Update setiap hari
"Di rumah ini, aku adalah madu yang paling manis, namun di dalam nadiku mengalir racun yang paling mematikan."
Gendis hanyalah seorang wanita dengan tutur kata lembut dan senyum yang menenangkan. Tidak ada yang menyangka, di balik wajah polosnya, ia menyimpan dendam membara terhadap Maya—istri pertama dari pengusaha muda sukses, Baskara. Baginya, kebahagiaan yang Maya miliki saat ini dibangun di atas puing-puing kehancuran keluarga Gendis di masa lalu.
Demi menuntaskan dendamnya, Gendis rela menanggalkan harga diri. Ia masuk ke dalam rumah tangga itu sebagai istri kedua, menjadi bayang-bayang yang perlahan-lahan menggerogoti kebahagiaan Maya dari dalam. Dengan siasat yang begitu halus dan manis, Gendis merebut simpati ibu mertua yang kaku, perhatian para pelayan, hingga seluruh ruang di hati Baskara.
Setiap tetes air mata yang jatuh di rumah itu adalah bagian dari simfoni balasan Gendis. Namun, saat rencana besarnya hampir mencapai puncak dan Maya mul
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: REINKARNASI DI BALIK LAMPU KRISTAL
Malam ini, Hotel Grand Atrium Jakarta berubah menjadi lautan cahaya. Karpet merah membentang dari lobi hingga pintu masuk Grand Ballroom, menyambut para tamu yang terdiri dari jajaran menteri, pengusaha papan atas, hingga pesohor negeri. Di undangan emas yang tersebar seminggu lalu, hanya tertulis satu agenda sederhana: "Malam Apresiasi dan Rebirth Hardianto Group." Namun, semua orang tahu, ini adalah pesta penyambutan kembali sang pewaris tunggal yang sempat hilang ditelan bumi.
Di dalam kamar Presidential Suite di lantai paling atas, Larasati berdiri mematung di depan cermin besar. Ia mengenakan gaun couture berwarna emas pucat dengan aksen bordir tangan yang menyerupai sayap burung foniks—simbol kebangkitan dari abu. Lehernya dihiasi kalung berlian peninggalan ibunya yang selama sepuluh tahun ia simpan di brankas bank paling aman.
"Ibu Larasati, sepuluh menit lagi acara dimulai," suara penata riasnya terdengar kagum. "Ibu tampak... luar biasa. Bukan hanya cantik, tapi berwibawa."
Larasati hanya tersenyum tipis. Ia menatap matanya sendiri di cermin. Tidak ada lagi keraguan. Tidak ada lagi bayang-bayang Gendis yang ketakutan. Ia adalah Larasati Hardianto, putri dari seorang pejuang yang dikhianati, dan malam ini, ia akan mengambil alih panggungnya kembali.
Pintu kamar terbuka. Baskara masuk dengan setelan tuksedo hitam yang dijahit sempurna. Rambutnya tertata rapi, dan wajahnya yang biasanya keras karena debu proyek kini tampak sangat tampan dan karismatik. Ia berhenti beberapa langkah di belakang Larasati, menatap bayangan istrinya di cermin dengan mata yang berkaca-kaca.
"Laras..." bisik Baskara. "Ayahmu pasti sedang tersenyum sekarang. Kamu adalah definisi dari keindahan yang lahir dari perjuangan."
Larasati berbalik, meraih tangan Baskara yang kini terasa hangat dan kokoh. "Aku tidak akan bisa berdiri di sini tanpa kamu, Baskara. Malam ini bukan hanya milikku. Ini milik kita. Kita akan berjalan masuk ke sana sebagai satu kesatuan. Tidak ada lagi istri pertama, tidak ada lagi istri kedua. Hanya ada kita."
Baskara mengecup kening Larasati lama. "Mari kita tunjukkan pada Jakarta bagaimana sebuah integritas dibangun kembali."
Lampu di Grand Ballroom tiba-tiba meredup saat pembawa acara mengumumkan kedatangan sang CEO. Pintu besar terbuka, dan musik orkestra yang megah mulai mengalun. Larasati berjalan masuk dengan tangan melingkar di lengan Baskara.
Keheningan seketika menyelimuti ruangan. Ribuan mata tertuju pada mereka. Bisik-bisik mulai terdengar di pojok-pojok ruangan.
"Itu Baskara Pratama, kan? Mantan suami Maya?"
"Lihat cara dia menggandeng Larasati. Begitu protektif."
"Larasati tampak sangat berbeda... dia tidak lagi terlihat seperti gadis malang yang kehilangan segalanya."
Larasati terus berjalan menuju podium dengan kepala tegak. Ia tidak memedulikan tatapan menghakimi atau bisikan sinis. Begitu sampai di atas panggung, ia berdiri di depan mikrofon perak. Cahaya lampu sorot (spotlight) jatuh tepat di wajahnya, membuatnya tampak berkilau.
"Selamat malam, Bapak dan Ibu sekalian," suara Larasati terdengar jernih dan berwibawa, memenuhi setiap sudut ruangan. "Sepuluh tahun yang lalu, Hardianto Group kehilangan nakhodanya. Selama sepuluh tahun itu, perusahaan ini berlayar di tengah badai korupsi, pengkhianatan, dan keserakahan. Banyak dari kalian yang mungkin mengenal saya sebagai Gendis—wanita yang terpaksa hidup dalam kepalsuan demi menjaga nyawanya sendiri."
