NovelToon NovelToon
ACT ZERO: Di Atas Malam Yang Tinggi

ACT ZERO: Di Atas Malam Yang Tinggi

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri
Popularitas:40
Nilai: 5
Nama Author: Endiya Winter

ACT ZERO: Di Atas Malam yang Tinggi


- - -

Pada suatu malam yang dingin, seorang gadis ditemukan tak bernyawa di atap gedung sekolah.

Bunuh diri.

Selama tiga tahun, rumor-rumor dan spekulasi liar bermunculan di mana-mana. Namun tak ada satu pun pihak yang menghentikan karena semua siswi diperbolehkan untuk saling bercerita, memberikan pendapat masing-masing tanpa terkecuali.

Misalnya seperti ... kematian gadis yang diduga merupakan aksi pembunuhan.

Tidak ada yang tahu. Karena mereka yang mengetahuinya menyembunyikannya di dalam Drama.

Drama.

Panggung berisikan lima gadis bergerak melalui cerita yang akan dipertontonkan kepada para audiens. Di balik tirai berwarna merah ... sebelum lampu sorot dinyalakan dan musik dimainkan, ada berbagai macam hal yang perlu dilewati—alasan dari terciptanya sebuah Drama.

Act Zero.




- - -

Endiya Winter

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Endiya Winter, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ACT II

   Daun telinga Karinn bergoyang pelan, gatal mendengar ucapan sang paman yang sekalipun ia ingin membalas itu memang benar adanya. Dia sangat berambisi pada Drama hingga mengabaikan orang-orang di sekitarnya yang jauh lebih peduli ketimbang dirinya sendiri. Yah, apa boleh buat, dia harus mempertahankan perannya. “...Aku tidak bermaksud mengabaikan semua bentuk perhatianmu, paman. Aku sadar sepenuhnya bahwa kau sangat baik dalam menjagaku. Maafkan aku. Aku hanya terkejut saat mendengar jawaban kontra darimu. Aku bersikeras untuk Drama karena kupikir setidaknya aku dapat menyelamatkan gadis yang ketakutan di atas ketinggian malam itu. Aku ingin ... menyelamatkannya.”

   Riyan tidak menggubris, hanya berfokus pada pekerjaannya.

   Karinn melanjutkan kalimatnya, “Dia mengingatkanku pada ibu.”

   Jemari Riyan berhenti mengetik, terpaku sejenak.

   “Paman, sebelum kita mencari kebenaran tentang kematian ibu, tidak bisakah kita memulainya dari gadis itu terlebih dahulu? Aku sungguh-sungguh ingin menyelamatkannya.”

   Kali ini, Riyan memberi respons. Dia menoleh pada Karinn, mendapati sang keponakannya itu sedang menatap gorden jendela di belakang tubuhnya. Dia sadar bahwa sorot matanya itu tidaklah mengarah pada jendela—kalimat terakhir itulah yang sedang dilihatnya. 

   Manik mata Karinn bergerak ke arah Riyan, tahu ucapannya tadi pasti menarik perhatiannya. “Padahal kita sudah berdiskusi bersama Ayah. Maka aku menyiapkan segala yang kubutuhkan termasuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Aku punya caraku sendiri, dan kau juga tahu itu. Lalu kenapa secara tiba-tiba kau mengajukan kontra, paman? Apakah kau teringat ibu?” Kedua mata mereka bertemu, namun lagi-lagi Riyan mengalihkannya. “Paman, aku sangat mengerti perasaanmu. Tapi di sini, dalam situasi ini, aku mohon padamu untuk tidak memutuskan secara sepihak. Aku harus berjuang sebentar lagi, setidaknya sampai Drama berakhir. Kumohon, paman, aku harus menyelesaikan Drama demi mengubah garis takdir gadis itu supaya tidak berakhir seperti ibu. Kumohon..”

   Tidak berakhir ... seperti ibu. 

