NovelToon NovelToon
Putri Tersembunyi Sang Kaisar

Putri Tersembunyi Sang Kaisar

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:57.1k
Nilai: 5
Nama Author: Yulianti Azis

Xu Natalia, wanita yang diam-diam mengangkat keluarga Li dari rakyat biasa menjadi bangsawan, justru dihina saat suaminya, Li Adrian, pulang dari perang membawa istri lain. Tanpa banyak kata, ia memilih bercerai dan pergi hanya dengan harga dirinya.

Tak ada yang tahu wanita yang mereka remehkan adalah putri kaisar dari negeri seberang sekaligus ahli pengobatan yang mampu mengubah takdir.

Bagaimanakah saat keluarga Li tahu identitas Natalia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Siapa Dia?

Pria berhanfu hitam itu masih berdiri, pedangnya meneteskan darah di tanah yang sudah dipenuhi jasad. Wajahnya tetap dingin, namun napasnya sedikit berat setelah pertarungan panjang itu.

Ia perlahan menoleh ke arah Natalia. “Kau … bukan orang biasa.”

Natalia mengangkat bahu ringan. “Bisa dibilang begitu.” Tatapannya menelusuri sosok pria itu dengan tajam. “Kau juga aneh. Tidak bisa melihat, tapi bertarung seperti monster.”

Pria itu terdiam sesaat sebelum akhirnya menurunkan pedangnya. “Terima kasih, atas bantuanmu tadi.” Ia menarik napas pelan. “Boleh aku tahu namamu? Dan apa yang kau lakukan di Hutan Larangan?”

Natalia tidak menjawab pertanyaan itu. Ia justru mendekat sedikit, menatap mata pria itu dengan penuh analisis.

“Kau terkena racun, bukan?” ucapnya tiba-tiba. “Racun itu menyerang saraf penglihatanmu, membuatmu seperti buta.”

Pria itu tampak terkejut tipis. Namun belum sempat ia berkata apa-apa Natalia sudah mengeluarkan beberapa benda dari kalung dimensinya.

Jarum-jarum halus, botol kaca kecil berisi cairan bening dan gelap, serta alat-alat logam kecil yang tampak asing.

“Ayo duduk,” katanya tenang. “Aku akan menyembuhkanmu.”

Pria itu terdiam cukup lama. Lalu akhirnya ia duduk perlahan di atas akar pohon.

“Kenapa kau mau menolong orang yang tidak kau kenal?” tanyanya pelan.

Natalia menyiapkan jarum tanpa menoleh. “Aku hanya mengikuti ucapan ibuku.” Tangannya bergerak cekatan. “Menolong seseorang tanpa memandang siapa dia.”

Pria itu tidak berkata lagi.

Natalia mulai menancapkan jarum-jarum tipis di beberapa titik di kepala pria itu. Titik-titik akupunktur yang berkaitan dengan saraf dan aliran energi tubuh.

Namun tidak hanya itu. Ia juga meneteskan cairan obat dari botol kecil ke ujung jarum, membuat zat tersebut langsung masuk ke dalam tubuh melalui jalur yang tepat. Metode itu adalah perpaduan antara akupunktur tradisional dan terapi obat modern yang ia kuasai.

“Buka bajumu,” ucap Natalia singkat.

Pria itu langsung menegang. “Apa?” katanya waspada. “Kau mau apa? Jangan-jangan kau—”

Natalia mendengus kesal. “Aku tidak berniat memperkosamu.” Ia melirik sekilas dengan ekspresi datar. “Lagipula, badanmu ini sangat biasa saja.”

Hening sejenak.

Pria itu terdiam, lalu akhirnya menurut tanpa banyak bicara.

Begitu bagian atas tubuhnya terbuka, Natalia mulai bekerja lagi. Ia menancapkan jarum di beberapa titik di dada dan punggung, lalu mengoleskan salep berwarna gelap yang berbau tajam.

Ia bahkan menggunakan alat kecil untuk menekan titik tertentu, membantu mempercepat peredaran racun keluar dari tubuh.

“Racun ini sudah menyebar cukup dalam,” gumamnya. “Tapi masih bisa ditarik keluar.”

