NovelToon NovelToon
Buku Harian Keyla

Buku Harian Keyla

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Fantasi Wanita
Popularitas:773
Nilai: 5
Nama Author: Pengamat Senja

Keyla, seorang mahasiswi berparas menawan dengan hati yang begitu lugu, menghabiskan bertahun-tahun masa remajanya hanya untuk mengejar punggung seorang pria yang tak ubahnya bongkahan es di kutub terdalam: Rendi.
Sejak hari pertama di bangku kelas 3 SMA, Keyla telah menambatkan hatinya secara mutlak. Namun, Rendi bukanlah pangeran dongeng yang siap menyambut cintanya. Di tengah rasa putus asa akibat penolakan Rendi yang terus-menerus, hadir sosok Indra, pria hangat yang merengkuh Keyla saat ia hancur. Mampukah Keyla bertahan ketika dunia dan sahabatnya sendiri berkonspirasi untuk menghancurkannya? Dan akankah Rendi, sang pria gunung es, menyadari bahwa ia telah mematahkan hati satu-satunya wanita yang bersedia mati untuknya, sebelum semuanya terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31: Senyum itu, Senyum Yang selalu aku inginkan!.

​Malam itu, di dalam kamarku yang sunyi, aku tak bisa tertidur. Pernyataan cinta Indra dan penolakan kejam Rendi saling berperang di dalam kepalaku, mencabik-cabik kewarasanku.

​Ternyata, berada di antara dua pilihan tidak selalu menyenangkan. Bimbang adalah sebuah penyiksaan. Di satu sisi, ada seseorang yang rela menyerahkan dunianya untukku, dan di sisi lain, ada seseorang yang rela menghancurkan dunianya sendiri asalkan aku tak ikut campur.

​Beberapa hari kemudian, sekolah mewajibkan seluruh siswa kelas dua belas untuk datang mengambil beberapa berkas administrasi dan mengosongkan loker menjelang hari perpisahan dan pengumuman kelulusan.

​Suasana sekolah terasa sangat berbeda. Tidak ada lagi ketegangan. Anak-anak berlalu-lalang dengan santai mengenakan pakaian bebas rapi. Tawa riang terdengar di setiap sudut.

​Aku berjalan menyusuri koridor bersama Lidya, Bella, dan Siska menuju ruang tata usaha.

​"Gue denger si Deandra jadian sama kapten basket SMA sebelah," gosip Bella antusias sambil memakan permen lolipop. "Bagus deh, seenggaknya dia berhenti caper ke cowok-cowok di angkatan kita."

​Lidya mendengus geli. "Ya biarin aja, namanya juga cewek haus validasi. Eh Key, ngomong-ngomong, hubungan lo sama Indra gimana? Kemarin malam setelah dari kafe, dia beneran nganterin lo sampai selamat ke pelukan kasur kan?"

​Lidya menyenggol lenganku jahil. Siska yang berjalan di sebelah kiriku langsung menoleh, menatapku dengan mata berbinar-binar penuh antisipasi. Siska pasti sudah tahu bahwa Indra merencanakan sesuatu malam itu. Siska adalah dalang di balik semua kedekatanku dengan Indra.

​Aku tersenyum tipis, mencoba terlihat senormal mungkin. "Iya, dia nganterin sampai depan rumah. Kami cuma ngobrol bentar."

​"Ngobrol doang?" Siska memicingkan matanya dengan senyum penuh arti. "Indra nggak bilang apa-apa gitu ke kamu? Masa cowok seromantis dia nggak manfaatin momen berdua di tengah hujan?"

​"Dia nembak lo ya, Key?!" pekik Bella heboh, membuat beberapa siswa di koridor menoleh.

​"Sst! Suara lo dikontrol napa, Bel!" tegurku panik, membekap mulut Bella. "Nggak, dia nggak nembak. Dia cuma... dia cuma bilang kalau dia bakal selalu nungguin aku siap."

​"Aaaawww!!" Bella dan Lidya berseru kompak, tak mampu menyembunyikan rasa iri dan bahagia mereka.

​Siska tersenyum lebar, merangkul pundakku erat-erat. "Ternyata tebakanku benar. Dia itu cowok langka, Key. Jangan kamu sia-siakan. Kamu udah terlalu banyak buang air mata untuk sampah, sekarang saatnya kamu diratukan sama berlian."

