Tamara, seorang gadis muda berusia 19 tahun rela menjadi pelayan demi membalas dendam pada orang-orang yang telah menyakiti keluarganya.
Namun saat sedang menjalankan misi, hal yang tak terduga terjadi. Tamara terlibat cinta segitiga dengan suami majikannya.
Akankah misi Tamara untuk balas dendam berhasil? ikutin terus kisahnya ya🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alisha Chanel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Celah kejahatan
Keadilan akhirnya ditegakkan. Pengadilan memutuskan bahwa seluruh tuduhan terhadap keluarga Giyandra terbukti kuat dan sah. Penggelapan dana, pemalsuan dokumen, hingga pengalihan aset yang dilakukan selama belasan tahun, semuanya terkuak jelas.
Namun, takdir seolah masih memberikan celah bagi kejahatan. Ayah Giyandra telah meninggal dunia sebelum kebenaran terungkap, sehingga hukuman berat hanya jatuh pada Ibu Giyandra dan dirinya sendiri.
Ibu Giyandra langsung digiring masuk penjara untuk menjalani hukuman yang sangat panjang, namun nasib Giyandra berbeda. Wanita itu mengajukan banding dengan strategi yang sudah ia hitung matang-matang. Ia mengadu pada belas kasihan hukum dengan mengaku sedang membesarkan seorang bayi yang masih sangat membutuhkan kasih sayang sang ibu.
"Yang Mulia Hakim, saya mengakui kesalahan saya, tapi tolong lihatlah anak ini... ia masih bayi, belum mengerti apa-apa. Jika saya dipenjara, siapa yang akan menyusuinya? Siapa yang akan menjaganya?" isak Giyandra di ruang sidang, air matanya mengalir deras seolah ia adalah ibu paling menyedihkan di dunia.
Pihak berwajib dan majelis hakim akhirnya mengabulkan permohonan tersebut. Giyandra diperbolehkan menjalani tahanan kota dan bebas bergerak dengan syarat tertentu, sambil menunggu proses hukum selanjutnya.
Begitu kaki Giyandra melangkah keluar dari gedung pengadilan, isak tangisnya lenyap seketika. Wajah yang tadi tampak pilu berubah menjadi seringai licik yang menakutkan. Matanya memancarkan api dendam yang membara.
"Kau pikir kau sudah menang, Tamara?" gumamnya pelan, membelai bayi mungil dalam gendongannya. "Ini baru permulaan. Kau telah menghancurkan hidupku, menghancurkan keluargaku... sekarang giliranmu merasakan neraka yang sama."
Giyandra tahu, satu-satunya orang yang bisa ia manfaatkan saat ini adalah ayah kandung dari bayinya.
Dengan mobil yang ia sewa secara diam-diam, Giyandra menempuh perjalanan jauh menuju pinggiran kota, masuk semakin dalam ke area perumahan yang terpencil dan sepi. Tujuannya adalah sebuah rumah mewah yang berdiri sendiri di tengah lahan luas. Di sana, tinggal seorang pria yang selama ini memilih hidup menyendiri, memutuskan hubungan dengan dunia luar dan juga keluarganya sendiri.
Pria itu bernama Daniel.
Daniel adalah kakak kandung dari Dion. Wajah, postur tubuh, hingga sorot matanya sangat mirip dengan Dion, seolah mereka adalah cerminan satu sama lain. Karena kemiripan itu, bayi yang lahir dari rahim Giyandra juga memiliki wajah yang sangat identik dengan Dion, sebuah fakta yang kelak akan menjadi pedang bermata dua.
Giyandra turun dari mobil, menggendong bayinya dengan erat. Ia mengetuk pintu kayu itu dengan tangan gemetar, bukan karena takut, tapi karena antisipasi.
Pintu terbuka sedikit, menampakkan wajah tampan namun dingin dan kusam milik Daniel. Rambutnya agak panjang, jenggotnya belum dicukur, dan tatapannya tajam seperti elang yang terganggu. Saat melihat siapa yang datang, alisnya langsung terangkat sinis.