   Tetesan hujan yang masih turun dari langit membasahi permukaan jalan, menciptakan genangan kecil di lekukan aspal. Suara rintik-rintiknya terdengar nyaring setiap kali jatuh ke atap halte, dedaunan di pohon, dan telapak tangan yang ditengadahkan. Di tengah kabut tipis yang menutupi jarak pandang, muncul bunyi lain yang lebih nyaring. Truk pengangkut semen menarik rem tangan hingga bannya mengeluarkan bunyi berdecit panjang. Orang-orang di sekitar mengira sopirnya sedang menstabilkan laju truk di jalanan yang licin, tanpa menyadari di arah berlawanan sebuah mobil sedan berwarna hitam bergerak oleng dan menerobos jalur yang bukan tempatnya. Bunyi logam yang beradu dengan kaca pecah pun tidak dapat terelakkan, juga dentuman keras yang berulang, menggema di udara dengan membawa kabar buruk, meninggalkan trauma mendalam bagi gadis kecil di halte yang sedang menunggu bus bersama dua orang temannya. 

   “Perhatikan ucapanmu, Rinn!” Pergelangan tangan Riyan terkepal, dipukulnya meja dengan kuat. Kedua mata mereka bertemu, saling bersitatap. “Aku melakukan semua ini karena aku ingin melindungimu. Aku menyayangimu. Aku mengkhawatirkanmu sama seperti perasaanku pada ibumu. Tidakkah kau tahu betapa sulitnya menjadi diriku? Aku bahkan belum mempunyai keluarga, tapi semua anggota keluargaku sudah pergi meninggalkanku lebih dulu. Tidak bisakah kau mengerti bagaimana aku harus menghadapi semuanya? Tidak bisakah kau membagi sikap keras kepalamu dengan perasaan simpati dariku, hu?”

   “Tidak bisa!” Karinn membalas lebih galak. “Aku tidak ingin gadis itu berakhir seperti ibu! Ibu membutuhkan keadilan atas kecelakaan pada sore itu. Dan aku sudah berjanji pada ayah, juga pada paman untuk menghapus semua berita kebohongan tentang kematian ibu. Apakah menurut paman aku tidak perlu melakukannya? Apakah menurut paman aku harus menyerah pada gadis itu?!” 

   Menyerah... Jelas itu bukan kata-kata yang bagus diucapkan bagi pemain Drama.

   “Aku tahu! Itulah yang membuatku takut kehilanganmu. Aku sudah cukup bersyukur dapat melihatmu dalam kondisi baik seperti ini.”

   “Dengan begitu, bukan berarti paman harus menyangkal keputusanku hanya dengan dalih bahwa aku akan baik-baik saja dalam waktu yang lama, kan?” 

   Tanpa menggubris perkataan Karinn, Riyan memalingkan wajahnya, kembali menyibukkan diri dengan laptop. 

   Karinn yang sudah beberapa kali menyaksikan sikap tak acuh sang paman, sejujurnya geram. Tapi dia amat menyesal telah mengeluarkan intonasi lantang ketika bicara seperti sebelumnya. Dia sudah bersumpah tidak akan lagi mengulanginya, namun ternyata lebih sulit dari yang dibayangkan. “Paman, aku sangat berterima kasih padamu. Kau telah banyak membantuku, juga menjagaku di sekolah. Begitu aku mulai membuat naskah, kau langsung bergerak untuk memastikan semua yang kubutuhkan terpenuhi. Jadi tidak bisakah kali ini ... kau berdiri di belakangku lagi?” 

...• • • • •...

   Bel yang menandakan berakhirnya jam sekolah berdentang tepat pada pukul lima sore. Para siswi pun langsung berbondong-bondong pergi menuju gedung asrama, lalu bergegas mengeluarkan koper dan barang-barang mereka yang sebelumnya sudah disiapkan. Pertukaran kamar asrama kini dimulai—sebuah tradisi yang selalu dinanti-nantikan setiap bulannya karena seolah seperti membangkitkan semangat dan antusiasme terhadap lingkungan baru. 

