yang berani menyakiti ratunya. Kini, tidak ada lagi ancaman, tidak ada lagi bahaya yang datang dari orang-orang terdekat. Dunia mereka terasa bersih, indah, dan milik berdua sepenuhnya.
Davian bergerak perlahan, berusaha tidak membangunkan istrinya, namun tangan mungil itu seolah memiliki naluri sendiri. Begitu Davian sedikit menjauh, tangan Grey langsung bergerak mencari, lalu melingkar erat di lengan kekar suaminya. Kelopak mata itu perlahan terbuka, menampakkan manik mata abu-abu yang berbinar jernih dan manja saat melihat wajah suaminya begitu dekat.
"Pagi, Suamiku…" bisik Grey dengan suara serak sisa tidur, lalu menjulurkan tangannya memeluk leher Davian, menariknya mendekat untuk satu ciuman panjang dan hangat di bibir.
"Pagi, Bidadariku," jawab Davian lembut, membalas ciuman itu dengan penuh rasa cinta. "Tidurmu nyenyak sekali. Kau tersenyum terus dalam tidurmu. Mimpi indah apa yang kau lihat, hm?"
Grey tersenyum manis, menyandarkan kepalanya lebih nyaman di dada bidang suaminya, mendengarkan detak jantung yang selalu menjadi irama penenangnya. "Aku bermimpi kita terbang ke langit, berdua saja… tidak ada siapa-siapa, tidak ada bahaya, tidak ada air mata… hanya kau dan aku, bahagia selamanya. Dan saat aku bangun, aku sadar… itu bukan mimpi. Itu kenyataan kita sekarang, kan Davian?"
Davian mengecup puncak kepalanya, matanya menatap jauh ke luar jendela, ke arah taman yang sedang bermekaran indah. "Ya, Sayang. Itu kenyataan. Mulai hari ini, setiap hari akan seindah ini. Aku berjanji."
Pagi itu mereka habiskan dengan kebahagiaan sederhana namun begitu berharga. Davian menyiapkan sarapan sendiri di dapur, sesuatu yang jarang dia lakukan namun selalu dia nikmati saat bersama Grey. Mereka tertawa dan bercanda di meja makan, saling menyuapi dan bertukar ciuman di sela-sela waktu, seolah mereka bukan pasangan suami istri yang beratapkan dunia gelap dan kekuasaan, melainkan sepasang kekasih biasa yang hidup hanya untuk satu sama lain.
Siang harinya, mereka berjalan-jalan di taman luas milik kediaman itu, bergandengan tangan di bawah rindangnya pepohonan. Davian memetikkan bunga-bunga terindah dan menyelipkannya di telinga serta rambut istrinya, menatap wanita itu dengan pandangan kagum seolah Grey adalah karya seni terindah yang pernah ada di muka bumi.
"Kau tahu, Grey… kadang aku merasa takut," ucap Davian tiba-tiba saat mereka duduk bersandar di bangku taman, menikmati angin sepoi-sepoi.
Grey menoleh, alisnya terangkat heran. "Takut? Apa yang ditakuti oleh Davian Argantha? Pria yang memiliki segalanya, yang ditakuti banyak orang, yang tak terkalahkan?"
Davian menatapnya dalam-dalam, matanya yang hitam pekat itu menyimpan emosi yang mendalam. Dia mengusap pipi halus istrinya perlahan. "Aku takut semua ini hanya mimpi. Aku takut suatu saat aku terbangun dan menyadari bahwa kau tidak ada di sisiku. Kau adalah hal terindah yang pernah terjadi padaku, Grey. Dan kebahagiaan yang kita rasakan sekarang terasa begitu sempurna… sampai-sampai aku khawatir, apakah aku pantas mendapatkannya? Apakah aku, dengan segala masa lalu kelam dan darah di tanganku ini, pantas memiliki wanita semurni dan sebaik kau?"
Grey tersenyum lembut, dia memegang wajah suaminya dengan kedua tangannya, memaksanya menatap lurus ke matanya.
