Gladys Chandra Wiguna atau biasa dipanggil Gadis adalah mahasiswi berbakat dari fakultas bergengsi Kota A. Wajah cantik dan sosok mungilnya menyembunyikan jiwa pemberani yang kuat.
Malam itu, saat ia pulang dari cafe, seorang pria memaksanya masuk mobil. Di dalamnya menanti Langit Mahesa seorang bisnis man yang memiliki perusahaan raksasa di kota A. Pria yang sudah memiliki istri, Bella Safira. Akankah Gadis kembali ke kehidupannya yang tenang? Ataukah cinta tak terduga tumbuh di antara mereka, menggoyahkan semua yang ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceriwis07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gadis
Angin malam benar-benar menusuk tulang setiap hembusannya menyapu wajahnya yang sudah terbakar dingin, membuat kulitnya mengerincing dan tubuhnya menggigil berkali-kali. Suara jangkrik yang dulu mungkin dianggapnya tenang, sekarang terdengar seperti berdengung keras di telinganya, sama saja dengan kebisingan yang berputar di kepalanya.
Kakinya berat sekali saat melangkah di atas tanah liat yang basah dan berlubuk-lubuk akibat hujan kemarin. Setiap langkah membuatnya harus mengerahkan semua kekuatan yang tersisa tubuhnya sakit dari ujung kepala sampai ujung kaki, bagian perutnya terasa kembung dan tidak nyaman seperti ada sesuatu yang menyakitinya dari dalam. Ia merasa seperti apel yang baru saja dibelah kasar, bagian dalamnya terbuka dan terpapar, seolah siap untuk diambil dan diperas habis-habisan.
Pintu kostannya sudah tampak di kejauhan lampu bohlam kuno di depan pintu hanya memberikan sedikit cahaya kemerahan yang samar. Tangan mungilnya mengeratkan genggaman di depan dadanya, memeluk dirinya sendiri seolah bisa memberikan sedikit kehangatan, tapi hanya rasa dingin yang terasa dari kulitnya sendiri.
Ketika ia akhirnya sampai tepat di depan pintu yang tidak tertutup rapat, matanya benar-benar ingin melompat dari tempatnya.
Di dalam kamar kost yang sempit itu, Yanto sudah duduk manis di atas ranjang kayu yang menjadi miliknya dengan badan besar menekan seprai yang sudah lusuh. Tangan kanannya memegang ponsel jadul yang warnanya sudah memudar, layarnya berkedip-kedip saat ia menggulir sesuatu di layarnya. Tangan kirinya memegang cerutu yang sudah separuh habis, ujungnya menyala dengan cahaya oranye yang bergoyang setiap kali ia menarik napas.
Asap tembakau tebal memenuhi ruangan, membuat gadis itu langsung batuk pelan. Bau amis dan gosongnya menusuk tenggorokannya yang sudah kering. Segera saja rasa ingin kabur datang seperti gelombang ia lebih suka berlari keluar ke malam yang dingin itu ketimbang harus menghadapi pria yang selalu menyebut dirinya Bapak padanya.
Ia coba mundur perlahan-lahan, mengangkat kaki satu per satu dengan hati-hati agar tidak membuat suara. Tapi takdir seolah sudah mengatur kakinya yang tidak sengaja menginjak ranting kayu kering yang terbentang di depan pintu, mengeluarkan suara kreeek! yang jelas sekali terdengar di tengah sunyi malam.
"Hei.. Mau kemana kamu?!"
Suara Yanto seperti guntur yang pecah keras dan menusuk. Pria itu langsung menepukkan ponselnya ke atas ranjang, membuang cerutunya yang masih menyala ke lantai dan menginjaknya dengan kuat. Ia bangkit dengan cepat, badannya besar bergerak seperti raksasa menuju anaknya yang sudah terbebani takut.
Sebelum ia bisa berlari, tangannya besar dan kasar sudah meraih rambut panjang Gadis yang sudah sedikit berantakan. Ia menariknya dengan kuat ke belakang, membuat kepala anaknya terpaksa mengangkat mengikuti arah tarikan dengan lehernya terasa seperti akan patah.
"Auh... ah... sakit Pak! Tolong lepas!" Gadis itu menjerit dengan suara yang pecah-pecah, tangannya mencoba menarik tangan Yanto untuk melepaskan genggamannya, tapi kekuatannya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan pria itu. Rasa sakit menusuk dari akar rambutnya ke seluruh kepalanya, membuat matanya berkaca-kaca karena air mata yang tak bisa dikendalikannya.
"Kamu mau kabur ya? Coba aja kamu kabur!" Suara Yanto penuh dengan kemarahan, napasnya yang bau tembakau menyemprot ke wajah anaknya. "Mana uangnya?! Aku minta uang sekarang juga!" Ia mengocok kepalanya dengan kasar saat berteriak, membuat dunia seolah berputar di hadapannya.
"Nggak ada Pak... aku belum dapat gaji lagi..." bisik Gadis dengan suara yang terengah-engah, tubuhnya menggigil bukan karena dingin lagi tapi karena ketakutan. "Kemarin kan Pak baru saja ambil semua uang gajiku... belum ada lagi..."
Kata-katanya seolah membuat Yanto semakin marah. Wajahnya yang sudah merah karena marah semakin memerah, matanya memerah dan melihat anak gadisnya dengan pandangan yang menyakitkan. Tanpa aba-aba, telapak tangannya yang besar mendarat dengan keras di pipi gadis itu yang mulus.
PLAK!