Pria itu mengerutkan kening saat rasa sakit mulai menjalar. Kepalanya berdenyut hebat, tubuhnya terasa panas dan dingin secara bersamaan.

“Tahan,” ucap Natalia singkat.

Tiba-tiba pria itu tersentak.

“Ugh!”

Ia memuntahkan segumpal darah hitam pekat ke tanah. Bau busuk langsung menyebar di udara.

Tubuhnya gemetar sesaat. Namun setelah itu, napasnya perlahan menjadi lebih ringan.

Natalia mencabut satu per satu jarumnya dengan tenang. “Racun utamanya sudah keluar.”

Ia merapikan alat-alatnya kembali ke dalam kalung dimensi. “Mungkin penglihatanmu akan mulai pulih besok atau lusa.”

Pria itu masih sedikit terengah. Namun untuk pertama kalinya, ia merasa tubuhnya jauh lebih ringan.

Ia mengangkat wajahnya, penglihatannya masih samar. “Nona—”

Namun Natalia sudah berdiri.nTanpa menunggu balasan, ia berbalik dan berjalan pergi begitu saja.

“Nona!” panggil pria itu sekali lagi. “Tunggu!”

Namun Natalia tidak menoleh sedikit pun. Sosoknya perlahan menghilang di antara pepohonan.

Beberapa saat setelah kepergiannya, beberapa bayangan muncul dari balik hutan. Mereka berlutut di hadapan pria itu dengan cepat.

“Ampuni kami, Pangeran,” ucap mereka serempak. “Kami datang terlambat.”

Pria itu yang ternyata seorang pangera kembali mengenakan pakaiannya dengan tenang. Wajahnya kembali dingin seperti semula.

“Cari tahu siapa gadis itu,” perintahnya singkat.

Salah satu pria di antara mereka, yang tampak seperti tangan kanan, sedikit terkejut.

“Pangeran … apa nona itu mungkin—”

Kalimatnya terhenti. Tatapan sang pangeran berubah tajam. Dingin. Menekan. “Jangan banyak bicara,” ucapnya rendah.

Glek!

Mereka langsung menelan ludahnya sendiri dengan wajah ketakutan.

*

*

“Hah! Akhirnya aku menemukanmu, bocah nakal!” seru Natalia dengan napas sedikit terengah, matanya menatap tajam ke arah anak laki-laki yang berdiri gemetar di depannya.

Setelah menelusuri hutan larangan, akhirnya ia menemukan anak itu yang ternyata berada di pinggiran hutan karangan.

Anak berusia sekitar sepuluh tahun itu mundur selangkah, wajahnya pucat pasi. Tangannya yang kecil masih menggenggam kantung uang Natalia dengan erat.

“Ibu … ibu .…” lirihnya ketakutan.

Seorang wanita kurus dengan pakaian lusuh segera berlari keluar dari gubuk kecil di belakangnya. Wajahnya panik saat melihat Natalia.

“Maafkan kami, Nona! Maafkan putraku!” katanya buru-buru sambil menarik anak itu ke belakangnya.

Wanita itu langsung menunduk dalam. “Kami tidak berniat jahat, dia hanya … hanya terlalu putus asa.”

Ia menoleh tajam pada anaknya. “Cepat minta maaf!”

Anak itu menggigit bibirnya, lalu menunduk dengan tubuh gemetar. “Maafkan aku, Nona,” ucapnya lirih.

Tangannya perlahan mengulurkan kembali kantung uang itu. “Aku … aku terpaksa … Ibu dan adikku sudah kelaparan.”

Suaranya bergetar. “Adikku juga sakit, aku tidak tahu harus bagaimana…”

Langkah Natalia terhenti. Tatapannya yang semula dingin perlahan berubah saat mendengar itu. Ia menoleh ke arah gubuk kecil di belakang mereka.

Tanpa berkata apa-apa, Natalia berjalan melewati ibu dan anak itu.

“Nona?” panggil wanita itu bingung.

Natalia tidak menjawab. Ia langsung membuka pintu gubuk itu dan masuk ke dalam.

Di dalam, suasana gelap dan pengap langsung menyambutnya. Hanya ada sebuah dipan kayu tua dengan selimut tipis yang tampak lusuh.