​Lagi-lagi, Siska menyelipkan hinaan untuk Rendi dalam setiap pujiannya untuk Indra. Biasanya aku akan membantah, namun hari ini aku memilih diam. Bantahanku tak akan mengubah pandangan mereka. Terlebih lagi, setelah pesan penolakan yang begitu brutal itu, aku memang tak punya hak lagi untuk membela laki-laki yang secara harfiah menyuruhku pergi.

​Kami tiba di depan ruang tata usaha. Aku menyuruh mereka masuk lebih dulu untuk mengurus berkas, sementara aku memilih menunggu di luar karena antrean di dalam cukup panjang. Aku bersandar pada pilar koridor, menatap hamparan lapangan basket indoor yang kosong.

​Tiba-tiba, dari arah ruang guru yang berada di ujung koridor yang sama, keluarlah sesosok tubuh tegap yang sangat kukenal.

​Jantungku yang tadinya berdetak normal, seketika berhenti satu ketukan. Napasku tercekat.

​Itu Rendi.

​Ia mengenakan kemeja kotak-kotak pudar yang ujungnya dimasukkan ke dalam celana jeans yang sudah kusam. Wajahnya masih terlihat tirus dan lelah, namun hari ini ada yang berbeda dari pancaran auranya. Tidak ada lagi keputusasaan yang mengawang-awang di atas kepalanya. Tidak ada lagi bahu yang merosot karena beban yang tak tertahankan.

​Di tangannya, ia memegang sebuah map plastik berwarna biru transparan yang dipenuhi oleh berkas-berkas, fotokopi kartu keluarga, dan formulir pendaftaran.

​Ia berjalan dengan langkah yang pasti dan mantap, menatap lurus ke depan, seolah ia memiliki sebuah tujuan yang tak bisa digoyahkan oleh siapa pun.

​Mataku tak bisa lepas darinya. Aku menelan ludah dengan susah payah saat ia berjalan semakin mendekat ke arah tempatku berdiri. Apakah ia akan menatapku? Apakah ia akan memberiku tatapan tajam dan membuang muka seperti yang selalu ia lakukan jika tak sengaja berpapasan? Ataukah ia akan menyemburkan kata-kata kasar lagi?

​Jarak kami semakin menipis. Lima meter. Tiga meter.

​Tanganku gemetar. Aku menundukkan wajahku sedikit, bersiap menerima gelombang hawa dingin dari kemarahannya.

​Ia berjalan tepat melewatiku.

​Dan hal yang terjadi selanjutnya justru jauh lebih menyakitkan dari sekadar tatapan kebencian.

​Rendi tidak menoleh sama sekali. Ia tidak mempercepat langkahnya. Ia tidak menghela napas kesal. Ia berjalan melewatiku seolah aku benar-benar adalah sebuah pilar beton yang tak bernyawa. Angin yang ditimbulkan oleh langkah kakinya menyapu helai rambutku, membawa serta aroma sabun murahannya yang khas.

​Ia telah mencapai titik itu. Titik di mana eksistensiku tak lagi memicu emosi apa pun di dalam dirinya—baik itu amarah, rasa muak, apalagi cinta. Di matanya, aku benar-benar telah tiada. Pesan "jangan ganggu saya" itu bukanlah gertakan emosi sesaat, melainkan sebuah keputusan absolut yang telah ia eksekusi dengan sempurna.

​Aku menatap punggungnya yang menjauh menuju ruang administrasi kelulusan. Dada kiriku serasa ditusuk ribuan jarum.

​Tiba-tiba, dari arah ruang tata usaha, Pak Budi, guru Sosiologi sekaligus guru BK kami, keluar dan tak sengaja berpapasan dengan Rendi.

​"Eh, Rendi!" panggil Pak Budi dengan suara yang cukup keras, membuat Rendi menghentikan langkahnya.

​Aku mematung di balik pilar, menajamkan pendengaranku. Jarak mereka tak terlalu jauh dariku.

​Rendi menoleh dan mengangguk sopan pada Pak Budi. "Iya, Pak?"

​"Bagaimana? Berkas untuk pendaftaran Bidikmisi jalur prestasinya sudah lengkap semua?" tanya Pak Budi dengan senyum bangga yang mengembang di wajahnya. "Bapak sudah lihat hasil ujian sementara kamu. Luar biasa, Ren. Di luar dugaan, nilai kamu melonjak drastis, terutama di ujian Kimia dan Fisika. Sepertinya doa adikmu benar-benar diijabah Tuhan. Kalau kamu pertahankan nilai ini sampai ijazah keluar, Bapak yakin universitas negeri incaran kamu itu pasti menerima kamu lewat jalur beasiswa penuh."

