NovelToon NovelToon
Shan Luo

Shan Luo

Status: tamat
Genre:Action / Balas Dendam / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:12.8k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

“Demi ibu, apa pun akan kulakukan!”

Dianggap sampah oleh ayahnya sendiri karena tak memiliki bakat kultivasi, Shan Luo hidup dalam hinaan. Demi melindungi ibunya, ia memilih pergi meninggalkan segalanya.

Takdirnya berubah saat ia menemukan sebuah gua misterius yang menyimpan warisan terlarang: Sabit Jiwa Kegelapan.

Dengan kekuatan itu, Shan Luo bersumpah
“Aku akan membalas semua yang menghina aku dan ibuku!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Lin Yue

Cahaya fajar yang pucat menyelinap masuk melalui celah jendela yang miring, menerangi debu-debu yang beterbangan di udara.

Shan Luo mengerang, kelopak matanya terasa seberat timah. Setiap inci otot di tubuhnya terasa seolah baru saja dipelintir oleh kekuatan raksasa, dan Dantian-nya berdenyut dengan sisa-sisa energi dingin yang belum tenang.

​"Shan’er? Kau sudah bangun?"

​Suara lembut Xue Ling menyapa indranya. Shan Luo berusaha duduk, namun rasa pening menyerangnya.

Ia melihat ibunya duduk di tepi ranjang, wajahnya tampak jauh lebih sehat berkat kalung hijau zamrud yang masih berpendar tenang di lehernya.

​"Ibu ... di mana pria itu? Di mana pembunuh klan Shan?" suara Shan Luo serak, tangannya secara refleks meraba lengannya sendiri. Tato sabit itu masih ada, namun terasa 'tertidur' jauh di dalam jiwanya.

​"Mereka sudah pergi. Seseorang ... seseorang menyelamatkan kita," bisik Xue Ling sambil melirik ke arah sudut ruangan yang remang-remang.

​Shan Luo menoleh. Di sana, duduk di atas kursi kayu tua dengan sikap yang begitu tegak dan berwibawa, adalah wanita berpakaian hijau zamrud semalam.

Rambutnya masih terikat tinggi, dan di bawah cahaya pagi, kecantikannya tampak tidak nyata, dingin, tajam, namun memiliki aura keagungan yang menekan.

​Wanita itu berdiri, langkah kakinya tidak mengeluarkan suara saat ia mendekat ke arah tempat tidur.

​"Namaku Lin Yue," ucapnya pendek. Suaranya seperti denting pedang perak yang jatuh ke atas es. Hanya nama itu, tanpa gelar, tanpa asal.

​Shan Luo menatapnya dengan waspada, tangannya mengepal di balik selimut. "Kenapa kau menolong kami? Dan apa yang kau lakukan padaku semalam?"

​Lin Yue tidak langsung menjawab. Ia berdiri tepat di depan Shan Luo, menatap dalam ke arah wajah pemuda itu.

Tatapannya yang setajam belati perak itu tiba-tiba melunak, berubah menjadi sesuatu yang sulit dijelaskan, sebuah campuran antara kesedihan yang mendalam dan rindu yang tertahan selama bertahun-tahun.

​Perlahan, Lin Yue mengangkat tangannya. Shan Luo sempat tegang, mengira akan diserang lagi, namun jari-jari lentur wanita itu justru menyentuh helai rambut Shan Luo.

Ia membelai lembut bagian rambut yang berwarna putih perak, lalu beralih ke bagian yang hitam pekat.

​Dua warna yang kontras, menyatu dalam satu kepala.

​"Rambut ini ..." gumam Lin Yue. Matanya yang dingin kini tampak berkaca-kaca, meski ia berusaha keras menahannya.

​Lin Yue perlahan mengusap pipi Shan Luo. Sentuhannya hangat, sangat berbeda dengan aura energinya yang mematikan.

Ia menatap Shan Luo seolah-olah ia tidak sedang melihat pemuda di depannya, melainkan bayangan seseorang dari masa lalu yang sangat ia cintai.

​"Warna rambutmu ... membuatku teringat dengan orang yang pernah membuatku jatuh cinta untuk pertama kalinya," bisik Lin Yue, suaranya sedikit bergetar. "Cinta pertamaku. Namun, dia adalah seseorang yang takkan pernah bisa kugapai. Cintaku bertepuk sebelah tangan hingga hari ini."

​Shan Luo tertegun. Ia bisa merasakan kesedihan yang tulus dari sentuhan wanita ini.