Larasati berhenti sejenak, menatap kerumunan tamu. "Tapi malam ini, Gendis sudah mati. Yang berdiri di depan kalian adalah Larasati Hardianto. Saya kembali bukan untuk menuntut dendam, karena musuh-musuh saya telah jatuh oleh perbuatan mereka sendiri. Saya kembali untuk memulihkan warisan ayah saya, dan untuk memastikan bahwa keadilan bukan hanya sebuah kata dalam dokumen hukum, melainkan sebuah aksi nyata."
Ia memberikan isyarat kepada Aditama. Layar besar di belakang panggung menyala, menampilkan foto-foto proyek jembatan di desa-desa terpencil, sekolah-sekolah yang sedang direnovasi, dan klinik kesehatan gratis yang mulai dibangun.
"Inilah masa depan Hardianto Group," lanjut Larasati. "Kami tidak lagi mengejar profit di atas penderitaan orang lain. Sebagian besar keuntungan perusahaan ini akan dialihkan ke Yayasan Hardianto-Baskara. Dan orang yang akan memimpin seluruh proyek infrastruktur kemanusiaan ini adalah pria yang berdiri di samping saya, suami saya, Baskara Pratama."
Tepuk tangan meriah membahana. Para investor yang tadinya skeptis kini mulai memberikan penghormatan. Di tengah kerumunan, Larasati melihat beberapa mantan kolega Tuan Kusuma yang tampak pucat pasi, menyadari bahwa rezim kegelapan mereka telah benar-benar runtuh.
Setelah pidato yang menggetarkan itu, acara dilanjutkan dengan jamuan makan malam. Larasati dan Baskara berpindah dari satu meja ke meja lain, menyapa para tamu dengan ramah. Namun, di tengah keramaian itu, seorang wanita tua dengan gaun hitam sederhana mendekati mereka.
"Larasati..." suara wanita itu gemetar.
Larasati menoleh dan terkejut. Itu adalah Ibu Rahayu, ibu kandung Baskara. Wanita tua itu tampak sangat kurus, namun matanya memancarkan ketulusan yang luar biasa. Selama ini, Ibu Rahayu telah mengasingkan diri di sebuah pondok pesantren setelah skandal keluarga Pratama pecah.
"Ibu?" Baskara segera memeluk ibunya dengan erat. "Ibu datang?"
Ibu Rahayu menatap Larasati dengan mata berkaca-kaca. Ia meraih tangan Larasati dan menciumnya—sebuah tindakan yang membuat Larasati merasa sangat tidak enak. "Nak Laras... Maafkan keluarga kami. Maafkan semua dosa suamiku dan Maya padamu. Ibu merasa sangat berdosa karena pernah membiarkanmu menderita di rumah itu."
Larasati segera memeluk Ibu Rahayu, air matanya tak terbendung lagi. "Ibu, jangan berkata begitu. Ibu adalah satu-satunya orang di keluarga itu yang memberikan aku kasih sayang saat aku tidak punya siapa-siapa. Ibu tidak bersalah atas perbuatan mereka. Sekarang, mari kita lupakan masa lalu. Ibu adalah bagian dari keluarga kami sekarang."
Pemandangan itu terekam oleh kamera wartawan, menjadi momen paling emosional malam itu. Sebuah simbol rekonsiliasi yang sempurna antara dua keluarga yang sempat hancur oleh dendam.
Malam semakin larut. Saat tamu-tamu mulai berpamitan, Larasati mengajak Baskara ke balkon hotel yang menghadap ke arah gedung kantor pusat mereka. Angin malam bertiup lembut, memainkan ujung gaun emasnya.
"Kita melakukannya, Baskara," gumam Larasati. "Semuanya terasa seperti mimpi."
Baskara berdiri di belakangnya, melingkarkan lengannya di pinggang Larasati. "Ini bukan mimpi, Laras. Ini adalah hasil dari kesabaranmu yang luar biasa. Kamu adalah istri kedua yang paling tangguh di dunia, dan sekarang, kamu adalah satu-satunya ratu di hatiku."
Larasati bersandar di dada Baskara. "Tahu tidak? Dulu aku sangat membenci namaku sendiri. Aku benci menjadi Hardianto karena itu berarti aku punya target di punggungku. Tapi malam ini, aku bangga. Aku bangga membawa nama ini kembali ke tempat yang seharusnya."
"Larasati," panggil Baskara pelan.
"Ya?"
"Setelah semua kekacauan ini mereda... apakah kamu mau pergi ke sebuah tempat bersamaku? Tanpa kamera, tanpa wartawan, tanpa dokumen audit?"
Larasati menoleh, tersenyum manis. "Ke mana?"
"Kembali ke Ngargoyoso. Hanya untuk beberapa hari. Kita selesaikan pembangunan jembatan itu bersama-sama. Aku ingin kita meresmikan jembatan itu sebagai proyek pertama kita sebelum kita benar-benar mengurus perusahaan besar ini."
Larasati mengangguk setuju. "Aku merindukan nasi goreng buatanmu di bedeng proyek."
Baskara tertawa, suara tawanya terdengar lepas dan penuh kebahagiaan. "Janji. Tidak ada siasat, tidak ada rahasia. Hanya aku, kamu, dan masa depan kita."