"Nikahi aku, Abang Tukang Bakso!"
Demi menyelamatkan warisan Rumah Sakit dari ibu tiri yang kejam, Dokter Airine Rubyjane nekat menikahi Nata, pria penjual bakso di depan RS-nya. Airine pikir Nata hanyalah rakyat jelata yang mudah ia kendalikan.
Namun, ia salah besar. Di balik celemek berminyak itu, suaminya adalah Arnold Dexter, Komandan Intelijen legendaris yang sedang dalam misi penyamaran mematikan.
Satu per satu musuh Airine tumbang secara misterius. Saat cinta mulai tumbuh, Airine menyadari bahwa pria yang ia anggap "miskin" itu adalah predator paling berbahaya di negara ini yang sedang mengincar rahasia gelap kakeknya.
"Aku bukan sekadar tukang bakso, Istriku. Aku adalah alasan musuhmu takut pada malam hari."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Jam Berdetak di Rumah Tua
"Arnold, jika kakek benar-benar menuju ke rumah kita... kenapa dia harus kembali ke sana? Bukankah laboratorium di pulau ini sudah hancur total?"
Suara Airine terdengar parau, nyaris tertelan deru mesin sekoci taktis yang kini dipacu Arnold menuju daratan utama. Ia duduk memeluk lutut di atas kursi penumpang yang sempit, selimut termal masih melilit bahunya yang menggigil. Matanya yang sembap menatap Arnold yang sedang fokus pada radar navigasi di depannya. Ciuman panas yang baru saja mereka bagi seolah menjadi oase singkat sebelum badai baru kembali menghantam.
Arnold tidak segera menjawab. Jemarinya yang kasar bergerak lincah di atas panel kontrol, mengubah frekuensi komunikasi agar tidak terlacak. "Karena kakekmu adalah pria dari era analog, Airine. Dia tidak mempercayai awan digital atau server yang bisa diretas. Dia selalu memiliki salinan fisik. Dan tempat paling aman untuk menyembunyikan sesuatu yang mematikan adalah di tempat yang paling membosankan."
"Maksudmu... rumah utama?" Airine mengerutkan dahi, mencoba mengingat setiap sudut rumah masa kecilnya. "Aku sudah tinggal di sana seumur hidupku, Arnold. Aku tahu setiap retakan di dindingnya. Tidak ada ruang rahasia di sana, kecuali gudang wine Kakek yang sudah dikosongkan Ayah."
"Itulah masalahnya, Sayang. Kita melihat rumah itu sebagai rumah. Tapi Edward Jane melihatnya sebagai brankas," Arnold menoleh sejenak, menatap mata Airine dengan tatapan yang tajam namun penuh perlindungan. "Satya melaporkan ada aktivitas frekuensi radio yang sangat spesifik dari arah ruang kerja kakekmu yang lama. Ruangan yang semalam kita masuki."
Airine tersentak. Ia teringat saat mereka menemukan foto kakek Edward dan kakek Alexander. "Foto itu... foto kakek kita! Nata, apakah mungkin di balik bingkai itu?"
"Mungkin lebih besar dari sekadar bingkai foto," Arnold kembali menatap radar. "Satu mil lagi kita sampai di dermaga pribadi. Tim Bravo sudah menyiapkan mobil. Kita harus sampai di rumah sebelum helikopter kakekmu mendarat. Jika dia mendapatkan data cadangan itu, dia bisa membangun kembali kerajaannya di mana saja di dunia ini."
"Arnold," panggil Airine pelan.
"Ya?"
"Jika... jika Kakek benar-benar ada di sana. Apakah kamu akan menembaknya?"
Arnold terdiam. Keheningan yang menyesakkan menyelimuti sekoci itu selama beberapa detik. Hanya suara deburan ombak yang menghantam lambung kapal. "Dia membunuh ayahku, Airine. Dia mencoba meracunimu. Dia adalah ancaman bagi jutaan orang. Sebagai Komandan, jawabannya adalah ya. Tapi sebagai suamimu..." Arnold menghela napas berat. "Aku akan mencoba membawanya hidup-hidup. Hanya demi kamu."
Airine menggenggam tangan Arnold yang sedang memegang tuas mesin. "Terima kasih. Tapi jika dia membahayakan nyawamu... jangan ragu. Aku sudah kehilangan ibuku karena keegoisannya. Aku tidak mau kehilangan suamiku juga."
...****************...