   Inilah momen di mana suara roda koper bergesekan di lantai memenuhi sepanjang koridor, juga tawa dan riak-riuh para siswi yang saling melambaikan tangan membuat kehebohan selayaknya gadis remaja. Mereka berswafoto bersama, baik dengan teman sebayanya yang berlagak sok dekat, juniornya yang masih malu-malu, ataupun seniornya yang disegani. Tradisi ini sangat berarti karena mampu menghapus perbedaan usia dan hal-hal semacamnya yang menjadikan dinding pembatas di antara mereka. Sebaliknya, terciptalah ikatan kuat yang meskipun kusut akan tetap terikat bagaimanapun kondisinya. 

   “Kau mau masuk?” Villy yang baru saja selesai buang air kecil, tepat ia membuka pintu kamar mandi langsung berhadapan dengan Irene. Dia berdiri di sana dengan wajah datarnya sambil memegang tongkat pel. Lalu tanpa menggubris basa-basinya, dia masuk ke dalam. Villy pun sadar, mungkin pikirnya pertanyaannya itu memanglah tidak perlu ditanyakan. “Dia sedingin es,” komentarnya di sela-sela langkahnya menuju balkon. 

   Meja oval berdiameter (mayor) satu setengah meter bukan berisikan makanan ringan atau camilan di kala sore yang sejuk, melainkan buku yang bertumpuk-tumpuk, bolpoin, catatan, serta secangkir es americano sebagai pencegah kantuk. Sembari mengantongi botol amfetamin ke saku celananya, Villy menarik kursi, kembali duduk ke tempat stresnya berasal. 

   “Kak Villy,” panggil Erica. Dia ikut bergabung di meja sembari meletakkan ponsel dan sebuah buku yang tampaknya akan digunakan untuk merekam. “Kita pernah menjadi teman sekamar sebelumnya. Tapi aku tak pernah tahu kalau kau kidal.”

   Bahu Villy tersentak. Dia yang sedang teliti memeriksa pengoperasian hitungan pada soal Fisikanya, lantas menoleh. “...Hu?”

   “Apa aku salah?” Erica terkekeh. Menurutnya lucu wajah si senior yang tampak terkejut seolah dirinya sendiri pun tidak tahu tentang itu.

   “...Benarkah? Aku tidak menyadarinya.” Villy mengalihkan kontak mata, buru-buru memindahkan bolpoin dari kaitan tangan kirinya ke tangan kanannya. 

   “Hebat, itu artinya kau pandai menjaga keseimbangan kedua tanganmu.” Erica tersenyum, mengakhiri obrolan singkat antara keduanya. 

   Sementara Villy kembali berkutat dengan buku-bukunya, Erica sibuk merakit tripod dan menyiapkan keperluan lain untuk merekam tes pelafalan bahasa. Kebetulan dia orangnya pelupa, jadi pikirnya ada baiknya menyelesaikan tugasnya selagi masih hangat dan jauh dari tenggat waktu. Dengan begini, keduanya tampak mirip. Di hari pertama pertukaran kamar yang bahkan belum ada sejam berlalu, mereka tetap tidak terlepaskan dengan hal-hal yang terkait dengan sekolah. 

   “Oi, kau kenapa?” Erica menepuk bahu Irene, menegurnya. Dia yang hendak pergi ke lemarinya untuk mengambil barang yang tertinggal, urung setelah melihat kondisi aneh si sobatnya itu. Di lantai, tergeletak tongkat pel yang tadi dibawanya ke kamar mandi untuk dibilas, sementara Irene duduk di tepi ranjang dan melamun. 

   “...Bukan apa-apa,” jawabnya. Suaranya terdengar mengambang, menunjukkan seolah jiwanya belum sepenuhnya sadar. 

   “Kelihatannya toilet sudah bukan lagi jadi tempatmu untuk melamun. Kau melakukan hal manusiawi tanpa sadar.” Erica terkekeh, lalu duduk di sebelahnya. 

   Irene membuka mulutnya, mengeluarkan sepatah kata, “Rina..”

   “Ada apa dengannya? Kau sedang memikirkannya?”

   “Obrolan kita di perpustakaan ... membuatku berpikir hal lain tentang yang terjadi di atap.”

