Matteo Adrian Reins Smith kembali ke Seoul bukan sebagai pecundang, melainkan sebagai pemimpin industri yang ia bangun dari rasa iri dan ambisi untuk melampaui bayang-bayang ayahnya dan keraguan kakaknya. Namun, di balik kemegahan takhtanya, hati Matteo kosong. Ia dihantui memori Manila—tentang Sheena yang tak lain adalah adik iparnya sendiri.
Di sisi lain kota Seoul, Park Chae-young hidup dalam bayang-bayang masa lalu yang traumatis. Lima tahun lalu, sebuah pengkhianatan cinta membawanya ke sebuah bar, dan ia terbangun dengan hidup yang hancur. Ayahnya meninggal karena terkejut, meninggalkan Chae-young hamil di usia muda. Kini, di usia 28 tahun, ia adalah desainer hantu di balik brand ‘Forever-young’ yang viral. Ia membesarkan sepasang anak kembar yang menjadi satu-satunya alasan ia bertahan hidup.
Akankah takdir mempertemukan mereka kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: Sisa Aroma Vanilla di Kamar 2007
Udara di koridor apartemen Mapo terasa membeku. Chae-young berdiri dengan tangan gemetar, menatap pria yang kini berdiri bagaikan raksasa di depan pintunya. Kata-kata Matteo yang menggantung di udara—"Aku bukan Uncle, Chan-yeol-ah"—terasa seperti petir yang menyambar kewarasan Chae-young.
"Mommy?" suara kecil Chan-yeol memecah keheningan. Bocah itu menatap ibunya, lalu menatap Matteo dengan tatapan yang sangat cerdas, seolah ia sedang menyusun potongan teka-teki di kepalanya yang jenius.
"Tuan Matteo, tolong lebih baik Anda segera pergi dari sini," ucap Chae-young dengan suara parau. Ia tidak sanggup menatap mata ice blue itu lebih lama lagi.
"Mommy, siapa Uncle ini sebenarnya?" desak Chan-yeol, kakinya tidak bergemerik dari ambang pintu.
"Chan-yeol-ah, ayo masuk ke dalam. Sekarang," perintah Chae-young dengan nada yang tidak bisa dibantah. Setelah putranya masuk dengan ragu, Chae-young kembali menatap Matteo. Matanya mulai berkaca-kaca, penuh dengan keputusasaan. "Dan Anda, Tuan Matteo, lebih baik Anda segera pulang. Ini sudah hampir gelap."
"Tapi, Nona Park, kita harus bicara. Pin ini, mata anak itu, segalanya—"
"Saya mohon!" potong Chae-young, suaranya naik satu oktaf namun pecah di ujungnya. Ia mengatupkan kedua tangannya di depan dada, sebuah gestur memohon yang sangat menyedihkan. "Pergilah. Jangan ganggu kami hari ini."
Matteo terpaku. Keangkuhannya sebagai CEO M-Nexus yang biasanya tak tergoyahkan, runtuh melihat air mata yang menggenang di mata honey brown wanita itu. Ada rasa sakit yang asing menjalar di dadanya—rasa bersalah yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Baiklah. Aku akan pergi," ucap Matteo akhirnya dengan suara serak. Ia mundur satu langkah, namun matanya tetap tajam. "Tapi kau harus menjelaskan semua ini padaku, Nona Park. Segera."
"Menjelaskan apa, Tuan? Saya bahkan tidak tahu siapa Anda sebenarnya. Dan Anda tiba-tiba datang ke sini seakan-akan Anda adalah ayah mereka," tantang Chae-young, mencoba membangun benteng pertahanan terakhirnya.
"Memang itu kebenarannya, Nona Park! Aku tahu apa yang terjadi malam itu!" sahut Matteo dengan nada yang mulai meninggi karena frustrasi.
"Tidak! Saya mohon sebesar-besarnya, pergi dari sini!" Chae-young menutup pintu apartemennya dengan keras, meninggalkan Matteo yang berdiri mematung di koridor yang sunyi.
Matteo pulang ke rumah mewahnya dengan perasaan yang remuk redam. Sepanjang perjalanan, ia mencengkeram kemudi mobilnya hingga buku jarinya memutih. Sesampainya di rumah, ia tidak langsung masuk ke kamar. Ia menuangkan wiski ke gelas kristalnya, namun tangannya bergetar.
Ada apa dengan wanita itu? Kenapa dia begitu keras kepala menutupi kebenaran? Matteo tidak tahu bahwa karena tragedi malam itu, ayah Chae-young harus meninggal karena serangan jantung. Ia tidak tahu beban berat yang dipikul Chae-young sendirian selama lima tahun.