Sekoci itu akhirnya bersandar di sebuah dermaga kayu yang tersembunyi di balik hutan bakau. Dua mobil SUV hitam tanpa plat nomor sudah menunggu dengan mesin menderu. Satya berlari mendekat, wajahnya penuh keringat dan debu.
"Komandan! Helikopter target sudah melintasi batas kota lima menit yang lalu. Mereka menuju atap kediaman Rubyjane!" lapor Satya cepat sambil menyerahkan sebuah rompi antipeluru baru untuk Arnold.
"Bagaimana dengan pengamanan di dalam rumah?" Arnold memakai rompinya dengan gerakan mekanis yang cepat.
"Dua tim kita di sana dilumpuhkan, Komandan. Mereka menggunakan gas penenang dosis tinggi yang disebar melalui sistem pendingin udara. Sepertinya Edward tahu persis letak instalasi pipa rumah itu," Satya memberikan sebuah pistol glock ke arah Airine, namun Arnold segera menepisnya.
"Dia tidak butuh senjata api, Satya. Dia punya tas medisnya," ucap Arnold tegas. Ia menatap Airine. "Di dalam tasmu, masih ada penawar gas saraf yang kamu buat tadi, kan?"
Airine memeriksa tas peraknya dengan cekatan. "Masih ada tiga dosis. Cukup untuk kita bertiga jika kita terkena paparan."
"Bagus. Masuk ke mobil. Kita tidak punya waktu untuk negosiasi di jalan raya," perintah Arnold.
...****************...
Di dalam mobil yang melaju kencang dengan sirene senyap, Airine terus meremas jemarinya. Ketegangan kembali memuncak. Ia melihat Arnold yang sedang memeriksa amunisi senjatanya. Pria di sampingnya ini benar-benar telah berubah kembali menjadi mesin perang.
"Arnold," bisik Airine di tengah kebisingan ban yang berdecit saat menikung. "Rumah itu... ada brankas kecil di bawah lantai kayu di perpustakaan. Kakek pernah bilang itu tempat dia menyimpan koleksi koin kunonya. Aku baru ingat sekarang."
Arnold menoleh dengan mata berbinar. "Koin kuno? Edward Jane tidak peduli pada hobi semacam itu. Itu pasti kuncinya. Brankas itu menggunakan kunci fisik atau kode?"
"Kunci fisik. Kunci kuno yang kamu temukan di dalam peti mati di makam kemarin!" Airine terperanjat, menyadari kepingan puzzle itu akhirnya menyatu. "Kunci itu bukan untuk laboratorium di pulau, Arnold! Kunci itu untuk brankas di rumah!"
Arnold memukul kemudi dengan telapak tangannya. "Sial! Dia memancing kita ke pulau hanya untuk menjauhkan kita dari rumah! Dia tahu kita akan membawa kunci itu bersamanya jika kita selamat. Dia ingin kita yang membawakan kunci itu kepadanya!"
"Jadi kita masuk ke dalam jebakannya lagi?" tanya Airine dengan suara bergetar.
"Tidak kali ini," Arnold menekan pedal gas lebih dalam, membuat mobil itu melesat melampaui batas kecepatan normal. "Kali ini, kita yang akan mengepungnya di kandangnya sendiri. Satya, hubungi Unit Udara! Aku ingin perimeter rumah ditutup total! Jangan biarkan helikopter itu lepas landas lagi begitu dia mendarat!"
Saat mereka mulai memasuki kawasan elit tempat rumah Airine berada, suasana terasa sangat sunyi. Tidak ada lampu jalan yang menyala, dan gerbang utama rumah tampak terbuka lebar. Di atas atap rumah yang megah itu, sayup-sayup terdengar suara baling-baling helikopter yang mulai mendekat.
Arnold menghentikan mobil seratus meter dari pintu masuk. Ia keluar dan menarik Airine agar tetap berada di belakang punggungnya.
"Dengar, Airine. Begitu kita masuk, tetaplah di belakang Satya. Aku yang akan masuk ke perpustakaan lebih dulu," ucap Arnold sambil memasang silencer pada senjatanya.
"Hati-hati, Nata," bisik Airine, menggunakan nama panggilannya yang paling lembut.
Arnold menatapnya sekilas, memberikan anggukan yang mantap, lalu bergerak maju menuju pintu depan rumah yang gelap. Bau antiseptik yang samar mulai tercium di udara—tanda bahwa gas penenang telah dilepaskan di dalam sana. Perang terakhir mereka telah dimulai di tempat yang seharusnya menjadi tempat paling aman bagi mereka.
...****************...