PENGUMUMAN PENTING!
Saya Acep Maulana memohon maaf kepada para pembaca. Karena satu dan novel ini akan saya Remake Total.
Saya sadar masih banyak belajar sebagai pemula, dan saya ingin memberikan karya yang lebih layak untuk kalian baca. Versi baru akan segera hadir dengan judul yang sama namun dengan kualitas tulisan yang jauh lebih baik.
Sampai jumpa di versi terbaru yang lebih bar-bar!
"Sial beneran! Erika, mantan agen rahasia yang energinya tak habis-habis, malah transmigrasi ke dalam novel tragis menjadi Rosalind von Astride, sang Putri Terbuang yang lemah dan sakit-sakitan!
Lebih parahnya lagi, keluarganya adalah kumpulan orang 'Tampan tapi Telmi (Telat Mikir)' yang ditakdirkan hancur total dalam dua tahun. Beruntung, Erika punya Sistem Makan Melon (Gosip) yang bisa membongkar semua rahasia musuh.
Sambil menikmati martabak diskon dari Ruang Sistem, Erika bertekad merombak takdir tragis keluarganya. Tapi masalahnya... radio batin Erika ternyata bocor ke seluruh keluarganya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon acep maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 Guncangan Silsilah dan Komedi Batin
Suasana di Paviliun Musim Semi saat ini benar-benar melampaui batas kewarasan manusia normal. Bayangkan saja, di satu sisi ada Putri Mytha yang berdiri dengan aura "Boss Besar" sedang menginterogasi Rosalind, sementara di sisi lain, keluarga Duke Wiraatmadja tampak seperti kumpulan orang yang sedang melakukan latihan menahan napas massal. Keringat dingin mengalir deras dari dahi Duke Lyon, membasahi kerah bajunya yang mahal.
Putri Mytha masih menatap Rosalind dengan tajam, menunggu jawaban atas pertanyaannya yang bersifat retoris namun mematikan: "Apakah kau baru saja memuji kecantikanku di dalam hatimu?"
Rosalind membeku, sendoknya sudah berdenting di piring, dan matanya melotot. Ia merasa ajalnya sudah di depan mata. Namun, di tengah kepanikan itu, suara cempreng sistemnya meledak di kepalanya.
[Sistem Peri Nana (Berteriak dengan nada bikin di luar Nalar:]
{“Nona! Hadeeeh, jangan lebay deh! Tarik napas, buang lewat telinga kalau perlu! Nona jangan aneh-aneh dan jangan kepedean tingkat dewa, mereka itu tidak bisa mendengar suara hati Nona! Kalau mereka beneran bisa denger, sudah dari tadi Nona diseret ke tiang gantungan gara-gara nyanyi lagu koplo di depan Duke! Putri Mytha itu cuma punya 'Insting Detektif' yang kuat, bukan antena radio batin kayak keluarga Nona! Jadi tolong, mukanya dikontrol, jangan kayak orang sembelit tiga minggu gitu!”}
Mendengar ocehan Nana, Rosalind langsung merasa nyawanya kembali ke raga. Oh, syukurlah! Ternyata hanya keluarganya saja yang "dikutuk" bisa mendengar siarannya. Dengan kecepatan kilat, Rosalind mengubah ekspresi wajahnya dari horor menjadi sebuah senyuman yang sangat mistis, misterius, sekaligus bikin ngakak bagi siapa pun yang melihat transisinya yang tidak alami itu.
“Tuan Putri Mytha yang agung...” ucap Rosalind dengan nada suara yang dibuat-buat berat, serak, dan mistis seolah-olah dia sedang kerasukan arwah leluhur yang hobi melawak. “Kecantikan Anda bukan hanya terlihat oleh mata batin... tapi juga terpancar hingga ke langit ketujuh, membuat awan pun minder dan matahari memilih untuk segera terbenam karena malu tersaingi oleh kilau wajah Anda yang... bening-bening marjan”
Hening.
Reaksi Putri Mytha dan Putri Amelia adalah keterkejutan yang murni. Mereka berdua mematung. Mytha, yang biasanya memiliki jawaban untuk segala hal, mendadak kehilangan kata-kata. Ia merasa seperti baru saja dipuji oleh seorang peramal pasar malam yang sedang mabuk teh herbal.
Sementara itu, reaksi seluruh keluarga Duke jauh lebih parah. Duke Lyon, Duchess Elena, Evelyn, dan Celine serentak memegangi dada mereka. Suara mereka seperti tertahan sesuatu yang menyumbat tenggorokan.
"E-eh... i-itu... i-itu maksudnya..." Duke Lyon mencoba berbicara, namun ia mendadak gagap parah. "Maksud Rosalind adalah... Putri sangat mempesona... ya, mempesona... b-benar begitu kan, Sayang?" Lyon melirik Elena dengan tatapan minta tolong yang sangat tragis.