Di atasnya, seorang gadis kecil terbaring lemah. Wajahnya pucat, napasnya berat, dan tubuhnya terlihat panas.

Natalia mendekat perlahan. Ia mengulurkan tangan, menyentuh dahi gadis itu.

“Demam tinggi,” gumamnya pelan.

Wanita itu ikut masuk dengan wajah cemas. “Nona kami tidak punya uang untuk tabib.” suaranya bergetar.

Natalia tidak menoleh. “Aku akan mengobatinya,” ucapnya singkat.

Ibu dan anak itu langsung terdiam.

Natalia sudah berjongkok di samping gadis kecil itu. Tangannya mulai bergerak, mengeluarkan beberapa botol kecil dan jarum dari kalung dimensinya.

Ia menatap kondisi anak itu dengan serius. “Sudah berapa lama dia seperti ini?” tanyanya.

“Tiga hari, Nona,” jawab wanita itu lirih. “Tubuhnya semakin panas dan ia hampir tidak sadar.”

Natalia mengangguk pelan. “Masih bisa diselamatkan,” ucapnya tenang

*

*

Di sisi lain, suasana di Kediaman Li masih dipenuhi ketegangan yang belum mereda. Wajah-wajah mereka tampak gelisah, seolah kenyataan yang baru saja terungkap masih sulit diterima.

Lilith duduk dengan wajah pucat, tangannya gemetar memikirkan tanggung jawab yang tiba-tiba jatuh padanya. Napasnya tidak teratur, jelas ia belum siap menghadapi semua itu.

Li Anna segera mendekat dan menggenggam tangan menantunya erat.

“Tenanglah, Lilith,” ucapnya dengan suara menenangkan, meski ada kegelisahan tersembunyi di matanya.

Ia menatap lurus ke depan dengan rahang mengeras. “Natalia pasti berbohong soal itu.”

Lilith menoleh cepat. “Benarkah, Ibu?”

Li Anna mengangguk tegas. “Tentu saja. Mana mungkin selama ini dia menggunakan uang pribadinya? Itu tidak masuk akal.”

Nada suaranya semakin tajam. “Dia pasti telah menggelapkan dana kediaman dan memanipulasi pembukuan.”

1
saniscara patriawuha.
gasssss polllllll
saniscara patriawuha.
enak tuh tongkol di bikin bekasam....
saniscara patriawuha.
gassddd....
zylla
ayo, usir mereka semua. aku suka keributan. 🤣🤣🤣
zylla
kaget kaaan. 🤣🤣🤣
sahabat pena
pangeran kedua sok2 an misterius padahal bucin akut tuh. wkwkwk 🤣🤣🤣
j4v4n3s w0m3n
lapar apa kelaparan pangeran 🤭🤭🤭🤭bikin malu aja😄😄😄
gina altira
senangnyaa triple up
Lyvia
suwun thor crazy upnya, matrehat sehat sllu thor 😄
≛⃝⃕|ℙ$ Ŋบ𝑟ļịãŊã ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🍃
Korona ini
Maria Lina
makasih thor ud treeple up. y n bsk gimi lgi ya thor
☠️⃝🖌️M⃤y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔
sudah kere pun masih tak berpikir
itu siapa punya hak

hadeh dasar ya kko manusia serakah
≛⃝⃕|ℙ$ Ŋบ𝑟ļịãŊã ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🍃
Dih ga sadar2 ni manusia
vj'z tri
gak yakin makan hanya sedikit /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
☠️⃝🖌️M⃤y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔
ya jelas beda dong kan yaaa
vj'z tri
/Chuckle//Chuckle//Chuckle/ gpp kok horang ganteng juga manusia bisa lapar juga /Facepalm/
vj'z tri
pepet teros kang jangan kasih kendor /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
≛⃝⃕|ℙ$ Ŋบ𝑟ļịãŊã ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🍃
🤣🤣 Tambah laper juga itu /Facepalm/
Osie
wu reno g usah kepo..org kepo cpt matii🤣🤣🤣
Osie
jiiiaahh sampah merasa tuan muda
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!