   Senyum Erica langsung memudar. Tak sedikit pun terpikir olehnya bahwa niatnya mencairkan ketegangan malah berujung dirinya masuk ke dalamnya. 

   “Erica,” Irene memutar badannya menghadap si pemilik nama. “Jika kau yang terbiasa menulis menggunakan tangan kanan, lalu kusuruh kau menulis dengan tangan kiri, apa yang terjadi?”

   “Hu? Tentu saja aku tidak bisa. Tulisanku jadi jelek dan jariku gemetar karena kaku.”

   “Itu dia.” Irene menjentikkan jari, berseru kecil.

   “Hu? Apa? Apa yang kau maksud?” tanyanya. 

   “Orang yang di atap, kurasa dia menyamarkan bukti.” Irene menyingkirkan rambutnya, menunjukkan bekas luka kuku di lehernya. 

   “Tunggu. Kenapa ... kau bisa berpikir begitu?”

   “Normalnya, jika orang mencekik tanpa alat bantu, pasti dia akan menggunakan tenaga dari otot bahu dan lengannya, kan? Maka itu kekuatan di telapak tangannya meningkat,” kata Irene sembari memperagakan bagaimana keadaan tangan dan otot yang menegang saat mencekik.

   “Maksudmu, karena orang itu menyembunyikan identitasnya dengan mencekikmu menggunakan tangan kiri, jadi tenaga yang disalurkan dari otot bahu dan lengannya tidak sebanding dengan jika dia menggunakan tangan kanan? Itulah sebabnya kuku jempolnya membekas?”

   “Um, ada kesalahan sedikit. Lebih tepatnya, dia hanya menggunakan otot pergelangan tangannya untuk menekan jari-jarinya. Mulanya kukira tangannya gemetar karena sulit melumpuhkanku, tapi ternyata karena dia memang bukan pengguna tangan kiri.”

   “Benar. Seharusnya bekas yang muncul di lehermu adalah lebam akibat tekanan jari jempolnya, bukan goresan kuku.”

   Irene mengangguk-angguk. Itulah kesimpulan yang didapatnya dari lamunannya tadi. 

   “Oi, bukankah itu artinya tidak menutup kemungkinan Giselle adalah orangnya?”

   “...Hu?”

   “Benar, kan? Kau tidak bisa mengecualikan dia hanya karena tidak ada bukti mengarah padanya.”

   “...Tidak, bukan dia.”

   “Aih, kenapa kau bisa begitu yakin? Katamu matamu ditutup?”

   Tanpa menanggapi, Irene menghindari kontak mata mereka. Memilih untuk menyimpan jawabannya sendiri.

   “Erica!” Villy melambaikan tangan dari balkon, meminta si pemilik nama untuk datang. 

   Erica balas mengacungkan jempol. Sebelum memenuhi panggilan si senior, dia beralih pada Irene sebentar. “Tampaknya masih ada hal lain yang kau pikirkan. Kutunggu sampai kau siap memberitahuku, oke? Bye~” Begitu balik badan, dia langsung melesat melewati pintu kaca, menghampiri Villy. 

   “Kau salah. Ada buktinya.” Masih dengan pandangan kosong seperti saat ia melamun, Irene bangkit dari ranjang dan mulai mengepel lantai. Kiranya dengan dia mengalihkan pikirannya pada pekerjaannya maka akan membuat kegelisahannya tersingkir sejenak, namun nyatanya dia malah dibuat tidak fokus dan alhasil pun dia mengepel dengan gerakan seperti hantu. 

   Irene menoleh ke pintu kaca balkon, tempat di mana Erica dan Villy bercengkerama bersama. “Kaukah?” tanyanya dalam hati. 

   Tidak lama setelah Irene sampai ke kamar, dia tidak langsung merapikan barang-barangnya ke lemari seperti yang dilakukan dua anggota lainnya. Sebaliknya, sejak awal dia memang berniat ingin membersihkan kamar itu sebelum ditinggali. Konon katanya apabila datang ke suatu tempat baru, kehadiran kita tidak diterima. Maka itu dengan membersihkannya adalah cara untuk menunjukkan bahwa kita layak menempatinya. 