Seolah-olah dengan menyentuh rambutnya, Lin Yue sedang mencoba memanggil kembali kenangan yang telah lama terkubur.

​"Siapa dia?" tanya Shan Luo pelan.

​Lin Yue menarik tangannya kembali, wajahnya kembali menjadi topeng yang dingin dalam sekejap, meski matanya masih menyiratkan rasa sayu. "Itu bukan urusanmu. Yang perlu kau tahu adalah, kau memiliki potensi untuk menjadi iblis yang akan menghancurkan benua ini, atau menjadi pendekar yang menjadi legenda."

​Lin Yue berjalan menuju jendela, menatap ke arah langit Linyi yang mulai cerah.

​"Kau memiliki Sabit Jiwa Kegelapan. Artefak Kelas Langit itu akan memakan jiwamu sedikit demi sedikit setiap kali kau haus darah. Tanpa bimbingan yang benar, kau tidak akan bertahan sampai usia dua puluh tahun. Kau akan menjadi cangkang kosong bagi iblis di dalam sabit itu."

​Ia berbalik, menatap Shan Luo dengan otoritas yang mutlak. "Mulai hari ini, aku akan menjadi gurumu. Aku akan mengajarimu cara menjinakkan kegelapan itu dengan teknik yang sebenarnya. Bukan teknik kasar yang kau gunakan semalam."

​Shan Luo terdiam, melirik ke arah ibunya. Xue Ling mengangguk pelan, seolah memberi restu.

Ia tahu bahwa hanya wanita kuat ini yang bisa menjaga putranya dari kegilaan yang ia lihat semalam.

​"Kenapa anda mau mengajariku?" tanya Shan Luo. "Hanya karena rambutku mengingatkanmu pada pria itu?"

​Lin Yue terdiam sejenak. Ia kembali mendekati Shan Luo, membungkuk sedikit hingga wajah mereka berdekatan.

Ia merapikan helaian rambut putih di dahi Shan Luo dengan gerakan yang sangat lembut, hampir seperti seorang ibu, atau mungkin seorang kekasih yang merindukan pasangannya.

​"Mungkin," jawab Lin Yue lirih. "Atau mungkin karena aku ingin melihat, apakah anak dengan rambut dua warna ini bisa mencapai puncak yang seperti dia."

​Ia mengusap pipi Shan Luo sekali lagi dengan jempolnya, sebuah tatapan nostalgia yang menyakitkan melintas di wajahnya sebelum ia berdiri tegak kembali.

​"Bersiaplah. Kita tidak bisa tinggal di Linyi lebih lama lagi. Shan Bo telah melarikan diri, dan dia akan membawa pasukan yang lebih besar dari klan utama. Kita akan pergi ke tempat di mana tak seorang pun dari Klan Shan bisa menyentuhmu."

​Shan Luo merasakan getaran di dalam hatinya. Untuk pertama kalinya sejak ia keluar dari penjara klan, ia merasakan ada seseorang selain ibunya yang peduli padanya, meskipun kepedulian itu datang dari bayang-bayang cinta masa lalu wanita tersebut.

​"Baik, Guru," ucap Shan Luo mantap.

​Lin Yue sedikit tersentak saat mendengar kata 'Guru' keluar dari mulut Shan Luo.

Ia memalingkan wajahnya, mencoba menyembunyikan senyum tipis yang muncul karena rasa rindu yang sedikit terobati.

1
Ajipengestu
lanjut thor👍
Iwa Kakap
ribet amat thor
Beni: itu cuma penjelasan naik ranah sama kesulitannya aja. gak perlu di pikirin hehe. /Pray/
total 1 replies
angin kelana
ayooooo jdi juara💪💪💪
Beni
oke... 😐
Beni
😛
Beni
/Hunger//Sweat/
Beni
😐
Beni
oke... 😐
angin kelana
semangat bertarung💪💪💪
angin kelana
anak baik👍
angin kelana
semangaaat menjadi kuat..
angin kelana
ayo buktikan kekuatanmu💪💪💪
angin kelana
ayoooo lebih kuat lg
angin kelana
lanjuuuttt...
angin kelana
kalo untuk pengenalan bole lah pake english tpi ke depannya gak usah ajah ini kan fantasi timur bukan barat..lanjut👍
Beni: nanti di revisi ya, terima kasih/Pray/
total 1 replies
angin kelana
lanjuuuttt..
angin kelana
dunia yg kejam.😬
Beni
😐
Jade Meamoure
bagus 🤣🤣🤣
Jade Meamoure
Yan Bingchen bukankah itu patriarki sekte es ya
Beni: Pendekar es dan api
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!