"I-iya! Betul sekali!" Duchess Elena menyahut dengan suara yang melengking tinggi akibat gugup. "Rosalind memang... sedikit unik bahasanya setelah bangun dari sakit... mohon dimaklumi, Tuan Putri!"
Evelyn dan Celine hanya bisa menunduk, bahu mereka berguncang karena menahan keinginan untuk berteriak histeris. Mereka semua tahu, di dalam batin Rosalind, dia sedang menertawakan wajah bingung kedua putri tersebut.
****Penemuan Mengejutkan: Koneksi Darah Alaric
Di tengah kegaduhan diplomatik yang canggung dan bikin sesak napas itu, Rosalind—yang merasa akting mistisnya sukses besar—kembali memfokuskan pandangan taktisnya pada dua orang di ruangan itu yang entah kenapa menarik perhatian radarnya. Matanya beralih antara Lady Clara Wiraatmadja (née Alaric) dan Maid Martha yang masih berdiri dengan wajah sembab.
[(Batin Rosalind):]
[“Nana... tunggu sebentar. Pikiranku yang jenius ini menangkap sebuah anomali. Lady Clara itu kan aslinya dari keluarga Baron Alaric, kan? Terus si Martha... tadi di flashback sistem yang penuh air mata itu, nama ayahnya Bram Alaric kalau nggak salah? Kenapa mereka punya nama belakang yang sama? Jangan bilang di dunia yang sempit ini mereka sebenarnya bersaudara jauh? Nana, buka sistem ghaibmu itu! Cepat cek, jangan cuma asyik makan permen Yupi!”]
[Sistem Peri Nana (Membuka layar hologram emas yang berkilau di depan mata Rosalind):]
{“WOW! Nona, Anda benar-benar memiliki insting detektif tingkat dewa atau mungkin hobi ghibah Nona sudah mencapai level 'Penerawang an Takdir'! Mari kita lihat di database silsilah keluarga kekaisaran yang sudah saya sinkronisasi secara ilegal dari perpustakaan pusat... Astaga! Apa-apaan ini?! Plot twist-nya lebih liar dari sinetron musim kelima! Jadi mereka ini benar-benar saudara jauh dari pihak ayah Lady Clara!”}
Rosalind hampir saja menjatuhkan gelas jus melonnya untuk ketiga kalinya hari ini. Untungnya, tangan kurusnya masih sempat mencengkeram gelas itu dengan tenaga sisa.
[(Batin Rosalind):]
[“APA?! Jadi Martha yang selama ini dianggap pelayan rendahan yang orang tuanya meninggal karena wabah malang itu... sebenarnya adalah garis keturunan sampingan dari keluarga Baron Alaric yang dikira sudah punah total karena tragedi masa lalu? Hahaha! Gila bener plot twist dunia ini! Ayah Lady Clara, Baron Teddy Alaric, pasti nggak tahu kalau keponakan jauhnya selama ini kerja jadi babu, tukang sapu, dan tukang cuci di rumah menantunya sendiri! Ini namanya 'Infiltration by Fate'!”]
[NOTIFIKASI SISTEM: FLASHBACK TERKUNCI DIBUKA!]
Tragedi 25 Tahun Lalu: Perpecahan Cabang Alaric
Layar sistem di depan mata Rosalind menampilkan gambaran masa lalu yang berbeda dengan sebelumnya. Kali ini, warnanya lebih sepia, menunjukkan suasana dua puluh lima tahun yang lalu.
Di sebuah manor tua yang sangat megah milik klan Alaric, dua pria berdiri di tengah taman mawar merah yang sedang mekar sempurna. Satu pria berpakaian mewah dengan jubah bulu (Kakek Lady Clara), dan satu pria lagi berpakaian ksatria sederhana namun rapi (Bram Alaric, ayah Martha).
Dua puluh lima tahun yang lalu, keluarga Alaric adalah klan Baron yang cukup berpengaruh dan kaya raya. Namun, terjadi perselisihan besar soal warisan dan prinsip hidup. Bram Alaric, yang merupakan adik kandung dari Baron terdahulu, memilih untuk meninggalkan kemewahan bangsawan demi menikahi seorang gadis desa yang ia cintai (Sita). Keputusan ini memicu kemarahan sang kakak yang gila hormat.
"Jika kau melangkah keluar dari gerbang ini dengan wanita rendahan itu, maka nama Alaric akan dihapus darimu! Kau akan dianggap mati oleh seluruh silsilah keluarga kita!" teriak sang Baron tua dengan wajah merah padam.
Bram Alaric hanya tersenyum sedih, namun matanya memancarkan ketegasan. "Aku lebih baik mati sebagai rakyat jelata yang bahagia bersama cinta sejatiku daripada hidup sebagai Baron yang memiliki segalanya namun berhati kesepian, Kak."
