Di papan catur Leone, Nora hanyalah sebuah bidak yang dipahat untuk menahan badai, sementara Stella adalah permata yang disembunyikan di balik sutra. Selama lima tahun, Nora berdiri sebagai tameng, meredam peluru dengan detak jantungnya sendiri demi pria yang tak pernah benar-benar melihatnya kecuali sebagai pelindung bagi cintanya yang sejati.
Namun, setiap baja memiliki titik retak.
Ketika takdir menyajikan dua cawan beracun di atas meja jati, Nora memilih untuk meminum rahasia yang paling kelam. Dia menukar tahta di pesisir California dengan mahkota berduri di ranjang hantu New York. Di kota yang tak pernah tidur, dia tidak datang untuk menjadi perawat bagi jiwa yang koma, melainkan untuk membangun kekaisaran dari sisa-sisa pengkhianatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mawar yang Tersembunyi di Balik Bayang
Meja marmer putih di teras belakang mansion Thorne telah tertata dengan sempurna. Sinar matahari siang itu terasa terik, namun kanopi besar dan embusan angin laut dari tebing menjaga suhu tetap sejuk. Di depan mereka tersaji seafood platter segar dengan saus mentega lemon yang aromanya menggoda selera.
Nora makan dengan lahap. Rasa lapar yang ia rasakan bukan hanya karena perutnya kosong, tapi karena ada sejenis energi baru yang mengalir dalam darahnya—sebuah euforia setelah penyerahan diri semalam. Setiap suapan terasa lebih nikmat, setiap tegukan air mineral dingin terasa lebih menyegarkan. Ia sesekali mencuri pandang ke arah Adrian, berharap menemukan sisa-sisa binar gairah atau setidaknya senyum hangat yang menyambutnya.
Namun, Adrian justru tampak terasing di dunianya sendiri. Pria itu hanya mengaduk-aduk salad di piringnya, memotong udang tanpa benar-benar memakannya. Pandangannya lurus ke arah cakrawala laut lepas, namun matanya tidak benar-benar melihat air. Alisnya bertaut samar, mencerminkan keruwetan pikiran yang tidak bisa ditembus oleh siapa pun.
"Adrian?" panggil Nora lembut.
Adrian tidak bergeming.
"Adrian," ulang Nora, kali ini sedikit lebih keras sambil meletakkan garpunya.
Adrian tersentak kecil, matanya kembali fokus pada wanita di depannya. "Ya? Maaf, ada masalah di pelabuhan yang sedikit menyita pikiranku."
Nora tersenyum memaklumi, meski ada sedikit rasa perih melihat pria itu seolah ingin segera pergi dari sana secara mental. Ia harus melakukan sesuatu. Ia ingin membawa Adrian kembali ke "sini," ke dalam momen milik mereka berdua.
"Aku memperhatikan taman di sisi timur, dekat ruang perpustakaan," ujar Nora, mencoba mencairkan suasana. "Area itu terlalu gersang. Hanya ada rumput pendek dan beberapa semak yang tidak terawat. Bolehkah aku menanaminya bunga? Aku ingin melihat sesuatu yang berwarna saat aku membaca di sana."
Adrian terdiam. Ia menatap Nora cukup lama, sebuah tatapan yang sulit diartikan. Di dalam kepalanya, Adrian membayangkan taman itu di masa depan. Suatu saat nanti, Nora tidak akan ada di sini lagi. Nora akan pergi, entah ke mana, setelah tugasnya sebagai "tameng" selesai. Dan posisi Nora akan digantikan oleh Stella. Stella menyukai taman yang rapi, namun mungkin ia akan menyukai bunga-bunga yang ditinggalkan Nora.
Anggap saja sebagai monumen kecil, pikir Adrian dingin. Sebuah kenang-kenangan dari wanita yang telah memberikan segalanya untuk menjaga keselamatan Stella.
"Baiklah," jawab Adrian akhirnya, suaranya sedikit melunak. "Tanam apa pun yang kau suka. Aku akan meminta tukang kebun menyiapkan tanahnya untukmu."
Nora hampir melompat dari kursinya karena gembira. "Benarkah? Terima kasih! Aku akan mengajak Martha sore ini untuk mencari bibit bunga mawar dan lili di kota."
Adrian menatap tangan Nora yang masih dilingkari tujuh gelang emas pemberiannya. Tiba-tiba, rasa bersalah yang ia tepis tadi pagi kembali mencuat. Ia tahu ia sedang membohongi gadis ini, dan membiarkannya pergi sendirian dengan Martha terasa seperti pengabaian lainnya setelah malam semalam.
"Tidak perlu mengajak Martha," potong Adrian. "Aku akan menemanimu."
Mata Nora membelalak tidak percaya. "Kau? Menemaniku membeli bibit bunga? Tapi pekerjaanmu—"
"Pekerjaanku bisa menunggu dua jam," ujar Adrian, mencoba meyakinkan dirinya sendiri lebih dari ia meyakinkan Nora. "Aku ingin memastikan kau memilih bibit yang terbaik."
Kebahagiaan Nora meledak. Ia merasa seolah-olah ia sedang memenangkan lotre setiap menitnya hari ini. Adrian yang dingin, Adrian yang sibuk, bersedia meluangkan waktu untuk hal sepele seperti membeli bunga. Baginya, ini adalah bukti cinta yang paling nyata.
Selesai makan siang, udara terasa semakin lembap. Nora merasakan keringat tipis di tengkuknya, dan tubuhnya masih terasa lengket setelah aktivitas mereka semalam dan perjalanan singkat ke teras.
"Aku merasa harus mandi lagi," kata Nora sambil berdiri dari kursi. Ia menatap Adrian yang juga bangkit, tampak ingin kembali ke ruang kerjanya. "Maukah kau mandi bersamaku?"