​Mendengar kata-kata Pak Budi, aku merasa lututku melemas.

​Ternyata... ternyata usahaku memberinya binder rangkuman hari itu, dan semua ketegasanku untuk memaksanya belajar, membuahkan hasil. Nilainya terselamatkan.

​Namun yang membuatku nyaris menangis bukanlah nilai itu, melainkan respons Rendi.

​Laki-laki es yang selama bertahun-tahun tak pernah memperlihatkan emosi positif di sekolah itu, kini menarik sudut bibirnya.

​Rendi tersenyum.

​Bukan senyum sinis. Bukan senyum meremehkan. Itu adalah sebuah senyum simpul yang sangat tulus, penuh kelegaan, dan sarat akan harapan yang baru saja dilahirkan kembali. Guratan lelah di wajahnya seolah menguap sesaat, digantikan oleh binar seorang kakak yang tahu bahwa ia telah berhasil menyelamatkan masa depan adik perempuannya.

​"Alhamdulillah, Pak. Sudah lengkap semua," jawab Rendi dengan suara yang jauh lebih hidup dari biasanya. "Terima kasih banyak atas bantuan Bapak selama ini. Saya... saya nggak tahu harus membalas budi Bapak dengan apa."

​"Ah, Bapak hanya membantu mengarahkan, Ren. Kamu sendiri yang berjuang mati-matian," Pak Budi menepuk bahu Rendi dengan bangga. "Sekarang fokus saja ke pendaftaran kampus. Oh ya, Nanda bagaimana kabarnya di panti? Kamu sudah bayar tunggakannya?"

​Senyum di wajah Rendi sedikit meredup saat tunggakan itu disebut. Ia menelan ludah, sebuah gerak refleks saat ia harus mengingat kembali rasa malunya karena menerima uang 'investasi' tujuh juta dariku. Namun ia dengan cepat menguasai dirinya.

​"Sudah lunas semua, Pak," jawab Rendi pelan, nada suaranya sedikit tertahan. "Ada... ada donatur komite anonim yang membantu saya. Saya tidak tahu siapa orangnya, tapi uang itu sudah saya bayarkan lunas ke panti. Nanda sudah aman, Pak. Sekarang saya akan fokus cari kerja serabutan di siang hari saja buat nabung biaya hidup saya nanti pas kuliah."

​"Syukurlah kalau begitu. Dunia ini masih banyak orang baik, Rendi. Kamu pantas mendapatkannya," balas Pak Budi haru. "Ya sudah, segera serahkan berkasmu ke dalam sana."

​"Baik, Pak. Permisi."

​Rendi kembali melangkah. Ia menyerahkan berkasnya, lalu berjalan keluar dari area sekolah dengan punggung yang tak lagi bungkuk. Ia terlihat seperti seorang ksatria yang baru saja memenangkan perang terbesarnya, dan kini ia siap menyongsong masa depan yang lebih cerah, menembus universitas favorit demi membahagiakan Nanda.

​Sedangkan aku?

​Aku berdiri di balik pilar, terisak tanpa suara. Air mata mengalir deras membasahi pipiku yang pucat.

​Ternyata... inilah akhirnya.

​Ternyata, Rendi tidak membutuhkanku untuk mendampinginya. Ia tidak membutuhkan kehadiranku untuk menjadi kuat. Ia hanya membutuhkan uang itu untuk melunasi hutangnya, dan materi pelajaran untuk menyelamatkan nilainya. Setelah semua alat bertahan hidup itu terpenuhi, ia tak lagi membutuhkanku. Aku hanyalah batu loncatan yang secara tak sengaja membantunya melewati jurang.

​Ia memfokuskan seluruh hidupnya untuk Nanda dan masa depannya. Di dalam kerangka masa depannya yang baru saja ia bangun, sama sekali tidak ada ruang yang tersisa untuk sebuah nama: Keyla. Ia telah menutup bab kehidupannya denganku tanpa pernah benar-benar memulainya.

​Aku menatap tanganku sendiri yang gemetar. Beberapa hari yang lalu, tangan inilah yang menggenggam tangan hangat Indra. Indra yang menawarkan cinta tanpa syarat. Indra yang selalu menatapku dengan mata memuja. Sementara Rendi... Rendi bahkan tak sudi menoleh saat ia melewatiku.