Bram pergi, mengganti identitas resminya, dan menetap di desa terpencil Grier untuk menjauh dari jangkauan pengaruh keluarganya. Namun, setahun setelah keberangkatan Bram, sebuah kebakaran besar melanda manor cabang tempat Bram menyimpan dokumen kelahiran dan bukti silsilahnya. Baron Alaric (ayah Clara) yang saat itu masih sangat muda, mendapatkan informasi salah dari mata-mata yang disuap oleh musuh politik Alaric. Ia mengira pamannya telah tewas dalam kebakaran hutan hebat yang melanda wilayah perbatasan desa Grier saat itu. Sejak saat itu, garis keturunan Bram Alaric secara resmi dianggap punah dan dihapus dari pohon keluarga besar Alaric.
Kembali ke realita, Rosalind menatap Lady Clara, lalu menatap Martha yang baru saja berdiri setelah sujudnya di hadapan Duke Lyon. Pikirannya berputar cepat layaknya mesin turbo.
[(Batin Rosalind):]
[“Wah... gila. Dunia ini beneran sempit banget kayak lubang jarum yang baru dibeli di pasar loak. Lady Clara yang baik hati dan Martha yang setia... mereka adalah dua 'Mawar Alaric' yang dipertemukan takdir di rumah yang penuh ular ini tanpa saling tahu! Bayangkan kalau Lady Clara tahu kalau pelayan yang selama ini dia kasihan dan dia beri roti tambahan itu sebenarnya adalah kakaknya sendiri dalam arti silsilah sepupu!]
Dan Paman Baskara... aku berani taruhan nyawa puding karamel ku kalau asistennya si Hans Jarwo Kliwon itu pasti tahu hal ini! Itu alasannya si Hans berani menekan Martha selama bertahun-tahun, karena dia memegang dokumen rahasia peninggalan Bram! Dia tahu Martha punya darah bangsawan yang bisa digunakan untuk menjatuhkan posisi Clara kalau diperlukan, atau bahkan mengklaim warisan Alaric yang tersisa!
Oke, strategi perang berubah! Aku nggak cuma bakal selametin Lily dari panti asuhan, aku bakal balikin kehormatan nama Alaric buat Martha dan adiknya! Mereka nggak pantes jadi pelayan seumur hidup di bawah telapak kaki orang-orang munafik ini!”
Seketika, aura di ruangan itu kembali berguncang. Duke Lyon, Duchess Elena, Evelyn, Celine, dan Lady Clara serentak menoleh ke arah Rosalind dengan ekspresi yang jauh lebih terkejut daripada saat mereka mendengar suara musik dangdut tadi. Informasi batin Rosalind barusan benar-benar seperti ledakan granat di tengah pesta teh.
Lady Clara mematung. Jantungnya berdegup kencang hingga ia merasa sesak napas. Martha... saudaraku? Paman Bram masih hidup saat itu? pikirnya dengan air mata yang mulai menggenang.
Martha juga sama terkejutnya. Meskipun dia tidak bisa mendengar batin Rosalind secara langsung (karena dia bukan keluarga inti Wiraatmadja), dia merasakan atmosfer ruangan yang mendadak terfokus padanya. Ia melihat Lady Clara menatapnya dengan pandangan yang penuh dengan rasa rindu, duka, dan pengakuan.
Dua putri kekaisaran, Mytha dan Amelia, yang merasa suasana mendadak berubah menjadi sangat emosional dan aneh tanpa alasan yang jelas, hanya bisa saling pandang dengan bingung. Mereka merasa seperti sedang menonton pertunjukan drama di mana mereka kehilangan satu skrip penting.
"Duke... Duchess..." Mytha bertanya dengan nada curiga. "Kenapa kalian semua menatap pelayan itu seolah-olah dia baru saja berubah menjadi naga?"
Duke Lyon tidak menjawab. Ia menelan ludah, menatap Martha, lalu menatap Lady Clara. Tangannya yang besar gemetar. "Alaric... jadi mawar itu masih ada di sini," gumamnya dalam hati dengan penuh penyesalan.
Rosalind, yang melihat kekacauan emosional itu, hanya tersenyum puas sambil mengambil satu sendok puding karamel lagi.
[(Batin Rosalind):]
[“Hahaha! Reaksinya asyik banget! Liat tuh muka Paman Baskara, makin pucat kayak kertas putih. Takut ya rahasia simpananmu terbongkar? Tenang Paman, ini baru pemanasan. Setelah ini, aku bakal bikin drama keluarga Alaric ini jadi berita utama di seluruh kekaisaran! Tarik Maaang!”]
Seluruh keluarga Wiraatmadja serentak memegang kepala mereka. Gempuran informasi ini benar-benar terlalu banyak untuk satu hari. Namun satu hal yang pasti: Nama Alaric yang dikira sudah meredup, kini siap berkobar kembali di bawah perlindungan batin seorang gadis yang hobinya makan puding dan membongkar aib.