"Jangan pernah bicara seperti itu, Davian. Kau yang menyelamatkanku. Kau yang mengangkatku dari keterpurukan. Kau yang memberikan cinta dan perlindungan yang tidak pernah aku dapatkan dari orang lain. Masa lalumu? Darah di tanganmu? Bagiku, itu bukanlah hal yang membuatmu buruk. Itu adalah bukti betapa kerasnya kau berjuang untuk bertahan hidup, betapa besarnya rasa sakit yang pernah kau tanggung sendirian sebelum bertemu denganku. Kau pantas bahagia, Davian. Kau pantas mendapatkan semua keindahan ini. Dan aku… aku bersyukur pada Tuhan setiap hari, karena Dia mengirimkanmu kepadaku, tidak peduli siapa dirimu atau dari mana asalmu."
Kalimat itu menembus langsung ke dalam hati Davian, melelehkan segala keraguan yang masih tersisa. Dia menarik tubuh mungil itu ke dalam pelukannya yang erat, membenamkan wajahnya di ceruk leher Grey, menghirup aroma tubuh wanitanya yang menjadi sumber kekuatan utamanya.
"Terima kasih… terima kasih sudah menerimaku apa adanya, Grey. Kau adalah cahayaku."
Namun, keindahan dan kedamaian itu perlahan tergores sore itu. Saat matahari mulai condong ke barat, melukis langit dengan warna jingga kemerahan yang indah namun sedikit suram, suasana damai di kediaman Argantha tiba-tiba berubah. Seorang pengawal pribadi masuk dengan langkah tergesa namun penuh hormat, wajahnya tegang dan pucat. Dia mendekat ke arah Davian yang sedang duduk di teras bersama Grey, berbisik pelan namun cukup jelas untuk didengar oleh tuannya.
"Tuan… ada seseorang yang datang. Dia berada di gerbang utama. Dia mengatakan… dia datang dari masa lalu Anda. Dia bilang namanya Pak Yosef, dan dia mengatakan Anda pasti ingin bertemu dengannya sebelum semuanya terlambat."
Tangan Davian yang sedang memegang gelas teh seketika berhenti bergerak. Gelas itu tidak jatuh, tapi cengkeramannya mengerat hingga buku-buku jarinya memutih. Wajahnya yang tadinya penuh senyum dan kelembutan seketika berubah menjadi pucat pasi, lalu perlahan berubah menjadi dingin, kaku, dan penuh rasa sakit yang mendalam—ekspresi yang belum pernah dilihat Grey selama mereka bersama. Manik mata hitamnya yang tajam itu membelalak sedikit, seolah nama itu adalah nama hantu yang bangkit dari kubur masa lalu yang dia coba kubur dalam-dalam.
Grey yang merasakan perubahan drastis pada suaminya langsung memegang lengan Davian dengan cemas. "Davian? Siapa itu? Apa yang terjadi? Kau baik-baik saja?"
Grey tidak mendapatkan jawaban seketika. Davian bangkit berdiri perlahan, tubuhnya terasa kaku dan berat. Dia menatap pengawal itu dengan pandangan yang mengerikan, campuran antara ketakutan, amarah, dan kesedihan yang mendalam.
"Yosef…" gumam Davam lirih, suaranya bergetar, hampir tak terdengar. "Dia masih hidup… dia masih ada…"
Davian menoleh ke arah Grey, dan saat itu Grey melihat sesuatu yang belum pernah dia lihat sebelumnya di mata suaminya: rasa takut. Bukan takut mati, bukan takut musuh, tapi takut akan kenangan, takut akan masa lalu yang kelam dan menyakitkan yang selama ini dia sembunyikan rapat-rapat, bahkan dari istrinya sendiri.
"Tetaplah di sini, Grey. Jangan kemana-mana. Aku akan menemuinya," ucap Davian dengan suara berat dan serak, lalu dia berjalan pergi dengan langkah cepat namun terhuyung, meninggalkan Grey yang menatapnya dengan rasa bingung dan cemas yang membuncah.