"Kau?" desis Daniel, suaranya berat dan serak. "Apa yang kau lakukan di sini, Giyandra? Pergi! Aku tidak mau melihat wajahmu."
Giyandra tidak mundur. Justru ia mendorong tubuhnya masuk ke dalam rumah yang berbau kayu dan kesepian itu.
"Daniel, tolong... aku tidak punya tempat lain untuk pergi," ucap Giyandra dengan suara lembut, namun matanya menyimpan kelicikan. Ia tahu bagaimana cara memainkan peran wanita lemah. "Aku dalam masalah besar. Kasus lamaku terbongkar. Tamara menghancurkan segalanya. Jika aku dipenjara, apa yang akan terjadi pada anak kita?"
Giyandra mengangkat bayi itu ke hadapan Daniel. Wajah kecil itu terbuka, memperlihatkan fitur yang sangat jelas, warna mata dan bentuk hidung yang 100% milik kluarga mereka.
Daniel menatap bayi itu. Ada getaran aneh di dadanya, tapi ia segera menepisnya dengan kemarahan. Ia ingat betul bagaimana wanita ini menjebaknya dulu. Saat itu Giyandra datang dengan wajah memelas, meminta ditemani, lalu mencampurkan sesuatu ke dalam minumannya. Saat ia sadar, semuanya sudah terjadi. Giyandra mengandung anak itu sebagai jebakan, sebagai alat penekan.
"Itu bukan urusanku, Giyandra!" bentak Daniel, mundur selangkah dengan tangan mengepal kuat. Wajahnya memerah menahan emosi. "Kau pikir aku lupa bagaimana caramu menjebakku malam itu? Kau merencanakan semua ini! Kau yang mau anak ini, jadi urus saja sendiri!"
"Tapi Daniel, dengar aku..." Giyandra mencoba meraih lengan pria itu, namun ditepis kasar.
"Tidak ada yang perlu didengar!" potong Daniel keras, suaranya menggema di ruangan yang luas itu. "Aku sudah meninggalkan semua kekayaan dan nama besar keluargaku agar bisa hidup tenang! Aku tidak mau terlibat dalam masalahmu atau siapapun, dan tidak mau tahu soal anak itu! Kau dan anakmu tidak ada hubungannya denganku!"
"Tapi dia darah dagingmu!" teriak Giyandra, suaranya meninggi, mulai kehilangan kesabaran meski masih berusaha terlihat menyedihkan. "Lihat wajahnya! Dia mirip sekali denganmu! Mirip dengan Dion! Kalau aku masuk penjara, dia akan jadi anak yatim piatu! Dia akan menderita! Apakah kau tega melihat anak sendiri menderita hanya karena egomu?"
Giyandra mendekat lagi, matanya menatap tajam menusuk jiwa Daniel.
"Kau bilang kau ingin hidup tenang? Bisakah kau benar-benar tenang, Daniel, kalau setiap malam kau terbayang wajah anakmu yang kelaparan atau disiksa di panti asuhan hanya karena ibunya dipenjara? Hukum mungkin membebaskanku sementara waktu, tapi Tamara tidak akan berhenti. Dia akan terus mengejarku. Hanya kau yang bisa melindungiku... hanya kau yang bisa melindungi anakmu sendiri."
Daniel terdiam, keningnya berkerut dalam. Ia memandang bayi yang mulai menangis itu, lalu menatap wajah Giyandra yang penuh dengan kepura-puraan. Ia tahu wanita itu licik, ia tahu ia sedang dimanipulasi. Namun naluri seorang pria, dan bayangan wajah adiknya yang ada pada bayi itu, membuat hatinya goyah.
"Kau memang wanita iblis..." desis Daniel pelan, napasnya memburu. "Kau tahu persis cara mana yang paling menyakitkan untuk menekanku."
Giyandra menyembunyikan senyum kemenangan di balik bayangannya. Jebakannya mulai bekerja. Daniel sudah terpancing. Sekarang, ia hanya perlu memainkan perannya dengan sempurna untuk membuat pria ini sepenuhnya tunduk dan membantunya menghancurkan Tamara.
Bersambung...