​Di saat Rendi sibuk menata masa depannya yang gemilang tanpa diriku, aku masih saja berdiri di sini, terjebak dalam pusaran rasa sakit yang kubuat sendiri.

​"Keyla? Udah beres nih! Lo mau masuk sekarang?" panggil Bella, membuyarkan lamunanku.

​Ketiga sahabatku keluar dari ruang tata usaha. Siska langsung menghampiriku, melihat sisa air mata di wajahku. Siska melirik ke arah lorong tempat Rendi menghilang, lalu kembali menatapku dengan senyum pemenang yang tersembunyi.

​"Udah, Key. Relakan," bisik Siska pelan sambil mengusap punggungku. "Dia udah sibuk ngurusin beasiswanya. Laki-laki miskin memang hanya peduli pada uang dan bagaimana cara dia bertahan hidup. Dia nggak punya waktu untuk memikirkan perasaan orang lain, apalagi perasaanmu. Mulai sekarang, fokuslah pada orang yang benar-benar nyata memperjuangkanmu."

​Kali ini, aku tak lagi membantah ucapan Siska. Hatiku sudah terlalu lelah untuk melawan.

​Ternyata, mencintai dengan tulus tak selalu menjamin balasan yang indah. Terkadang, pengorbanan terbesarmu hanya dihargai dengan sebuah kalimat penolakan, dan senyum terindah dari orang yang kau cintai justru tercipta saat kau berhasil ia usir dari hidupnya.

​"Hari ini aku melihatmu tersenyum, Rendi. Sebuah senyum yang selalu kuinginkan. Namun senyum itu justru menjadi pisau yang memenggal sisa harapanku. Ternyata... kau bisa bahagia, kau bisa menyongsong masa depan yang indah, justru di saat aku tak lagi ada di dalam duniamu. Jika kepergianku adalah harga yang harus kubayar untuk senyummu... maka biarlah aku tenggelam bersama rasa sakit ini." (Buku Harian Keyla, Halaman 122)

​Aku mengangguk lemah pada Siska. Kutarik napas panjang, menekan dalam-dalam seluruh kepingan hatiku yang berserakan. Aku akan belajar menerima kenyataan. Aku akan memberikan waktu pada Indra, dan aku akan mencoba melupakan sosok gunung es yang tak pernah mengizinkanku untuk memeluk dinginnya.

1
Yuni Uni
bagus banget ceritanya kak ,,,,,,kayak zaman sma zamanku dulu
semangat ya kak
partini
benar an ini dah berakhir Thor
so happy next cerita mereka dah dewasa
partini
ko waktu buat indra ,buat kamu sendiri dong tata hatimu dulu kubur semua kenangan itu dalam" berjalan kedapan dengan nanggung urusan asmara nanti menyusul lah,, siapapun orangnya pasti terbaik buat kamu kalau jodoh sama Indra bagus sama Rendy nanti jug bagus,,cintai dirimu sendiri dulu
partini
sekarang kamu bisa bilang Kya gitu NDRA mencintai orng yg hatinya udah mati kusus untuk dia itu melelahkan sekali loh,,pikir dulu lah sebelum bertindak
partini: hati Kay udah ga bisa ke lain hati udah mentok ke satu orang jadi yg lain lewat
total 2 replies
partini
tapi kalau di pikir" Kayla sangat menggangu sih Thor
lama" muak ga sih di GITUIN Mulu udah tau ga mau masih aja
biarpun niatnya baik
partini
mereka bertemu lagi setelah beberapa tahun Thor ,i hope mereka bertemu udah pada kerja Rendi jug udah sukses biar saling bersaing ga Jomblang kaya sekarang
Pengamat Senja: iya kasian banget Keyla /Frown/
total 3 replies
partini
biarkan Rendi sendiri aja lah ,jangan di ganggu dulu mungkin lebih baik kamu pergi jauh dari pada Rendi makin stres
partini
orang sederhana yg apa ini mananya susah di Jabar kan si Rendi ini orangnya ,belagu iya, egois iya ,sok kuat iya padahall butuh seseorang untuk berbagi kesedihan
Nacill Chan
semangatt kakkk 😉
partini
kadang menurut kita baik belum tentu itu baik untuk mereka
partini
lanjut
Pengamat Senja: jangan lupa follow ya kak 🙏
total 1 replies
Pengamat Senja
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!