Adrian mengerutkan kening, keraguan terlihat jelas di wajahnya. "Nora, aku harus memeriksa beberapa laporan dari New York—"
"Ayolah, Adrian," potong Nora, melangkah mendekat dan memegang lengan kemeja Adrian yang terasa lembap oleh keringat. "Kau sudah bekerja keras sejak pagi di dermaga. Tubuhmu pasti terasa tidak nyaman. Mandi air hangat akan merilekskan otot-ototmu. Aku memaksa."
Nora menatapnya dengan pandangan menantang sekaligus memohon. Adrian menghela napas kalah. Adrenalinnya mungkin sudah turun, tapi ia tidak bisa memungkiri bahwa aroma Nora dan kedekatan mereka semalam masih membekas kuat di ingatannya.
"Hanya mandi," gumam Adrian.
"Tentu saja," goda Nora dengan senyum nakal.
Mereka naik ke kamar utama. Di dalam kamar mandi luas yang memiliki bathtub marmer berukuran raksasa, Nora mulai menyalakan air dan menuangkan minyak esensial beraroma kayu cendana. Uap hangat segera memenuhi ruangan, menciptakan atmosfer yang intim dan terisolasi dari dunia luar.
Saat mereka berdua akhirnya masuk ke dalam air hangat, ketegangan di bahu Adrian tampak sedikit mengendur. Mereka duduk berhadapan, namun kemudian Nora berbalik membelakangi Adrian, bersandar pada dada bidang pria itu, membiarkan air hangat menutupi tubuh mereka hingga sebatas bahu.
Adrian meraih spons lembut dan sabun cair. Dengan gerakan perlahan, ia mulai membasuh bahu Nora. Ia menikmati kontras antara kulit Nora yang selembut sutra dengan telapak tangannya yang kasar. Namun, saat ia menyapukan spons itu ke lengan kanan bagian belakang atas Nora, gerakannya terhenti.
Di sana, di posisi yang agak tersembunyi jika Nora tidak sedang dalam keadaan tanpa busana, terdapat sebuah tato kecil namun sangat mendetail. Sebuah tato bunga mawar merah yang tampak mekar sempurna, dengan tangkai yang melilit sedikit ke arah pundak.
"Sejak kapan kau punya ini?" tanya Adrian, suaranya terdengar lebih dalam di ruang mandi yang beruap itu. Ia mengusap tato itu dengan ibu jarinya. "Dan kenapa di sini? Di tempat yang hampir tidak pernah terlihat?"
Nora sedikit menegang, namun ia segera merilekskan tubuhnya kembali. Ia menoleh sedikit, memberikan senyum tipis yang penuh rahasia.
"Itu bukan apa-apa, Adrian," jawabnya pelan. "Hanya sebuah kenangan kecil dari masa lalu."
Adrian tidak puas dengan jawaban itu. Sebagai pria yang tubuhnya sendiri dihiasi beberapa tato bermakna—termasuk lambang Thorne di dadanya—ia tahu bahwa tidak ada orang yang menaruh tato di lokasi tersembunyi tanpa alasan yang sangat personal. Tato mawar biasanya melambangkan cinta, namun lokasinya yang "tersembunyi" di bagian belakang lengan atas menyiratkan sesuatu yang dipendam, sesuatu yang tidak ingin ditunjukkan pada dunia, namun ingin tetap dimiliki.
"Mawar merah," gumam Adrian, matanya masih terpaku pada rajahan tinta itu. "Biasanya orang menaruhnya di pergelangan tangan atau bahu depan. Kau menaruhnya di sini seolah kau ingin menyembunyikannya dari penglihatanmu sendiri, tapi membiarkan orang yang memelukmu dari belakang melihatnya."
Nora tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar sedikit dipaksakan. "Kau terlalu banyak menganalisis, Adrian. Katakan saja, apakah kau menyukainya?"
"Seni yang indah," jawab Adrian diplomatis, meski rasa penasarannya masih bergejolak. "Tapi setiap mawar punya duri. Siapa yang memberimu ide untuk ini?"
Nora memilih untuk tidak menjawab lebih lanjut. Ia memutar tubuhnya, menghadap Adrian kembali, dan menatap pria itu dengan tatapan yang mengalihkan pembicaraan. "Bagaimana kalau kau berhenti bertanya soal tato, dan mulai membantuku membersihkan bagian depan?"
Adrian tahu Nora sedang menutup diri. Ada sebuah benteng di dalam diri gadis ini yang, meski ia sudah menyerahkan tubuhnya, tetap tidak tersentuh. Nora menyimpan alasan di balik mawar itu untuk dirinya sendiri—sebuah rahasia kecil tentang harapan, atau mungkin tentang seseorang yang pernah ia cintai dalam diam sebelum Adrian datang.
Mawar itu bukan untukku, batin Adrian dengan sekelumit rasa pahit yang tidak ia pahami.
Ia kembali membasuh tubuh Nora, namun pikirannya kini terbagi. Di bawah uap air hangat dan keintiman yang tampak sempurna ini, Adrian menyadari bahwa ia tidak benar-benar mengenal wanita yang ia jadikan tameng ini. Dan Nora, dengan tato mawarnya, membuktikan bahwa ia juga punya bagian dari dirinya yang tidak akan pernah ia serahkan kepada siapa pun—bahkan kepada pria yang dianggapnya sebagai dunianya.
Mereka berendam dalam diam, masing-masing dengan rahasia yang terkunci rapat. Nora dengan alasan tatonya, dan Adrian dengan rencana pengkhianatannya. Di dalam bathtub marmer itu, kebenaran seolah tenggelam di dasar air, membiarkan permukaan yang tenang menipu mereka sekali lagi.