Grey tidak mau hanya diam di tempat. Rasa penasaran dan rasa khawatir membuatnya perlahan mengikuti suaminya dari kejauhan, berjalan diam-diam di balik tiang-tiang besar dan tanaman rimbun, mendekati gerbang samping tempat pertemuan itu berlangsung.
Di sana, di bawah bayang-bayang tembok tinggi, berdiri seorang pria tua yang sudah bungkuk, rambutnya memutih semua, wajahnya penuh kerutan dan bekas luka, matanya redup namun memancarkan kebijaksanaan sekaligus kepedihan yang mendalam. Saat melihat Davian keluar, pria tua itu tersenyum tipis, senyum yang penuh air mata.
"Davian… anakku… kau tumbuh menjadi pria yang hebat…" ucap pria tua itu lirih.
Davian berdiri diam beberapa langkah di depannya, tangannya mengepal erat di sisi tubuh, seluruh tubuhnya gemetar hebat. Wajahnya menegang, rahangnya mengeras, dan air mata—air mata yang hampir tidak pernah keluar bahkan saat dia terluka parah atau berhadapan maut—kini menetes perlahan dari sudut matanya.
"Kenapa kau datang? Kenapa kau berani muncul lagi di depanku setelah semua yang terjadi? Setelah semua rasa sakit yang kau dan dunia berikan padaku?" suara Davian meninggi, penuh amarah yang tertahan namun juga penuh kepedihan yang mendalam. "Kau adalah bagian tergelap dari hidupku, Yosef. Kehadiranmu hanya akan membuka kembali luka yang sudah lama aku jahit dan kubur dalam-dalam."
Pria tua bernama Yosef itu mengangguk sedih, matanya berkaca-kaca. "Aku tahu, Nak. Aku tahu aku pengecut. Aku tahu aku bersalah besar padamu. Tapi aku tidak punya banyak waktu lagi. Aku sakit parah… dan sebelum aku mati, aku harus melihatmu sekali lagi. Aku harus meminta maaf. Dan aku tahu… kau pasti sudah lupa, atau berusaha melupakan… tapi kau berhak tahu, kenapa semua itu terjadi padamu dulu. Kenapa hidupmu begitu kelam dan menyakitkan sejak kecil."
Davian tertawa pahit, tawanya kering dan menyakitkan hati. Dia bersandar ke tembok di sampingnya, menutup wajahnya dengan satu tangan, seolah beban berat baru saja jatuh menimpa bahunya yang lebar itu.
"Mengetahuinya lagi? Untuk apa? Agar aku kembali merasakan betapa menjijikkannya dunia ini? Agar aku kembali mengingat bahwa aku dilahirkan bukan sebagai anugerah, tapi sebagai aib? Agar aku kembali mengingat betapa kejamnya mereka membuangku, menyiksaku, dan membuatku hidup di neraka itu sendirian?"
Davian menarik napas panjang, lalu dia mulai bercerita, berteriak seolah melepaskan semua racun yang selama ini dia simpan sendirian, cerita yang belum pernah dia bagi dengan siapa pun, bahkan dengan Grey sekalipun.
"Kau ingin tahu masa laluku, Grey?!" seru Davian tiba-tiba, berbalik menatap ke arah tempat persembunyian istrinya, menyadari bahwa Grey ada di sana dan mendengar semuanya. Matanya yang basah menatap lurus ke mata istrinya yang terbelalak kaget dan sedih.
"Aku tidak lahir di istana mewah seperti ini. Aku tidak lahir dari orang tua yang mencintaiku. Aku adalah anak hasil perselingkuhan, Grey! Aku adalah bukti dosa besar seorang wanita yang sudah bersuami dan seorang pria yang lemah! Saat aku lahir, aku tidak disambut dengan kasih sayang, tapi dengan rasa malu dan kebencian! Ibu kandungku… dia tidak pernah menyentuhku dengan kasih sayang. Baginya, aku hanya beban, aku hanya noda yang harus disembunyikan. Dan ayah kandungku? Dia lari! Dia meninggalkan kami berdua, membiarkan kami menanggung rasa malu itu sendirian, membiarkan aku tumbuh tanpa nama, tanpa hak, tanpa apa-apa!"