   Singkatnya, pekerjaannya yang semula berjalan lancar mendadak mengalami gangguan. Di kamar mandi tadi, saat dirinya menunggu orang di dalamnya keluar, secara tidak terduga ternyata ia harus bertatap muka dengan Villy. 

   “Kau mau masuk?” Dia bertanya begitu sambil mengarahkan jempolnya ke dalam kamar mandi. Saat itulah tangan kanannya terangkat sehingga menampakkan banyak luka gores di telapak tangannya. Sebagian besar lukanya masih baru walaupun sebagian yang lain sudah menjadi bekas berupa garis-garis memanjang berwarna pucat. 

   Tentang alasan Irene tidak menggubrisnya saat bertanya bukanlah karena pertanyaan itu tidak pantas dijawab, tapi karena ingatannya langsung membawa dirinya kembali pada peristiwa di atap setahun lalu; di mana dia dipukuli dan dicekik sampai kehilangan kesadaran. Orang itu ... Irene tahu dia bukan Giselle, karena pada saat dia dicekik, dia memberontak sekuat tenaga dan beberapa kali mencoba menepis tangan si pelaku. Ketika itulah dia merasakan di telapak tangannya tekstur yang tidak beraturan dan kasar, mirip seperti luka akibat benda tipis yang tajam; senar busur. 

   Namun, itu hanya dugaan sementara. Ia tidak yakin sepenuhnya karena banyak hal lain yang masih terasa janggal. Untuk itu, dia tidak bisa memberitahu Erica sampai ia menyelidikinya sendiri. Yah, walau sebenarnya alasan lainnya adalah karena ia pikir si sobatnya itu bukanlah pemain Drama. 

   Di tengah lamunannya, tiba-tiba otaknya mengirim sinyal bahwa akan ada orang yang masuk ke dalam kamar. Telinganya juga menangkap gelombang suara sepatu yang dipijak dengan amarah, memicu tindakan lainnya yang juga akan dilakukan dengan amarah. Benar, tepat setelah pintu terbuka dengan gerakan kasar, Irene langsung melakukan respon impulsif, yakni melayangkan sebuah sepatu.

   “Uwwaaaakhhhh.....!!” Dia menjerit, lalu dentuman keras yang menandakan bahwa pantatnya menghantam lantai pun terdengar. 

   “Ya, tepat sasaran.” Sembari berkata lirih, Irene menarik sudut bibirnya ke atas, tersenyum menyeringai. 

   Sepuluh menit sebelumnya, pintu lift yang telah mengantarkan dirinya ke lantai lima berhenti. Aroma udara yang baru menguar seolah menyambut kedatangannya. Melewati pintu lift tersebut, Karinn menyeret kopernya. Wajahnya berseri-seri, senyumnya pun merekah sepanjang ia berjalan di koridor. 

   “Di belakang liontin mawarmu ada tombol yang kupasang untuk melacak keberadaanmu,” kata Riyan. Walau ucapannya ini keluar dari topik awal yang mereka bahas, tetap saja makna bahwa ia telah pro pada keputusan sang keponakan adalah kesimpulan akhir dari ketegangan mereka. “Gunakan saat kau dalam kondisi darurat.” Riyan memberikan selembar kertas bernomor, itu adalah kamar barunya pada bulan ini. Karena semuanya sudah diatur dalam rencana, maka nomor kamarnya pun juga demikian begitu, yakni diatur agar mudah menjangkau atap gedung sekolah.

   Karinn berputar-putar di area koridor, menggoyangkan kepala dan pinggulnya mengikuti ketukan irama lagu di earphone-nya. “Aye-Aye.. Senangnya hatiku...” 

   Beberapa orang lewat di sebelahnya, tertawa kikuk tanpa suara. Tentulah hal semacam itu tidak dapat membuatnya merasa malu atau terdistraksi dari kebahagiaannya. Dia pun melanjutkan perjalanannya ke lantai berikutnya. “Aye-Aye... Kamarku baru lagi...”