Matteo duduk di sofa kulitnya, memejamkan mata. Tiba-tiba, memori yang selama lima tahun ini tertimbun oleh alkohol dan ambisi bisnis, mulai terbuka secara paksa. Ia teringat kenapa malam itu ia memilih hotel. Ibunya, Lee Young-ae, sedang menginap di rumahnya saat itu, dan Matteo tidak ingin ibunya melihatnya dalam keadaan hancur karena kabar kebahagiaan Mark di Filipina.
Ia memilih kamar 2007 karena itu adalah lantai paling tenang. Dan di sana, saat ia baru membaringkan tubuhnya setelah menghabiskan tiga botol wiski. Lalu tiba-tiba, pintu kamarnya terbuka.
Seorang wanita masuk dengan langkah gontai. Wanita dengan rambut bronte waves yang berantakan dan mata yang sembab karena tangisan hebat. Matteo teringat bagaimana wanita itu menatapnya dengan pandangan kosong yang hancur, lalu tiba-tiba saja, wanita itu sudah duduk di atas perutnya.
"Aku akan membayarmu berapapun... tolong, buat aku lupa padanya," suara parau wanita itu kembali terngiang di telinga Matteo.
Matteo mendesah berat. Saat itu, ia sudah berusaha menahan nafsunya. Ia tahu wanita di depannya sedang tidak sadar karena alkohol dan rasa sakit hati. Namun, Chae-young malam itu terlalu liar untuk ditahan. Ia menyerang Matteo dengan ciuman yang putus asa, menuntut sebuah pelarian yang sama dengannya.
Sialan, umpat Matteo dalam hatinya saat itu. Siapa pria normal yang tidak tergoda jika ditawarkan tubuh seindah itu secara cuma-cuma?
Lalu, memori itu berpindah ke momen yang paling menghentak kesadaran Matteo. Saat ia mulai membalas sentuhan wanita itu, ia baru menyadari satu hal yang membuatnya tertegun: wanita itu masih tersegel. Dia adalah bunga yang belum pernah tersentuh. Namun, aroma parfum vanilla yang tenang dan manis dari leher Chae-young malam itu membuat Matteo benar-benar gelap mata.
Ia tidak berhenti satu kali. Ia menyerang wanita itu hingga tiga kali dalam satu malam, seolah-olah mereka berdua sedang berusaha saling menyembuhkan luka melalui sentuhan fisik yang membara.
"Brengsek kau, Matteo," gumamnya parau sambil menenggak wiskinya hingga tandas.
Ia teringat betapa konyolnya dia pagi itu. Saat mandi, ia berpikir bahwa dengan meninggalkan selembar cek kosong, semuanya akan selesai. Ia mengira wanita itu akan mengambil cek itu dan menghilang, atau mungkin akan mengejarnya untuk meminta pertanggungjawaban. Namun kebungkaman Chae-young selama bertahun-tahun itulah yang justru membuat Matteo mati penasaran.
"Kenapa kau tidak mencariku?" Matteo bertanya pada kegelapan ruangannya. "Jika kau hamil anakku, kenapa kau memilih untuk menderita sendirian?"
Selama tiga tahun lebih setelah malam itu, Matteo diam-diam menunggu pergerakan. Ia menunggu, apakah wanita itu akan datang menuntutnya atau apakah ada yang datang ke kantornya mengklaim kehamilan. Kosong.
Karena tidak ada pergerakan sedikit pun dari wanita misterius itu, akhirnya Matteo memutuskan untuk melarikan diri ke Filipina, melancarkan aksi jahatnya pada Mark karena merasa dunianya tidak adil. Ia tidak pernah menyangka bahwa selama ia di Filipina memperebutkan Sheena yang bukan miliknya, di Seoul ada seorang wanita yang sedang berjuang melahirkan dua nyawa yang memiliki darah dagingnya sendiri.
Matteo berdiri, ia melemparkan gelas wiskinya ke arah perapian hingga hancur berkeping-keping. Amarah, penyesalan, dan rasa rindu yang tidak masuk akal bercampur menjadi satu.
"Kau tidak bisa lari lagi, Chae-young," bisik Matteo dengan nada yang penuh obsesi. "Kau sudah mengambil lima tahun waktuku Bersama anak-anakku. Aku tidak akan membiarkanmu mengambil satu detik pun lagi mulai besok."
Besok, ia tidak akan datang sebagai CEO M-Nexus yang dingin. Ia akan datang sebagai pria yang menuntut hak atas apa yang ia tinggalkan di rahim wanita dengan aroma vanilla itu. Dan kali ini, tidak ada lagi kata mohon yang bisa menghentikannya.