Suara Davian pecah, air matanya mengalir deras. Kenangan-kenangan buruk itu berputar kembali di kepalanya seolah baru terjadi kemarin.
"Aku dibuang ke tempat yang mengerikan… panti asuhan yang sebenarnya adalah pasar budak dan tempat penyiksaan. Di sana, aku dipukul, aku kelaparan, aku dipaksa bekerja keras, aku dipandang rendah oleh semua orang hanya karena aku anak haram. Aku tidak punya siapa-siapa. Aku tidak punya tempat berlindung. Aku belajar bertarung bukan untuk menang, tapi agar tidak mati dipukuli sampai habis nyawaku. Aku belajar menjadi dingin, menjadi kejam, menjadi tidak punya hati… karena aku sadar, di dunia ini, kelembutan hanya akan membuatmu diinjak-injak. Hanya kekejaman yang bisa membuatmu bertahan hidup."
Davian menunjuk ke arah Yosef, pria tua itu yang kini menangis diam-diam mendengar pengakuan itu.
"Yosef ini… dia adalah satu-satunya orang yang pernah sedikit baik padaku dulu. Dia adalah pengawal yang dikirim diam-diam untuk memastikan aku masih hidup, bukan untuk merawatku. Dia melihat aku tersiksa, dia melihat aku menderita, tapi dia diam saja. Dia tidak berani melawan perintah tuannya—orang yang ternyata adalah ayahku sendiri, yang menginginkanku menderita dan hilang dari muka bumi agar rahasia dosanya tidak terbongkar. Aku dibunuh perlahan, aku disiksa batin dan fisikku, dan semua itu karena aku dilahirkan. Karena aku ada."
Davian berlutut di tanah, menekupi wajahnya, bahunya terguncang hebat menahan isak tangis yang selama puluhan tahun dia simpan rapat.
"Aku hidup di neraka itu sendirian, Grey… bertahun-tahun… bertahan hidup hanya dengan kebencian dan rasa sakit. Aku berjanji pada diriku sendiri, jika aku selamat, jika aku bisa keluar dari sana… aku akan menjadi penguasa kegelapan. Aku akan membuat semua orang takut padaku, agar tidak ada yang berani menyakitiku lagi. Aku akan memiliki segalanya, agar tidak ada yang bisa menganggapku rendah lagi. Aku membangun kekuasaan ini dari darah, keringat, dan air mata. Aku membangunnya di atas tumpukan rasa sakit yang tak terhitung jumlahnya… hanya agar aku bisa merasa berharga, hanya agar aku bisa merasa aman."
Grey yang mendengar semua itu dari balik tiang itu sudah menangis sejadi-jadinya. Hatinya terasa dicabik-cabik. Selama ini dia mengira Davian lahir sebagai tuan besar, dia mengira kekejaman suaminya itu sifat asli, dia mengira Davian selalu kuat dan berkuasa. Dia tidak pernah membayangkan, bahwa pria yang begitu kuat dan dingin itu ternyata memiliki luka yang begitu dalam, begitu mengerikan, dan begitu menyakitkan di masa lalunya. Dia tidak tahu, bahwa kekejaman Davian adalah tameng, bahwa kekuatan Davian adalah hasil dari bertahan hidup di neraka yang tak terbayangkan.
Grey berlari mendekat, tidak peduli lagi apakah dia terlihat atau tidak. Dia berlutut di samping suaminya, langsung menarik tubuh besar itu ke dalam pelukannya yang erat, membiarkan Davian menangis dan meluapkan segalanya di dadanya.
"Maafkan aku… maafkan aku karena tidak tahu… maafkan aku karena membuatmu menanggung semuanya sendirian…" isak Grey, mencium kepala suaminya berulang kali, mengusap punggung lebar itu dengan penuh kasih sayang yang tak terbatas. "Kau bukan anak dosa, Davian. Kau bukan noda. Kau adalah anugerah terindah yang pernah ada. Mereka yang jahat, mereka yang berdosa, bukan kau. Kau korban, cintaku… kau korban kejahatan dunia…"
Yosef, pria tua itu, berlutut juga di hadapan mereka, menundukkan kepalanya dalam-dalam penuh penyesalan.