   Di mana di sinilah akhirnya dia menyadari bahwa sepanjang ia berjalan, gedung asrama tampak sepi sejauh matanya memandang. Dan kalau diingat-ingat lagi, sejak ia keluar dari kamar lamanya sampai ke sini, dia baru berjumpa dengan setidaknya tujuh orang. Itu pun ketiganya adalah junior kelas 10, sementara empat yang lainnya adalah petugas asrama. 

   “Jangan-jangan, aku orang terakhir!” Manik matanya membulat besar. Baru ia sadari pada pertukaran kamar kali ini dia terlambat lagi. Ranjang bawah yang diimpikannya... 

   Tanpa banyak bertingkah, ia pun bergegas memacu kakinya lebih cepat. Dilewatinya kelokan pertama sambil membawa barang bawaan yang beratnya bisa mencapai 10 kg—kini terasa ringan seolah amarah menyertai dirinya di setiap langkahnya.

   Bukan tanpa alasan, dia sangat menginginkan ranjang itu karena memudahkannya pergi ke balkon setiap pertengahan malam. Suara yang ditimbulkan tidak terlalu berisik, juga yang terpenting adalah tidak mengganggu para anggota yang tertidur. Sebaliknya, selama sebelas bulan dia menempati ranjang atas, tidak jarang ia merasa bahwa dirinya tampak seperti seorang kriminal yang tengah menyusup ke kamar para gadis. Tentu pikirannya itu memicu setiap gerakannya harus dilakukan dengan sangat hati-hati, walau sampai bercucuran keringat sekalipun. Yah, sungguh menyedihkan. 

   Maka setelah sampai di kamar yang tertera pada nomor, ia langsung memutar knop pintunya, melangkahkan kakinya masuk tanpa sadar sekelebat benda melayang dengan kecepatan tinggi di udara. “Uwwaaaakhhhh.....!!”

   Gbrakk!! Bersamaan dengan jeritannya, bunyi dentuman keras nyaring terdengar. Tampaklah Karinn terduduk di lantai sementara barang bawaannya jatuh ke sembarang arah. Pantatnya jelas sakit karena mendarat dan terbentur pertama kali ketika jatuh, namun dia malah meringis kesakitan dengan posisi tangan di kepalanya. “Aakhh, sial! Lagi-lagi kepalaku! Selalu kepalaku!” amuknya sembari membanting sepatu high-top berwarna hitam yang tergeletak di dekat kakinya. Walau pandangannya buram, ia yakin benda itulah yang terlempar ke kepalanya. Kemudian sambil mengumpat-umpat dalam hati, kedua tangannya meraba-raba area sekitar, hendak meraih rak sepatu sebagai tumpuannya untuk berdiri. Namun berapa kali pun ia mencoba, hasilnya tetap nihil karena tubuhnya bergerak tidak beraturan akibat pantatnya yang masih sakit. 

   “Apa yang kau lakukan? Kau sudah gila, hu?” Karinn menyalak galak sembari bangkit dengan tergopoh-gopoh. Begitu berhadapan langsung dan bersitatap dengan si pelaku yang sama-sama juga melotot, dia malah bereaksi sedikit terkejut. Wajahnya yang memerah bagai batu bara yang dipanaskan, manik matanya yang mengecil, serta bibirnya yang gemetar siap mengumpat macam-macam pun sirna dalam sekejap. Gadis itu ... Ingatannya memberi sinyal tentang sosoknya yang pernah ditangkap oleh indra penglihatannya dua bulan lalu. 

   “Siapa kau berani masuk ke kamar ini?!” Irene menyilangkan kedua tangannya ke dada, menghunuskan sorot mata tajam.

   ‘Apa aku salah kamar?’ Pertanyaan itu mendadak terbesit di benaknya. Lantas ia pun segera mundur tiga langkah, guna melihat papan nomor yang tertera di atas rak sepatu. Setelah mencocokkannya dengan kertas bernomor yang Riyan berikan, hasilnya memberitahu bahwa dia pergi ke tempat yang benar. “Oi, ini kamarku,” katanya. 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!