Suara tamparan itu begitu kerasnya, seolah menggema di kesunyian malam. Rasa sakit yang menusuk langsung menyebar dari pipinya ke seluruh wajahnya ia bisa merasakan panas yang membakar, dan bibirnya terasa basah karena darah yang keluar dari sudut mulutnya. Gadis menjerit kecil, tubuhnya melengkung ke samping akibat kekuatan tamparan itu, tapi tangan Yanto masih tetap menggenggam rambutnya dengan erat.
Air matanya menetes deras ke pipinya yang sakit itu, bercampur dengan sedikit darah yang mengalir perlahan ke dagunya.
"Kalau bukan karena Sila yang sangat menginginkan kamu untuk menjadi anak kami, kamu pasti sudah mati!" Yanto menjerit dengan suara yang menggema di kamar sempit itu, tangannya masih menggenggam rambut Gadis dengan erat. Matanya penuh dengan kemarahan yang menyala, tapi di balik itu ada sedikit kesedihan yang sulit dilihat.
Yanto memang bukan ayah kandungnya Gadis ditemukan saat masih bayi yang baru beberapa bulan di taman kota, saat Yanto dan istrinya Sila sedang memungut botol bekas air mineral untuk ditukarkan uang di pabrik daur ulang. Itu sudah lebih dari dua puluh tahun yang lalu, ketika kehidupan mereka masih sangat sederhana dan penuh kesusahan.
Malam itu sangat sepi hanya suara jangkrik dan angin yang menyapu dedaunan kering yang terdengar di sekitar taman yang sunyi. Cahaya lampu jalan yang jarang hanya memberikan sedikit penerangan kemerahan samar. Sila sedang menyelipkan botol-botol yang terkumpul ke dalam karung bekas ketika suara tangis bayi terdengar sangat jelas di dekatnya. Tangisan itu lemah tapi terus menerus, penuh dengan kesusahan dan ketakutan di tengah malam yang sunyi.
Tanpa berpikir panjang, Sila meninggalkan karungnya dan mulai menelusuri taman mengikuti suara tangisan itu. Ia melewati taman bermain yang sudah sunyi, melewati rerumputan yang basah karena embun malam, sampai akhirnya menemukan sebuah kotak kardus hitam yang terletak di bawah pepohonan besar yang rindangnya menutupi sebagian cahaya lampu jalan. Di dalamnya, seorang bayi mungil sedang menangis dengan wajahnya yang kebiruan karena dingin, tangannya dan kakinya kecil bergerak kesusahan di dalam selimut tipis yang membungkusnya.
Perlahan-lahan, Sila meraih bayi itu dengan hati-hati, seperti sedang menyentuh sesuatu yang sangat rapuh. Tubuh bayi itu sangat dingin, membuat Sila langsung menutupinya dengan bagian dalam bajunya yang lebih hangat. Di samping bayi ada sebuah botol susu plastik yang sudah hampir kosong, dan sebuah tas kecil warna biru tua yang terlihat agak lusuh karena terkena embun. Ketika ia membuka tas itu dengan tangan yang sedikit gemetar, ia menemukan segepok uang kertas yang banyak, sebuah kalung perak dengan plat yang bertuliskan huruf-huruf WIGUNA dengan ukiran rapi yang berkilap lemah di bawah cahaya lampu jalan, dan secarik kertas putih yang sudah sedikit kusut dan lembap.
Ia membaca tulisan di kertas itu dengan mata yang penuh perhatian, harus mendekatkan wajahnya ke kertas agar bisa membacanya jelas
"Tolong jaga bayi ini, namanya Gladis Candra Wiguna. Dia anak saya, saya terpaksa membuangnya karena saya tidak mau bayi ini dibunuh oleh kakeknya. Tolong pakai kan juga kalung yang ada di dalam tas ini, agar kelak saya bisa menemukannya dan membalas jasa anda. Terimakasih."
Kata-kata itu membuat mata Sila menjadi berkaca-kaca. Ia sendiri sudah lama mengharapkan kehadiran seorang anak, tapi karena kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan, ia tidak bisa memiliki anak kandung. Bagaimana bisa ada orang yang rela membuang anaknya sendiri di tengah malam yang dingin, bahkan harus menyembunyikannya dari bahaya?
Dari kejauhan terdengar suara panggilan Yanto suaminya sedang mencari dia dengan menyinari jalan dengan senter kecil yang mereka miliki. Dengan cepat, Sila menyembunyikan tas beserta uang, kalung, dan surat itu di dalam bagian dalam bajunya yang ada kantong tersembunyi. Ia menenangkan bayi mungil itu dengan sedikit menggendongnya dan menyusui lembut pipinya, membuat tangisan bayi itu perlahan reda.
Ketika Yanto tiba di tempat itu dengan sinar senter yang menerpa wajah Sila, wajahnya langsung menunjukkan ketidaksenangan. Ia melihat bayi di pangkuan Sila dengan tatapan yang tidak suka.
"Lihat mas... lihat apa yang kudapatkan!" ucap Sila dengan suara penuh antusias, meskipun hatinya sedikit gemetar karena khawatir suaminya tidak akan menyetujuinya.
Yanto menghela nafas panjang dan menggelengkan kepala, sinar senternya menyala-nyala karena tangannya sedikit gemetar. "Halah... Apa ini? Anak siapa sih ini? Cari orang tuanya kasihkan, jangan ngawur kamu!" Ucapnya dengan nada yang keras dan tidak mau mendengar alasan apa pun, matanya melirik karung botol yang masih banyak tersisa di tanah mereka sangat membutuhkan uang dari hasil pemungutan botol itu untuk membeli beras besok pagi.
Apakah takdir akan membantu Gadis menemukan keluarga yang sebenarnya?
Atau malah, akan hancur di tangan Bapak angkatnya?