"Hubungan yang berawal dari reuni kecil itu tumbuh begitu cepat, seolah waktu ingin mengejar ketertinggalan mereka selama di SMA. Arman adalah sosok kekasih yang penuh perhatian. Dia tahu kapan Kanaya sedang lelah hanya dari nada suaranya, dan dia selalu punya cara untuk membuat Kanaya merasa dihargai.
Bagi Kanaya, Arman adalah pelabuhan yang aman. Begitu pula bagi Arman, ketulusan dan kemandirian Kanaya adalah hal yang tidak bisa ia temukan pada perempuan lain."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kedai kopi dan masa depan
Aroma biji kopi yang terpanggang sempurna selalu berhasil menenangkan kegugupan Kanaya. Namun siang ini, jemarinya tidak bisa berhenti mengetuk-ngetuk permukaan meja kayu kedai. Tiga minggu sejak pengumuman kelulusan dan hiruk-pikuk coret-coret seragam, Kanaya merasa seolah-olah masa SMA sudah berlalu bertahun-tahun yang lalu. Di depannya, sebuah pesan singkat di layar ponsel masih menyala: “Aku sudah di depan. Kemeja biru.”
Kanaya mendongak tepat saat lonceng pintu kedai berdenting. Sosok jangkung berambut rapi melangkah masuk. Arman.
Mereka memang satu alumni, tumbuh di sekolah yang sama, namun selama tiga tahun berjalan di koridor yang sama, mereka jarang bicara lebih dari sekadar sapaan formal urusan organisasi. Arman adalah sosok yang tenang, sementara Kanaya lebih suka tenggelam dalam dunianya sendiri. Mengapa tiba-tiba cowok itu mengajaknya bertemu setelah tiga minggu berpisah?
"Sudah lama nunggunya, Nay?" Arman tersenyum, menarik kursi di hadapan Kanaya. Ada getaran canggung yang manis di antara mereka.
"Enggak kok, baru sepuluh menit," jawab Kanaya ramah.
Pertemuan siang itu mengalir jauh lebih lancar dari yang Kanaya bayangkan. Kehilangan status sebagai "anak sekolah" ternyata mencairkan dinding pembatas di antara mereka. Mereka menertawakan guru-guru yang galak, berbagi kecemasan tentang dunia perkuliahan, hingga membicarakan mimpi-mimpi masa depan.
Saat sore mulai turun dan kopi mereka menyisakan ampas, Arman menatap Kanaya dengan tatapan yang berbeda. Ada binar kagum yang tertangkap oleh manik mata Kanaya saat cowok itu mendengarkan caranya bercerita. Di sudut kedai kopi yang riuh itu, tanpa Kanaya sadari, Arman mulai menjatuhkan hatinya.
Hubungan yang berawal dari reuni kecil itu tumbuh begitu cepat, seolah waktu ingin mengejar ketertinggalan mereka selama di SMA. Arman adalah sosok kekasih yang penuh perhatian. Dia tahu kapan Kanaya sedang lelah hanya dari nada suaranya, dan dia selalu punya cara untuk membuat Kanaya merasa dihargai.
Bagi Kanaya, Arman adalah pelabuhan yang aman. Begitu pula bagi Arman, ketulusan dan kemandirian Kanaya adalah hal yang tidak bisa ia temukan pada perempuan lain.
Hampir enam bulan mereka melewati hari bersama—menembus hujan sore dengan motor Arman, berbagi bekal di taman, dan saling mendukung ambisi masing-masing. Enam bulan mungkin singkat bagi orang lain, namun bagi mereka berdua, kedekatan ini terasa begitu solid. Mereka merasa telah menemukan potongan teka-teki yang hilang.
Malam itu, rintik hujan tipis mulai membasahi jalanan di depan pagar kos Kanaya. Sesuai janji, Arman datang.
Kanaya berdiri di ambang pintu kamar kosnya yang terletak di lantai dua. Aturan kos sebenarnya cukup ketat mengenai tamu lawan jenis, dan biasanya Kanaya selalu patuh. Namun, melihat bahu Arman yang merosot lesu dan tatapan matanya yang begitu rapuh, pertahanan Kanaya runtuh. Entah apa yang merasukinya malam itu, logika yang biasanya ia pegang erat mendadak mengabur oleh rasa iba dan cinta.
"Masuk dulu, Man. Di luar dingin," bisik Kanaya pelan, membuka pintu kamarnya lebih lebar.
Arman sempat ragu, namun akhirnya ia melangkah masuk. Kamar kos Kanaya kecil namun rapi, beraroma vanilla yang menenangkan—tempat yang selalu menjadi pelarian terbaik bagi Arman dari tekanan dunianya.
Begitu pintu tertutup, keheningan langsung menyergap mereka. Jantung Kanaya berdegup sedikit lebih kencang dari biasanya. Ada rasa canggung yang tidak biasa, namun sekaligus ada kehangatan yang intim di antara mereka berdua di dalam ruang yang sempit itu.