"Aku minta maaf, Tuan Muda… aku minta maaf karena pengecut… aku minta maaf karena membiarkan Anda menderita begitu lama… Dosa orang tua Anda tidak seharusnya jatuh ke pundak Anda yang polos…"
Davian perlahan mengangkat wajahnya, matanya merah dan bengkak, namun kini dia menatap istrinya yang ada di hadapannya, wanita yang menjadi satu-satunya cahaya yang mengubah hidupnya. Dia menggenggam tangan Grey dengan erat, seolah takut wanita itu akan menghilang.
"Kau lihat sekarang, Grey…?" bisik Davian parau. "Kau lihat betapa kotornya masa laluku? Betapa kelamnya asal-usulku? Aku bukan pangeran yang datang menyelamatkanmu… aku adalah monster yang dibentuk oleh rasa sakit dan kebencian. Dan aku takut… aku takut suatu saat kau akan jijik, kau akan pergi, kau tidak mau lagi mencintaiku saat kau tahu siapa aku sebenarnya."
Grey menggeleng kuat-kuat, menghapus air mata di wajah suaminya dengan ibu jarinya, lalu mencium bibir itu dalam-dalam, menanamkan rasa cinta yang paling tulus dan dalam.
"Tidak ada yang berubah, Davian. Bagiku, kau tetaplah kau. Pria yang menyelamatkanku, pria yang mencintaiku, pria yang rela berkorban apa pun demi kebahagiaanku. Masa lalumu yang menyakitkan itu… itu bukanlah dirimu. Itu adalah kisah tentang betapa hebatnya dirimu bertahan hidup. Itu adalah bukti betapa kuatnya hatimu. Dan justru karena kau pernah menderita begitu hebat… aku berjanji, Davian… aku akan mencintaimu dua kali lipat, seribu kali lipat lebih banyak lagi. Aku akan menghapus semua rasa sakit itu. Aku akan mengisi sisa hidupmu hanya dengan kebahagiaan dan cinta. Kau tidak sendirian lagi, Sayang. Tidak pernah lagi."
Di bawah langit sore yang mulai gelap itu, di hadapan hantu masa lalu yang akhirnya terbongkar, Davian Argantha akhirnya melepaskan beban terberat dalam hidupnya. Dia tidak lagi harus menyembunyikan luka lamanya. Dia tidak lagi harus berpura-pura kuat sendirian. Dia punya Grey. Dia punya cinta yang tulus dan utuh yang mampu menembus kegelapan terdalam sekalipun.
Masa lalu yang kelam itu memang ada, dan bekasnya mungkin tak akan pernah hilang sepenuhnya. Tapi Grey memberinya pengertian bahwa luka itu tidak mendefinisikan siapa dirinya sekarang. Luka itu hanya sejarah, dan sejarah itu sudah selesai ditutup.
Yosef, setelah menyampaikan pesan terakhir dan permintaan maafnya, pergi dengan hati yang sedikit lebih tenang, tahu bahwa anak muda yang dulu dia saksikan menderita itu kini telah menemukan kebahagiaannya.
Dan Davian? Dia berdiri kembali tegap, memeluk istrinya erat, menatap masa depan dengan pandangan baru. Dia bukan lagi sekadar penguasa kegelapan yang bertahan hidup karena kebencian. Dia kini adalah pria yang hidup, yang mencintai, dan yang bahagia karena dia dicintai sepenuhnya, termasuk segala luka dan kekurangannya.
Kisah masa lalu yang kelam itu telah berlalu. Dan kisah mereka berdua… kisah cinta yang mampu mengalahkan segalanya… baru saja memasuki bab yang lebih indah, lebih dalam, dan lebih abadi dari sebelumnya.
(Lanjut ke Bab 17)